
Baik Gus Aham maupun Aisyah, sama-sama dalam pemantauan. minimal, mereka harus tinggal selama satu minggu di rumah sakit. bukan tanpa sebab, itu di lakukan untuk memastikan tidak ada penolakan dari tubuh pada ginjal yang baru.
Dan bagi si pendonor. untuk memastikan tidak ada komplikasi atau masalah dengan tubuh, dalam adaptasi baru, hidup dengan satu ginjal.
Mba Mira berlari keluar ruangan. ia harus menemui dokter untuk memeriksa adiknya. ia yakin, melihat jari Aisyah bergerak tadi.
Tak berapa lama kemudian, mba Mira kembali dengan seorang dokter dan beberapa perawat.
Mereka memeriksa Aisyah dan mencatat perkembangannya secara teliti.
"Ada apa ini?.", tanya mas Raihan, ketika bangun dan melihat adiknya di periksa.
"Mas. aku tadi, lihat Aisyah gerakin jari.", jawab mba Mira, antusias.
"Ya Allah!.", serunya, senang.
"Bener?!.", sambungnya, memastikan ia tidak salah mendengar ucapan istrinya. mba Mira menganguk kuat sebagai jawaban.
"Alhamdulillah.", sahut mas Raihan.
Dokter selesai memeriksa, sedang perawat masih mengecek selang infus Aisyah.
"Gimana, dok?!.", tanya mas Raihan. dokter itu hanya menggeleng pelan.
"Maksudnya?!.", mas Raihan tidak paham dengan jawaban itu. dan ia, menantikan jawaban yang lebih jelas.
"Tidak ada tanda-tanda pasien akan sadar.", jawab dokter. membuat mas Raihan kehilangan raut wajah sumringah nya.
"Ndak mungkin. jelas-jelas tadi, saya lihat jari adik saya, gerak dok.", ucap mba Mira, yakin.
Ia benar-benar melihatnya tadi. dan jari Aisyah benar-benar bergerak perlahan.
"Mas. aku, ndak bohong.", ucapnya. ia khawatir, mas Raihan tidak percaya padanya.
"Mas, percaya.", ucapnya pelan. lalu mendudukkan dirinya di kursi.
Tatapan matanya kosong, menunduk. apa yang ia khawatirkan, apakah akan terjadi?!. pikirannya semrawut.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan. mengingat, sudah dua hari, pasien belum sadarkan diri.", ucap dokter itu sebelum pergi. dan mas Raihan hanya menjawab dengan anggukan.
Sementara di ruangan lain.....
"Mas, apa belum ada kabar dari Aisyah?!.", tanya Gus Aham, setelah meminum obatnya dengan air.
"Belum, le. mas, kemarin juga lupa mau mampir ke panti. nengok keadaannya.", jawab Gus Ma'adz, yang mendapat giliran menjaga adiknya hari ini.
__ADS_1
"Mas. coba telpon!. seenggaknya, aku bisa tau keadaannya dari video call.", pintanya. Gus Ma'adz menganguk, pertanda setuju.
Gus Ma'adz memberikan ponsel pada adiknya. dan Gus Aham segera menghubungi nomor istrinya.
Tertulis jelas di layar ponselnya, nama untuk nomor telepon istrinya, zaujati (istriku, dalam bahasa Arab).
Lama, suara ponsel itu berdengung. menandakan panggilan tersambung, tapi tidak kunjung juga ada yang mengangkat. hingga, Gus Aham mengulanginya beberapa kali dengan hasil yang sama.
Gus Aham terdiam, ia nampak berpikir. kemana istrinya pergi?!. tidak biasanya, Aisyah mengabaikan panggilan darinya.
"Kenapa, le?!.", tanya Gus Ma'adz yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ndak nyambung, mas.", jawabnya.
"Mungkin, Aisyah masih tidur. kan, katanya lagi nggak enak badan.", ucap Gus Ma'adz. berusaha menenangkan adiknya, agar tidak berpikir yang tidak-tidak. dan Gus Aham mengangguk, menyetujui pemikiran kakaknya.
"Tok...,
"Tok...,
"Tok...,
Terdengar suara pintu di ketuk. sebelum akhirnya, beberapa polisi masuk ke ruangan Gus Aham.
"Selamat siang, pak.", ucap salah seorang dari mereka. menyapa Gus Aham dan Gus Ma'adz.
Mereka pun mengatakan maksud dan tujuannya kemari, dengan membawa surat penangkapan untuk Gus Aham. Gus Ma'adz yang paham dan sudah tau, bernegosiasi dengan polisi tersebut. meminta penangguhan penahanan, mengingat adiknya baru saja sadar.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Di tempat lain....
Riko baru saja keluar dari sebuah pusat jual beli ponsel. ponselnya rusak, saat beberapa hari lalu, tidak sengaja bertabrakan dengan orang yang sedang mengejar brankar, yang membawa anggota keluarganya di lorong rumah sakit. membuat ponselnya jatuh, mati dan rusak.
Ia penasaran pada kabar Aisyah. mengingat, beberapa hari yang lalu, Aisyah menghubunginya untuk meminta bantuan.
"Minta tolong apa?!.", tanyanya, kala itu.
"Aku, meletakkan ponsel dan surat di laci kamar.", jawab Aisyah. membuat Riko, mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud Aisyah.
"Berikan ponsel itu pada Gus Ma'adz. di dalamnya, ada sebuah rekaman. dan surat itu, tolong berikan pada Gus Aham, saat dia mencari ku ke panti.", sambung Aisyah, di seberang.
"Kenapa tidak berikan sendiri?!.", tanya Riko. yang baru saja keluar dari ruangan nya dan berjalan di koridor rumah sakit.
"Saat mereka membutuhkannya. mungkin, aku tidak sanggup memberikannya sendiri.", jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa?!.", tanya Riko. yang tidak mengerti, apa yang terjadi sebenarnya.
"Karena aku....,
"Brukkk.....,
Seseorang tidak sengaja menabrak Riko. membuat ponselnya terlempar dan jatuh cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Ia menoleh pada orang itu, yang terlihat panik dan meminta maaf padanya. membuatnya tersenyum dan berucap.
"Tidak apa-apa.", sehingga membuat orang itu pergi meninggalkannya dan bergegas mengejar brankar yang mengangkut pasien di atasnya.
Mungkin, orang itu terburu-buru karena khawatir pada anggota keluarga nya yang sakit, pikirnya.
Riko segera menghampiri ponselnya dan memungutnya. layarnya retak dan mati. ia berusaha menekan tombol power, untuk menghidupkan kembali ponselnya. tapi, gagal. ponselnya benar-benar rusak.
Membuatnya tidak bisa melanjutkan obrolannya dengan Aisyah, kala itu.
Kini, setelah ia membeli ponsel baru, dan memasang SIM card nya. ia mencoba menghubungi Aisyah.
Ia ingin tau, cerita dan alasan Aisyah meminta pertolongan nya tempo hari.
Panggilan pertama. tidak ada yang mengangkat. ia mencoba lagi, dan terus mengulanginya. tapi, hasilnya sama.
Ponselnya tersambung, tapi tidak ada yang mengangkat. kemana Aisyah?!, pikirnya.
Merasa ada yang tidak beres. Riko berencana menghubungi mas Raihan. tapi, itu urung ia lakukan karena mendapat panggilan darurat dari rumah sakit. karena ada pasien kritis.
"Baik. aku mengerti.", ucapnya.
"Aku, akan segera sampai.", jawabnya. lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Sejenak, Riko melupakan Aisyah. dan bergegas naik motor menuju rumah sakit. tempat dimana orang-orang membutuhkan pertolongannya.
Sementara di tempat lain.....
"Bolehkah, sebelum kalian membawaku. aku, menemui istriku?!.", tanya Gus Aham.
"Le. apa-apaan kamu?!, kamu ini baru sembuh. mas, sama pengacara sedang usahain penangguhan penahanan kamu.", ucap Gus Ma'adz. ia sedikit membentak adiknya, karena mau pasrah dan nurut di bawa petugas begitu saja.
"Kalau memang, orang yang meninggal itu, Kevin. mas, temui saja Mike. setahuku, dari kabar yang aku dengar, Kevin menderita gangguan jiwa belakangan ini.", ucapnya. ia mencoba mencari celah untuk kebebasan dirinya, dengan memberi petunjuk pada kakaknya.
Ia tau, saat ini akan datang. jadi, ia sudah bersiap. hanya saja, ia tidak tau apa motif Kevin, yang merupakan sahabat terbaiknya di arena balap motor menyerangnya tempo hari.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺