
Mobil berhenti tepat di lokasi longsor. Gus Aham dan Aisyah turun setelah memarkirkan mobilnya.
Mereka lantas berjalan menuju lokasi longsor. ada alat berat dan para warga yang bekerjasama untuk memindahkan tanah longsoran. banyak juga mobil berjejer yang tidak bisa putar balik, karena jalan yang sempit.
Aisyah dan Gus Aham terus mencari posisi mobil yang mengangkut Al-Qur'an kecil, yang sudah di pesan Ummi untuk souvenir.
Sampai mereka melihat sebuah mobil box berwarna hitam. bertuliskan "MUSHAF USMANIYAH INDONESIA". Gus Aham dan Aisyah segera menghampiri.
Nampak beberapa orang mengeluarkan mushaf itu, dan memindahkannya ke mobil lain yang terparkir jauh di halaman seorang warga. cukup jauh di belakang mereka.
Kehadiran Aisyah dan Gus Aham segera di ketahui dan di sambut oleh mereka. setelah berbasa-basi dan saling menyapa, barulah mereka membantu Gus Aham dan Aisyah membawa mushaf pesanan mereka ke mobil Gus Aham.
"Terimakasih.", ucap Gus Aham seraya menjabat tangan para staf percetakan itu, begitu selesai memindahkan semua mushaf yang di pesan ke mobilnya.
"Langsung pulang, Gus?.", tanya salah seorang dari mereka.
"Iya.",
"Hati-hati, Gus. semoga selamat sampai tujuan.", ucapnya.
"Amin. saya, permisi dulu.", pamit Gus Aham. ia langsung menaiki mobil begitu juga dengan Aisyah.
Mobil mulai berjalan perlahan. melintasi jalanan yang basah karena air hujan. dan rintik hujan mulai membasahi bumi kota yang mendapat julukan 'kota bunga' itu.
Karena cuaca tidak bersahabat. hujan bercampur angin dan cukup lebat. Gus Aham dan Aisyah memilih mencari tempat berteduh dan istirahat dulu.
Tidak aman bagi mereka berkendara, dicuaca seperti ini. apalagi tanah bisa longsor sewaktu-waktu.
Alhasil, mereka menemukan sebuah penginapan. untuk istirahat siang ini. setidaknya, sampai hujan berhenti.
Gus Aham mengajak Aisyah berjalan masuk, untuk menemui pemilik losmen.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham, begitu jarak antara ia dan si ibu pemilik losmen sudah dekat. ibu itu, hanya memandangnya.
"Apa masih ada losmen yang kosong?.", tanyanya lagi.
"Ada. mari, saya tunjukkan.", jawabnya.
Gus Aham dan Aisyah mengikutinya. dan sampailah mereka di depan sebuah kamar. pemilik itu, membuka pintu untuk mereka.
__ADS_1
Gus Aham dan Aisyah masuk. ada sebuah ranjang di sana, meja dan lemari. cukuplah untuk mereka berteduh dan beristirahat hari ini.
Pemilik losmen meninggalkan mereka begitu mendapat uang dari Gus Aham, sebagai pembayaran sewa. Aisyah duduk di ranjang. ntah kenapa?!, ia merasakan badannya mendadak tidak enak.
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham. ia mendekati Aisyah yang merasa tidak nyaman dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Ndak apa, mas. cuman, saya ngerasa ndak enak aja.",
"Ndak enak kenapa?!.",
"Ya, ndak tau. badan tiba-tiba berasa ndak enak.",
"Mas, mintakan pemilik losmen air hangat ya?!.", tawarnya. ia berusaha membuat istrinya merasa lebih baik.
"Ndak usah, mas.", Aisyah menggeleng dan malah menarik tangan Gus Aham untuk memeluknya.
"Oo..., jadi minta di peluk?. minta dicium juga, ndak?, minta di....,
"Ndak minta apa-apa. cuma minta di peluk.", sahut Aisyah tegas. Gus Aham merasa aneh dengan istrinya, ia merasa ada yang salah. biasanya, kalau Aisyah minta di manja, itu pertanda, ia meminta nafkah batin. tapi kali ini?!, ia malah menolak, dan hanya minta di peluk.
"Sebenarnya kenapa?!. ada yang ndak nyaman?.", tanya Gus Aham pelan. ia ingin mendengar keluhan istrinya.
"Yaudah, sini!.", ucapnya.
Ia menyandarkan diri pada sisi ranjang, lalu menarik aisyah dari belakang, sehingga istrinya beringsut mundur. Gus Aham memeluk istrinya dari belakang, dan ntah kenapa?!. hanya dengan begitu Aisyah merasa nyaman. rasa tidak enak di badannya pun berangsur menghilang.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Malam mulai menampakkan warnanya, dan hujan belum juga reda. Gus Aham tidak bisa mengajak Aisyah pulang malam ini. terlalu beresiko, bila harus keluar di hujan yang cukup lebat ini.
"Kita belum bisa pulang.", ucap Gus Aham. matanya menatap keluar melalui jendela. Aisyah yang mendengarnya hanya mendengus. ia menyesal mengajak suaminya kesini, pasti semua orang yang berada di ndalem mengkhawatirkan mereka.
Ponsel Gus Aham berdentang dengan nada rock kepunyaan salah satu band legendaris. bukan tanpa sebab Gus Aham memasang lagu itu sebagai nada dering. ia memasangnya, karena suaranya cukup keras saat ponsel itu jauh darinya. memudahkan Gus Aham mendengar dan mengetahui jika ada panggilan masuk.
Ia melihatnya sekilas, dan segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, mi.", ucap Gus Aham. menyapa ibunya yang berada di seberang sana.
"Waalaikum salam. lak tenan, to. gak layak, Ummi kok lihat Mu'idz ndek rumah. wes, gak pulang-pulang Iki nek sama kamu.", ( waalaikum salam. bener, kan. pantesan, Ummi kok lihat Mu'idz ndek rumah. wes, ndak pulang-pulang ini kalau sama kamu.", ucap Ummi, yang langsung tancap gas ngomelin Gus Aham.
__ADS_1
"Kan, Aham suaminya. ndak apa to, Ummi?!.", ucapnya. ia berusaha membela diri.
"Ndak apa, ya ndak apa, le!. tapi, kan waktu persiapan semakin mepet. trus, Saiki musim hujan lagi. bahaya, le. usume longsor.", jawab Ummi khawatir.
"Bahaya lagi, kalau sudah musim hujan, longsor. trus, Aisyah perginya sama kang Mu'idz. mau diajak berteduh?!, jelas Aisyah ndak mau, mi. akhirnya, tetep pulang naik mobil.", sahutnya.
Gus Aham tersenyum melirik istrinya yang sedang duduk selonjoran di ranjang, sementara dirinya berdiri di samping jendela. Aisyah memberi isyarat untuk mendekat, ia ingin bicara dengan Ummi.
Gus Aham mendekatinya. ia memberikan ponselnya pada Aisyah.
"Assalamualaikum, Ummi.",
"Waalaikum salam.", jawab Ummi. kali ini, dengan suara lembut.
"Saya, ndak bisa pulang sekarang, Ummi. ini hujan angin disini."
"Iya, nduk. ndak apa, hati-hati ya!.",
"Injih, Ummi.",
"Nduk. nek di apa-apain Aham, jangan mau. biar tau rasa.", ucap Ummi di seberang, yang membuat Aisyah tertawa hingga Gus Aham yang duduk di depannya mengerutkan keningnya.
"Yasudah ya, nduk. wassalamualaikum.",
"Waalaikum salam.", jawabnya. lalu menutup telepon, mengakhiri panggilan dari Ummi.
"Ummi, bilang apa?!.", tanya Gus Aham, ketika Aisyah mengulurkan ponsel pada suaminya.
"Ummi, paham kalau njenengan ngeyel nganter, karena ada maksud dan mau modusin, saya.", jawabnya santai. ia bahkan merebahkan tubuhnya untuk bermain ponsel disana.
"Terus, kenapa kalau emang omongan Ummi bener?.", tanya Gus Aham. yang masih duduk dan menatap istrinya.
"Yach. mau gimana lagi?!, mau nolak juga dosa.", jawab Aisyah. membuat suaminya gemas dan segera menimpa tubuhnya.
"Mas!.", pekiknya. walaupun tubuh suaminya tidak menimpa sepenuhnya dan masih menahan dengan kedua tangannya, tapi tekanan tubuh bagian bawahnya cukup terasa. membuat Aisyah kaget dan malu bersamaan.
"Ok. ayo!, nyari pahala.", ucap Gus Aham bersemangat. dan langsung mulai mengecup bibir istrinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺