Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 73


__ADS_3

Aisyah dan Ummi mengantarkan Gus Aham sampai ke teras ndalem. ia mengecup punggung suaminya disana, dan di balas dengan kecupan di kening oleh suaminya. Ummi yang melihat itu, tersenyum bahagia. berharap hubungan mereka baik-baik saja.


Tidak ada permintaan aneh-aneh dari Ummi. apalagi sampai geger minta cucu lagi. yang terpenting sekarang, Aisyah dan putranya akur dulu. mau pacaran lagi, atau pendekatan lagi?!, sudahlah. yang penting semuanya baik-baik saja.


"Hati-hati di jalan ya, le?!.", pesan Ummi pada Gus Aham. ketika putranya mencium punggung tangan ibunya.


"Iya, mi. nitip Aisyah ya, mi?!.", jawabnya.


"Ndak usah khawatir. pasti di jaga sama, Ummi.", jawab Ummi seraya merangkul pundak menantunya. Aisyah tersenyum, Ummi dan Aisyah saling menatap dengan senyuman.


Gus Aham menuruni tangga, sedang Aisyah mengikutinya. ia mengantarkan suaminya sampai Gus Aham masuk, duduk dibelakang kemudi dan menutup pintu mobil.


"Hati-hati nggeh, Gus?!.", ucapnya. mengingatkan suaminya untuk selalu berhati-hati. membuat Gus Aham tersenyum sumringah mendengarnya.


Ia mulai melajukan mobilnya, keluar dari pelataran ndalem. membuat Aisyah segera naik ke teras menghampiri Ummi yang masih menunggunya disana.


Aisyah mengganti tangan Ummi dan mereka masuk menuju ruang tengah ndalem, dimana Ning Nafis dengan dibantu kedua putrinya serta mba-mba ndalem sedang mempersiapkan bawaan dan aneka kue serta jajanan untuk acara lamaran.


Ya. malam ini, keluarga kang Mu'idz akan kerumah Kamila untuk melamar gadis cantik itu. Ummi sendiri yang mengatakan pada keluarga kang Mu'idz, bahwa semua bawaan dan kue, di tanggung Ummi.


Sedang kang Mu'idz dan keluarganya hanya perlu membawa cincin ataupun mahar, karena lamaran nanti sekaligus ijab kabul. sedangkan untuk resepsi, baru dilakukan setelah acara wisuda Khotmil Qur'an selesai, dua bulan lagi tepatnya.


"Nduk. Ma'adz, jadi ikut to?!.", tanya Ummi sambil membantu mba-mba membungkus kue satu persatu untuk kemudian di tata di nampan.


"Ikut, mi.", jawab Ning Nafis, yang terlihat sibuk membuat hiasan pita pada sebuah parsel berisi mukena yang telah di bentuk angsa.


"Aisyah, ndak ikut nggeh, mi?!.", ucapnya meminta izin pada mertuanya.


"Iya, nduk. Aham, langsung pulang to?!.",


"Sanjange ngoten, mi. (katanya begitu, mi).", jawabnya.


"Kalau gitu, aku juga ndak ikut ya, mi?!.", ucap Dija pada ibunya.

__ADS_1


"Kenapa?!.", tanya Ning Nafis. yang langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap putrinya.


"Soale, bulek ndak ikut. kasian ndak ada temene.", jawabnya polos.


"Kasian apa nyari kesempatan?!.", tanya Ning Nafis memastikan. membuat kedua putrinya tersenyum hingga gigi kedua bocah kecil itu terlihat rapi saat tersenyum.


"Mimi, su'udzon. padahal kan, kita cuma pengen nemenin bulek. soale ditinggal pak lek kerja. ya kan, bulek?!.", celoteh Ning Shofy. membuat semua yang ada tertawa tidak terkecuali dengan Aisyah.


"Bukane su'udzon. tapi, Mimi ndak yakin kalau kalian cuma pengen nemenin. pastinya, kalian nanti ngrewelin bulek dengan banyak permintaan.", ucap Ning Nafis.


"Oalah. yowes, kalau ndak percaya.", ucap Ning Dija. ia menyerah melawan Mimi nya.


Aisyah tersenyum melihat kedua keponakannya yang terlihat mengerucutkan bibirnya, karena tidak mendapat izin dari ibunya untuk menemani dirinya dirumah.


"Acaranya ba'da isya' kan, mi?.", tanya Aisyah pada Ummi.


"Iya, nduk.", jawab Ummi. masih dengan kesibukannya memasukkan kue ke dalam kotak, untuk dibawa nanti malam.


"Iya, nduk.", jawab Ummi lagi. kali ini Ummi menghentikan kegiatannya dan menatap menantunya. ia paham, kemana arah pembicaraan Aisyah.


"Yowes. kalian dirumah saja sama, bulek. tapi ndak boleh ngrepotin bulek ya?!.", ucap Ummi, pada kedua cucu perempuan nya yang segera di sambut sorakan dari Ning Dija dan Ning Shofy. membuat Aisyah tersenyum, dan membuat Ning Nafis geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua putrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Yakin, nduk?!.", tanya Ning Nafis pada Aisyah di depan meja rias kamar putrinya. ada Ning Dija yang sedang duduk di depan kaca dengan Ning Nafis dibelakangnya. ia sedang menyisir dan mengikat rambut putrinya. sedang Aisyah mengepang rambut Ning Shofy. ia duduk di ranjang bersama putri kedua Ning Nafis.


"Iya, mba.", jawabnya. sengaja ia perjelas jawabannya, agar kakak iparnya tidak ragu.


"Tapi, nduk...",


"Mba, ndak usah khawatir. saya, malah seneng ada Ning Dija sama Ning Shofy yang nemenin. soalnya kan, nanti ndalem sepi. Abah sama Ummi jelas ikut. kalau ada mereka kan, saya ndak kesepian, mba.", ucapnya. menjelaskan agar kakak iparnya mengizinkan kedua keponakannya tinggal bersamanya.


"Iya, mi. dari pada nanti, Shofy ngrewelin Mimi disana. mending biar dirumah sama bulek.", sahut Ning Dija, yang ikut ngobrol. ia mengingatkan Mimi nya betapa rewelnya sang adik saat di ajak ke acara-acara seperti itu. membuat Ning Nafis berpikir ulang.

__ADS_1


"Yowes. tapi jangan ngrepotin bulek ya?!.", ucapnya mengingatkan kedua putrinya.


"Ok. mi.", jawab mereka serentak. kompak, karena senang di izinkan tinggal dirumah bersama buleknnya.


Ning Nafis, Aisyah dan kedua keponakannya baru saja keluar dari ndalem Gus Ma'adz. terlihat ada tiga mobil di pelataran ndalem yang sudah terparkir.


Satu mobil berasal dari keluarga besar kang Mu'idz. sementara sebuah mobil Alphard milik Abah juga terparkir disana, khusus untuk Abah sekeluarga dan kang Mu'idz sebagai pengantin hari ini, serta kedua orang tuanya. sedangkan mobil Honda Mobilio milik Gus Ma'adz sengaja di kosongkan untuk membawa aneka seserahan saja.


Para tetua dari keluarga kang Mu'idz sudah hadir dan naik mobil, siap untuk berangkat. mobil milik Gus Ma'adz juga sudah di tutup, pertanda semua sudah selesai dan siap untuk berangkat.


Kang Mu'idz membuka pintu mobil Alphard bagian depan. ia hendak naik dan duduk di belakang kemudi.


"Mau ngapain, kang?." ucap Gus Ma'adz yang sudah berdiri di belakangnya.


"Nyupir, Gus. sudah mau berangkat kan?!.", jawabnya.


"Manten, duduk dibelakang. hari ini saya yang nyetir.", ucap Gus Ma'adz. kang Mu'idz, tercengang disana.


"Tapi, Gus?!.",


"Ayo, duduk di belakang. ndak duduk di belakang, ndak jadi berangkat.", ucap Gus Ma'adz.


"Le, ajak ibu sama bapakmu naik di belakang sama Ummi dan Abah. depan jatahe Ma'adz sama Nafis.", ucap Ummi yang baru saja keluar dari ndalem. Ning Nafis dan kedua putrinya, juga Aisyah segera turun dari teras ndalem Gus Ma'adz dan menghampiri Ummi.


"Sudah siap semua, mi?!.", tanya Ning Nafis setelah berdiri di samping Ummi.


"Sudah. kamu, temuin orangtuanya Mu'idz dulu ya, nduk?!. ajak mereka naik ke mobil dulu. Ummi, mau ngambil tas dulu.", pinta Ummi pada Ning Nafis yang di jawab dengan anggukan.


"Mi. biar Aisyah, yang ambil tas nya, Ummi.", ucapnya lalu beranjak masuk ke dalam ndalem.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2