Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 91


__ADS_3

Aisyah terkejut, ia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan suaminya. mau memberinya atau sekedar meminta pendapatnya dengan menunjukkan kalung itu?!.


Gus Aham melepaskan tangannya yang masih memeluk pinggang Aisyah.


Ia melepaskan pengait pada kalung itu, lalu mengarahkannya pada leher Aisyah. Gus Aham sedikit menyibakkan rambut yang berada di ceruk leher istrinya. menggantinya dengan wajahnya, untuk memudahkan ia melihat pengait dan mengaitkannya rapat disana.


Ia menjauhi wajahnya setelah selesai. mengamati wajah istrinya sesaat. lalu, tersenyum.


"Suka?.", tanyanya. Aisyah melihat kalung itu dan tersenyum. ia mengangguk sebagai jawaban. membuat Gus Aham membalas senyumannya.


"A, untuk Aisyah dan Aham.", ucap Gus Aham seraya menyentuh liontin itu. Aisyah tersenyum, ia baru sadar huruf awal nama mereka sama.


"Terimakasih.", ucap Aisyah. ia memeluk suaminya erat. Gus Aham pun membalasnya.


"Repot boleh, sibuk boleh. tapi jangan lupa istirahat, makan dan sholat.",


"Kalau lupa hari ulang tahun tidak apa. nanti, mas yang ingatkan.", ucap Gus Aham pada istrinya.


"Sudah malam. istirahat yu'.", ajak Gus Aham yang segera di angguki oleh Aisyah.


Gus Aham tiba-tiba berjongkok, lalu meraih kaki dan tubuh Aisyah. ia menggendongnya.


"Sebelum istirahat. kita olahraga dulu.", ucap Gus Aham yang langsung membawa Aisyah ke ranjang. membuatnya berteriak kecil dan tersenyum malu, ia menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang suaminya.


Gus Aham memandang istrinya, yang berada di bawahnya. Aisyah malu. ia mengalihkan pandangannya pada dada bidang suaminya, yang mana hal itu malah membuat Gus Aham merasa panas dan gemas melihat wajah istrinya. ia pun mengecup bibir istrinya untuk mengawali pergumulannya malam itu.


Subuh kembali datang. membuat para penghuni bumi mulai bergerak untuk sholat dan melakukan pekerjaannya masing-masing.


Pagi ini, sesudah Aisyah selesai membantu Ummi menyimak hafalan, Gus Aham mengajaknya berjalan-jalan di sekitar pondok.


Udara sejuk pedesaan yang masih banyak sawah, begitu menyegarkan. di tambah hiruk pikuk para petani dan penduduk desa yang lewat. dengan sopan mereka menyapa Gus Aham dan Aisyah, yang di jawab dengan anggukan dan senyuman dari mereka.


"Ayo.", Gus Aham mengulurkan tangannya pada Aisyah, ketika ia sudah berada di seberang sungai kecil. biasanya sungai itu, digunakan para penduduk dan petani untuk pengairan. baik itu pengairan sawah maupun tambak.


Aisyah melompat menyeberangi sungai itu, ia hampir terpeleset jika Gus Aham tidak sigap menahannya. mereka tertawa setelahnya.


Gus Aham menggandeng tangan Aisyah lagi, mereka melanjutkan jalannya. ia tidak tau, kemana suaminya ingin membawanya?!. ia hanya menurut.


Sampai akhirnya, mereka sampai di sebuah sungai yang cukup besar. banyak anak-anak berenang disana, mereka tertawa riang dengan pengawasan orang tua nya.

__ADS_1


Sebagian dari orang tua itu ada yang ikut berenang, ada juga yang hanya mengawasi di tepian sungai.


Mereka menggunakan pelampung dari ban yang di cat warna-warni. ada yang memang berenang, ada yang menaiki ban dengan mengikuti arus. suasana ceria jelas terlihat dari mereka.


Sungguh pemandangan khas orang desa. meskipun basah-basahan dan bermain air. mereka tetap memakai pakaian lengkap. bahkan ada juga yang memakai gamis dengan kerudung syar'i panjangnya yang juga tidak kalah heboh, menemani putranya bermain di air.


"Pakai ini.", ucap Gus Aham. ia memakaikan masker pada Aisyah. lalu, ia juga memakainya sendiri.


"Dengan begini, tidak akan ada yang mengenali kita.", ucapnya lagi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Njenengan, sering kesini?!.", tanya Aisyah. Gus Aham menganguk.


"Dulu, ini bukan sebuah wahana wisata. ntah sejak kapan?!, beralih fungsi.", ucapnya.


"Kenapa njenengan kesini?.", tanya Aisyah ingin tau. dia seorang pria kaya, putra seorang kyai. jika hanya ingin mencari hiburan, ia bisa pergi ke tempat yang lebih bagus. tapi kenapa ia kesini?!, pikirnya.


"Lihat itu?!.", Gus Aham menunjuk beberapa anak yang sedang bermain air dan di temani kedua orang tuanya. sepertinya, anak itu bukan anak tunggal. karena terlihat ada dua anak lagi bersama ibu anak itu.


"Aku, selalu merindukan hal-hal kecil seperti itu.", ucapnya. pandangannya tak lepas dari anak dan seorang ayah yang tertawa bersama anak-anak dan istrinya.


"Abah, selalu menganggap aku tidak mampu. karena, setiap kali Abah memerintahkan kami. hasilku dan hasil dari saudara-saudaraku pasti berbeda.",


"Aku, hanya ingin menyelesaikan tugas dari Abah, sesuai dengan passion ku. bukan sesuai keinginan Abah.",


"Hanya, Ummi. yang mengerti dan menerima semua apa yang aku lakukan.


"Itu, sebabnya. aku memberontak, menuruti keinginan dan kebahagiaanku sendiri. selama itu bukan permintaan, Ummi. aku pasti mengabaikan.",


"Aku merasa tidak mampu, tidak pantas untuk menjadi penerus pondok Abah dan Ummi. akan jadi apa, pondok itu?, bila aku yang meneruskannya?!.",


"Aku, tidak sehebat kakak dan adikku. salah, jika Abah memaksaku menjadi penggantinya. itu sebabnya, aku mendirikan yayasan anak jalanan itu, selain agar bermanfaat bagi orang-orang yang tidak mampu. juga agar, Abah berhenti memaksaku.", ucapnya. Gus Aham mengakhiri ceritanya.


"Ummi, tau?.", tanya Aisyah. Gus Aham menganguk.


"Tau.", jawabnya.


"Ummi, bahkan mendukung.", sambungnya.

__ADS_1


"Hah!.", ucapnya. Gus Aham membuang nafas disana hingga ia terlihat seperti merasakan sebuah kelegaan.


"Ummi, bahkan memberi mas, modal. dan dengan modal itu, mas memulai usaha otomotif dan meubel ukiran. hasilnya?!, mas, belikan tanah untuk membangun yayasan anak jalanan.", ucapnya lagi.


"Uang hasil taruhan balap motor?.", Aisyah, ragu sebenarnya menanyakan hal itu. tapi, sungguh ia ingin tau lebih jelas.


Gus Aham menatap Aisyah dan tersenyum.


"Kamu, juga berpikir mas menggunakan uang itu?!.", tanyanya. Aisyah menggeleng.


"Saya, tidak yakin. saya, hanya mendengarnya sekilas sebelum kita menikah.", jawab Aisyah. Gus Aham bersungut.


"Setiap kali, mas balap liar. mas, tidak pernah ikut taruhan. mas, hanya menjadi joki. kebanyakan, yang mengadakan taruhan adalah para penonton.", ucapnya menjelaskan. Aisyah tersenyum mendengarnya.


"Apa kamu percaya?!. karena Abah, tidak percaya.", tanyanya pada Aisyah.


"Saya, percaya.", jawabnya yakin.


"Mas, harap. itu bukan hanya dari bibirmu.", ucap Gus Aham.


"Tidak.", jawab Aisyah. ia meluruskan kakinya lalu menghirup udara segar di sekitar. pohon-pohon rindang menambah sejuknya udara dan suasana di sana.


"Setiap orang, pasti mempunyai alasan untuk melakukan sesuatu. ntah, untuk melindungi diri, mengungkapkan rasa atau menutupi sakit. karena, mungkin dengan itu mereka bisa mengekspresikan diri.", ia menghela nafas lagi.


"Asal berusaha memperbaiki dan terus berusaha menjadi lebih baik. bagi saya, itu cukup.", ucap Aisyah. ia menoleh ke arah suaminya, memberi pandangan penuh arti.


Membuat Gus Aham tersentuh, dan menggenggam erat tangan istrinya.


"Terimakasih.", ucap Gus Aham.


"Kamu, tau?!. pertemuanku denganmu adalah anugerah. bagaimanapun, diriku kini. itu semua karena mu.", ucapnya. lantas mengecup lekat tangan istrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺



__ADS_1


__ADS_2