
"Mas. kalau menurutku, emang baiknya rujuk.", ucap Amira, di sela-sela ia menikmati ramen buatan suaminya. terdengar mas Raihan menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya.
"Mas, gak bisa maksa Syasya. yang bakal ngejalanin nanti kan, dia.", jawabnya. lalu meneguk jus mangga yang ia buat untuk dirinya tadi.
"Tapi, kalau keluarga besar bersikeras. gimana?.", mas Raihan menggeleng menjawab pertanyaan dari istrinya. ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa?. pikirannya buntu.
Di satu sisi, ada adiknya. tapi disisi lain, ada keluarga besarnya. mas Raihan tau, saat ia ataupun Syasya menolak, mereka akan menggunakan cerita lama, tentang pengabdian si Mbah nya terdahulu, untuk berpikir ulang.
Mas Raihan mengusap wajahnya kasar. wajahnya terlihat penat dengan beban pikiran yang terus berputar di otaknya.
Amira selesai makan, ia segera meneguk susu coklat hangat buatan suaminya hingga habis.
"Udah, mas.", ucapnya. membuyarkan lamunannya. mas Raihan mengangguk. ia segera mencuci piring dan gelas bekas Istrinya. selesai, mas Raihan mengajak istrinya kembali ke kamar, untuk istirahat. mengingat hari masih gelap.
Mas Raihan menemani Amira di ranjang. ia mengelus-elus perut istrinya yang sudah terlihat semakin membuncit itu. ya, sejak hamil Amira memang baru bisa tidur jika perutnya di elus-elus mas Raihan. itu membuatnya nyaman dan merilekskan tubuhnya, sehingga membuat Amira cepat tertidur.
Begitu menyadari istrinya sudah tertidur. mas Raihan segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. ya, ia harus sholat tahajud malam ini. untuk menenangkan pikirannya dan untuk mendapat jawaban serta petunjuk bagi kelangsungan hubungan Aisyah dan Gus Aham.
Pagi menampakkan sinarnya, masuk melalui celah-celah jendela. membuat Aisyah yang sedari subuh sudah muroja'ah, menyadari bahwa waktu semakin siang.
Ia menutup Qur'an nya, lalu melepas mukenanya. dengan sembarang bentuk melipatnya, dan meletakkannya di sajadah yang ia duduki. suara pintu kamar terbuka, Aisyah menoleh, walaupun penglihatannya ke sembarang arah.
"Assalamualaikum.", sapa suara khas penuh kelembutan itu di pagi hari. membuat Aisyah tersenyum sebelum menjawab salamnya.
"Waalaikum salam, Bu.",
Ibu menghampiri Aisyah, lalu membantunya bangun. begitu Aisyah sudah duduk di tepian ranjang, ibu segera melipat mukena dan sajadah Aisyah dengan rapi.
"Ada apa, Bu?.",
"Sebentar lagi waktunya sarapan.", jawab ibu, berbasa-basi. Aisyah mengangguk.
"Nduk?!.", ragu-ragu ibu memanggilnya. membuat Aisyah mengerti, kalau ibunya datang pagi ini karena ada yang ingin dibicarakan.
"Kenapa, Bu?.",
__ADS_1
"Nduk. masalah khitbah?!.", ibu menghentikan perkataannya. ia tau, jika membicarakan ini akan melukai putrinya. tapi, putrinya bukanlah milik ia sepenuhnya. ada keluarga ndalem yang sudah sangat akrab dengan keluarga besarnya. sehingga para sesepuhnya ikut di makamkan, di makam keluarga ndalem, dan ada, Aisyah putrinya.
"Aisyah, ndak bisa.", jawabnya saat ibunya menyinggung masalah lamaran itu. ia belum siap untuk menikah lagi sekalipun dengan orang lain. apalagi menerima pinangan dari lelaki yang sama, yang pernah menjadi suaminya.
"Kenapa, nduk?.", tanya ibu. ingin tau alasan putrinya.
"Aisyah, ndak bisa. Bu, Aisyah ndak mau mengulang kesalahan yang sama.", ucapnya.
"Tapi, nduk. sedari di dalam kandungan, Mbah yai sudah minta kamu ke ibu sama bapak.", ucapnya. Aisyah tidak mengerti maksud ibunya.
"Ya, sedari di dalam kandungan. Mbah yai, sudah tau klau anak yang ibu kandung, yaitu kamu adalah perempuan.
"Mbah yai, langsung meminta kamu untuk putranya kyai Malik. waktu itu kamu masih berusia tujuh bulan di kandungan ibu."
"Mbah yai, langsung mencari bapak, dan bapakmu langsung setuju.",
"Bukan tanpa alasan, kami semua setuju jika kamu di minta Mbah yai. karena ibu tau, anak yang dipilih Mbah yai, ndak akan salah. ia pasti punya ke istimewaan.",
"Dan ternyata, lahirlah kamu, nduk.", Aisyah terdiam mendengar cerita ibunya. ternyata, memang jodohnya adalah Gus Aham, bukan orang lain. pikirnya.
Nyatanya, meskipun Aisyah bersikukuh menolak. keputusan keluarga besarnya adalah mutlak. ia sudah di berikan pada Mbah yai sedari masih dalam kandungan ibunya. dan jika sekarang, Aisyah tidak menyetujui untuk rujuk dengan Gus Aham, kemana ia bisa pergi?!.
Ibarat kata, keluarganya bukanlah keluarganya. karena ia adalah hak keluarga Ummi, begitu orang tuanya setuju dengan permintaan Mbah yai.
Ummi bersuka cita karena mendapat kabar bahwa, lamaran Gus Aham di terima. Ummi segera meminta Ning Nafis untuk menyiapkan semua kebutuhan dan seserahan yang perlu di bawa ke rumah Aisyah nanti.
Untuk cincin, Gus Aham sudah menyiapkannya. ia memesan cincin pernikahan couple kali ini. sedang untuk cincin lama, ia simpan. itu merupakan salah satu tekadnya untuk memulai kehidupan baru, dari awal lagi. dulu, hanya Aisyah yang memakai cincin pernikahan, Gus Aham tidak berminat.
Milik Aisyah terbuat dari emas putih dan berlian sedang milik Gus Aham terbuat dari perak. bahannya berbeda, karena memang dalam Islam seorang pria tidak boleh memakai perhiasan yang terbuat dari emas.
Acara lamaran malam ini akan dilangsungkan dengan ijab qobul. permintaan pribadi Aisyah, tidak ingin di adakan resepsi. toh, yang tau masalah perceraian mereka hanya kedua belah pihak keluarga, belum sampai tersebar di khalayak ramai.
Setelah sholat isya', seorang perias mengetuk pintu kamar hendak mempersiapkan calon mempelai wanita.
"Tok...
__ADS_1
"Tok...
"Tok...
"Assalamualaikum, Ning.", ucapnya dari luar dan langsung membuka pintu kamar.
"Wassalamu'alaikum salam.", jawabnya lirih.
Aisyah tau, itu perias yang di minta mendadani nya. padahal, ia sudah bilang tidak ingin neko-neko. ini bukanlah pernikahan pertamanya, jadi ia tidak ingin berdandan. ya, Aisyah terbiasa dengan wajah polos tanpa make-up.
"Ning. maaf, nggeh?!. saya bersihkan dulu wajahnya.", ucap perias itu, lalu mulai membersihkan wajah Aisyah dengan susu pembersih. sementara seorang perias lagi, menyiapkan baju yang akan di pakai.
"Tolong, pakai bedak dan celak mata saja. tidak usah pakai yang lain.", ucap Aisyah. ia sama sekali tidak ingin berdandan untuk acara ini. berbeda dengan Ummi dan Gus Aham sekeluarga.
Ya. perias itu, datang atas perintah Ummi dan di bayar oleh Gus Aham. ia ingin istrinya tau, bahwa ia bersungguh sungguh dan berusaha melakukan yang terbaik untuk meminangnya lagi.
"Apa yang mau kalian pakaikan lagi pada wajahku?.", tanyanya, karena Aisyah merasa bahwa mereka sudah memakaikan bedak dan celak mata pada wajahnya.
"Eyeliner, Ning.",
"Tidak. aku hanya minta bedak dan celak mata. lainnya aku tidak mau.",
"Tapi, Ummi tadi bilang. kami harus mendandani, Ning Aisyah. secantik mungkin.",
"Aku, tidak mau. kalau aku, memang tidak cantik. biarkan saja, Gus kalian tau.", ucapnya ketus. membuat kedua perias itu terdiam. mereka merasa tidak mengenal Aisyah yang kasar seperti ini.
"Kalau gitu. pakai lipstik dulu ya, Ning?!.", ucap salah satu dari mereka ragu. lalu mengoleskan lipstik berwarna soft pink itu ke bibir Aisyah.
Karena tugas merias dan mendadani Aisyah serta menggantikan baju sudah selesai, mereka pun berkemas dan segera pamit keluar. sementara diluar, rombongan Abah dan Ummi serta pengantin pria sudah datang.
Aisyah di bawa ke ruang tamu, begitu keluarga ndalem masuk. ia di tuntun ibunya, untuk duduk di dekat Gus Aham, yang sudah duduk di mimbar bersama Abah dan Gus Ma'adz, sebagai saksi dari pihak Gus Aham. dan pak lek serta pak dhe sebagai saksi dari Aisyah. tak lupa, mas Raihan yang duduk di tengah-tengah mereka, sebagai wali yang akan menikahkan adiknya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1