Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 108


__ADS_3

Dokter tersebut menyodorkan lembar hasil laporan kesehatan Aisyah pada mas Raihan.


Mas Raihan menerimanya. ia hanya memandangi tulisan-tulisan di kertas putih itu, karena tidak paham dengan isinya.


"Saya, tidak paham.", ucapnya. lalu, mengembalikan kertas itu pada dokter.


"Setelah melakukan cek kesehatan lebih lanjut pada Aisyah. kami, baru mengetahui bahwa. Aisyah, tengah hamil.", ucap dokter itu, setelah menghela nafas berat sebelumnya.


Mas Raihan terkejut bukan main. ia senang, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk tersenyum. mengingat, kondisi adiknya yang belum sadarkan diri.


"Usia kandungan nya sekitar 4-5 Minggu.", sambung dokter itu.


"Kemungkinan besar, penyebab Aisyah belum sadarkan diri adalah ini.",


"Karena janinnya lemah, tubuh Aisyah juga lemah. menyebabkan ia koma.",


Mas Raihan menegang. ia merasa pusing, hingga membuat kedua tangannya menyangga keningnya. benar-benar pusing hingga tidak tahu harus bagaimana?!.


Ya. bukan lagi tidak sadar, kenyataannya adalah adiknya koma. bahkan mungkin komplikasi lain bisa saja menyusul menyerang tubuh Aisyah.


Ia keluar dari ruangan dokter, berjalan menyusuri koridor menuju kamar tempat Aisyah di rawat.


Kata-kata dokter bersahut-sahutan di benaknya. kilas balik saat ia tidak sengaja menjatuhkan tas adiknya dan menemukan buku itu, berputar lagi.


Harusnya, ia menyadari tapi ia terlalu bodoh. ia menyalahkan dirinya sendiri, ia membenci dirinya yang tidak bisa menjaga adiknya.


"Apakah ada solusi?!.", tanya mas Raihan, pada dokter.


"Mungkin kita harus melakukan aborsi.",


"Kenapa harus aborsi?!.",


"Saya mengira, itu jalan yang terbaik. karena, kemungkinan Aisyah tidak bangun karena janinnya lemah. sehingga mempengaruhi anggota tubuh yang lain.",


"Apakah dokter bisa menjamin?!. setelah aborsi, adik saya bisa bangun lagi?!.",


"Saya, kurang yakin.",

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan lakukan!.",


Mas Raihan menjawab semua ucapan dokter dengan tegas. dan kini, ucapan mereka terus berputar di ingatannya.


Ia membuka pintu kamar tempat adiknya di rawat. terlihat ibunya yang baru saja datang, meletakkan bekal dan tas berisi baju ganti untuk mas raihan di meja.


"Dari mana, le?!.", tanya ibu. mas Raihan tidak menjawab. melainkan, ia langsung menubruk ibunya. entah bagaimana ia bicara pada ibunya?!. ia bingung dengan kondisi adiknya.


Ibu yang mencoba paham, hanya meraih tubuh mas Raihan dan menuntunnya ke kursi. mereka duduk, tapi mas beringsut turun. ia berlutut, mencium kaki ibunya. tangisnya tak terbendung lagi.


Air matanya mengalir deras, suara tangisnya pecah memenuhi ruangan. membuat ibunya membantu ia untuk bangun.


"Kenapa?.", tanya ibu, begitu mas Raihan bangun dari sujudnya. mas Raihan menatap ibunya sedih. ia bingung.


"Adikmu, kenapa?. coba, bilang!.", perintah ibunya, di sertai usapan lembut di kedua pipinya yang menghapus aliran air matanya.


"Raihan, ndak bisa jaga Syasya, Bu.", ucapnya. ia masih menunduk, tidak berani menatap wajah ibunya. saat berucap demikian.


"Yowes, kalau ndak bisa. di pasrahne wae marang, Gusti.", jawab ibu, tenang.


"Raihan serius, Bu!.", ucapnya. kali ini ia memberanikan diri menatap wajah dan manik mata sang ibu.


"Aisyah, ternyata hamil.", sambungnya. yang membuat ibu seketika menutup mulutnya yang menganga karena terkejut dengan pernyataan mas Raihan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Aisyah, bahkan mungkin sudah tau kalau dia hamil.",


"Tadi, Raihan ndak sengaja jatuhin tas Syasya, Bu. ada buku laporan kesehatan ibu dan anak.", ucapnya. lantas ia berdiri, dengan terburu-buru, ia berjalan menghampiri meja di samping ranjang adiknya, untuk mengambil tas.


"Ini, Bu.", ucapnya, menunjukkan buku berwarna pink itu setelah kembali di hadapan ibunya.


Ibu menerima uluran buku itu, dari tangan mas Raihan. ia membukanya. ada benda kecil panjang yang terjatuh dari lembar pertama itu. ya, itu tes pack.


Ibunya terdiam. mendadak mengusap keningnya karena merasa pusing.


"Bu?!.", panggil mas Raihan. yang khawatir melihat ibunya, menyandarkan kepalanya di sofa. ibu nampak lemas.

__ADS_1


Buru-buru mas Raihan mengambilkan air putih untuk ibunya, dan meminumkannya, agar sang ibu lebih tenang.


"Makan, dan ganti baju lah dulu. bersihkan badanmu!.", perintah ibu. yang membuat mas Raihan mengangguk dan dengan berat hati meninggalkan ibunya.


Ia tau, ibunya ingin sendiri saat ini. jadilah, ia menuruti permintaan ibunya. mas Raihan pun, segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ibu sudah duduk di samping ranjang Aisyah. ia mengusap tangan putrinya lembut. di pandanginya wajah yang mulai terlihat tirus karena sudah lima hari tidak sadarkan diri.


"Bukankah kamu berjanji pada, ibu?!. bahwa semua akan baik-baik saja?!.", ucap ibu dengan suara lirih.


Ibu ingat, saat Aisyah meminta izin padanya untuk mendonorkan ginjal pada Gus Aham. meminta di rahasiakan dari keluarga ndalem.


"Nanti, kalau Aisyah belum sembuh. tolong sembunyikan Aisyah, dulu ya Bu?!.",


"Kenapa?.",


"Ummi, ndak akan ridho sama apa yang Aisyah, lakuin. yang kedua, setelah operasi, baik Gus Aham atau Aisyah sama-sama butuh waktu untuk masa pemulihan. jadi, Aisyah ndak ingin mengganggu proses penyembuhan Gus Aham, dengan menambah beban pikiran nya.", ucapnya menjelaskan pada sang ibu. dan ibunya, mencoba mengerti. ia tau bagaimana rasanya kehilangan suami di masa mudanya, dan Aisyah hanya mencoba menyelamatkan suaminya. itu sebabnya ibu mengangguk.


"Tapi, Bu. kalau ada apa-apa dengan Aisyah. tolong tutup semua berita dan kabar, yang mungkin bisa memperburuk keadaan.", ucapnya, sebelum keesokan harinya, Aisyah melakukan operasi.


Waktu itu, saat Aisyah berucap demikian. ibu, ndak paham dan hanya manthuk, manut, menyetubuhi dan mendoakan. tapi, sekarang. ia baru sadar dengan ucapan putrinya yang terakhir.


Ya. Aisyah sudah tau bahwa resiko dari donor ginjal adalah, hipertensi dan mungkin juga bisa menderita diabet di kemudian hari.


Sedang bagi wanita yang hamil setelah operasi ginjal dalam jarak waktu dekat. bisa berakibat komplikasi dan bahkan koma hingga kematian. tapi, ia tetap melakukan donor ginjal itu.


Ibu menangis mengingat ucapan Aisyah terakhir kali. ibu tau putrinya sangat mencintai dan ingin mengabdi serta berbakti pada suaminya. tapi kenapa begitu berat?!.


Sementara di tempat lain. Mike dan Sintya sibuk pergi ke tempat yang pernah di kunjungi Kevin. dimana, Kevin pernah di rawat karena gangguan jiwa. namun, akhirnya di bebaskan karena ia dinyatakan sembuh.


Selesai meminta salinan kesehatan Kevin. ia mengemudi ke kantor polisi, tempat Gus Aham di tahan.


Mereka bertemu dengan Gus Ma'adz dan pengacaranya di sana. saling berkenalan, dan ngobrol tentang masalah Gus Aham.


Tidak lupa, Mike menyerah kan salinan laporan kesehatan itu pada pengacara Gus Aham.


Namun, sayangnya. menurut pengacara, salinan laporan kesehatan Kevin itu, tidak bisa menjadi bukti konkrit di pengadilan. membuat mereka mendengus dan berpikir lagi, untuk mencari bukti yang lebih kuat.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2