
Semua acara wali murid dan haflah akhirussanah berjalan dengan lancar, membawa rasa puas dan bangga pada Ummi terhadap putra dan menantunya.
Biasanya, setelah haflah. semua santri di izinkan pulang, berlibur sampai selesai lebaran. bagi yang ingin mondok di bulan Ramadhan, juga di izinkan.
Hari ini Gus Aham akan pergi ke Jepara untuk melihat pesanan kayu ukiran miliknya. ya, ia memesan box bayi khusus dari sang ahli. ia meminta ukiran yang berbeda.
"Nanti, sampai sana jam berapa?.",tanya Aisyah yang memasukkan beberapa baju ganti suaminya ke dalam koper.
"Jarak dari Kediri ke Jepara, lewat tol sekitar 2-3 jam.",
"Berarti, njenengan mau nginep berapa hari disana?.", tanyanya. ia terlihat malas membereskan baju suaminya.
Gus Aham menghela nafas, lalu berjalan ke arah istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Begitu selesai, mas akan segera pulang.", jawabnya lalu mengecup puncak kepala istrinya.
Aisyah terdiam. ia tidak berani melihat suaminya, pandangan nya hanya menatap baju ganti suaminya yang sedang ia lipat. entah kenapa?, ia ingin menangis. sampai akhirnya, air matanya tak terbendung dan jatuh membasahi baju yang di lipatnya.
Gus Aham yang menyadari hal itu segera meraih tubuh istrinya yang sudah mulai terlihat agak berisi itu.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham. tapi Aisyah hanya diam.
Aisyah sendiri tidak mengerti, kenapa ia jadi begitu cengeng?. pernah suatu hari saat ia sedang mengaji surat Yusuf, ia tiba-tiba juga menangis tanpa sebab. dan saat semua datang serta bertanya apa yang terjadi?!,justru jawaban Aisyah membuat mereka semua menahan tawa. ya, jawabannya sungguh polos seperti anak kecil.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham waktu itu. karena Aisyah tidak menjawab, dan Gus Aham khawatir jadilah Gus Aham memanggil Ummi yang kebetulan sedang bersantai dengan Abah dan Ning Nafis.
Ummi yang melihat Aisyah menangis dan membaca Al-Qur'an itu, mendekati Aisyah lalu bertanya.
"Ada apa, nduk?.",
"Ratu Zulaikha, kok jahat to. mi?!. masak nabi Yusuf di fitnah.",
Sontak, jawaban itulah yang membuat mereka semua menahan tawa. karena memang cerita itu sudah lama tertulis dalam Al-Qur'an, tapi karena emosi ibu hamil yang baperan, itu menjadi masalah besar buat Aisyah hingga membuatnya menangis.
"Mas, akan segera pulang. janji!.", ucapnya merangkup kedua pipi istrinya dan menghapus air matanya.
"Jangan nangis, ya!. kasihan bayinya.", bujuknya. Gus Aham memeluk tubuh Aisyah lagi.
Begitu selesai beberes, Gus Aham membawa kopernya. sementara Aisyah berjalan di sampingnya, tangan Gus Aham erat menggenggam tangan istrinya. ia sesekali melihat istrinya yang hanya terdiam dengan tatapan lurus ke depan atau menunduk sesekali.
Tiba-tiba Aisyah merasa tangannya di tarik. rupanya Gus Aham berhenti berjalan dan berdiam diri di tempat. Aisyah menoleh, Gus Aham menarik Aisyah sehingga masuk dalam pelukannya. Aisyah terkejut mengingat mereka sedang berada di lorong dan setiap orang bisa melihatnya.
__ADS_1
"Sebenarnya, mas boleh pergi ndak?.", tanyanya.
"Gus. ini...,nanti di lihat orang.",
"Kalau ndak di izinin, mas juga ndak akan pergi.",
"Gus. ini lepasin, dulu.",
"Jawab dulu.",
Aisyah menunduk. malu-malu ia menjawab.
"Ndak apa pergi, tapi cepet balik.", ucapnya lirih.
"Mm...?!.", Gus Aham mengerenyitkan keningnya. ingin mendengar jawaban yang lebih jelas.
"Kalau nggak denger, ya udah.ah.", jawabnya dengan kesal ia sedikit mendorong tubuh suaminya lalu berjalan dengan cepat ke teras rumah menunggu Gus Aham di sana, untuk berpamitan pada Abah dan Ummi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Aham, berangkat dulu. bah, mi.", ucapnya mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Hati-hati ya, le. cepet pulang, ingat istrimu.", ucap Ummi. Gus Aham mengangguk
"Mesti to ,le. (pastilah , nak.)
Begitu selesai berpamitan, Gus Aham segera naik ke mobil. ia duduk di kursi belakang kemudi, siap untuk berangkat. seperti biasa, Gus Aham menyetir sendiri.
Mobil mulai berjalan, Aisyah melihat mobil suaminya itu perlahan menghilang di balik gapura ndalem.
Karena tidak ada kegiatan, apalagi sekolah diniyah juga sedang libur akhirnya Aisyah mengisi waktu luang dengan merajut. ia membuat switer untuk bisa Aham dengan contoh ukuran hoodie nya.
Begitulah yang di lakukan Aisyah selama di tinggal suaminya.
Malam menunjukkan pukul setengah satu. terdengar pintu kamar di buka. Gus Aham melihat istrinya tidur di sofa, ada makanan di meja yang terlihat baru saja di makan sedikit.
Gus Aham meraih tubuh istrinya, ia bermaksud memindahkan Aisyah ke ranjang. tapi ketika Gus Aham baru saja mengangkatnya, Aisyah terbangun. ia mengucek matanya, melihat suaminya menggendongnya.
"Sudah pulang, Gus?.", tanyanya seraya berusaha turun dari gendongan suaminya.
"Iya, baru saja. sudah makan?.", tanya Gus Aham.
__ADS_1
"Sudah sedikit.",
"Muntah lagi?.",
" Iya.", jawabnya singkat.
Gus Aham mengajak istrinya duduk di sofa, lalu membuka kantung kresek yang berisi aneka jajanan dan oleh-oleh khas Jepara seperti carang madu dan jeruk. Gus Aham membuka cemilan itu dan menyuapkan ke mulut istrinya, ia juga mengupas jeruk untuk istrinya.
Melihat istrinya makan dengan lahap dari tangannya, membuatnya tersenyum. itulah yang membuatnya tidak betah lama-lama lagi jika harus keluar kota.
Pikirannya tidak akan bisa lepas dari istrinya, terutama soal makan. karena istrinya benar-benar tidak bisa makan dari tangannya sendiri.
"Seharian tadi, pas di tinggal,mas. ngapain aja?.",tanya Gus Aham ingin tau apa saja yang dilakukan nya ketika ia tidak dirumah.
"Hanya ngaji seperti biasa, trus mainan sama Ning Dija dan Ning Shofy.", jawabnya
Aisyah sengaja tidak mengatakan bahwa ia juga merajut switer untuk suaminya, karena memang itu akan ia jadikan kejutan.
Gus Aham tersenyum mendengarnya.
"Sudah makannya?.", tanya Gus Aham yang di jawab anggukan oleh Aisyah.
"Ya sudah. tidur dulu,ya!, Mas mau mandi.",
"Saya siapkan air mandinya ya, Gus.",
Aisyah beranjak berdiri, tapi tangan Gus Aham menahannya.
"Ndak usah. kamu cepet istirahat, mas bisa sendiri.", ucapnya.
"Tapi.....,
"Ndak ada tapi-tapian. udah, cepet istirahat.", perintah nya.
Gus Aham meninggalkan Aisyah dan masuk ke kamar mandi, ia membersihkan diri sebelum tidur menemani istrinya.
Aisyah pernah bilang. saat mual, aroma tubuh suaminya lah yang membuatnya tenang dan mampu mengurangi mualnya. maka dari itu, Gus Aham selalu memastikan agar badannya bersih dan harum. selain agar badannya terasa segar, itu ia lakukan agar Aisyah merasa nyaman saat tidur ataupun duduk bersandar padanya.
Bagaimanapun, ia ingin memastikan keamanan, kenyamanan dan kesehatan istri dan anaknya.
Gus Aham keluar dari kamar mandi, Aisyah terlihat sudah terpejam di ranjang. Gus Aham menghampiri nya dan membenarkan selimut Aisyah.ia mengecup kening istrinya. lalu beralih ke sisi ranjang yang lain, Gus Aham segera naik, memasukkan kedua kakinya dalam selimut dan hendak bersiap tidur , sampai akhirnya Aisyah berbalik menghadap Gus Aham dan menyandarkan kepalanya di dada. Gus Aham tersenyum melihat perlakuan istrinya yang kian manja di masa awal kehamilannya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺