
"Njenengan saja, Bah. yang kasih nama.", ucap Aisyah. membuat Abah yang masih mengamati cucu-cucunya dalam inkubator, menoleh.
"Nama bayi itu, bagusnya orang tuanya sendiri yang memberi nama.", ucap Abah, kemudian.
"Karena apa?!.", sambung Abah.
"Karena, yang tau maksud dan arti dari nama itu adalah orang tuanya.",
"Nama, adalah sebuah doa dan pengharapan dari orang tua pada anak-anak nya kelak.", jelas Abah.
"Jadi, berikan nama yang baik. dengan harapan, anak akan memilih akhlak yang baik, akhlak yang mulia.", sambung Abah.
"Pilihkan nama yang indah. yang bila ia bertanya, kamu bisa menjawab dan menjelaskan apa arti dan maksud nya memberi nama itu, padanya.",
"Sehingga, bila ia di beri nama seperti nama ulama wanita, misalnya. seperti Robi'ah al-adawiyah, ia bisa meniru watak, sifat hingga akhlak nya.", ucap Abah, panjang lebar pada menantu dan putranya. Aisyah tersenyum dan mengangguk. ia paham maksud Abah.
Aisyah menatap inkubator. ia berpindah ke sisi bayi perempuan nya. nampak bayi merah itu lelap dalam tidurnya.
"Assalamualaikum, Fatimah.", sapanya, begitu wajahnya sejajar dengan pipi merah bayinya.
"Fatimah?!.", tanya Gus Ma'adz. Aisyah menoleh dan mengangguk. membuat Abah dan Gus Ma'adz tersenyum, lalu menganguk.
"Tentu dia akan se sabar, istri Ali bin Abi Thalib.", ucap Abah.
"Lagi pula, ada yang di turun, Bah.", sahut Gus Ma'adz, yang membuat adiknya, tersenyum malu seketika.
Ya. memang, Gus Ma'adz sangat tau bahwa, Aisyah sangat sabar menghadapi adiknya yang satu ini. seluruh keluarga tau, dan itu bukanlah sebuah rahasia.
"Tidak hanya sabar, dia juga akan se taat dan se cantik Siti Fatimah.", ucap Aisyah.
"Amiinn.", sahut Abah, Gus Ma'adz dan Gus Aham bersamaan.
Nama untuk dua buah hatinya sudah di tetapkan. Ahmad Umar Abdillah Hasan al-Maliki untuk putranya, dan Siti Fatimah Abdillah Hasan al-Maliki, untuk sang putri.
Sama seperti Siti Fatimah sang putri tercinta Rasulullah, Fatimah putri Aisyah, akan menjadi putri tercinta bagi Gus Aham.
Aisyah sudah kembali beristirahat di brankar nya. banyak kerabat dari keluarganya dan keluarga suaminya datang menjenguk.
Mereka nampak antusias melihat bayi kembar Aisyah dan Gus Aham. apalagi, Umar dan Fatimah sudah boleh di bawa ke ruangan Aisyah walau sebentar.
"Mirip kamu semua, le.", ucap Gus Irfan, yang baru saja Sampek beberapa jam lalu. setelah sowan ke ndalem ummi bersama istri dan ketiga putranya.
__ADS_1
"Mirip siapa saja, yang penting sehat ya, nduk?.", ucap Ning Bilqis. yang di angguki Aisyah.
"Terus, Hasan sama si kembar di ndalem, Ning?!.", tanya Aisyah pada kakak iparnya, Ning Bilqis.
"Iya. kan, ndak boleh di bawa ke rumah sakit.", jawab Ning Bilqis.
"Maaf, ya mba. pas, lahiran si kembar ndak bisa kesana.", ucap Aisyah. ia merasa tidak enak, karena tidak berkunjung saat Ning Bilqis melahirkan putra keduanya dengan Gus Irfan, yang juga kembar.
"Ndak apa.", jawabnya, di sertai senyuman.
Nampak Ning Bilqis dan Gus Irfan masih berdiri di samping inkubator, mengamati bayi-bayi merah Gus Aham dan Aisyah yang sedang terlelap.
"Enak ya, bi. kalau lahirnya kembar cowok-cewek.", celetuk Ning Bilqis.
"Bikin lagi, mbak.", sahut Gus Aham, yang terlihat menyuapkan buah jeruk, yang baru ia kupas ke bibir istrinya.
"Bikinnya tiap hari, le. ndak tau, jadinya cowok lagi apa cewek.", sahut Gus Irfan. yang membuat gelak tawa semua yang ada di ruangan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Assalamualaikum.", ucap seseorang yang berdiri di pintu. yang tak lain adalah, mas Raihan dan mba Mira.
Mas Raihan dan mba Mira segera masuk. mereka menyapa Gus Irfan dan Ning Bilqis yang masih berdiri di samping inkubator.
Segera saja Gus Irfan memeluk mas Raihan, begitu juga dengan Ning Bilqis yang segera memeluk mba Mira.
"Kapan sampai, Gus?!.", tanya mas Raihan pada Gus Irfan. setelah berpelukan.
"Tadi sore. ke ndalem Ummi, dulu. nitip anak-anak juga disana. terus nyusul, Abah sama mas Ma'adz kesini.", jawabnya.
"Loch. terus, Abah sama Gus Ma'adz kemana?!.", tanya mas Raihan.
"Baru pulang. tadi ketemu di parkiran.", jawabnya.
Mba Mira nampak meletakkan parsel buah di meja, setelah Ning Bilqis melepaskan pelukannya.
"Sehat, Ning?!.", tanya mba Mira, pada Ning Bilqis.
"Alhamdulillah. jadi makin bengkak ini badannya, makan terus soalnya.", jawab Ning Bilqis. membuat mba Mira tersenyum.
"Namanya juga nyusuin anak cowok. pasti pengen maem, terus.", sahut mba Mira.
__ADS_1
"Saya, aja anak cowok satu ngemil terus. apalagi Ning Bilqis yang ngelahirin, anak kembar cowok. pasti butuh asupan lebih.", sambungnya. membuat Ning Bilqis tersenyum.
"Tapi, Alhamdulillah. sekarang, udah mau maem. jadi, ndak terlalu ASI nya.", ucap Ning Bilqis. yang di jawab senyuman oleh mba Mira.
"Jadi pulang kapan, nduk?.", tanya mba Mira, pada Aisyah.
"Insyaallah, besok sudah boleh pulang mba.", jawabnya
"Alhamdulillah.", sahut mba Mira senang. begitu juga dengan Ning Bilqis.
Malam menunjukkan pukul delapan lewat. Ning Bilqis dan Gus Irfan, pamit undur diri begitu juga dengan mba Mira dan mas Raihan.
"Mas, pulang dulu ya, nduk?!.", pamit mas Raihan, pada Aisyah. dan ia pun mengangguk sebagai jawaban.
"Mas, juga ya, le?!. kasian si kembar, udah di tinggal terlalu lama.", ucap Gus Irfan.
"Iya, mas. hati-hati ya, semua.", jawab Gus Aham, yang di angguki mas Raihan dan Gus Irfan.
"Assalamualaikum.", ucap mereka.
"Waalaikum salam.", jawab Aisyah dan Gus Aham. Gus Irfan pun berjalan beriringan dengan mas Raihan beserta istri masing-masing. menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran mobil. mereka nampak bahagia membicarakan sesuatu, sambil terus berjalan.
Sementara perawat masuk ke kamar Aisyah, mereka hendak membawa Umar dan Fatimah untuk beristirahat ke ruang NICU.
"Bisakah malam ini, mereka tidur disini?!.", tanya Aisyah, pada perawat itu.
"Kalau mereka disini, ibu ndak akan bisa istirahat.", jawabnya, yang membuat Aisyah sedikit kecewa. Gus Aham yang paham, segera memberi isyarat pada perawat itu untuk membawa bayi-bayi mereka ke ruangannya.
"Kita bisa melihatnya besok lagi.", ucap Gus Aham, yang kini tengah duduk di samping istrinya, untuk menenangkan. sementara bayi-bayi mereka di bawa oleh perawat ke dalam ruangan nya.
Gus Aham naik ke ranjang, setelah menggeser tubuh istrinya. ia menarik tubuh Aisyah dalam dekapan nya.
"Tidur ya?!. istirahat.", ucap Gus Aham. ia nampak mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali. tapi, nampak nya sang istri masih malas.
"Lebih cepat tidur, lebih cepat bertemu pagi. jadi, lebih cepat bertemu dengan bayi-bayi kita.", ucapnya, yang membuat Aisyah melirik suaminya.
"Baiklah. mas, peluk biar cepat tidur.", ucapnya. lantas menarik kepala Aisyah dalam dadanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1