Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 19


__ADS_3

 


Gus Aham menatap laptopnya di kamar. ntah kenapa?!, ucapan Abah pagi ini menggema di telinganya. biasanya, setelah bertengkar dengan Abah, Gus Aham pasti keluar dan pergi ke arena balap motor liar. ia bisa seharian atau semalaman penuh disana, untuk melampiaskan amarahnya.


 


Tatapannya tidak fokus, pikirannya kosong. benar-benar membuat kepalanya pusing.


Gus Aham memijat kepalanya sendiri pelan, ia merasa malas melihat semua laporan yang dikirimkan lewat email padanya. jadilah ia hanya duduk di sofa dan memangku laptop itu.


Dalam hal ini, bukan sepenuhnya salah Abah ataupun Ummi. sebenarnya, Gus Aham sendiri sedari kecil juga sudah di arahkan ke pondok.


Ia mengikuti perintah Abah untuk mondok di Ploso, tempat Abah dulu menimba ilmu juga. tapi ia sering membuat masalah, sering keluar pondok dan mulai ikut balap liar.


Saat Gus Aham di ta'zir (dihukum) oleh pihak pondok, dan orang tuanya di panggil, ia pasti minta pindah, begitu seterusnya.


Ibarat kata, padi baru di semai, belum sampai berbuah sudah di pindah tempat. pantas kalau ndak panen.


Sampai yang terakhir Gus Aham pindah ke Lirboyo, pas minta pindah lagi Abah benar-benar marah, akhirnya Gus Aham bertahan dan lulus di Lirboyo Karena permintaan Ummi.


Selama di Lirboyo pun Gus Aham sering berkasus, di ta'zir. kebanyakan adalah karena keluar tanpa izin, baik keluar di jam pelajaran atau di waktu malam hari.


"Pusing, Gus?.", tanya Aisyah sambil memijit perlahan kepala suaminya. Gus Aham sedikit terkejut dengan perlakuan Aisyah, apalagi ia tidak menyadari kehadiran istrinya.


Gus Aham menatap istrinya sejenak, lalu melepas kacamata anti radiasi yang di pakainya. Gus Aham tidak memiliki masalah dengan penglihatannya, hanya ia lebih nyaman saat bekerja dengan memakai kacamata. untuk melindungi penglihatannya dari cahaya laptop atau cahaya ponsel secara langsung.


"Menurutmu, aku orang yang bagaimana?.", tanyanya.


"Njenengan orang yang giat, mungkin Abah hanya belum bisa menerima keputusan njenengan.", jawabnya. membuat Gus Aham mengerenyitkan keningnya. menerka bahwa Aisyah sudah tau tentang yang baru saja terjadi antara ia dan Abah.


Iya, Aisyah memang sudah tau. Ning Nafis yang memberitahunya setelah pulang dari mengantar Ning Shofy ke TK yang di kelola diniyah ini juga.


Bukan tanpa alasan, Ning Shofy memberitahunya. tapi lebih ke agar Aisyah tidak kaget bila melihat emosi Gus Aham tidak stabil.


Kenyataannya, yang dilihat Aisyah bukan laki-laki yang sedang marah. lebih ke seorang laki-laki yang sedang merenung.

__ADS_1


"Aku, laki-laki yang buruk.", ucapnya mengalihkan pandangannya dan menunduk.


"Salah.", ucap Aisyah beralih ke depan Gus aham, kedua lututnya menopang tubuhnya, Aisyah menggenggam tangan suaminya.


"Setiap orang punya sisi baik dan buruk, Abah hanya belum tau apa-apa saja yang sudah njenengan lakukan di luar.", Gus Aham terdiam. ia menatap Aisyah yang menunduk menatap tangan mereka yang tertaut.


"Jangan karena Abah bersikap demikian, lalu njenengan membuat jarak. Abah berkata begitu pasti ingin yang terbaik untuk putranya. njenengan putra Abah, sedikit atau banyak. Abah pasti memiliki rasa sayang di hatinya untuk njenengan.", ucapnya pelan.


"Hanya mungkin, Abah merasa kecewa karena njenengan terus memberontak dulu. dan njenengan menolak untuk mengurus pondok.", lanjutnya.


"Gus, kalau njenengan ndak mau ngurus pondok. ndak mau jadi penerus Abah dan Ummi, itu ndak masalah, mungkin njenengan bisa membantu mengembangkannya. nanti kalau Gus Fahim sudah selesai mondok dan menikah, njenengan bisa minta Gus Fahim untuk jadi penerus Abah dan Ummi.", sambungnya.


"Yang penting, jangan marah dan menjauh dari orang tua. kita ada karena mereka, mendapatkan fasilitas, pendidikan dan semua nikmat dunia ini karena usaha dan doa mereka. tidak bisakah sedikit saja kita menyenangkan mereka?!, hanya sedikit.", ucapnya menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang menyatu pada suaminya.


"Nantinya, pelan-pelan juga kita beritahu Abah tentang yayasan yang njenengan kelola.",


"Abah ndak akan mau mendengar.", jawabnya cepat.


"Njenengan sudah coba?.", tanya Aisyah. Gus Aham menggeleng.


"Maka dari itu, njenengan perlu pendekatan dengan Abah. bagaimana caranya?!, dengan menyenangkan Abah dan Ummi. kalau Abah dan njenengan sudah dekat, sering ngobrol dan bertukar pikiran, akan mudah bagi njenengan dan Abah untuk saling mengerti dan mendukung satu sama lain.", jelas Aisyah.


Aisyah merangkup pipi suaminya dengan kedua tangannya.


"Njenengan bisa. tanya kepada Gus Ma'adz, pasti di bantu. saya pun akan membantu njenengan.", jawabnya menenangkan.


Gus Aham menatap manik istrinya dalam, ada rasa bahagia terpancar dari matanya. dan memang benar, apa yang kita suka belum tentu baik buat kita, dan apa yang kita benci bisa jadi itu adalah yang paling baik buat kita.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah mengajak Gus Aham ke ndalem Gus Ma'adz, kebetulan ada tamu yang sowan jadilah mereka lewat pintu samping.


Ning Shofy yang sedang bermain bersama Ning Dija, begitu senang melihat Aisyah dan Gus Aham datang. pasalnya meskipun rumah mereka satu lokasi dengan ndalem Abah dan Ummi,tapi mereka jarang kumpul dan bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Bulek, pak lek.", sapa Dija. sedang Ning Shofy sudah ngamplok, minta gendong Gus Aham duluan.

__ADS_1


Aisyah tersenyum, jari telunjuknya di letakkan di bibirnya. memberi isyarat pada dua anak kecil itu untuk tidak berisik.


"Mimi sama Abi, ada tamu. ya?!.", tanya Aisyah lirih sambil duduk disebelah Ning Dija, dan ia mengangguk mendengar pertanyaan Aisyah.


"Bulek,bkapan pulang?.", tanya Dija. aisyah melihat Gus Aham bermain dengan Ning Shofy.


"Tadi pagi. katanya tadi Ning Dija lomba MTQ tingkat MI di kecamatan?!, gimana?. seneng?!.",


"Seneng lah, bulek. wong aku juara satu.", ucapnya tertawa dengan gaya sombongnya. membuat Aisyah tersenyum melihatnya karena sekilas mirip dengan gaya suaminya.


"Huss. ndak boleh gitu, itu namanya sombong.", ucap Ning Nafis yang baru saja masuk dan bergabung dengan Aisyah.


"Sekali-kali, sombong boleh dong. mi.", jawabnya.


"Kebanyakan main sama pak lek ini.",ucap Mimi nya.


"Kenapa, aku di bawa-bawa. mba?.", tanya Gus Aham yang mendengar dirinya ikut di bicarakan.


"Emang. sekarang dia begitu, gampang banget sombong. pas di tanya katanya lihat pak lek.",


"Ndak apa ya, ja. sekali-sekali.", ucap Gus Aham yang baru saja duduk di dekat Aisyah.


"Ho'oh.", sahut Ning Dija. yang membuat Gus Aham mengajaknya TOS.


"awah, kaya'e Abi ketinggalan ini.", ucap Gus Ma'adz yang baru saja masuk ke ruang keluarga, karena tamunya baru saja undur diri dan segera bergabung duduk bersama mereka.


"Tamu dari mana, mas?.", tanya Gus Aham.


"Palembang.", jawabnya.


"Jauh banget.",


"Iya. dulu, mbae juga mondok disini. nah, sekarang ganti adiknya yang di pondokin disini. kalau mbae Sekarang mondok dan hafalan di pondok Ummi.", jelasnya.


"Mas. aku ada perlu sama, mas.", ucap Gus Aham.

__ADS_1


Ning Nafis yang paham, segera mengajak Aisyah dan kedua putrinya pergi ke gazebo di kebun bunga, yang terletak di belakang rumah. tempat khususnya keluarga Gus Ma'adz untuk berkumpul.dengan sebuah kolam berisi ikan kecil yang mengelilingi dua gazebo di tengahnya.


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2