Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 81


__ADS_3

"Apa tidak masalah menyetir seperti ini?!.", tanya Aisyah. kepalanya di arahkan untuk bersandar di pundak suaminya oleh Gus Aham, dan ia tidak berani menolak. takut suaminya marah lagi.


Gus Aham tersenyum. ia merasa istrinya terlalu polos, sehingga mudah menurut hanya karena ia menunjukkan sedikit rasa sebal.


"Tidak apa.", jawab Gus Aham. Aisyah terdengar menghela nafas. ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Dulu, ia tidak pernah khawatir bila suaminya marah. baginya, Gus Aham marah atau tidak, itu adalah hal yang sama. karena, ia akan tetap bersikap dingin dan tidak mau tau apapun tentang Aisyah.


Apapun yang dilakukan Aisyah, itu tidak ada urusannya dengan Gus Aham. bila Gus Aham mendengar atau sampai melihat Ummi bersedih karena masalahnya dengan Aisyah, Gus Aham akan habis-habisan memarahi dan menyalahkannya. membuat Aisyah mati-matian berusaha terus tersenyum untuk meminta maaf, tidak perduli siapa yang salah sebenarnya. tetap Aisyah tidak berarti di matanya.


Kini keadaan berbeda. ntah bagaimana?!, seorang Aisyah yang ia anggap sebagai orang yang tidak sepemikiran dengannya, yang selalu membuat Gus Aham marah setiap kali melihatnya. dan, ia anggap sebagai biang dari kesedihan ibunya, mampu merebut hati dan perhatiannya. ia bahkan rela merendahkan diri, hanya untuk meminta rujuk kembali.


Ia akui, kehadiran Aisyah menuntunnya menjadi pribadi yang lebih baik. emosi terkontrol, balap liar sama sekali tidak ia datangi lagi. dan yang lebih menyenangkan, ia bisa dekat dengan Abahnya. suatu hal yang tidak bisa di bayangkan, bahkan saat Gus Ma'adz mengusahakannya.


"Nyari duren dimana, Gus?!. ech.., mas?!.", ucapnya. ia kelupaan lagi, tapi kali ini malah membuat suaminya tersenyum.


Aisyah menarik kepalanya dari bahu Gus Aham, suaminya nampak tersenyum.


"Mas, ada langganan duren yang enak. Abah biasanya juga suka beli disana.", jawabnya.


"Kenapa gak bersandar lagi?!.", tanya Gus Aham yang sesekali melihat istrinya.


"Pegel pinggangnya.", jawab Aisyah yang mendapat usapan kepala dan senyuman dari suaminya.


Tak berapa lama kemudian, Gus Aham memarkirkan mobilnya lagi. kali ini parkir di depan kios aneka buah-buahan dan ketela.


Gus Aham membuka pintu mobil untuk Aisyah setelah ia turun.


"Ada mangga?!.", tanya Aisyah ketika ia sudah turun dan berdiri di sisi suaminya saat Gus Aham masih menutup pintu mobil.


"Sudah ngidam?.", Gus Aham malah balik bertanya.


"Mas!.", ucapnya merajuk. membuat Gus Aham mengangkat alisnya pertanda tidak paham.


"Ndak mungkin kan?!. semalam langsung jadi.", bisik Aisyah penuh rasa sebal. ia menganggap suaminya meledeknya sama seperti orang-orang.


Aisyah melangkah meninggalkannya, tapi tangan Gus Aham menariknya. sehingga langkah kaki Aisyah terhenti. ia mendekati Aisyah.

__ADS_1


"Mas, hanya bertanya. mas, ndak ingin seperti kemarin.", ucapnya. suara suaminya terdengar sendu, yang membuat Aisyah berusaha menenangkannya. ia menoleh dan melihat wajah suaminya. berusaha tersenyum, lalu mengecup tangan Gus Aham.


"Ayo, masuk.", ajak Aisyah pada Gus Aham beberapa saat kemudian.


Mereka bergandengan memasuki kios itu dan mulai memilih durian.


"Abah paling suka duren montong.", ucap Gus Aham.


"Kalau begitu, ayo pilih.", ajak Aisyah pada suaminya.


"Tadi nyari mangga buat apa?!.", tanya Gus Aham. sembari memilih durian dengan memeriksa kulit dan sesekali mencium baunya.


"Mba Mira. pas saya, sakit kemarin. mba Mira ngidam mangga, tapi belum musimnya.",


"Tadi, saya lihat mangga di sekitar sini sudah mulai banyak berbuah. makanya, saya nanya.", ucapnya. menjelaskan pada suaminya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Penjual kios itu membantu Gus Aham membawa buah ke mobil dan memasukkannya, setelah Gus Aham membayar harganya.


"Iya, taruh di bawah saja.", ucap Gus Aham pada pedagang kios itu, ketika akan meletakkan durian. ia membeli banyak buah. ada durian, favorit Abah, Ummi, Gus Ma'adz dan mas Raihan. ada buah kiwi kesukaan kedua keponakannya, sedang ada anggur untuk putra mas Raihan. yang lainnya, ada mangga muda untuk ibu hamil, dan tentu saja oleh-oleh khas malang, apel malang pastinya.


"Sama-sama.", jawabnya. kemudian, ia menyusul istrinya yang sudah duduk di jok depan.


Gus Aham mulai menyalakan mesinnya setelah menutup pintu. dan mobil pun mulai melaju perlahan.


Mereka mulai menyusuri jalanan lagi. udara dan suasana kota Malang yang begitu sejuk dan asri membuat Aisyah dan Gus Aham tidak melewatkan untuk menikmati pemandangan dan kebersamaan mereka.


"Teruslah seperti ini.", ucap Gus Aham yang membuat Aisyah menoleh dan melihat padanya.


"Njenengan, suka kalau kita terus seperti ini?!.", tanya Aisyah.


"Kamu, ndak suka?!.", ia balik bertanya pada istrinya. Aisyah tersenyum. ia meraih lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Gus Aham.


Haih...., rasa-rasanya ingin waktu terhenti saat itu juga, pikir Gus Aham. ia tidak tau, apa yang akan di hadapinya dengan Aisyah di masa depan?!. akankah selamanya seperti ini?!, atau akan ada badai lagi yang harus mereka lewati, mengingat masa lalunya yang tidak bersahabat.


Ia memang sudah perlahan menjauh dan meninggalkan masa lalu yang penuh dengan petualangan itu. tapi, tidak menampik kemungkinan kalau akan ada masalah dengan pernikahan mereka di kemudian hari, seperti kemarin. saat ada orang yang menghasutnya, sehingga membuat hubungannya dengan Aisyah renggang. menyebabkan ia mengucapkan kata talak pada istrinya, saat Aisyah tengah mengandung bayi mereka.

__ADS_1


Ada sedikit rasa cemas dan khawatir di dirinya. Gus Aham menggenggam tangan Aisyah erat. Aisyah yang seakan mengerti kekhawatiran suaminya itu, beralih menatap suaminya dan tersenyum, ia berusaha menenangkan.


"Semuanya akan baik-baik saja. kita akan melewati nya bersama, kan?!.", ucap Aisyah.


"Asal kamu percaya.", jawab Gus Aham. Aisyah tersenyum dan mengangguk yakin. membuat Gus Aham meraih tangannya dan mengecupnya dalam.


Perjalanan yang mereka tempuh hampir dua jam lebih itu, dilalui dengan saling menyemangati, saling mengisi dan saling mencurahkan perasaan satu sama lain.


Sesuai permintaan Gus Aham. ia tidak ingin Aisyah menyimpan dan memendam semuanya sendiri seperti yang sudah-sudah.


Ia ingin Aisyah menyampaikan apapun yang di rasakan nya. mengutarakan semua perasaan dan pendapatnya. begitu juga Aisyah, ia meminta hal yang sama pada suaminya.


Mobil langsung menuju ke panti sebentar, untuk mampir dan memberikan oleh-oleh yang mereka beli tadi.


Pak Budi membuka gerbang panti, dan mobil Gus Aham masuk setelah nya. ia memarkirkan mobilnya tepat di depan aula.


"Pak. tolong di bantu.", pinta Aisyah pada pak Budi. orang yang biasa bertugas menjaga keamanan panti itu segera berlari menghampiri mobil Gus Aham.


Pak Budi menurunkan vas bunga, buah mangga, anggur, mangga muda dan madu.


"Sepi pak?!.", tanya Aisyah.


"Semua sedang keluar, mba.", jawabnya.


"Kemana?.", tanya Gus Aham.


"Undangan anak panti.", jawabnya.


"Yasudah. kalau gitu, ini tolong di bawa masuk. saya, langsung balik ke pondok saja, ya?!.", ucap Aisyah.


"Injih, mba.",


"Kalau pak Budi, mau. ambil aja.", pesan Aisyah pada penjaga itu.


Ia dan Gus Aham pun segera pamit untuk pulang ke ndalem.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2