
Gus Aham sengaja meminta satu tempat dengan spot pemandangan kota Surabaya pada pelayan untuk dirinya dan Aisyah.
"Bagus tempatnya?.", tanya Gus Aham ketika mereka sudah duduk berhadapan dan pelayan sudah pergi untuk menyiapkan semua pesanan mereka. lagi, dan lagi Aisyah hanya mengangguk. mengabaikan dirinya, tapi ia sudah terbiasa. jadi, Gus Aham hanya tersenyum.
Acara makan malam pun hanya di isi keheningan, suara musik dan riuh ramai suara pengunjung yang lain. antara Gus Aham dan Aisyah?!. jangan di tanya, tidak ada percakapan apapun di antara mereka, kecuali pelayanan Gus Aham pada Aisyah selama makan.
Aisyah menyelesaikan makannya dengan cepat. ia ingin segera pergi dari cafe itu.
"Mau foto atau menikmati suasana malam dulu?.", tanya Gus Aham begitu mereka menyelesaikan makan malamnya.
"Mboten. (tidak).", jawabnya pelan.
"Baiklah. tunggu disini, mas ke kasir sebentar.", ucap Gus Aham.
Ia berjalan meninggalkan Aisyah duduk sendirian menuju kasir. cukup lama ia menunggu Gus Aham sampai akhirnya suaminya kembali setelah hampir tiga puluh menit. Aisyah tidak komplain ataupun bertanya, kemana suaminya pergi dalam waktu yang cukup lama?!.
Aisyah berjalan keluar cafe lebih dulu, meninggalkan suaminya yang masih berjalan di belakangnya. ia segera meraih gagang pintu mobil, begitu sampai di samping mobil BMW milik Gus Aham.
Dan, Aisyah terkejut melihat sebuket mawar merah berada di kursi tempat ia biasa duduk di samping Gus Aham. Aisyah menoleh ke belakang melihat suaminya yang tersenyum tulus dan melihatnya. ia terdiam, tidak bisa berkata atau bereaksi apa-apa.
Tiba-tiba Aisyah memalingkan wajahnya. ia menutup pintu mobil bagian depan dan hendak membuka pintu mobil jok belakang. tapi Gus Aham mencegahnya, sehingga Aisyah menatapnya. ia menggeleng, memberi isyarat pada Aisyah untuk tidak melakukan itu.
Gus Aham menuntun Aisyah ke mobil bagian depan. ia membuka pintu, memindahkan sebuket mawar itu ke jok belakang dan mempersilahkan istrinya untuk duduk di depan, disampingnya.
Melihat perlakuan suaminya, Aisyah hanya terdiam. ia menunduk tanpa kata, lalu masuk ke mobil. sedang Gus Aham menutup pintu dan beralih ke pintu mobil sisi lainnya. ia masuk, duduk di belakang kemudi dan segera menutup pintu.
"Mau jalan-jalan dulu, sayang?!.", tanyanya memecah kesunyian ketika mobil berjalan menyusuri kota Surabaya. Aisyah menggeleng.
"Langsung ke hotel?.", tanyanya lagi. dan Aisyah mengangguk.
Gus Aham melajukan mobilnya menuju hotel tempat mereka menginap selama melakukan pengobatan di kota pahlawan itu. kali ini, ia memilih jalur terlama dari biasanya. ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. apalagi, Aisyah baru saja bisa melihat. akan sangat bagus bila ia bisa mengajak istrinya menikmati keindahan malam kota ini, pikirnya.
__ADS_1
Aisyah tau, Gus Aham mencari rute terjauh dari hotel tempat mereka menginap, karena ia tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. tapi Aisyah tidak protes, ia memilih diam dan menikmati keindahan malam kota Dengan aneka lampu warna-warni nya di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Tiba-tiba mobil BMW yang mereka tumpangi berhenti. ya, mobilnya mogok. dan hujan mulai turun dengan derasnya. "Tunggu disini, sayang. mas, mau periksa mesinnya.", ucapnya pada Aisyah yang hanya di jawab dengan anggukan.
Gus Aham keluar dengan menggunakan payung. ia membuka kap mobil unik melihat apa penyebab mobil BMW nya mogok.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah beberapa saat ia mengotak-atik mesin mobil miliknya dan tidak bisa menemukan penyebabnya. Gus Aham menelpon seseorang untuk menjemput mereka, ia kemudian mengirim lokasi mereka lewat sebuah aplikasi.
Gus Aham masuk lagi kedalam mobil. bajunya terlihat sedikit basah, karena hujan kali ini di sertai dengan angin.
Gus Aham mengambil sesuatu di bawah tempat duduk jok belakang yang ternyata adalah tempat penyimpanan semua kebutuhan nya mulai dari baju, jaket dan sepatu. itu hanya akan Gus Aham pakai di saat ada acara mendadak dan ia tidak sempat pulang. jadi ia bisa ganti baju dengan mengambilnya dari sana.
Gus Aham mengambil jaketnya, lalu memakaikan pada tubuh Aisyah.
"Pakai ini, sayang. udaranya cukup dingin.", ucapnya sambil memakaikan jaket pada Aisyah. Aisyah memandangnya.
"Sebenarnya, siapa njenengan?!.", pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aisyah. matanya masih memandang suaminya yang masih sibuk membenarkan jaket miliknya yang ia pakaikan pada tubuh istrinya.
Gus Aham sedikit terkejut dengan pertanyaan istrinya. ia tidak mengerti, kenapa istrinya bertanya seperti itu.
"'Sebentar baik, sebentar jahat. sebentar bersikap lembut dan dalam sekejap berubah menjadi kasar. siapa sebenarnya, njenengan?. apakah masih ada yang tidak saya ketahui dari, njenengan?!.", tanyanya, yang melihat wajah suaminya bingung dengan maksud pertanyaan nya.
"Sayang....",
"Siapa saya, dimata njenengan?!. aib?, mainan?!, atau apa?.", sahutnya. memotong ucapan Gus Aham.
"Tidak!.", jawab Gus Aham tegas.
"Tidak ada aib. tidak ada mainan atau apapun!. kamu istriku, Selamanya akan begitu.", jawab Gus Aham emosional.
__ADS_1
Ia tidak menyangka, istrinya berpikir demikian.
"Dan karena saya istri, njenengan. makanya, saya tidak bisa memilih takdir hidup saya sendiri.", ucap Aisyah. ia mengalihkan pandangannya.
Aisyah keluar dari mobil. dan Gus Aham segera mengikutinya. buru-buru ia melepas jas nya untuk menutupi kepala kekasihnya agar tidak kehujanan.
"Jangan main air hujan, sayang. dokter Eric bilang, matanya tidak boleh kena air dulu. dan lagi, kamu gampang pusing kan, kalau kena air hujan?!. aku sering mendengarmu.", ucapnya.
Aisyah menatap suaminya yang kini menutupi kepalanya dengan jasnya. ia ingat tidak pernah memberi tau padanya, bahwa setiap kali ia terkena air hujan, ia akan merasa pusing.
Tapi rupanya, Gus Aham pernah mendengar obrolan Aisyah dan Ummi.
"Minum obat apa, nduk?.", tanya Ummi ketika itu saat melihat Aisyah meminum obat pereda pusing di meja makan.
"Obat pusing, Ummi. Aisyah, habis kehujanan. jadi agak pusing.
Tak di sangka, diam-diam Gus Aham mengingatnya.
"Payungi diri sendiri, Gus. njenengan, bisa sakit.", ucapnya. ia masih menatap wajah suaminya.
"Lebih baik. mas, yang sakit daripada kamu.", jawab Gus Aham. membuat Aisyah tersenyum getir mengingatnya.
"Saya tidak akan sakit, karena saya, sudah mati rasa.", ucap Aisyah setelah terdiam beberapa saat dan memalingkan wajahnya. Gus Aham tidak mengerti maksud istrinya. ia berusaha mencari tahu.
"Ya. sejak, njenengan tidak mempercayai saya. sejak saat itu pula saya mati rasa. sejak saat njenengan memutuskan hubungan kita, sejak saat itu, saya tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan njenengan.", ucap Aisyah.
Kilat menyambar. persis seperti perkataan Aisyah yang baru saja ia dengar. terdengar menggelegar dan menyayat hatinya. mengaduk-aduk perasaannya saat ini.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1