Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 141


__ADS_3

Dokter menganguk-angguk paham mendengar penuturan Ning Nafis.


Ia bahkan menyerahkan semua laporan kesehatan adiknya selama kehamilan. Ning Nafis, begitu cekatan. sehingga sebelum berangkat bersama ibu ia sempatkan untuk ke kamar Aisyah mengambil laporan kesehatan ibu dan bayi.


Ia tau, dokter akan membutuhkan laporan itu untuk mengambil tindakan lebih lanjut.


"Kemungkinan, bayi akan di lahirkan prematur. karena, kami khawatir kehabisan air ketuban, yang akan membahayakan nyawa ibu dan bayi.", ucap dokter, memberi penjelasan.


"Lakukan saja, apa yang terbaik.", ucap Ummi.


Ibu menemui Aisyah di ruang perawatan, disusul dengan Ummi dan mba Nafis. sementara Riko, masih berbincang-bincang dengan dokter yang merawat Aisyah.


"Nduk. kata dokter, bayimu harus di lahirkan prematur. karena ketubannya rembes.", ucap ibu.


"Dokter, khawatir. bayimu kehabisan air ketuban, yang bisa membahayakan keselamatan ibu dan bayimu.", sambungnya.


"Iya, nduk. jadi, mungkin nanti kamu di perangsang. atau bisa juga di operasi. tergantung kondisi.", sahut Ummi.


Aisyah menatap ibu, Ummi dan Ning Nafis bergantian. sesaat, ada raut khawatir di wajahnya. khawatir dengan keselamatan bayinya, tapi ia juga khawatir suaminya kecewa.


"Aisyah, ndak mau di perangsang, Bu, mi. Aisyah, akan melahirkan normal. sambil menunggu Gus Aham pulang.", ucapnya pelan.


"Nduk?!.


Ummi hendak menjawab ucapan Aisyah. tapi, ibu memberi isyarat dengan memegang tangan ummi. membuat Ning Nafis paham, untuk mengajak Ummi keluar. memberi ruang pada ibu untuk berbicara dengan Aisyah.


Ummi sudah duduk dengan Ning Nafis, di ruang tunggu. wajahnya nampak khawatir dan Ning Nafis mencoba menenangkan.


"Insyaallah, semua baik-baik saja Ummi. kita, banyak-banyak berdoa saja, nggeh?!.", ucap Ning Nafis, lembut. membuat Ummi, menatapnya sekilas lalu bersandar di bahu menantu pertamanya.


Ummi bersyukur. memiliki tiga menantu yang lembut tutur katanya, dan selalu bisa menenangkan hatinya. hanya kali ini, Ummi benar-benar khawatir.


Ya, Ummi khawatir karena sifat Aisyah yang tegas dan pendiriannya yang kuat.


Apalagi, tadi ia sudah bilang. ndak mau di perangsang karena mau menunggu suaminya. jelas, ia akan tetap pada keputusannya.


"Nduk. seperti kata Bu nyai, jika tidak segera ditangani. di khawatirkan, kamu dan bayimu dalam bahaya.", ucap ibu, mencoba memberi pengertian pada putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Aisyah, tau batas kemampuan tubuh Aisyah, Bu. insyaallah, Aisyah masih bisa bertahan.", jawabnya.


"Ini kelahiran bayi pertama kami. Gus Aham, sangat menginginkan berada di sisi saya, saat melahirkan. ia ingin mendampingi proses kelahiran anak kami.",


"Ini menjadi momen yang penting baginya. dan saya, ndak ingin buat Gus Aham kecewa, Bu.", jelasnya.


"Nduk. biar Ummi, telepon Aham, ya?!. supaya cepat pulang.", ucap Ummi, yang baru saja masuk ruangan ditemani Ning Nafis.


Aisyah menghela nafas dalam, lalu menggeleng. membuat raut wajah Ummi terlihat kecewa karena jawaban nya.


"Hubungan Gus Aham, dan Abah sudah semakin membaik, Ummi. dan Aisyah, ndak mau menjadi hal yang memberatkan Gus Aham, ketika Gus Aham sedang berusaha menyenangkan Abah.", ucapnya.


"Ummi, tolong jangan beritahu Gus Aham, nggeh?!. beritahu Gus Aham, saat istighosah sudah selesai saja.", sambungnya.


Ummi menggeleng pelan. tidak paham lagi, dengan pemikiran menantunya yang satu ini.


"Aisyah, takut Gus Aham panik. dan meninggalkan acara, yang pastinya akan membuat Abah kecewa.", ucapnya lagi. Ummi, melihat ibu. seolah-olah meminta pendapat, dan ibu hanya menjawab dengan anggukan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah tidak di izinkan banyak bergerak. mengingat, ketuban akan keluar semakin banyak. jadi, ia hanya bisa duduk dan berbaring di ranjang rumah sakit.


Ia memang tidak di perangsang. tapi, karena jatuh dari tangga. seolah-olah bayinya, mencari jalan keluar yang membuatnya merasakan sakit dan nyeri yang bersamaan di punggung, pinggang, missv dan pahanya.


Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Aisyah, masih duduk bersandar di ranjang. lantunan sholawat nabi, tidak pernah putus ia lantunkan. memohon, agar di beri kesehatan, keselamatan dan kelancaran saat melahirkan, dengan wasilah sang "Kekasih Allah".


Ponsel Aisyah berdering. tertulis jelas di layar, nomor telepon suaminya yang dari dulu sampai sekarang tetap di simpan dalam kontak dengan nama "Gus Aham".


Buru-buru ia mengangkat teleponnya, setelah merapikan jilbabnya.


"Assalamualaikum, sayang.", sapanya, begitu panggilan video itu tersambung.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah, lemah.


"Sayang, kamu sakit?!.", tanya Gus Aham. Aisyah tersenyum lembut, meskipun raut wajahnya sedikit terlihat menahan rasa sakit.


"Mboten, mas.", jawabnya pelan. di sertai gelengan. Gus Aham nampak menghela nafas, ia memanyunkan bibirnya seperti sedang kesal.

__ADS_1


"Teng nopo?.", tanya Aisyah.


"Kangen.", jawabnya singkat. Aisyah tersenyum tipis mendengarnya.


"Maaf ya, sayang. baru bisa hubungi kamu. soalnya, tadi pagi ponsel mas, jatuh, mati. ini tadi, sempetin beli yang baru pas mau pulang ke apartemen habis khotaman.", ceritanya. Aisyah tersenyum dan menggeleng.


"Ndak apa.", jawab Aisyah.


"Kamu, ini lagi dimana?!. kok, kelihatannya tempatnya beda?!.", tanya Gus Aham, menyelidik. ia nampak curiga. membuat Aisyah menghela nafas, karena perutnya terasa nyeri.


Untuk sesaat, Aisyah memalingkan wajahnya. ia berpura-pura nampak mencari sesuatu.


"Kamu, lagi rapat diniyah?!, di Mahids?!.", tanya Gus Aham. Aisyah tersenyum. ia tidak menjawab dengan "ya", ataupun "tidak".


"Ini sudah sore, sayang. cepat balik nggeh?!.", ucap Gus Aham. dan Aisyah, hanya mengangguk.


Gus Aham menoleh kebelakang, membuat Aisyah bertanya-tanya ada siapa?!.


"Sayang. mas, tutup dulu ya?!. mas Ma'adz manggil, katanya harus siap-siap ke acara istighosah.", ucapnya. yang di angguki oleh Aisyah.


"Assalamualaikum, sayang. salam buat dia.", ucapnya.


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah. begitu panggilan terputus, Aisyah hanya memejamkan kedua matanya. bibirnya gemetar, begitu juga dengan tangan dan kakinya. ia menahan rasa sakit dan nyeri selama Gus Aham menghubunginya tadi.


Ummi, yang sedari tadi berada di belakangnya hanya mendekat, dan mengusap pinggang Aisyah pelan. membuat Aisyah, menoleh dan melihat Ummi dengan mata sembabnya.


Pandangan Ummi, hanya tertuju pada pinggang Aisyah. ia tidak mau menatap wajah menantunya. Aisyah, yang sadar dengan sikap mertuanya, langsung meraih tangan Ummi. ia menciumnya cukup lama, sampai merasa puas.


"Doakanlah, menantu dan cucumu ini, Ummi.", ucapnya, setelah mengarahkan tangan Ummi ke perutnya. Ummi, menatap perut buncit Aisyah.


"Doakanlah, sehingga kami selamat sama seperti harapan kalian semua.", sambung Aisyah. Ummi, menatap manik menantunya. Aisyah, nampak tersenyum.


Di raihnya, tubuh menantunya. Ummi, memeluk Aisyah. ia menangis merasa bersalah. ya, Aisyah adalah gadis penurut. selama, itu bukan hal maksiat, ia akan melakukannya.


Kini, ummi tau bahwa ia sedang menjalankan amanah yang pernah Ummi berikan padanya, untuk selalu menjaga Gus Aham.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2