
Gus Aham mengambil baju ganti untuk Aisyah yang sudah di tinggalkan oleh Mike di depan kamar rawat Aisyah, setelah selesai menyeka tubuh istrinya.
"Ini baju gantinya. mau di bantu pakai?.", tanya Gus Aham. yang membuat Aisyah malu mendengarnya.
"Ndak usah. saya, bisa sendiri. ucapnya ketus untuk menutupi rasa malunya. tapi itu sudah terbaca oleh Gus Aham. seperti, semacam ada tulisan di kening Aisyah yang menuliskan perasaannya sekarang. dan itu membuat Gus Aham tersenyum senang.
Jujur, ia sudah lama tidak melihat raut wajah ceria, malu dan sumringah dari istrinya. akhir-akhir ini, ia lebih sering membuat istrinya menangis. dan ia menyesali hal itu.
"Njenengan, keluar dulu!.", perintahnya setelah menerima baju dari Gus Aham.
"Ok.", ucap Gus Aham. ia mendengar suara langkah kaki menjauh setelah nya.
Saat Aisyah sudah merasa bahwa Gus Aham benar-benar keluar, barulah ia membuka selimutnya dan mencoba memakai baju yang sudah disiapkan.
Tubuhnya yang hanya terbalut handuk sebelumnya itu, mulai ia pakaikan baju. Gus Aham berdiri di samping pintu untuk melihatnya, ia masih berada di dalam ruangan juga. hanya, ia melepas alas kakinya agar tidak terdengar suara langkah kakinya.
Gus Aham tersenyum saat melihat istrinya memakai baju yang terbalik. bagian belakang ia pakai di depan. segera Gus Aham menghampirinya. ia mendekat duduk di ranjang, yang membuat Aisyah bingung. siapa yang duduk di ranjangnya?. pikirnya.
Gus Aham menarik baju Aisyah ke atas, agar bisa melepas tapi justru Aisyah menariknya kembali agar baju itu menutupi badannya.
"Apa yang kamu lakukan?!. siapa kamu?.", ucapnya. sambil terus berusaha mempertahankan baju itu agar tetap melekat di tubuhnya.
"Gus!...., tolong!. ada orang yang mau ngapa-ngapain, saya.", teriaknya. berharap suaminya datang dan menolongnya. tapi malah orang di depannya itu tertawa melihat tingkah Aisyah. terlebih, ia tidak menyangka. Aisyah masih mengingat suaminya di saat seperti ini, meskipun ia sedang marah dengan Gus Aham.
Aisyah yang mendengar tawa khas itu, mengerutkan keningnya. ia tau, dengan benar. suara tawa itu milik siapa.
Begitu mengetahui bahwa itu, Gus Aham. Aisyah terlihat kesal, beberapa kali ia terlihat ingin memukul suaminya yang duduk di depannya, tapi Gus Aham hanya tersenyum.
__ADS_1
"Bajunya kebalik, sayang. makanya, mas pakein.", ucapnya. berusaha memberi pengertian pada istrinya yang terlihat marah, malu dan kesal.
"Mau sarapan sekarang?.", tanyanya. Aisyah diam, pipinya menggembung. membuat Gus Aham tersenyum melihat ekspresinya.
Ia mengambil sarapan buat Aisyah yang sudah di persiapkan oleh pihak rumah sakit di meja.
Gus Aham menyuapinya, yang malah di ambil alih sendiri oleh Aisyah. ia ingin makan sendiri, melihat hal itu, Gus Aham hanya tersenyum. ia lantas menyiapkan semua obat antibiotik yang telah di resepkan dokter untuknya. ia fokus kesehatan Aisyah, agar bisa segera melakukan operasi mata.
"Setelah sarapan. kita harus ketemu dokter mata, sayang. pemeriksaan lanjutan untuk persiapan operasi mata.", ucapnya, setelah duduk di ranjang dan menghadap istrinya.
Aisyah terdiam. ia berhenti makan seketika. operasi mata?!, akankah baik untuknya?. ia mulai terbiasa dengan keadaannya sekarang. tiba-tiba kilasan saat Gus Aham marah malam itu terlintas lagi. membuat raut wajahnya berubah. ia terlihat murung dan sedih.
"Sayang?!.", Gus Aham yang melihat reaksi dari istrinya itu mencoba mencari tau. apa yang membuat istrinya sedih?!.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham mendorong kursi roda yang di naiki Aisyah untuk bertemu dokter saraf mata. Gus Aham sudah membuat janji atas nama Sintya, jadi ia tidak perlu antri dan tinggal pergi menemui dokter saraf di ruangannya.
Gus Aham lebih dulu mengetuk pintu sebelum masuk.
"Silahkan masuk.", sahut suara dari dalam. membuat Gus Aham membuka pintu dan mendorong kursi roda Aisyah untuk masuk.
"Selamat pagi, dok.", sapa Gus Aham pada dokter laki-laki yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Selamat pagi. mari, silahkan duduk!.", ucapnya mempersilahkan Gus Aham.
"Kami datang untuk pemeriksaan lanjutan, dok.", ucap Gus Aham tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Iya, saya sudah cek semua laporan kesehatan. dan saya rasa tidak ada masalah. karena transplantasi kornea ini bukan hal yang sulit, ya?. transplantasi kornea ini, lebih cepat dan lebih mudah di dapatkan. karena kornea tidak memiliki vasculature atau aliran darah. jadi kita hanya perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan ukuran kornea matanya.", ucapnya. menjelaskan pada Gus Aham. Gus Aham mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda ia faham.
"Tolong di bantu, sus.", ucap dokter itu pada asistennya yang segera menghampiri Aisyah dan mengajaknya untuk menjalani prosedur pemeriksaan mata.
Di mulai dengan pemeriksaan mata secara menyeluruh. lalu pengukuran kornea, untuk mendapatkan donor ukuran mata yang sesuai, kemudian di lanjutkan dengan pencatatan semua obat, vitamin dan suplemen yang di konsumsi setiap hari sebelum operasi. hal ini, dilakukan karena mungkin beberapa obat atau vitamin harus berhenti di konsumsi baik sebelum ataupun sesudah operasi transplantasi kornea. dan yang terakhir adalah memastikan bahwa keadaan mata sehat dan tidak mengalami masalah lainnya, seperti infeksi atau peradangan yang bisa mempengaruhi dan mempengaruhi keberhasilan transplantasi kornea tersebut. karena, bila di temukan bahwa ada kornea yang infeksi, maka dokter harus mengobatinya dulu sebelum melakukan prosedur keratoplasty atau transplantasi kornea untuk hasil dan tingkat keberhasilan yang maksimal.
Begitu selesai dengan pemeriksaan lanjutan. Aisyah segera di antar duduk di samping Gus Aham. dokter pun sering menjelaskan keadaan Aisyah saat ini lebih detail dan lanjut pada Gus Aham.
"Artinya, keadaan Aisyah sangat siap dan memungkinkan untuk tindakan operasi transplantasi kornea.", ucap dokter itu mengakhiri penjelasannya.
"Jadi, kapan operasinya bisa di laksanakan?.", tanya Gus Aham pada akhirnya.
"Bisa secepatnya. nanti tinggal saya atur jadwal dulu, untuk kapan di laksanakan operasinya?!,
"Ok. dok. di tunggu konfirmasi selanjutnya, terimakasih.", ucap Gus Aham menjabat tangan dokter saraf yang memiliki nama Eric itu. lalu pamit undur diri.
"Baik.", ucap dokter itu.
Gus Aham meraih kursi roda Aisyah, lalu mendorongnya keluar ruangan. sudah ada suster yang membukakan pintu untuk Aisyah dan Gus Aham.
"Mau ke taman, sayang? .", tanya Gus Aham sambil terus mendorong kursi roda yang di duduki Aisyah. Aisyah menggeleng menjawab tawaran Gus Aham untuknya.
Apa yang bisa di nikmati dari taman dengan keadaannya yang seperti ini?!. pikirnya. ia meminta untuk di bawa ke kamar saja.
Mengetahui fakta, ia bisa melihat lagi bukannya membuatnya bahagia malah membuatnya sedih dan serba bingung. ya, jika ia bisa melihat lagi. bukankah, ia akan lebih sering melihat wajah Gus Aham?. mengingat mereka sudah rujuk lagi. lalu apa yang akan ia lakukan saat bisa melihatnya lagi?. pikirnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺