
Aisyah pamit undur diri setelah menyelesaikan administrasi nya. dokter Fitri dan asistennya mengantar Aisyah sampai ke teras.
"Terimakasih, dokter. saya, permisi dulu. assalamualaikum.",
"Waalaikum salam.", jawab mereka bergantian.
Kang Mu'idz membuka pintu mobil untuk Aisyah. setelah Aisyah masuk, ia segera menutup pintu dan beralih ke sisi mobil yang lain. membuka pintu mobil untuknya dan segera duduk di belakang kemudi.
Mesin menyala, setelah kang Mu'idz duduk dengan benar di belakang kemudi. ia mulai menjalankan mobilnya, keluar dari pelataran klinik.
Hanya beberapa menit, mereka sudah mulai memasuki pelataran panti. kang Mu'idz memarkir mobil di luar pagar,. karena memang tugasnya hanya mengantar Aisyah.
Aisyah turun, dan kang Mu'idz mengikutinya dengan membawa beberapa buah tangan untuk ibu Aisyah.
"Assalamualaikum.", sapa Aisyah. pada semua anggota keluarga, pengurus panti dan anak-anak yang ada di aula. mereka sibuk dan saling bantu mempersiapkan aneka hidangan dan souvenir untuk acara nanti malam.
"Waalaikum salam.", jawab semua yang ada di ruangan itu. Aisyah melepas alas kakinya, dan segera masuk untuk menyalami semua orang yang ada.
Sementara kang Mu'idz, membawa barang-barang bawaan Ning-nya ke belakang dengan di bantu pak Budi.
"Bu.'", sapa kang Mu'idz, sopan. ketika bertemu dengan ibu dari Aisyah di dapur.
"Loh, kang. kapan sampai?.",
"Baru saja, Bu.", jawabnya. ia bergegas meraih tangan ibu.
"Aisyah, dateng?!.",
"Dateng, Bu. Ning Aisyah, teng ngajeng (di depan).", jawabnya.
"Oo, yowes. ayo!, makan dulu kang.",
"Ndak usah, Bu. saya, harus segera balik ke pondok. takut, di tunggu Ummi.",
"Bener nih?!. ndak makan dulu?!.",
"Ndak, Bu. sampun, matur nuwun.", (sudah, terimakasih).", ucap kang Mu'idz. ia lantas pamit pada ibu, untuk pulang ke pondok.
Aisyah meminta izin pada budhe-budhenya untuk meletakkan tasnya di kamar lebih dulu. ia segera melangkah dan pergi ke kamarnya. sebelum ia pergi, ia menyembunyikan buku dan hasil tes pack, dengan rapi di dalam tasnya.
Ia akan menunjukkan nya nanti, saat suaminya pulang ke panti, untuk menemui keluarganya dan menjemputnya.
Senyumnya, tak henti-hentinya merekah dari bibirnya. menggambarkan hatinya yang begitu bahagia. lafadz Alhamdulillah, tidak lupa ia ucapkan berkali-kali dalam hatinya, sebagai tanda syukur atas semua yang diberikan Allah padanya.
Ia lantas keluar dari kamarnya setelah menutup pintu.
__ADS_1
"Mba Mira.", sapanya, saat melihat kakak iparnya. mba Mira tersenyum dan mereka pun berpelukan.
"Udah besar aja, mba. udah berapa bulan?!.", tanya Aisyah.
"Hampir tujuh, de.", jawabnya.
"Cewek apa cowok, mba?.",
"Cewek, cowok mah sama aja. yang penting, mba sama calon keponakanmu ini sehat.",
"Aamiin.", jawab Aisyah mengaminkan doa dan harapan kakaknya.
Mereka lantas berjalan ke aula. bergabung bersama para saudara, pengurus dan anak panti.
Disinilah bedanya. kalau di pondok, semua di kerjakan mba ndalem. palingan Aisyah dan Ning Nafis hanya ngarahin.
Tapi kalau di keluarga Aisyah, semua di kerjakan bersama-sama. mulai dari memasak, membuat aneka kue untuk isian kotak dan suguhan, sampai mengemas souvenir dan mendekor panggung. semua saling kerjasama.
Selain itu juga untuk mengolah bakat anak-anak. mereka semua terbilang kreatif. buktinya, busa styrofoam bisa mereka sulap sedemikian rupa menjadi dekorasi panggung. dan hanya mengecatnya serta memberi hiasan bunga agar terlihat semakin apik.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Malam datang. para anak-anak panti yang baru saja turun dari musholla untuk berjamaah sholat isya', segera masuk ke kamarnya masing-masing dan bersiap-siap untuk acara santunan.
Para tamu undangan dari penduduk sekitar dan donatur mulai memenuhi kursi yang sudah di siapkan. dan acara pun segera di mulai.
Acara di awali dengan membaca susunan acara oleh MC. lalu terdengar alunan Tilawatil Quran yang juga di kumandangkan oleh salah seorang anak panti. berlanjut acara, istigosah yang di sambung dengan doa, lalu di susul dengan sambutan-sambutan dari para pengurus dan perwakilan donatur.
Aisyah berada di kamar. ia masih terus berusaha menghubungi suaminya. kesal karena menelepon lewat aplikasi WhatsApp dan tidak tersambung. Aisyah akhirnya menelepon ke jaringan seluler yang lain milik suaminya.
"Assalamualaikum.", sahut suara di seberang begitu tersambung.
"Waalaikum salam.", jawab Aisyah, ketus. Gus Aham diam disana mendengar suara istrinya kesal.
"Kenapa, jaringan internet nya dimatikan?!. saya, nelpon njenengan berkali-kali ndak masuk.', ucap Aisyah. setelah beberapa saat sama-sama diam.
'Disini, hujan angin, sayang. ini mas, lagi di jalan. jalan juga bisanya cuma pelan. ndak kelihatan jelas soalnya, jalannya.", jawabnya. ia menyetir mobilnya hanya dengan kecepatan 40-50 km/jam.
Memang dari ponsel terdengar suara kemresek ndak jelas.
"Disini cuma mendung. mudah-mudahan ndak hujan dulu, sebelum acara selesai.", ucap Aisyah.
"Iya.", jawab Gus Aham singkat. hanya itu yang bisa ia katakan, karena matanya sedang fokus melihat jalan yang hampir tak terlihat oleh mata. hujan malam ini benar-benar menakutkan.
"Njenengan, lewat mana?!, sekarang sudah sampai mana?.",
__ADS_1
"Ini lewat tol. jalanan kelihatan sepi, tapi mas tetep ndak bisa jalan cepat. jalannya, ndak kelihatan. hujannya sangat deras di tambah angin.", jawabnya.
"Jangan lupa terus baca sholawat. minta pertolongan dengan wasilah kanjeng nabi. juga jangan lupa minta sama Gusti Allah......,
"Praaakkkkk.....,
"Aahhhh.....,
Kata-kata Aisyah terhenti ketika mendengar suara kaca pecah dan Gus Aham berteriak.
"Mas?!, apa yang terjadi?!.",
"Mas?!.",
"Mas?!.",
"Mas Aham. jawab!.",
Aisyah mulai panik karena tidak mendengar jawaban dari suaminya. ia ingin keluar kamar dan meminta tolong. tapi, acara di panti masih berlangsung. bahkan saat ini suara istigosah sedang menggema di aula, pelataran dan semua penjuru panti.
"Siapa, kau?!.", terdengar suara suaminya dari ponsel yang masih tersambung dengan Gus Aham.
Merasa ada yang aneh. Aisyah menekan tombol speaker dan menekan tombol rekam.
"Aku adalah kematian mu.", ucap suara lain. ntah suara siapa itu, tapi terdengar jelas itu suara seorang pria.
Hujan mulai sedikit mereda ketika seorang pengendara mobil yang berjalan di sisi tol lain, melihat Gus Aham berkelahi dengan seorang pria yang memakai burqa. wajah maupun rambutnya tertutup sempurna, yang membuat Gus Aham tidak tau, dan tidak mengenali siapa yang menyerangnya dengan membabi-buta ini.
Aisyah bergetar mendengar ancaman suara itu pada suaminya.
"Mas, njenengan muter radio kah?!.", tanyanya penuh ke khawatiran. yang hanya mendengar suara orang berkelahi.
"Ah...., lagi-lagi itu suara suaminya. Gus Aham terdengar kesakitan. hati Aisyah menjerit dan meronta. air matanya mulai menetes, tangannya saling bertaut dan berdoa. memohon agar suaminya selamat dan dilindungi dari semua marabahaya.
Pinggang sebelah kiri, bawah rusuk tertusuk. Gus Aham mengerang kesakitan. lawannya, juga tak kalah lemah sekarang, karena mendapat serangan bertubi-tubi dari Gus Aham.
Gus Aham tersungkur. terdengar tawa jahat dari pria itu.
"Hahahaha...., lihat!, Alinka. mas, akan kirim dia untuk menemanimu di surga.", ucapnya. hati Aisyah tersayat-sayat di sana.
Gus Aham berdiri. melihat Gus Aham masih bisa bangun, ia berlari dengan pisau yang siap ia hujamkan ke tubuh Gus Aham. tapi Gus Aham berhasil menghindar, dan karena jalan tol yang licin, orang itu terpeleset dan jatuh dari jalan tol yang cukup tinggi.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1