Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 114


__ADS_3

"Le, kenapa?!.", tanya Gus Ma'adz, yang melihat Gus Aham bersandar lemah di tembok. sementara Ning Nafis mendengar Ummi terisak dari dalam kamar.


Ning Nafis dan Abah langsung menghampiri Ummi. mereka bingung dan tidak paham dengan situasi saat ini.


"Aisyah, Abah.", hanya itu yang terucap dari bibir Ummi. suaranya terdengar gemetar dan lemas.


Dokter Fitri membalikkan wajahnya, ia mengusap bulir bening yang jatuh membasahi pipinya. dokter Fitri mengemas peralatan nya. sengaja ia mengatakan itu pada Ummi, karena ia tidak tahan dengan Riko yang mengacuhkannya karena Aisyah.


Yang seharusnya menjaga Aisyah adalah suaminya, bukan Riko yang hanya sebatas sahabatnya. ia cemburu, sakit hati, kecewa pada Riko. dan kekecewaannya, memaksa ia untuk mengungkapkan semuanya. ia sungguh tidak bisa lagi menahannya.


Entah bagaimana reaksi Riko, saat tau bahwa ini adalah ulahnya?!. ia sudah tidak peduli.


Kalaupun setelah ini, Riko membencinya bahkan membatalkan pertunangan mereka, ia juga masa bodoh. ia hanya tidak ingin, ada banyak hati yang terluka dan kecewa.


Ummi menunjuk ke arah dokter Fitri. membuat Ning Nafis mendekat dan bertanya pada dokter.


"Ada apa dengan Ummi, dok?!.", tanyanya. dokter Fitri hanya menggeleng. tidak sengaja, Ning Nafis melihat bekas air mata yang masih tersisa di bawah mata dokter Fitri.


"Njenengan, nangis?!. apa yang terjadi?. apa Ummi sakit?!.", tanya Ning Nafis berurutan. wajahnya terlihat khawatir.


Gus Aham masuk dengan di tuntun Gus Ma'adz. ia kemudian di dudukkan di sofa oleh kakaknya.


"Katakan!. sekarang istriku ada dimana?!.", tanya Gus Aham, setelah nya.


"Klinik utama pusuro, daerah Surabaya. Ning Aisyah, terpaksa di rawat di sana sekarang. karena, saat perjalanan menuju Banyuwangi, kondisinya drop.", ucap dokter Fitri, setelah sekian lama diam. memecah suasana kamar yang tadinya hening.


"Ning Aisyah bahkan sempat mendapatkan perawatan di mobil karena mengalami gangguan pernapasan.", jawab dokter Fitri.


Cerita dokter Fitri membuat Gus Aham sesak. ia terlihat beberapa kali mengontrol emosi nya. dan menarik nafas dalam.


"Kenapa harus dibawa ke Banyuwangi?!.", tanya Gus Ma'adz.


"Setelah operasi transplantasi ginjal, yang dilakukan oleh Ning Aisyah pada Gus Aham. Ning Aisyah, tidak pernah membuka matanya. ia tidak sadarkan diri dan koma.", Ning Nafis terlihat membungkam mulutnya karena terkejut. sementara Ummi menangis di pelukan Abah.


"Ya Allah.", gumam Gus Ma'adz. mereka sama sekali tidak tau, tidak menyangka bahwa pendonor itu adalah Aisyah.

__ADS_1


"Seharusnya, Ning Aisyah tidak bisa melakukan donor ginjal itu, karena dia hamil.",


"Tapi, saat pemeriksaan untuk transplantasi ginjal. kadar HCG dalam darah yang menunjukkan Ning Aisyah hamil, tidak terbaca. jadi, dokter berpikir bahwa Ning Aisyah tidak hamil, dan dalam keadaan siap untuk transplantasi ginjal.",


"Setelah beberapa hari operasi, Ning Aisyah tidak kunjung sadarkan diri. membuat para dokter melakukan analisis ulang. yang mana, mereka juga menemukan fakta mengejutkan bahwa Ning Aisyah hamil.",


"Dokter mengatakan, untuk menyelamatkan nyawa Ning Aisyah, mungkin perlu dilakukan aborsi. tapi, keluarga menolak. dan mengalihkan pengobatan Ning Aisyah ke alternatif.", ucap dokter Fitri, mengakhiri ceritanya.


"Kenapa kadar HCG yang menjadi tanda bahwa seseorang itu hamil, tidak terbaca?!.", tanya Ning Nafis.


"Kemungkinan, saat itu Ning Aisyah terlalu stress, atau bisa juga itu merupakan tanda bahwa ibu hamil, mengalami tanda keguguran.", jawab dokter Fitri. yang makin membuat dada semua orang diruangan itu sesak untuk bernafas.


Gus Aham bangkit dari duduknya. pikirannya hanya satu. ia harus segera menyusul istrinya sekarang. Aisyah sedang berjuang dengan bayi mereka, dan mereka sedang membutuhkannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham membatalkan email yang akan ia kirim pada pengacaranya. tidak ada kata cerai.


Ia keluar dari kamar setelahnya. Gus Aham masuk ke kamar Ummi. dimana, semua anggota keluarganya sedang menunggui Ummi di sana.


"Ummi. Aham minta izin, untuk bertemu Aisyah.", ucapnya, setelah melepas kan ciuman nya di tangan sang ibu.


Ummi menganguk, air matanya menetes lagi.


"Ummi, izinin. hati-hati di jalan ya, le?!.", jawab Ummi, dengan suara berat menahan tangis. Gus Aham menganguk dan tersenyum.


Ia lalu memeluk Gus Ma'adz dan berpamitan pada Ning Nafis.


"Sholawat, ndungo. Ojo mandek-mandek.", (sholawat, doa. jangan putus-putus).", ucap Gus Ma'adz pada adiknya, saat berpamitan. Gus Aham menganguk.


"Hati-hati ya, le?!.", hanya itu, pesan Ning Nafis pada adik iparnya, ketika Gus Aham berpamitan.


Gus Aham berbalik. ia hendak keluar kamar Ummi. tapi, terlihat Abah berdiri di tengah pintu kamar.


Gus Aham melangkahkan kakinya, mendekat pada Abahnya. ia ragu, Abahnya akan mengizinkan. tapi, ia tetap akan berpamitan.

__ADS_1


"Bah, Aham.....,


"Bawa menantu dan calon cucuku, pulang dengan selamat!.", ucap Abah, menyahut ucapan Gus Aham yang belum selesai.


Gus Aham mendongak kan wajahnya. ia menatap Abah nya, ada rasa haru yang memancar dari kedua matanya.


Abah merentangkan tangannya. Gus Aham yang melihat itu, tersenyum. lalu memeluk erat tubuh Abahnya. begitu juga dengan Abah, yang membalas dekapan erat putranya.


Semua yang ada diruangan itu, tersenyum haru melihat Abah dan Gus Aham berpelukan. mengingat itu belum pernah terjadi, dan mereka selalu berselisih paham.


Mobil Gus Aham sudah mulai menyusuri jalanan. ia akan sampai dalam beberapa jam lagi.


"Tunggu aku, sayang!. tunggu, mas.", bisiknya berharap Aisyah mendengar nya di sana.


Gus Aham terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. ia ingin segera bertemu istrinya.


Rasa rindu di dalam dadanya sudah tidak bisa terbendung lagi. ia ingin mendekap, memeluk, mencium, dan memanjakan istrinya lagi.


Apalagi, ia kini tau. ada bayi miliknya di rahim Aisyah. membuatnya, lebih bersemangat lagi melintasi jalan beraspal untuk bertemu dengan cinta-cintanya.


Gus Aham sedikit mengurangi kecepatan nya ketika sudah memasuki wilayah Rungkut.


Ya, sesuai petunjuk maps. klinik itu, terdapat di daerah Rungkut, Surabaya. Gus Aham masih mengikuti petunjuk dari maps. matanya sibuk melirik ke sisi kanan dan kiri jalan. mencari plang atau petunjuk, yang mungkin bisa membantunya menemukan klinik itu.


Dan setelah lama mencari, akhirnya Gus Aham menemukan klinik itu. sebuah klinik dengan bangunan bertingkat yang cukup besar. dengan fasilitas yang cukup memadai untuk para pasien yang membutuhkan rawat inap.


Gus Aham memarkir mobil Jeep Rubicon yang sudah di ambil di kantor polisi sebelumnya. ia segera membuka pintu mobil, dan menutupnya setelah turun.


Melewati resepsionis. Gus Aham bertanya dimana ruangan atas nama istrinya di rawat. yang membuat perawat itu, mengarahkan jalannya. Gus Aham menganguk tanda paham dan berterimakasih.


Sampai di koridor depan kamar istrinya di rawat. ia melihat ibu mertuanya sedang duduk di kursi tunggu.


Ibu, yang menyadari kedatangan seseorang. dengan cepat menoleh dan menatap orang itu, yang tak lain adalah Gus Aham.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2