Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 87


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang. Aisyah dan Gus Aham baru saja selesai sholat jama'ah dan dzikir.


Ia melipat mukenanya, dan segera pergi keluar kamar menuju dapur.


Ya, bagaimanapun suaminya akan berangkat pagi ini. jadi, ia harus menyiapkan sarapan lebih awal.


Gus Aham menginginkan nasi goreng dan lemon madu hangat pagi ini.


Sebelumnya, ia juga meminta izin Ummi. tidak bisa ikut menyimak hafalan para santri, karena ingin membuatkan sarapan untuk suaminya.


Tentu saja mertuanya mengerti. Aisyah dan Gus Aham sama-sama sedang berbunga-bunga, akan pisah sebentar pasti membuat mereka ingin melakukan yang terbaik untuk pasangannya. bagaimanapun, Ummi dan Abah juga pernah muda.


Gus Aham merapikan diri dengan baju yang sudah disiapkan oleh istrinya. ia berdiri di depan meja rias untuk menyisir rambutnya.


Aisyah meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas lemon madu di meja. ia lantas menghampiri suaminya.


Aisyah meraih pundak Gus Aham dan menekannya, memberi isyarat pada suaminya untuk duduk. Gus Aham menarik kursi meja rias dan segera duduk.


Aisyah menyisir rambut panjang sebahu milik suaminya. rambut itu begitu lurus dan tebal, ia kemudian mengikatnya. dan tangan Aisyah berhenti di kerah baju suaminya. ia membenarkan kerah itu, agar terlihat rapi.


"Sudah.", ucapnya. dagunya, bersembunyi di ceruk leher suaminya. sementara kedua telapak tangannya menyentuh dada bidang milik Gus Aham.


Gus Aham tersenyum, melihat tingkah manja istrinya dari kaca rias. ia menoleh dan mengecup pipi Aisyah yang merah merona.


"Sarapannya, sudah siap?.", tanya Gus Aham yang di jawab anggukan oleh Aisyah. Gus Aham tersenyum, ia berdiri dari duduknya lalu mengajak istrinya untuk sarapan bersama.


Mereka sudah duduk berhadapan di karpet dengan meja sebagai pemisah mereka. Aisyah mulai menyuapi suaminya.


Gus Aham yang sedang mengecek ponselnya dan bersandar pada sofa itu, segera membuka mulutnya. ia mengunyahnya pelan, menikmati masakan istrinya.


Aisyah juga menyuapi dirinya sendiri, setelah menyuapi suaminya. ia melakukan itu secara bergantian.


Selesai sudah sarapan pagi mereka. Aisyah segera menyodorkan lemon madu pada bibir suaminya, yang langsung di teguk oleh Gus Aham.


"Sudah?!.", tanyanya. saat melihat suaminya sudah tidak lagi meminum air itu. Gus Aham menganguk yang membuat Aisyah menarik tangannya yang memegang gelas. ia membersihkannya bibir suaminya dengan tisu, setelahnya.

__ADS_1


Aisyah keluar sebentar untuk menaruh piring dan gelas di dapur. ia segera kembali, mengingat suaminya akan segera berangkat.


"Mas, berangkat dulu ya?!.", pamit Gus Aham pada istrinya saat mereka masih di kamar. Aisyah tersenyum dan dengan berat hati mengangguk.


Gus Aham merangkup wajah Aisyah. ia memberikan kecupan yang cukup lama di kening istrinya, lalu turun ke hidung dan bibirnya. Aisyah hanya memejamkan mata menikmatinya tanpa membalasnya.


Gus Aham menjauhkan wajahnya dari Aisyah, ia masih melihat istrinya memejamkan mata.


"Mas, akan segera pulang. janji.", ucapnya. yang membuat Aisyah malah memeluknya erat. ia menempelkan pipinya di dada bidang milik suaminya. Gus Aham hanya tersenyum dan membalas pelukan Aisyah.


Ia tau, istrinya berat melepasnya. ia sendiri juga begitu, tidak ingin jauh-jauh, apalagi berpisah dari istrinya. tapi ini hanya sebentar.


"Kita akan segera bertemu lagi.", ucap Gus Aham. Aisyah tidak menjawabnya dan hanya memeluknya semakin erat.


Aisyah melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.


"Janji?.", tanyanya pada Gus Aham, saat ia melepas pelukannya.


"Sekarang, jam lima pagi. sebelum petang, mas pasti sudah dirumah.", jawabnya. ia meyakinkan istrinya.


"Nanti, jadi keluar?.", ia bertanya pada istrinya. sengaja, akan lebih baik bagi Aisyah untuk menghabiskan waktunya dengan kegiatan. jadi, dia tidak akan merasakan waktu yang lama saat Gus Aham meninggalkannya.


"Itu bagus.", ucap Gus Aham. yang membuat Aisyah tersenyum.


"Pinter caranya, biar gak bikin mas cemburu dan gak dapat hukuman.", ucap Gus Aham. ia mencubit hidung istrinya, yang membuat Aisyah kesal, tapi malah memeluknya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham pada Aisyah yang mengantarnya sampai depan.


"Waalaikum salam.", jawabnya. ia melambaikan tangan saat mobil suaminya mulai berjalan dan menghilang di balik gapura. Aisyah terlihat menghela nafas. ia hendak berbalik menaiki tangga menuju teras, sebelum akhirnya suara dua keponakannya menghentikan langkahnya.


"Bulek.", panggil Ning Shofy dan Ning Dija bersamaan. mereka terlihat berlari ke arahnya. Aisyah berjongkok dan bersiap menerima pelukan dari kedua keponakannya. dan benar saja begitu dekat mereka langsung menubruk tubuh Aisyah.


"Dija, sudah cantik kan, bulek?.", tanyanya pada Aisyah. dan ia mengiyakan pertanyaan Ning Dija.

__ADS_1


"Shofy, juga cantik kan, bulek?.", tanya Ning Shofy, yang tidak mau kalah dari kakaknya. Aisyah tersenyum mendengarnya.


"Iya, semua keponakan bulek, cantik.", jawabnya mencubit pipi kedua keponakannya bersamaan. membuat keduanya menggembungkan pipinya pertanda kesal. dan itu, membuat Aisyah tersenyum.


Ia berdiri dan menggandeng kedua keponakannya untuk masuk ndalem.


"Bulek. kata, Mimi. kita mau pergi jalan-jalan, ya?!.", tanya Ning Dija, di sepanjang jalan menuju kamar Aisyah.


"Iya.", jawab Aisyah singkat.


"Jalan-jalan kemana, bulek?.", tanya Ning Shofy.


"Nyari pesenannya, Mbah uti.",


"Pesenannya, Mbah uti apa?!.", tanya Ning Dija.


"Nanti, juga tau sendiri.", jawab Aisyah yang membuat Ning Dija mendengus.


Aisyah membuka pintu kamarnya, kedua kepolisian segera berlari masuk dan menjatuhkan diri di karpet bulu, yang berada di depan TV. itu merupakan tempat favorit Gus Aham dan kedua keponakannya, saat mereka dikamar ini.


"Bulek, mandi dulu ya?!.", ucap Aisyah pada kedua keponakannya yang hanya di jawab dengan acungan jempol, karena sedang seru menonton Masha and the bear. film animasi kesukaan mereka.


Sementara Ning Nafis menyudahi hafalan surat-surat pendeknya bersama santri tarbiyah putra-putri.


Ya, rutinitas Ning Nafis Setelah jama'ah sholat subuh bersama Gus Ma'adz, kedua putri dan para santri tarbiyah adalah, membaca bersama-sama juz ke 30 dalam Al-Qur'an sampai selesai.


Dengan membaca setiap hari, lama kelamaan mereka akan terbiasa dan mudah untuk menghafalkannya.


Setelah selesai, semua santri akan segera turun dari aula yang berada di lantai atas, dan segera mandi untuk bersiap masuk ke sekolah.


Rata-rata anak yang mondok disini, mulai berusia enam tahun hingga dua belas tahun. ada juga yang masih TK, dan sekolah disini juga.


Sebagai pondok dasar, banyak yang harus di ajarkan pada mereka. terutama bab wudhu, sholat, cara baca huruf dan makhroj yang benar.


Pada hari Selasa dan Jumat, mereka akan lebih banyak membaca surat Kahfi, Yasin, surat Sajadah, surat Jum'at, surat ad-dukhan dan surat Mulk. tidak di wajibkan untuk hafal, tapi sebagian dari mereka sudah banyak yang menghafalnya, karena terbiasa membacanya setiap pagi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2