
Satu Minggu sudah berlalu, sejak Aisyah dan ibu pulang ke panti meninggalkan Ummi yang semakin membaik keadaannya.
Setiap hari juga, Ning Nafis atau Gus Ma'adz menghubunginya, melakukan video call atas permintaan Ummi. lewat ponsel ibu, sesuai janji ibu ketika berpamitan hendak pulang.
Aisyah bahagia dan sangat senang dengan perkembangan kesehatan Ummi. apalagi, ibunya bercerita jika sekarang pipi Ummi lebih berisi. walaupun Aisyah, tidak bisa melihat sendiri, tapi mendengar obrolan Ummi dan ibu ketika video call, cukup meyakinkan dirinya bahwa Ummi sekarang lebih baik, bahkan tanpa perawatannya.
"Pokok. habis video call sampean, Ummi maemnya langsung lahap nduk. katanya, harus cepat sembuh supaya bisa ketemu kamu lagi.", ucap Ning Nafis, terdengar sangat bahagia di telinga Aisyah. ia pun merespons dengan senyuman manisnya.
"Kalau sama Aisyah, itu Bu. Ummi, manut.", ucap Ning Nafis menceritakan tentang Ummi yang manut, nurut pada Aisyah walaupun Aisyah hanya berbicara lewat ponsel. ibu dan Aisyah tersenyum mendengarnya.
"Alhamdulillah. lekas sehat nggeh, mi.", ucap Aisyah berpesan pada Ummi sebelum mengakhiri video call.
"Iya, nduk. nanti, kalau Ummi sudah sehat. boleh ,ya?!. main ke panti?.", tanya Ummi.
"Injih. boleh.", jawabnya.
"Yowes, sudah malem. kamu cepet istirahat ya, nduk?.",
"Injih. Ummi juga, istirahat. biar cepet sehat.", jawab Aisyah. membuat Ummi mengangguk senang walau ia tidak bisa melihatnya.
"Assalamualaikum. Nduk.",
"Waalaikum salam.", dan video call pun berakhir.
Hari-hari berlalu begitu saja. Aisyah melewatinya dengan anak-anak panti. ia membantu anak-anak panti belajar bersama dan mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan bersama anak panti.
Hingga pada suatu hari....
Tepatnya, malam hari setelah sholat isya'. Ummi dan Abah datang bertamu ke panti.
"Assalamualaikum.", ucap Ummi yang sudah berdiri di depan pintu panti.
"Wassalamu'alaikum salam.", sahut semua anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu, termasuk pak lek, bulek, budhe dan pak dhe.
__ADS_1
Kebetulan, hari ini mereka semua berkumpul untuk membahas acara santunan anak yatim yang akan di laksanakan bulan depan.
Begitu mereka tau, yang datang adalah Ummi dan Abah. semua anggota keluarga besarnya segera menghampiri dan mempersilahkan Abah dan Ummi untuk masuk dan duduk.
"Monggo, Gus. Pinarak.", ucap kakak tertua ibu. mempersilahkan Abah dan Ummi duduk.
"Enek tamu, mba Yati.", ucap pak Dhe ke mba Yati sebagai isyarat untuk membuatkan minum dan menyajikan camilan.
Tak lama kemudian, mba Yati datang dengan membawa suguhan untuk Ummi dan Abah. terlihat semua keluarga besar juga sudah berkumpul "njagong" dengan Abah dan Ummi. Aisyah juga baru saja duduk di samping Ummi.
"Nuwun Sewu. Niki wau tujuan e mriki, sepindah silaturahim, kaping kalihe ngeteraken ibu'e. sanjange kangen kalian Aisyah. lha, kaping tigone, Kulo kaleh ibu'e ajenge ngitbah Aisyah damel Aham maleh. insyaallah, kesalahan-kesalahan engkang kados wingi. mboten ke ulang maleh.",
( Permisi. tujuan kami kesini tadi, yang pertama adalah silaturahim, yang kedua, mengantarkan ummi. katanya, kangen dengan Aisyah. sedang yang ketiga adalah, saya dan Ummi menginginkan untuk melamar Aisyah lagi, untuk Aham. insyaallah, kali ini kesalahan-kesalahan seperti kemarin. tidak akan terulang lagi).", ucap Abah mengawali pembicaraan dan mengutarakan maksudnya.
Aisyah cukup terkejut mendengar penuturan Abah. ia tidak menyangka, sekarang Abah dan Ummi datang sendiri untuk memintanya.
Kalau dulu, karena memang sudah perjanjian perjodohan antara si Mbah nya Aisyah dan Mbah yai nya Gus Aham. hanya Ummi dan Gus Aham yang datang, itupun untuk ta'aruf. setelah nya baru lamaran dan langsung nikah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ummi dan Abah menjabat semua tangan keluarga yang hadir dan ikut mengantarkan sampai ke teras.
"Ummi, pulang dulu ya, nduk?!.", pamit Ummi seraya memeluk Aisyah. dengan wajah datarnya ia hanya mengangguk.
"Monggo. assalamualaikum.", ucap Abah berpamitan, lalu membantu Ummi menuruni tangga.
Ummi dan Abah sudah menaiki mobil. mereka terlihat melambaikan tangan pada semua orang yang ada di teras. belum sempat mobil itu pergi, Aisyah sudah pergi dan masuk ke rumah.
Mas Raihan yang menyadari perubahan sikap adiknya segera membantunya, menuntun Aisyah masuk.
"Mau disini?. apa dikamar?.", tanya kakaknya yang baru saja meraih tangan Aisyah.
"Ke kamar.", jawabnya pelan. segera ia membantu adiknya berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Dibukanya pintu kamar Aisyah pelan-pelan. baru setelahnya, ia menuntun adiknya masuk. Aisyah duduk di tepi ranjang, ia terdiam. pandangannya hanya terlihat menunduk.
"Jadinya, gimana?.", tanya mas Raihan. padahal, ia sudah bisa menebak apa jawaban adiknya.
"Kalau bisa, Syasya ndak mau rujuk.", jawabnya.
"Kenapa?. bukannya, Syasya sangat mencintai Gus Aham?.", tanya kakaknya. Aisyah terdiam.
Ia ingin adiknya berfikir jernih. perceraian adalah hal yang paling di benci Allah, dan ia tidak ingin adiknya menjadi salah satu yang di benci Tuhannya.
"Rujuk adalah pilihan yang baik, Sya.", sambung mas Raihan.
"Syasya ndak mau. untuk ngurus diri sendiri saja, Syasya kesusahan. bagaimana mau mengurus suami?.", ucapnya. ia menutupi alasan sebenarnya. dan mas Raihan mengetahui itu. ia terdiam sejenak, ia ingin adiknya sendiri yang mengatakan alasan sebenarnya pada dirinya, bukan karena di paksa.
Dari wajah dan sorot matanya saja, mas Raihan sudah tau kalau adiknya takut. ntah takut gagal atau takut bertemu Gus Aham lagi. yang jelas sejak kejadian itu, yang mas Raihan tau, Aisyah terus menghindari Gus Aham.
Saat mereka bertemu secara tak sengaja pun. Aisyah hanya akan menunduk. padahal tanpa menunduk pun, ia tidak akan bisa melihat Gus Aham, tapi tetap saja ia menundukkan kepalanya.
"Adikku adalah wanita tangguh.", ucap kakaknya. menggenggam erat tangan adiknya.
"Pikirkan itu baik-baik. mas, akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Syasya. sekalipun, Syasya menolak. mas , pasti akan tetap mendukung.", sambungnya, meyakinkan Aisyah.
"Istirahat dengan baik.", ucapnya. mengangkat kaki adiknya ke ranjang lalu menyelimutinya. sebelum ia pergi, mas Raihan mengecup kening adik kesayangannya.
"Mas, pergi dulu.", pamitnya mengacak-acak rambut adiknya. lalu pergi.
Mas Raihan pergi menemui para tetua di keluarga nya yang masih berkumpul di aula ruang tamu. ia tau, pembahasan yang awalnya untuk pengaturan dan persiapan santunan anak yatim, pasti berubah topik menjadi lamaran Abah dari Gus Aham untuk Aisyah.
Dan benar saja, ketika ia baru saja memasuki aula yang pertama ia dengar adalah masalah khitbah itu.
"Sebenarnya mau rujuk lagi itu juga bagus, nduk. setidaknya tetap menjalankan amanah bapak. dan lagi, emang dari dulu kan, keluarga kita ini abdi ndalem. kalau keluarga ndalem mau terus sambung kan, Yo Alhamdulillah.", ucap budhe. kakak ibu yang tertua, mencoba menengahi perselisihan antara adik-adiknya.
Ya. sebagian ada yang setuju, sebagian ada yang menolak dengan alasan, Gus Aham bukan laki-laki yang baik untuk Aisyah.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺