Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 52


__ADS_3

Aisyah berjalan menuju kamar Ummi dengan di tuntun Ning Nafis. sementara ibu dan mas Raihan mengikuti dari belakang.


Gus Aham dan Gus Ma'adz terkejut sekaligus gembira melihat Aisyah dan keluarganya datang. Gus Aham dan Gus Ma'adz pun segera menghampiri mereka dan mencium tangan ibu, lalu menjabat tangan mas Raihan dan Aisyah.


Sementara kang Mu'idz, sudah berdiri di samping pintu kamar Ummi. ia mengetuk pintu sesaat sebelum membukakan pintu untuk Aisyah dan keluarganya.


Begitu melihat Abah, mas Raihan segera meraih tangan Abah dan menciumnya. sementara kang Mu'idz berjalan ke arah ranjang Ummi.


"Assalamualaikum, Bu.", ucap kang Mu'idz, di dekat ranjang Ummi.


"Bu, lihat siapa yang datang.", bisik kang Mu'idz.


Perlahan, Ummi membuka kedua matanya. Ummi terlihat sangat lemah. ibu langsung menuntun Aisyah mendekati ranjang. sementara Abah segera berdiri, memberi isyarat agar Aisyah duduk di kursi samping ranjang, tempat Abah duduk tadi.


Ummi begitu bahagia melihat Aisyah duduk di depannya, ia berusaha bangun meskipun badannya sangat lemah. cepat-cepat ibu membantu Ummi untuk duduk bersandar. Diam-diam, ibu merasa iba melihat keadaan Ummi yang begitu lemah.


"Bu.", panggil Aisyah kepada Ummi. Ummi sedikit terkejut, raut wajahnya menunjukkan ekspresi antara sedih dan kecewa, tapi kenyataannya memang sekarang Aisyah bukan lagi menantunya.


Ummi mengangkat tangannya, lalu membelai wajah Aisyah. butiran bening mengalir begitu saja. tak di sangka, semua akan jadi seperti ini. menantunya buta dan kehilangan kedua calon cucunya. yang lebih menyakitkan, bahkan sekarang mereka tak memiliki hubungan apapun.


Aisyah tersenyum merasakan belaian di pipinya.


"Ibu, sanjange kirang sehat?!. ibu, sakit nopo?. ( Ibu, katanya kurang sehat?!. ibu, sakit apa?).", tanya Aisyah. Ummi hanya diam. ada dia di depan Aisyah, tapi malah tak ada bayangan nya di mata Aisyah. Ummi semakin terisak melihat keadaan menantunya itu.


"Bu?!.", Aisyah bingung mendengar suara Ummi yang makin terisak.


"Ibu, teng nopo?.", tanya Aisyah lagi yang mulai khawatir karena tangisan Ummi semakin menjadi.


"Ini, Ummi. nduk.", ucapnya setelah berusaha meredam isakan tangisnya. Ummi meraih tangan Aisyah, meletakkannya di kedua pipinya agar Aisyah merangkupnya.


"Ini, Ummi.", ucapnya lagi. mengulang, agar Aisyah memanggilnya "Ummi" seperti biasa, saat ia masih resmi menjadi menantunya.


Aisyah terdiam, meskipun tangannya masih berada di kedua pipi Ummi karena tangan Ummi masih memegangnya erat.

__ADS_1


"Ini, Ummi. Ning.", ucapnya penuh penekanan.


Semua yang ada di ruangan itu, ikut menangis melihat pertemuan Ummi dan Aisyah. terlebih Gus Aham, ia menelan ludah kelu. tatapannya nanar, melihat kedua orang yang di cintainya terluka karena dirinya. tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Bahkan, saat Gus Ma'adz mengajaknya pulang. Aisyah sama sekali tidak mencegahnya, atau bahkan mengantarnya ke depan. justru, kang Mu'idz yang berhasil membujuknya ke sini.


"Ning Aisyah. tolong suapi ibu, nggeh?. kang Mu'idz menyodorkan semangkuk bubur pada Aisyah.


"Dari kemarin, ibu ndak mau makan. maunya di suapi, Ning Aisyah.", ucap kang Mu'idz lagi.


Aisyah terdiam. dia saja, belum terbiasa dengan keadaannya, sehingga untuk makan dan berjalan butuh bantuan. tapi sekarang, ia malah di minta menyuapi Bu nyai nya. bagaimana?!.


Tangan ibu meraih tangan Aisyah, mengarahkan untuk mengambil sendok. ibu membantu tangan Aisyah untuk menyendok bubur dan menyuapkan nya ke Ummi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Ibu, harus maem yang banyak. kersane enggak sehat.", ( Ibu, harus makan yang banyak. agar segera pulih dan sehat).", ucap Aisyah seraya meminumkan segelas air putih ke bibir Ummi dengan di bantu ibu.


"Bu nyai, ndak boleh pilih-pilih makanan.", Lanjutnya mengingatkan Ummi.


"Bu....,


"Ning Aisyah, nginep disini. nggeh?.", pinta Ummi memotong ucapan Aisyah.


Panggilan yang terucap dari bibir Ummi dan Aisyah, sama-sama membatasi dan mengingatkan status mereka saat ini adalah, sebatas Bu nyai dan santrinya.


"Aisyah...,


"Biar, mba Nafis. yang nyiapin kamar tamu ", potongnya lagi. membuat Aisyah tidak tau harus berkata dan berbuat apa.


"Bu.", panggil mas Raihan lirih pada ibunya. berharap ibunya pamit dan mengajak adiknya pulang. Ibu mendekat ke arah Ummi dan Aisyah.


"Nuwun Sewu, Bu. niki ajenge pamit.", ( maaf, Bu. ini mau pamit).", ucap ibu pada Ummi.

__ADS_1


Semuanya menoleh mendengar ibu hendak pamit. Ning Nafis segera menghampiri ibu, ia berlutut sedang ibu berdiri.


"Nyuwun Sewu, Bu. nginep mriki mawon, nggeh?!. kersane Ummi, sehat riyen.", ( maaf, Bu. nginep disini saja, ya?!. sampai Ummi, sehat dulu).", pinta Ning Nafis, memelas.


"Nggeh, Bu. kersane disiap aken kamar tamu, nggeh?.", ( Iya, Bu. biar di siapkan kamar tamu, ya?).", sahut Gus Ma'adz yang juga datang mendekat dan membantu Ning Nafis memohon.


Aisyah yang mendengar Ning Nafis dan Gus Ma'adz memohon, menyentuh tangan ibunya. berharap ibunya mau untuk menginap disini, malam ini.


"Bu. kita, nginep disini. nggeh?.", ucap Aisyah. ibu dan kakaknya tidak habis fikir, bagaimana jalan pikiran anak perempuannya ini?!. tapi karena Aisyah sudah meminta, ibu dan kakaknya pun tak bisa menolak.


Jadilah, malam itu Aisyah dan ibunya menginap di ndalem. sedangkan kakaknya harus pulang menemani mba Mira dan Abel di panti.


Kamar tamu sudah siap. Ning Nafis mengantar Aisyah dan ibunya ke kamar tamu, untuk beristirahat.


"Ibu, Aisyah. ini kamarnya, kalau kurang nyaman atau ada perlu apa?!, ibu sama Aisyah langsung bilang saja sama, mba.", ucap Ning Nafis.


"Ini, sudah lebih dari cukup, Ning.", ucap ibu tersenyum.


"Injih. Ning Nafis mboten usah repot.", ( iya. Ning Nafis jangan repot-repot).", ucap Aisyah menimpali.


Ning Nafis mendekati Aisyah yang duduk di tepian ranjang. ia menggenggam tangan Aisyah.


"Nduk. jangan panggil mba dengan sebutan itu. mba, ini tetap mba kamu. bukan orang lain.", ucapnya. suaranya tertahan, sedang matanya sudah berkaca-kaca.


"Apapun yang terjadi antara, kamu dan Aham. itu urusan kalian, tapi jangan jadikan kami orang asing.", lanjutnya. kali ini, Ning Nafis membiarkan butir bening mengalir bebas dari kedua matanya.


Aisyah terdiam. ia menatap ke sembarang arah, mencari tau dengan telinganya. apakah Ning Nafis menangis?.


"Ning.", panggilnya ragu. tapi Ning Nafis malah memeluk tubuhnya, ia tak kuasa lagi menahan semua. ia sedih melihat keadaan Aisyah sekarang. terlebih kini, sikap Aisyah yang menjaga jarak dengan keluarga ndalem. membuatnya merasa menjadi orang asing bagi adik iparnya.


"Aku, ini mba mu, nduk. sampai kapanpun tetep, mba mu. jangan anggap, mba seperti orang lain. mba, ndak mau nduk. mba, ndak ikhlas.", ucapnya masih dengan memeluk Aisyah.


Pada akhirnya, diam-diam Aisyah meneteskan air matanya juga di pelukan Ning Nafis, setelah sempat berulang kali menahannya di depan Ummi tadi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2