Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 119


__ADS_3

"Apakah kamu, yang mengatakan pada keluarga ndalem dan Gus Aham, tentang keadaan Aisyah?!.", tanyanya.


Sudah ketebak dalam benak dokter Fitri, pasti itu pertanyaannya. maka dengan santai, sambil mengaduk jus miliknya dengan sedotan, dokter Fitri menganguk. ia mengakui perbuatannya. toh, tidak ada yang salah.


"Kenapa kamu melakukan itu?!.", tanya Riko lagi.


"Apa ada yang salah dengan yang saya lakukan?!.", tanya dokter Fitri. membuat Riko mengerutkan keningnya.


"Siapa yang lebih berhak?!. njenengan atau Gus Aham?!.",


"Njenengan, hanya sahabatnya. sedangkan, Gus Aham suaminya.",


"Kenapa, njenengan menghardik saya karena masalah ini?!.",


"Njenengan, berharap. hanya njenengan kah, yang berada disisinya?!.",


"Lalu, njenengan bisa dengan mudah mengambil hatinya, saat Ning Aisyah bangun?!.",


"Salah!.",


"Sangat salah, kalau njenengan berpikir demikian.", ucap dokter Fitri, lirih. tapi, setiap kata-katanya penuh penekanan.


"Saya, hanya menjaga amanah ibu.", jawab Riko.


"Kenyataannya, ndak ada seorang pun ibu yang menginginkan anaknya menderita.", sahut dokter Fitri. Riko menggelengkan kepalanya, tidak mengerti.


Dokter Fitri nampak menarik nafas dalam.


"Nyatanya, setelah Gus Aham kesana. tidak ada masalah, kan?!.", ucap dokter Fitri.


"Dan kabar terbaru nya adalah, wanita yang njenengan kagumi, itu sudah sadar.",


Ucapan dokter Fitri yang terakhir membuat mata Riko membulat. bagaimana bisa?!, tempat itu hanya sebuah klinik. bisa membuat orang yang koma hampir 5minggu, sembuh dan bangun?!. dalam waktu secepat itu?!.


"Terkejut?!.", ucap dokter Fitri, dengan nada mengejek. membuat Riko terdiam.


Dokter Fitri tersenyum sinis. "Terbukti, semangat Ning Aisyah, adalah suaminya. bukan njenengan atau orang lain.", sambungnya. membuat Riko terdiam, dan suasana hening sejenak.


"Njenengan, ndak usah khawatir. yang janji sama, ibu kan njenengan, bukan saya.",


"Jadi, menurut perhitungan. bukan njenengan, yang ndak amanah. tapi, saya.", ucapnya. Riko hanya diam.


"Sudahlah, intinya saja.", ucap dokter Fitri. membuat raut wajah Riko berubah tidak mengerti. dokter Fitri mendengus.

__ADS_1


"Saya, tau. njenengan, ngajak ketemu. karena mau mutusin perjodohan kita, kan?!.",


"Ya. ndak apa, saya terima.", sambungnya. Riko yang sedari tadi diam, benar-benar tidak mengerti. kenapa dokter Fitri berucap demikian.


"Maksudnya apa?.", tanya Riko.


"Saya tau, njenengan kecewa sama saya. karena saya, sudah mengatakan semuanya.", jawab dokter Fitri.


"Padahal, njenengan percaya sama saya. tapi, saya malah ndak amanah.",


"Tapi, saya hanya menempatkan. apa yang seharusnya berada di tempatnya, sesuai hak nya. maaf, kalau menurut njenengan, itu salah.", ucap dokter Fitri. dan Riko hanya diam disana.


Riko masih diam, sampai dokter Fitri menghabiskan minumnya. hingga ada sebuah panggilan masuk dalam ponsel dokter Fitri. yang membuatnya mengangkat panggilan itu.


"Iya.",


"Saya, akan segera kesana.", ucapnya. lalu menutup panggilan tersebut.


"Mas, saya harus pergi. ada panggilan darurat.", pamitnya pada Riko, dan langsung menyahut tas nya. meninggalkan Riko begitu saja, ditempatnya. sehingga, Riko hanya bisa menatap dokter Fitri pergi.


Dokter Fitri orang yang humble, cantik dan smart. hanya, ia tidak berhijab, tepatnya belum. ia hanya memakai hijab saat harus berkunjung ke ndalem, melakukan pemeriksaan untuk Ummi.


Riko terdiam di tempatnya, ia masih memandang dokter Fitri. setidaknya, sampai gadis cantik itu masuk ke mobilnya dan melajukannya.


Entah, apa yang dipikirkannya. yang jelas, Riko tetap memandangi dokter Fitri. bahkan sampai mobil itu menghilang dari pelataran cafe.


Aisyah melakukan pemeriksaan menyeluruh. masih dengan Gus Aham yang mendampingi, suami yang siaga. tidak mau melewatkan hal sekecil apapun tentang pemeriksaan kesehatan istri dan calon anaknya.


"Kondisi ibu bagus, semakin membaik. kita hanya perlu memantau perkembangan janinnya.",


"Jika dalam beberapa hari, semakin menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan. mungkin, pasien sudah bisa di bawa pulang.", ucap dokter perempuan itu. membuat Gus Aham yang sedari tadi terlihat khawatir, melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum senang.


"Tapi, ingat!. luka bekas operasinya, perlu perhatian dan perawatan khusus.", ucap dokter, mengingatkan. membuat Gus Aham menganguk paham.


"Dan...., ucapan dokter itu menggantung. ia terlihat melirik Gus Aham. yang membuat Gus Aham bertanya-tanya, dan merasa heran.


"Lebih baik, jangan berhubungan intim dulu.",


"Itu, berbahaya bagi janin dan jahitannya.", sambungnya. membuat Gus Aham tersenyum, dan membuat pipi Aisyah merona menahan malu.


"Baiklah. kami, permisi dulu.", ucap dokter itu. lalu meninggalkan mereka di ikuti seorang perawat untuk menulis laporan kesehatan Aisyah.


Gus Aham mendekat pada Aisyah yang masih berada di ranjang, ketika dokter dan perawat keluar dari ruang rawat inap istrinya.

__ADS_1


Ia tersenyum menatap istrinya, lalu mendekapnya erat.


"Semua akan baik-baik saja, dan kita akan segera pulang.", ucapnya. ia mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali, karena terlalu bahagia. sedang Aisyah menikmati dekapan suaminya, ia bahkan terlihat menyandarkan kepalanya di leher sang suami. membuat Gus Aham leluasa mengecup keningnya.


"Mau jalan-jalan?.", tanya Gus Aham, kemudian. Aisyah tersenyum dan mengangguk.


Ya, itu bisa menghilangkan suntuk karena melihat dan berada di ruangan yang sama setiap hari.


"Tunggu sebentar.", ucap Gus Aham, lalu pergi meninggalkan istrinya. tak berapa lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah kursi roda.


Di angkatnya sang istri, saat ia sudah mendekatkan kursi roda itu pada ranjang istrinya. Aisyah nampak mengerutkan kening. ia bisa jalan, tidak ingin naik kursi roda.


"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, yang melihat raut wajah Aisyah berubah.


"Saya, bisa jalan Gus. ndak perlu pake kursi roda.", jawabnya.


"Tapi, kamu nggak boleh capek-capek.",


"Jalan kaki, bisa bikin kamu capek juga, lho.",


"Inget, sama yang ada di perut.", ucap Gus Aham. berusaha membujuk istrinya.


"Tapi, saya ndak mau naik kursi roda. saya, sehat kok. ndak sakit.", ucapnya, memelas.


Gus Aham menghela nafas di sana. "Baiklah.", ucapnya. membuat Aisyah senang dengan keputusan suaminya.


Ia bergegas menggeser kakinya dan hendak turun. tapi, Gus Aham dengan sigap meraih pinggang dan kakinya. sehingga kini, ia berada dalam gendongan suaminya.


"Mas!.", pekiknya. matanya membulat karena terkejut. Gus Aham hanya tersenyum, dan membopong istrinya ke taman.


"Mas, malu.", bisiknya lirih. karena banyak orang yang bertemu dengan mereka dan melihatnya.


"Kalau malu, sembunyi saja.", ucap Gus Aham, yang membuat Aisyah menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya. yang mana, hal itu malah menarik perhatian banyak orang, karena mereka terlihat begitu mesra.


Gus Aham tersenyum. istrinya terlalu polos, dan menurut padanya. padahal, dengan sikap Aisyah saat ini, malah menarik perhatian banyak orang yang berpapasan dengan mereka.


Begitu sampai di taman. Gus Aham segera menurunkan Aisyah di bangku. raut wajah istrinya nampak begitu sumringah melihat pemandangan rumput hijau, pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran indah.


"Suka?!.", tanya Gus Aham.


"Iya.", jawabnya. tersenyum dan mengangguk. smile eyes nya terlihat begitu menggoda. membuat Gus Aham berucap.


"Kita akan memilikinya, dirumah kita.", yang mana, ucapan itu membuat Aisyah menoleh heran.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2