Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 61


__ADS_3

Begitu sampai di kamar, Gus Aham segera mendudukkan Aisyah di sofa, lalu mengambil kotak obat.


Ia berjongkok di depan istrinya sambil mengobati kening Aisyah yang memar tadi. dengan telaten Gus Aham mengoles minyak zaitun agar tidak bengkak dan menimbulkan bekas hitam di sana.


Sementara Aisyah hanya terdiam. ia sebenarnya tidak tega berbicara kasar pada suaminya, tapi ia tidak bisa berfikir jernih tiap kali berada di samping Gus Aham. ntah kenapa?!, dorongan ingin marah dan ingin menunjukkan rasa tidak suka dengan semua ini bergejolak.


Kilatan-kilatan saat Gus Aham marah, menunjukkan rasa jijik dan keraguan padanya selalu muncul saat ia berusaha melebur rasa kecewa itu. membuatnya menjadi penyakit dalam hatinya, yang terbuka setiap kali ia berada di samping Gus Aham.


Amarahnya meledak-ledak setiap Gus Aham berusaha memperbaikinya. ia sendiri, untuk saat ini tidak tau bagaimana sebenarnya perasaannya pada pria yang berhasil mengisi relung jiwanya, itu?!. yang ia tau, ia hanya kecewa.


Kecewa karena Gus Aham mencurigainya, kecewa karena Gus Aham menghukumnya atas kesalahan yang tidak ia lakukan, dan kecewa karena Gus Aham meragukan cinta dan ketulusannya. hingga berakibat seburuk ini.


"Masih sakit?.", tanya Gus Aham sambil sesekali meniup kening Aisyah yang memar. Aisyah menghela nafas, lalu menggeleng. Gus Aham tersenyum, ia segera membereskan kotak obat, dan menyimpannya lagi.


Saat Gus Aham kembali, Aisyah sudah tergeletak, memejamkan matanya di sofa. ada bekas butiran bening yang mengalir di kedua sudut mata indahnya.


Gus Aham yang menyadari itu segera menghapusnya. ia mencium kening istrinya beberapa saat, matanya terpejam hingga ia terisak. sesaat Gus Aham menjauhkan wajahnya dari Aisyah. ia mengusap bulu matanya sendiri yang basah karena air mata. mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menghela nafas dalam. untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.


"Semuanya akan baik-baik saja. kita akan melewati semua ini, kita akan memulai semuanya dengan benar. sehingga tidak ada kesalahan sedikitpun.", ucapnya dengan terbata, karena menahan sesak di dadanya, melihat keadaan istrinya saat ini.


"Mas, janji.", sambungnya setelah diam beberapa saat.


Gus Aham mengambil bantal dan selimut, lalu membawanya ke kursi sofa. ia tidak mengangkat Aisyah ke ranjang, karena mungkin akan membangunkannya. setelah membenarkan posisi tidur dengan benar, Gus Aham segera menyelimuti istrinya, sementara ia tidur dengan posisi duduk di samping sofa untuk menjaga Aisyah.


Gus Aham takut istrinya terbangun, dan membutuhkan sesuatu. ia juga khawatir saat istrinya bangun, ia akan jatuh karena tidak sadar sedang tidur di sofa. dan bila jatuh, bisa saja Aisyah melukai dirinya sendiri karena terbentur atau tersandung. oleh sebab itu, Gus Aham tetap berjaga. tidur di samping Aisyah dengan sofa sebagai bantalnya.


Ia menggenggam tangan istrinya dan sesekali menciumnya. lalu meletakkan tangan itu di pipinya, membuatnya merasa nyaman hingga membawanya ke alam mimpi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Aisyah terbangun karena merasakan haus. ia merasakan rambut di telapak tangannya ketika tanpa sengaja tangannya bergerak hendak mencari pegangan.

__ADS_1


Rambut lembut yang terasa penuh itu, jelas milik suaminya. dan sentuhan itu membuat Gus Aham terbangun.


"Sayang.", panggilnya. ia masih menyesuaikan pandangan nya yang baru saja membuka mata.


"Kenapa?, haus?.", tanyanya. dan Aisyah mengangguk.


"Sebentar. mas, ambilin. dan jangan banyak bergerak, kamu di sofa sekarang, awas jatuh atau terbentur.", ucapnya sambil berdiri dan berjalan menuju meja samping ranjang untuk mengambilkan minum istrinya.


Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan segelas air putih. Gus Aham membantu Aisyah minum.


"Pindah ke ranjang, ya?!. mas, takut kamu jatuh.", ucapnya, tapi lagi-lagi Aisyah hanya diam. Gus Aham tersenyum, lalu menggendongnya ke ranjang.


Begitu Aisyah berbaring, Gus Aham segera menyelimutinya. ia mengambil bantal yang lain yang ada di sofa, menaruhnya di ranjang dan berbaring di samping Aisyah.


Gus Aham memeluk Aisyah dari belakang. ia tetap berdiam, membuat Gus Aham leluasa mencium tengkuk Aisyah dan menemukan aroma tubuh istrinya yang selalu menenangkannya.


Sebenarnya lelaki seperti apa njenengan, Gus?.", pikirnya. terkadang, rela merendahkan diri hanya untuk Aisyah, terkadang berbuat semaunya tanpa peduli perasaan orang lain, dan terkadang terlihat begitu romantis dan perhatian.


"Jangan menangis lagi.", bisiknya. hatinya sakit melihat istrinya sedih bahkan menangis. ia mengeratkan pelukannya.


Dua hati yang saling mencintai, terbalut luka, karena salah kata. tidak tau harus bagaimana?. melangkah, takut salah. diam?, tak memberi kemajuan pada hubungan mereka?. tapi jika mengacuhkan, sama dengan menyakiti diri sendiri. perasaan yang serba salah.


Ia mungkin terluka, tapi lebih mungkin tak ingin berpisah. ia juga mungkin kecewa, tapi masih berharap di raih. pada dasarnya, hatinya sakit terus berkata kasar pada suaminya, tapi ia sendiri tidak bisa mengerti dirinya. semua itu seakan-akan kekecewaannya yang menguap dan keluar begitu saja menjadi sebuah kata-kata kasar.


"Biarlah begini saja dulu, kita lihat hari-hari berikutnya. bisakah hatinya legowo menerima kehadiran dan terbiasa bersama suaminya.", Pikirnya.


Gus Aham memeluk Aisyah dari belakang hingga keduanya terlelap kembali hingga menyongsong pagi.


"Datang kapan, nduk?.", tanya Abah pada Aisyah, yang baru saja bergabung di ruang makan dan duduk.


"Kemarin sore, bah.", jawabnya.

__ADS_1


"Sehat?.",


"Alhamdulillah.", jawab Aisyah yang di sambut senyum semua anggota keluarga yang ada di ruang makan.


"Kata, Aham. sebentar lagi, mau operasi mata?!. semoga lekas sembuh ya, nduk?.", sahut Gus Ma'adz memberi semangat.


"Iya. bismillah.", ucap Ning Nafis, menepuk tangan adik iparnya. ia ikut bahagia mendengarnya, harapannya adalah Aisyah bisa melihat lagi. Aisyah tersenyum kecil mendengar dukungan semua anggota keluarga ndalem.


"Mi, setelah sarapan. Aham, mau ajak Aisyah ke Surabaya. ketemu dokter, untuk cek kesehatan buat persiapan operasi.", ucapnya meminta izin, yang langsung di jawab anggukan oleh Ummi dan yang lain.


"Semoga hasil, lancar, di mudahkan semuanya.", ucap Ummi yang mengucapkan harapannya, dan segera di amini oleh semua.


Begitu sarapan pagi selesai, Gus Aham segera mengemas baju gantinya dan baju ganti Aisyah. ia menyiapkan semua sendiri, sedang Aisyah minta di antarkan ke taman belakang. seperti biasa, ia duduk di gazebo favoritnya.


"Ning?!.", ia mendengar suara kang Mu'idz memanggilnya. Aisyah menoleh ke sumber suara itu, meskipun pandangannya tak berarah.


"Kenapa disini?.", tanyanya. Aisyah hanya menjawab dengan senyuman kecil.


"Kang. di panggil, ibu. suruh milih cincin buat lamarannya.", tiba-tiba Aisyah mendengar suara mba ndalem yang biasa mengurus dapur.


"Iya, sebentar.", jawabnya membuat mba ndalem itu pergi.


"Ning, saya minta doa restu. dua hari lagi, saya mau mengkhitbah Kamila. mohon doanya geh, Ning?!.", ucapnya. Aisyah tersenyum.


"Insyaallah. kang, sakinah, mawadah, Rohmah wa barokah.", jawabnya.


Melihat Aisyah tersenyum, membuatnya lega. ia tau, ini saat yang tepat untuk melepas orang yang di cintainya. biarkanlah sebatas mengagumi saja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2