
Â
Keesokan harinya Gus Aham sudah mulai ikut Gus Ma'adz ke pondok putra. Gus Ma'adz mengajak Gus Aham ke kantor Mahids putra untuk perkenalan dengan para pengurus pondok dan guru-guru di sekolah putra.
Â
Selanjutnya, Gus Ma'adz meminta Gus Aham untuk membantu mengatur soal ujian.
"Mulai hari ini, Gus Aham akan ikut membantu kalian. mohon kerjasama dan bimbingannya. jangan sungkan menegur kalau memang Gus Aham ataupun saya sendiri ada yang salah, geh.", ucap Gus Ma'adz kepada semua guru dan pengurus yang berkumpul di Mahids.
"Injih, Gus.", ucap mereka bergantian.
"Le, mas mau ngajar dulu.", pamitnya pada Gus Aham, yang menjawab dengan anggukan.
Aisyah sendiri sedang mengajar santri putri. aisyah membacakan surat al-Qori'ah, setelah selesai Aisyah meminta murid-murid untuk mencari nama bacaan dan tandanya dalam setiap ayat.
"Tolong, di cari tanda baca dan nama bacaannya, ya.?!,
"Injih, Bu.", jawab murid-murid serentak.
Aisyah menoleh ke jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan Mida Mahids dan suasana sekolah putra.
Pikirannya tertuju kepada suaminya.
apa yang dilakukannya sekarang disana?, bisakah ia berbaur dengan para Masyayikh, guru dan pengurus?!,
Memikirkannya membuat aisyah tidak fokus, saat sebagian murid-murid sudah selesai dan menumpuk bukunya di meja Aisyah.
Bukan tidak percaya dengan kemampuan suaminya. Aisyah percaya, setiap keturunan orang alim pasti memiliki karomahnya sendiri-sendiri.
Meskipun dulu Gus Aham sering pindah pondok, sering melanggar aturan pondok, sering di ta'zir dan semaunya sendiri, tapi nyatanya saat Aisyah melihat hasil raport dari Gus Aham dan ijazahnya, nilainya benar-benar di atas rata-rata.
Belum lagi analisanya tentang bisnis, pasti sesuai dengan prediksi. hanya saja, mungkin karena Gus Aham banyak membangkang, apalagi ada Ummi yang mendukungnya, membuat Gus Aham menjauh dari Abah.
Sebenarnya, gus Aham dan Abah itu sama.
sama-sama keras kepala, sama-sama punya pendirian sendiri, tidak mau di arahkan kalau memang sudah punya tekad, ambisius.
Hanya saja, Abah berambisi semakin memajukan pondok yang sudah di kelola ayahnya. sedang Gus Aham berambisi untuk membantu, mengentaskan dan memberikan pendidikan pada anak-anak jalanan, agar bisa menghidupi diri mereka sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Untuk bisnis otomotif, itu karena hobi. sedang untuk bisnis meubel dan ukir-ukiran itu karena dulu, almarhum Mbah yai sangat suka dengan dekorasi ukir-ukiran. lagi pula, hampir semua usaha yang di kelolanya memperkerjakan anak-anak jalanan dengan tujuan, mereka tidak hidup di jalan lagi sehingga memiliki masa depan yang lebih baik.
__ADS_1
Terdengar bel istirahat berbunyi yang membuat Aisyah tersadar dari pemikirannya.
"Yang sudah selesai bisa istirahat. bukunya ibu bawa dulu, geh?!. ibu koreksi di rumah.", ucapnya yang di angguki para santri.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh.", ucapnya. lalu pamit undur diri dan meninggalkan kelas.
Selang lima belas menit lagi anak putra juga akan istirahat. aisyah bergegas pulang ke ndalem, ingin segera bertemu Gus Aham. ingin tau, bagaimana hari pertamanya ikut ke pondok?!.
Aisyah berjalan cepat, sambil sesekali menyapa guru atau santri yang berpapasan dengannya.
Aisyah memondong buku-buku itu masuk ke ndalem, ia terus berjalan menuju kamarnya.
Begitu masuk kamar, Aisyah segera menaruh buku di meja, dan menunggu Gus Aham.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Waktu sudah menunjukkan jam dua belas siang. semua santri sudah pulang, tapi Gus Aham belum juga kembali ke kamar.
Untuk menghilangkan kekhawatirannya Aisyah menyibukkan diri dengan mengaji.
"Ceklek..",
Terdengar pintu dibuka, Aisyah segera menutup Al-Qur'an nya. dengan cepat ia memakai alas kaki nya, lalu berjalan ke arah pintu.
"Kenapa?.", tanya Gus Aham saat berbalik dan melihat Aisyah sudah berdiri di belakangnya.
"Ndak apa, Gus?."
Gus Aham berjalan melewatinya dan duduk di sofa kamar. Aisyah menuangkan air minum untuknya, lalu memberikan pada gelas itu pada Gus Aham mengambil dan meminumnya.
perlahan Aisyah duduk di sebelahnya.
"Gus.", ucapnya. ragu-ragu ia ingin bertanya. Gus Aham menaruh gelas di meja, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang. wajahnya menengadah ke langit-langit kamar.
apakah,itu artinya semua tidak berjalan dengan lancar?.", pikirnya.
Aisyah meraih tangan Gus Aham,lalu memijitnya pelan.
"Capek?.", tanya Aisyah. Gugus Aham menoleh melihat nya,bia tersenyum.
"Kamu ngawatirin, aku?.", tanyanya.
__ADS_1
"Ndak gitu, Gus. saya tau kemampuan njenengan, cuma ini.....,
"Iya,baku capek.", jawabnya memotong ucapan Aisyah,lalu menyandarkan kepalanya di pundak Aisyah,yang membuat Aisyah sedikit terkejut.
"Hari pertama ikut mas ke madrasah,memang capek.tapi banyak hal yang bisa di pelajari,kenalan sama pengurus dan para guru-guru.bantu mereka nyiapin soal-soal ujian,ribet juga.", ceritanya.
Aisyah terdiam mendengar cerita suaminya.
"Tapi...., ucap Gus Aham menggantung dan berpindah posisi, sehingga Aisyah melihatnya.
"Cukup menyenangkan bertemu orang-orang baru,dapat pengalaman dan pelajaran baru.ternyata ngurus madrasah nggak seribet yang di bayangkan.", ucapnya tersenyum.membuat Aisyah bernafas lega dan ikut tersenyum.
Gus Aham pun menceritakan hari pertamanya ikut ke madrasah dengan Gus Ma'adz. Aisyah mendengarkan dengan seksama, sesekali mereka bercanda dan tertawa saat Gus Aham menceritakan keseruannya bersama guru-guru dan para pengurus.
Aisyah berharap, semoga ini menjadi awal yang baik bagi Gus Aham dan Abah untuk lebih dekat.
Â
Malam datang. Gus Aham sudah berkutat dengan laptop dan ponselnya sedari isya' untuk memeriksa email dan laporan yang masuk.
Â
Seharian tadi setelah sholat dhuhur Gus Aham kembali lagi ke madrasah membantu para guru-guru memeriksa ulang soal-soal ujian, karena waktu ujian tinggal sehari lagi.
Aisyah meletakkan kopi untuk suaminya di meja.
"coba lihat ini.", ucap Gus Aham yang tiba-tiba menarik tangan Aisyah sehingga ia jatuh kepangkuan suaminya.
Aisyah terkejut. apalagi saat rambut Aisyah yang tergerai menyentuh sebagian wajah suaminya, membuat Gus Aham tersenyum, mereka beradu pandang sesaat.
"Coba lihat ini.", ucap Gus Aham menunjuk layar laptop yang memperlihatkan desain sebuah bangunan.
"Kira-kira kurang apa?.", tanyanya. aisyah mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan gambar tersebut. karena memang masih berupa garis-garis yang terhubung.
Gus Aham yang mengerti, segera menjelaskan pada istrinya satu persatu maksud dari gambar tersebut.
Itu adalah desain bangunan untuk yayasan anak jalanan yang dikelolanya. selama ini anak-anak masih tinggal di tempat terpisah, ada yang tinggal di rumah makan milik Gus Aham, ada yang tinggal di bengkel otomotif nya dan ada yang tinggal di toko meubel ukir-ukiran miliknya.
Rencananya, Gus Aham ingin membuat tempat tinggal bagi mereka. jadi di manapun mereka bekerja, mereka akan pulang dan istirahat di tempat tinggal yang dibuat Gus Aham.
Nantinya dirumah itu, anak-anak jalanan itu pula yang akan mengelola, mereka akan di beri pendidikan, pembelajaran keterampilan dan mengasah kemampuan diri. sehingga hidup mereka lebih baik dimasa depan.
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺