Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 117


__ADS_3

Suaranya terdengar lemah, saat ia menanyakan tentang suaminya.


Ibu lantas menceritakan bahwa Gus Aham sudah sehat. lukanya, membaik dengan cepat. maka dari itu, ia bisa datang kemari dan menemui Aisyah.


Untuk masalah kasusnya, Gus Aham juga menang. bahkan di bebaskan secara terhormat. Aisyah tersenyum bahagia mendengarnya.


"Gus Aham, sudah disini sekitar 9-10 harian.",


"Dia terus nemenin kamu, nduk.",


"Ndak pernah pergi, kecuali saat waktu sholat.",


"Kalau malam, mau tidur. terkadang, ibu dengar dia bacain cerita tentang ulama-ulama kesukaanmu.", ucap ibu, menceritakan semua tentang Gus Aham, saat menemani Aisyah. Aisyah tersenyum mendengarnya.


Ia kemudian berusaha bangun, dengan tenaga yang ada.


"Mau kemana?!.", tanya ibu.


"Aisyah, mau duduk dulu.", jawabnya. yang membuat ibu, langsung membantunya.


"Gus Aham, tadi pamit mau ke mushola.",


"Sejak disini. setelah ngurus kamu, Gus Aham pasti pergi ke mushola untuk bersih-bersih.",


"Terkadang cuma nyapu dan ngelap kaca. tapi, katanya tadi musholla kotor. dan, Gus Aham mau ngepel.", ucap ibu. membuat Aisyah menggeser kakinya, hendak turun.


"Nduk?!.",


"Aisyah, mau lihat Gus Aham.", ucapnya pelan.


"Tapi...., ucapan ibu menggantung melihat putrinya berusaha turun dari ranjang.


Ibu lantas dengan cepat membantu Aisyah turun. Aisyah yang masih lemah, terlihat berjalan dengan hati-hati dan perlahan. sementara ibu menuntunnya, dan membantu membawa infus yang terhubung pada tangan putrinya.


Ibu, menuntunnya ke jendela. dengan kondisi Aisyah yang masih lemah dan baru saja bangun, tidak mungkin ia mampu berjalan keluar ruangan untuk menemui suaminya.


Dari kaca, Aisyah melihat suaminya tengah mengelap lantai musholla, yang berada di depan pintu masuk.


Sesekali, terlihat Gus Aham berdiri dan menata sandal milik orang yang akan keluar dari musholla.


Tidak semua orang, yang di tatakan sandalnya oleh Gus Aham. hanya orang tua dan manula, terkadang juga sandal milik imam dan marbot musholla itu.

__ADS_1


Setiap kali, orang-orang itu memakai sandalnya. Gus Aham akan meminta mereka mendoakan istrinya.


Aisyah tersenyum haru melihatnya. seorang Gus, yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. rela merendahkan dirinya, memohon bantuan doa kepada setiap orang yang di jumpai, yang ia anggap maqbul doanya. dan itu, ia lakukan hanya untuk kesembuhan istrinya.


Gus Aham baru saja menata sandal seorang lelaki paruh baya, berkopyah putih. orang itu terlihat mengusap rambut Gus Aham setelahnya. membuat Gus Aham tersenyum dan menyatukan kedua telapak tangannya, sebagai ucapan terimakasih.


Ia menatap lelaki paruh baya, yang berlalu pergi. dan hendak melanjutkan mengepel lantai musholla lagi. tapi...., ada sosok di jendela tempat istrinya di rawat yang tidak asing baginya.


Ia menoleh, raut wajahnya berubah seketika. rasa senang bercampur haru. melihat istrinya, sedang menatapnya di sana.


Gus Aham lantas memberi isyarat pada Aisyah, bahwa ia akan menyelesaikan pekerjaan nya mengepel lantai musholla lebih dulu.


Dan Aisyah tersenyum lembut, di sertai anggukan. pertanda ia mengizinkan suaminya, melanjutkan pekerjaannya.


"Tunggu sebentar.", ucap Gus Aham tanpa suara ndi sertai isyarat. membuat Aisyah tersenyum meski masih dengan kondisi yang lemah.


Sesuai instruksi Gus Aham, ibu lantas segera mengajak Aisyah kembali ke tempat tidurnya, untuk beristirahat. sementara Gus Aham, segera melanjutkan pekerjaannya.


Ia nampak bersemangat dan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya. mengingat, istrinya sedang menunggunya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ibu yang melihat Gus Aham datang, tersenyum. lantas memberikan ruang pada anak dan menantunya.


"Ibu, cari makanan dulu.", ucapnya, lantas keluar. melewati Gus Aham yang masih berdiri di pintu.


Gus Aham masih menatap istrinya di pintu. Aisyah tersenyum melihat kedatangan suaminya.


Ada rasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. seperti mimpi, tapi ini nyata. apalagi melihat Aisyah tersenyum.


Perasaan bahagia dan haru mengaduk-aduk rasanya saat ini. air mata bahagia mengenang di pelupuk matanya. Aisyah tersenyum dan mengangguk.


Membuat Gus Aham melangkah pelan menghampiri istrinya. hingga Gus Aham, menghentikan langkahnya di samping ranjang Aisyah.


Melihat suaminya berhenti dan tidak melakukan apapun, Aisyah membuka kedua tangannya. memberi isyarat berpelukan.


Gus Aham tersenyum, lalu menubruk tubuh Aisyah yang sedang duduk di ranjang. ia bahagia dan memeluk Aisyah erat.


Tapi, tiba-tiba Gus Aham melepaskan pelukannya. ia nampak mengambil sesuatu dari sakunya. membuat Aisyah heran.


Gus Aham nampak mengeluarkan sebuah surat. ya, surat dari Aisyah untuk nya.

__ADS_1


Sudah lama ia menyimpannya. ia sengaja membawanya. ingin bertanya langsung pada Aisyah, benarkah itu kemauannya?!.


Gus Aham menunjukkan surat itu pada Aisyah. yang langsung seketika membuat raut wajah istrinya berubah.


Benarkah?!. Gus Aham bertanya dengan isyarat. yang mana, membuat Aisyah menggeleng cepat, sebagai jawaban. dan hal itu membuat Gus Aham tersenyum, lalu memeluk tubuh Aisyah lagi. air mata bahagia membasahi bulu mata mereka berdua.


Ia tau, istrinya berbuat demikian karena di paksa oleh keadaan. dan, instingnya terbukti.


Puas memeluk istrinya, lantas Gus Aham berlutut di samping ranjang istrinya. ia mengecup perut Aisyah. seolah-olah, mengucapkan terima kasih pada bayi mereka. membuat Aisyah seketika meneteskan air mata.


Ia nampak meraba perutnya yang rata. apakah bayi mereka baik-baik saja?!, tanyanya dalam hati. ya, dia berhasil. berhasil menyelamatkan suaminya, dan Allah masih menghendaki bayi itu menjadi miliknya. sungguh perasaan bahagia dan haru yang luar biasa.


Membuatnya menangis tanpa suara, sehingga Gus Aham segera bangun dan memeluknya.


Gus Aham mengeratkan pelukannya. ia rindu, dan berusaha menenangkan tangisan istrinya. sungguh suatu keajaiban dalam hidup mereka, setelah semua masalah yang mereka lewati.


"Njenengan, sudah tau?.", tanya Aisyah, pelan. Gus Aham menganguk.


"Iya. mas, tau dari dokter Fitri.", jawabnya.


"Apakah bayinya baik-baik saja?.",


Gus Aham terdiam sejenak mendengar pertanyaan Aisyah. tapi, kemudian ia tersenyum dan mengangguk.


"Semuanya baik-baik saja. semuanya selamat. terimakasih.", ucap Gus Aham, lalu mengecup kening istrinya dalam.


Gus Aham mengadu kening mereka. mencium hidung lancip milik Aisyah, lalu turun dan mengecup bibir istrinya lembut.


"Mas, bersyukur memiliki wanita tangguh dan hebat seperti kamu.", ucapnya, setelah kembali mengadu kening mereka lagi.


Tangannya masih merangkup kedua pipi Aisyah. mereka terdiam dalam waktu lama dengan posisi itu. sama-sama melepaskan kerinduan. sama-sama merasakan hembusan nafas yang keluar bersahutan dari diri mereka.


Aisyah sendiri mengusap lembut pipi suaminya. entah berapa lama Gus Aham tidak merawat dirinya?!. yang jelas, pipinya mulai di tumbuhi rambut hitam yang terus tersambung ke dagunya.


Untuk kali ini, mereka tidak mau saling melepaskan. hanya mau menyalurkan kerinduan masing-masing. hingga Gus Aham harus ikut naik ke ranjang karena Aisyah ingin di temani dan minta terus di peluk.


Gus Aham menggendong Aisyah untuk menggesernya, agar ranjang itu muat dua orang. setelah nya, baru Gus Aham naik ke ranjang untuk menemani istrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2