Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 78


__ADS_3

"Nyari baju, Gus.", jawabnya kemudian.


"Sudah ketemu?!.", tanyanya. ia mendekati istrinya. Aisyah menggeleng.


"Kaya'e ketinggalan di ndalem", jawabnya pelan.


"Saya, ndak ada baju ganti jadinya.", sambungnya lagi.


"Mau keluar nyari baju?!.", tanya Gus Aham. yang di jawab gelengan oleh Aisyah. ia malas keluar, malas bertemu dengan orang-orang. apalagi bertemu dengan orang-orang seperti tadi.


Aisyah melihat lemari di kamarnya. ia berjalan kesana dan membukanya. hanya ada handuk kimono dan beberapa bantal serta selimut tebal yang terlipat rapi di dalamnya. ia menutupnya lagi.


Bajunya basah saat hadir di acara khitanan temannya tadi. ntah sengaja atau tidak?!. tadi ada yang menabraknya, sehingga makanan yang di bawa orang itu menodai bajunya.


"Pakai baju, mas?!.", tawar Gus Aham. mencoba memberi solusi pada Aisyah.


"Di villa ndak ada siapa-siapa. Mbah Rosyid dan istrinya, baru kesini lagi besok. malam ini, pake baju mas. trus baju kamu bisa di cuci, besok kering. jadi bisa di pakai lagi.", sambungnya.


Akhirnya, Aisyah menyetujui saran suaminya. ia keluar dari kamar mandi dengan memakai kemeja Gus Aham. terlihat kebesaran di tubuhnya, sehingga hot pants yang biasa ia pakai sebagai pelapis dalamannya tidak terlihat. ia nampak hanya menggunakan kemeja saja.


Malu-malu Aisyah turun, dan menghampiri Gus Aham yang sedang mengeringkan bajunya di mesin pengering. ia melihat suaminya melakukan itu untuknya, membuat ia merasa tidak berguna bagi suaminya.


Memang setelah rujuk dengan Gus Aham. sebisa mungkin, Gus Aham tidak mengizinkan Aisyah melakukan pekerjaan yang berat. Gus Aham berusaha mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyiapkan air mandi untuk Aisyah sampai mencuci bajunya. meskipun hanya menggunakan mesin.


Bukan tanpa alasan Gus Aham memanjakan istrinya. ia ingin Aisyah dalam keadaan baik dan selalu sehat, agar tidak kelelahan yang bisa menjadi faktor terhambatnya memiliki momongan.


"Biar saya, Gus.", ucapnya. ia mendekat pada suaminya yang sedang berdiri di samping mesin cuci. ia sedikit terkejut dengan kedatangan Aisyah.


Wajah yang polos tanpa makeup. rambut ikal panjang yang terurai, menambah ayu paras cantiknya.


"Ini, sebentar lagi selesai.", ucap Gus Aham. dan tak berapa lama kemudian, mesin pengering itu berhenti berputar. Gus Aham segera mengambil baju Aisyah dan menggantungnya.

__ADS_1


"Mau makan?.", tanya Gus Aham. ia ingat istrinya belum makan tadi, saat di acara sahabatnya. Aisyah menggeleng, perasaan nya belum membaik. dan Gus Aham memahaminya.


"Ayo ikut , mas.", ajaknya. ia meraih tangan Aisyah dan mengajaknya keluar villa. ia mengajak istrinya kebelakang villa. ia berhenti di bawah pohon yang cukup besar.


Ternyata, di pohon itu. ada rumah pohon di atasnya. Gus Aham mengajak Aisyah naik. ragu-ragu Aisyah mengikuti apa yang dilakukan suaminya, tapi Gus Aham mengulurkan tangannya. membuatnya mau tidak mau menerima uluran tangan suaminya dan mengikutinya menaiki tangga yang melingkar di sekitar pohon.


Begitu sampai di atas. Gus Aham menunjukkan pemandangan kota Malang pada Aisyah. ia menunjuk gemerlap lampu yang terlihat seperti hamparan bintang berkelap-kelip. sungguh indah pemandangan kota itu di malam hari. membuat Aisyah sedikit terhibur dan tersenyum. ia menikmati pemandangan dan suasana malam itu.


"Bagus?!.", tanya Gus Aham. yang dijawab oleh anggukan dan senyuman dari istrinya.


"Suka?!.", tanya Gus lagi. Aisyah tersenyum.


"Terima kasih.", ucapnya. ia lantas bersandar pada bahu suaminya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Maaf.", ucap Aisyah. ia mengucapkan itu ketika bersandar di bahu suaminya. Gus Aham mengerutkan keningnya. ia pun bersandar pada kepala Aisyah.


ia tidak menjawab pertanyaan suaminya.


Karena Aisyah tidak mau menjawabnya. Gus Aham juga tidak akan memaksa untuk mengatakan apa yang ia pikirkan. ia lebih memilih mengajak Aisyah turun dan istirahat agar kesehatannya tidak terpengaruh oleh suara-suara sumbang yang memojokkannya.


Gus Aham berdiri. ia mengulurkan tangannya pada Aisyah. Aisyah meraih tangan Gus Aham dan segera berdiri untuk mengikuti suaminya menuruni tangga.


"Ach..", Aisyah berteriak. ia hampir saja jatuh jika Gus Aham tidak menahannya. kakinya terkilir, yang membuat Gus Aham menuntunnya.


Mereka berhenti di ujung tangga paling bawah untuk sementara. menunggu Aisyah menyeimbangkan langkahnya. ia melihat suaminya, Gus Aham nampak khawatir.


Akhirnya, Gus Aham menggendong Aisyah memasukinya villa, menuju kamarnya. sepanjang jalan menuju kamar, Aisyah hanya memandangi suaminya.


Gus Aham menurunkan Aisyah di ranjang begitu sampai kamar.

__ADS_1


"Sebentar, mas ambilkan salep dan air hangat untuk pijit.", ucapnya. ia hendak meninggalkan Aisyah, tapi tangan lembut istrinya menahannya. membuat Gus Aham menoleh dan duduk lagi di tepian ranjang.


Mereka saling menatap. dan Gus Aham hanya diam di tempatnya. Aisyah beranjak dari tidurnya dan duduk perlahan. Gus Aham masih belum mengerti apa mau istrinya. ia masih menurut, apa yang ingin di ucapkan atau dilakukan istrinya.


"Aku, ingin hamil lagi.", ucapnya pelan. membuat Gus Aham menatapnya tajam. ingin, tapi kalau Tuhan belum memberi. bisa apa kita?!.


"Njenengan bisa melakukannya, kan?!.", ucap Aisyah lagi. memang, semenjak rujuk mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri lagi.


Bukan tanpa sebab, Gus Aham tidak menjalankan kewajibannya, karena ia tidak mau melanggar perjanjian nya dengan Aisyah. Aisyah pernah memintanya untuk memulai semua dengan persahabatan. jadi, sebelum Aisyah bisa menerimanya atau Aisyah tidak memintanya, ia tidak akan melakukan apapun pada istrinya.


Kini, Aisyah memintanya sendiri. tapi, Gus Aham masih ragu. apakah Aisyah melakukan ini, sesuai dengan keinginannya atau hanya sekedar menuruti egonya karena mendengar gunjingan orang-orang tentangnya?!.


Gus Aham tidak ingin Aisyah menyesali apa yang terjadi malam ini, bila Gus Aham sampai khilaf malam ini.


Aisyah yang melihat suaminya terdiam dan nampak berpikir itu, semakin mendekat kan wajahnya pada Gus Aham. ia mengecup bibir suaminya pelan, tapi belum juga mendapat balasan dari pemiliknya.


Aisyah pun mengulanginya. ia meng*cup bibir suaminya lembut. kali ini di sertai dengan kul*man yang membuat Gus Aham membalasnya. dan pergumulan pada malam itupun akhirnya terjadi.


Cukup lama mereka bermesraan, saling cumbu dan peluk. menyalurkan hasrat dua hati yang lama terpendam. keringat yang bercucuran pun menjadi saksi bisu dari dua jiwa yang kini tengah menyatu. haus rindu terbayar sudah.


Aisyah masih memeluk tubuhnya erat, meski pergumulan itu sudah selesai. yang membuat Gus Aham, juga memeluknya hangat.


Gus Aham hanya berharap, saat matahari terbit esok. Aisyah tidak menyesali apa yang diminta oleh Aisyah, dan apayang



mereka lakukan malam ini. ini bukanlah sebuah kesalahan, tapi mengingat janjinya pada Aisyah waktu itu. ia hanya takut akan membuat istrinya kecewa.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2