Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 49


__ADS_3

"Saya sangat mencintai, Aisyah. dan karena itulah, dia mengalami semua musibah ini.", ucap Gus Aham.


"Saya salah paham dengan Aisyah. saya mengira, Aisyah punya hubungan dengan orang lain. membuat saya sering uring-uringan, sehingga membuat Aisyah pergi dari rumah.", sambungnya.


"Bisakah, njenengan ceritakan lebih detail nya. Gus?!.", Aisyah yang baru sadar menyahut perkataan Gus Aham. membuat semuanya menoleh. beberapa orang seperti mas Raihan, Ning Nafis dan Gus Aham mendekat.


"Kamu sudah sadar?!.", ucap Gus Aham senang. ia membelai rambut Aisyah, tapi Aisyah menarik tangan itu lalu melepaskannya.


"Njenengan, ndak ada hak untuk menyentuh saya. karena njenengan sudah mentalak, saya.", ucap Aisyah mengingatkan. yang mana perkataannya itu membuat semua kaget.


Gus Ma'adz berjalan menghampiri Gus Aham lalu menariknya sehingga mereka sama-sama berdiri.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, le!.", ucap Gus Ma'adz. Gus Aham terdiam sejenak disana.


"Beberapa Minggu sebelum acara tiga bulanan. saya sering uring-uringan karena mendapat chat dari peneror yang mengatakan bahwa, ia adalah kekasih Aisyah dulu.", ceritanya seraya mengulurkan ponselnya pada Gus Ma'adz untuk dilihat sendiri, agar kakaknya percaya.


"Dia bahkan mengirimkan foto-foto mesra Aisyah dengan seseorang. yang saya sendiri langsung mempercayainya.", sambungnya. mas Raihan yang awalnya duduk di tepi ranjang Aisyah segera berdiri menghampiri Gus Ma'adz untuk melihat isi chat dan foto yang dikirim oleh si peneror yang di ceritakan Gus Aham.


"Ini fotoku.", celetuk mas Raihan saat melihat foto-fotonya dengan Aisyah di ponsel Gus Aham.


"Iya, mas. itu bodohnya saya, ndak ngecek dulu. ndak cari info dulu. saya juga ndak merasa aneh, kenapa yang dikirim selalu foto yang samar, atau foto yang jelas tapi posisi si pria selalu memunggungi kamera.", jelasnya.


"Dan, saat saya mengetahui semuanya. semua sudah terlambat. Aisyah sudah pergi dari rumah karena pertengkaran kami, yang membuat saya mengucapkan kata talak.", sambungnya. beberapa saat semua terdiam mendengar cerita dan penjelasan Gus Aham.


"Njenengan, bisa jelaskan?!. kertas apa yang njenengan lempar ke saya waktu itu?. kenapa waktu itu, njenengan menanyakan siapa ayah dari bayi yang saya kandung?. Aisyah menunggu jawaban. karena waktu itu, ia juga tidak begitu faham dengan apa yang tertulis di kertas yang di lempar Gus Aham padanya.


Gus Aham mendekati Aisyah, ia meraih tangan Aisyah.


"Itu, hasil tes DNA.", jawab Gus Aham. "Deg" hatinya berdenyut, sakit. ia sebenarnya sudah memprediksi, bahwa mungkin itu adalah hasil tes DNA. tapi saat Gus Aham mengatakan itu sendiri dari bibirnya, kenapa sakitnya luar biasa?!.

__ADS_1


Aisyah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. sakit batinnya bergejolak, membuat nya tidak mampu menahan butiran bening jatuh dari kelopak matanya.


Mas Raihan jelas orang pertama yang sudah geram dan ingin menghajar Gus Aham. tangannya sudah mengepal erat, tapi hanya bisa menahan. karena ia tau, menghajar Gus Aham hanya akan membuat adiknya semakin sedih dan menangis. ia tau betul, adiknya sangat mencintai Gus Aham.


"Tapi, itu hasil tes DNA yang palsu. mas ada ya......


"Cukup!.", teriak Gus Ma'adz yang sudah meraih kerah baju adiknya.


"Keterlaluan kamu, le!.", ucapnya geram. tangannya hampir saja melayang jika Ning Nafis tidak segera berlari menghampiri suaminya dan menarik lengan Gus Ma'adz.


"Istighfar, Abi.", ucap Ning Nafis dengan suara yang hampir menangis. membuat Gus Ma'adz menurunkan kepalan tangannya. Ning Nafis membelai punggung suaminya. Gus Ma'adz yang melihat istrinya ketakutan itu segera memeluk Ning Nafis untuk menenangkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Cukup. sudah selesai, tidak ada yang bisa di bicarakan lagi.", ucap mas Raihan setelah suasana hening beberapa saat.


"Gus. tolong adiknya di ajak pulang.", ucap mas Raihan pada Gus Ma'adz.


"Sudah ndak ada apa-apa lagi, Gus. semuanya sudah selesai.", ucap Aisyah.


Gus Aham mengibaskan tangan Gus Ma'adz yang menariknya. ia berlari lalu duduk di ranjang Aisyah. di genggamnya tangan berkulit cerah milik Aisyah.


"Aisyah. jawab dengan jujur!. bukankah, kamu mencintai, mas?.", tanyanya.


"Mas, juga mencintai kamu. kita saling mencintai, kenapa kita tidak berusaha untuk memperbaiki semua bersama?.", tanya nya lagi. Aisyah menangis mendengarnya.


Apalagi yang perlu di pertahankan bila tidak ada kepercayaan di antara mereka?!. menyesal pun tidak ada gunanya. mau memperbaiki semua?!, bisakah?. karena kaca yang pecah meskipun di satukan akan tetap terlihat retaknya.


"Sudah. jangan paksa, Syasya lagi.", ucap mas Raihan yang berusaha menjauhkan Gus Aham dari adiknya.

__ADS_1


"Mas. sebentar saja.", ucapnya memohon pengertian.


Ponsel Gus Ma'adz berbunyi yang ternyata dari kang Mu'idz.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Ma'adz.


"Gus, kondisi ibu terus menurun, tapi ibu tetep mboten purun di beto teng rumah sakit. ibu nyuwun kepanggih Ning Aisyah.", ( Gus, kondisi ibu terus menurun, tapi ibu tetap ndak mau di bawa ke rumah sakit. ibu hanya ingin bertemu dengan Ning Aisyah).",ucap suara di seberang. Gus Ma'adz menghela nafas berat.


Dengan kondisi hubungan Gus Aham dan Aisyah yang seperti ini, ia tidak mungkin meminta Aisyah ikut bersamanya. walaupun hanya karena Ummi ingin melihatnya. kalau Gus Aham saja kehilangan hak nya, apalagi mereka?!.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Gus Ma'adz mematikan ponselnya. ia mendekati Gus Aham dan mengajaknya pulang.


"Ummi, ingin ketemu sama kamu. ayo, kita pulang dulu, le.", ajaknya pada sang adik.


Mau tidak mau, akhirnya Gus Aham ikut Gus Ma'adz dan Ning Nafis pulang. ia tidak punya pilihan lain.


Terus di pandanginya wanita yang membuatnya lemah tak berkutik itu sebelum ia benar-benar menghilang dari balik tembok.


Mereka menuju aula. pamit pada ibu yang masih menerima kunjungan donatur.


"Bu. Ma'adz, Nafis sama Aham, pamit dulu.", ucapnya lalu mencium tangan ibu, tapi sebelum Gus Ma'adz, Ning Nafis dan Gus Aham menciumnya, ibu lebih dulu menarik tangannya.


Dengan berat hati. Gus Aham ikut Gus Ma'adz dan Ning Nafis menaiki mobil. Gus Aham terus memandang ke arah aula panti, berharap Aisyah mengejarnya dan mau ikut dengannya.


Padahal, niat Gus Ma'adz dan Ning Nafis ke panti tadi adalah untuk menjemput Gus Aham dan Aisyah. Ummi terus menerus mencari dan memanggil Aisyah. tapi sekarang, mereka harus pulang bertiga, bukan berempat.


Mobil mulai berjalan menyusuri jalanan menuju ndalem. Gus Aham hanya terdiam duduk di kursi belakang. ia berfikir.


"Apa yang harus dikatakan pada Ummi nya, nanti?!.",

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2