Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 54


__ADS_3

"Bulek. nanti tidur sama Shofy sama kakak Dija, ya?.", pinta Ning Shofy.


"Bulek, harus pulang ke panti.", jawab Aisyah ragu.


"Ndak boleh. bulek ndak boleh ke panti.", rengek Dija, yang tidak kalah riweuhnya dengan adiknya.


"Iya. bulek, kan jalan-jalannya udah lama.", sahut Ning Shofy.


"Ayo, bulek. berdiri!.", ajak Ning Shofy. yang membuat Ning Dija dan Aisyah berdiri.


"Ayo, ikut. hati-hati ya, bulek. jalannya.", ucap anak kecil itu lagi, seraya menuntun tangan Aisyah. sesekali mereka memberi peringatan, jika ada tangga kecil di depannya.


Sementara ibu sedang berbincang-bincang dengan Ummi. dua anak kecil, putra dari Gus Ma'adz dan Ning Nafis itu, menuntun Aisyah hingga sampai ke gazebo taman belakang.


"Assalamualaikum, pak lek.", ucap Ning Shofy dan Ning Dija. hampir bersamaan. Gus Aham sedikit terkejut melihat kedua keponakannya datang dengan membawa Aisyah, tapi selebihnya Gus Aham terlihat senang.


Berbeda dengan Aisyah. raut wajahnya menunjukkan rasa terkejut, sedih dan takut hampir bersamaan.


"Ayo, duduk. bulek!.", perintah dua anak kecil itu. sambil menuntun Aisyah duduk di pinggiran gazebo. Aisyah duduk, Gus Aham beringsut duduk di tepi gazebo juga. sudah lama, ia tidak sedekat ini dengan istrinya.


"Saya, pasti di cariin sama ibu.", ucapnya gugup.


"Bulek, kok gitu ngomongnya?!. bulek sama pak lek lagi marahan, ya?.", tanya Ning Dija. yang menyadari sikap dan tutur kata Aisyah berubah.


"Kata, Mimi. ndak baik marahan ya, kak?!.", celetuk Ning Shofy.


"Ho'oh.", sahut kakaknya. sambil mengangguk-angguk.


Gus Aham dan Aisyah terdiam mendengar ucapan dua keponakannya. Gus Aham menunggu Aisyah menjawab pertanyaan dua keponakannya, karena tidak mungkin baginya untuk menjawab lebih dulu. ia takut salah ucap yang menyinggung perasaan Aisyah, sehingga membuat jarak lagi antara mereka.


Untuk saat ini, Gus Aham lebih memilih banyak diam dan menikmati pemandangan indah di depan matanya. ya, pemandangan itu adalah wajah cantik dan manis milik istrinya, yang sudah beberapa lama ini tidak ia lihat sedekat ini.


Aisyah bingung karena tidak mendengar jawaban dari Gus Aham. apakah, Gus Aham sudah pergi?. tapi kenapa aroma tubuh dan parfumnya masih tercium?. pikirnya.


"Saya, dan pak lek. ndak marahan kok.", jawab Aisyah, pada akhirnya. ia tidak mungkin mengatakan di depan kedua putri Ning Nafis, kalau mereka bertengkar sehingga tidak ada hubungan apapun di antara dirinya dan Gus Aham. kedua bocah kecil yang menyanyangi Aisyah dan Gus Aham itu, tidak akan mengerti.

__ADS_1


"Kalau gitu. temeni pak lek, sarapan!.", perintah Ning Shofy.


"Iya. kasian, pak lek. sarapan sendiri di gazebo.", sahut Ning Dija. Aisyah sedikit terkejut dengan permintaan mereka.


"Kata, Mimi. pak lek, ndak mau sarapan bareng. karena bulek, ndak mau deket-deket pak lek.", sambung Ning Dija.


"Apa gara-gara dedek bayi?.", tanya Ning Shofy. Aisyah terdiam mendengar pertanyaan dari Ning Shofy.


Mereka berdua memang tau, kalau Aisyah sedang hamil. itu, karena Ning Nafis selalu bilang pada mereka, agar tidak banyak permintaan dan menyusahkan Aisyah, karena ada adik mereka di perut Aisyah.


"Ho'oh. kaya' bulek Bilqis ya, Shof. minta es puter, tapi gak mau pakai es. mbingungne.", sahut Ning Dija. menggeleng-gelengkan kepalanya, mengingat permintaan aneh-aneh bulek nya yang sedang hamil tua itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham yang langsung menangkap respons Aisyah dari wajahnya, ketika kedua ponakannya mengungkit bayi-bayi mereka langsung memberi isyarat untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir, pada kedua ponakannya yang masih saja bercerita dan ngomel sendiri.


Aisyah terdiam. ada yang mengingatkan tentang lukanya. ia berdiri.


"Permisi.", ucapnya. ia melangkah dengan menggunakan tongkat sebagai penunjuk jalan.


"Bulek. mau kemana?.", tanya Ning Dija. yang berlari dan di ikuti Ning Shofy di belakangnya.


"Ho'oh. bulek, Shofy capek.", sahut Ning Shofy yang baru saja bisa menyamai langkah Aisyah dan kakaknya.


"Saya, harus balik ke panti dulu.", jawab Aisyah.


"Bulek, mau ketemu, Mbah ti. to?!.", tanya Ning Shofy. iya, mereka biasa memanggil ibu Aisyah dengan sebutan "Mbah ti" atau "Mbah uti". Aisyah mengangguk.


"Ayo, bulek. tak anter sama kakak.", ajak Ning Shofy pada Aisyah. ia tersenyum dan mengangguk.


Aisyah di antar Ning Shofy dan Ning Dija ke kamar Ummi. terlihat ibu yang hendak berpamitan masih berbicara dengan Ummi.


"Mbok ya. jangan pulang dulu to, yu. nginep disini lagi, ya?!.", pinta Ummi pada ibu.


"Ngapunten, Bu. mbenjang-mbenjang maleh Kulo tak mriki. mesak aken lare panti, ditinggal Ket wingi." ( maaf, Bu. besok-besok lagi saja, saya kesini. kasihan anak panti, ditinggal dari kemarin).", jawab ibu.

__ADS_1


"Nduk. sampean keri saja, nggeh?.", ( nduk. kamu tinggal saja, ya?).", pinta Ummi yang melihat Aisyah masuk dengan kedua cucu perempuan nya.


"Mi.", ucap Abah penuh penekanan. seolah mengisyaratkan kalau Aisyah bukan lagi menantunya.


Ya, memang Aisyah bukan lagi jadi menantunya. dan tidak pantas baginya bila menginap disini tanpa di dampingi keluarganya.


"Tapi, bah.",


"Mi.", sahut Abah, mengangguk. memberi isyarat pada Ummi untuk membiarkan Aisyah dan ibunya pulang.


Pada akhirnya, dengan berat hati. Ummi merelakan Aisyah dan ibunya pulang. di peluknya Aisyah erat-erat, berat bagi Ummi untuk berpisah dengan menantunya itu.


"Sering-sering jenguk, Ummi. nggeh, nduk?.", pesannya dengan tetap memeluk erat Aisyah.


"Insyaallah, Bu.", jawab Aisyah.


"Kok. ibu?. emoh, Ummi nek di panggil gitu. ndak tak izinin pulang.", ucap Ummi merajuk. Aisyah terdiam. ia hanya mencoba menghormati Ummi sebagai santrinya lagi. bukan sebagai menantu. karena memang, ia tak lagi menyandang status sebagai istri dari putranya.


"Coba, panggilnya gimana?.", tanya Ummi. melepas pelukannya dan menggenggam erat tangan Aisyah.


"U.., Um.., Ummi.", jawabnya ragu.


"Ummi, nduk.", sahut Ummi penuh penekanan.


"Panggilnya, Ummi. seperti biasa, ndak boleh panggil, ibu. Ummi, ndak mau. ndak ikhlas.", ucap Ummi mengingatkan dengan penuh penekanan lagi. ragu-ragu, Aisyah mengangguk.


Akhirnya, mobil yang di kendarai mas Raihan untuk menjemput ibu dan Aisyah datang juga. Ning Nafis, Gus Ma'adz, Abah dan kang Mu'idz yang sedari tadi menemani mereka menunggu jemputan segera membantu Aisyah dan ibu.


Seperti Ning Nafis yang membantu Aisyah turun. dan kang Mu'idz yang membantu memasukkan hadiah dari Ummi untuk ibu dan Aisyah.


Aisyah, ibu dan mas Raihan segera menaiki mobil. pintu sudah di tutup oleh kang Mu'idz. sementara ada yang mengintip di balik tirai ruang tamu. ya, Gus Aham hanya bisa menatap kekasih hatinya dari balik tirai.


Begitu mobil berjalan. Abah segera masuk ke ndalem dan berjalan menuju kamarnya. Abah tau, Ummi pasti merasa sedih Aisyah pergi. oleh sebab itu, Abah segera menemuinya stelah mobil mas Raihan hilang di balik gapuy ndalem.


"Tenang, mi. sebentar lagi juga, Aisyah akan jadi keluarga kita lagi.", ucap Abah menenangkan istrinya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2