Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 148


__ADS_3

Dokter itu pamit undur diri untuk menangani pasien lain nya. membuat dua keluarga dari Aisyah dan Gus Aham, saling berpelukan penuh haru.


Ada rasa bahagia, lega yang di iringi dengan bulir air mata haru dari Ummi, ibu, Ning Nafis, Gus Aham dan mas Raihan. sementara Abah dan Gus Ma'adz, lebih memilih menengadahkan tangan mengucap syukur atas mukjizat Allah yang luar biasa.


Menunggu Aisyah sadar. ibu, Ummi dan Ning Nafis memilih melihat bayi kembar Aisyah di ruang NICU.


Ya. ruangan bagi bayi yang baru lahir karena prematur dan bayi yang memiliki permasalahan pada pernapasan dan pencernaan.


Sebenarnya, kondisi bayi Aisyah cukup baik. mereka nampak sehat dengan berat 2 kilogram, untuk bayi perempuan. dan 2,1 kilogram untuk bayi laki-laki. hanya kan, berat mereka di bawah normal. jadi, diputuskan untuk mendapatkan perawatan di NICU, lebih dulu.


Kelahiran si kembar ini cukup mengejutkan. karena selama kehamilan setiap kali mereka melakukan pemeriksaan dan USG, dokter tidak pernah melihat adanya dua bayi dalam satu kantung. atau, dua bayi dalam dua kantung.


Gus Aham yang selalu setia menemani sang istri periksa kandungan setiap bulannya pun juga cukup terkejut dengan lahirnya bayi kembar mereka. karena selama pemeriksaan dokter tidak mengatakan bahwa bayi mereka kembar.


Tapi, terlepas dari rasa keterkejutan yang mereka alami saat ini. mereka lebih terlihat bahagia dengan hadirnya malaikat kecil yang begitu sehat, dan selamat nya Aisyah dari maut.


Mas Raihan nampak bersandar di pagar depan kamar Aisyah. ia nampak sedang memberi kabar pada mba Mira lewat ponsel nya.


"Alhamdulillah, lancar.", ucapnya.


"Iya. mas, sebentar lagi pulang.", sambungnya lagi.


Sementara Gus Aham, masih setia menemani Aisyah yang belum juga sadarkan diri. tangannya, memegang erat tangan istrinya. sedang matanya, masih menatap wajah Aisyah yang tengah tertidur pulas.


Ya. nampak jelas kelelahan tergambar di wajah manis nan cantik itu. membuat Gus Aham mengecup tangan Aisyah beberapa kali. berharap, istrinya memiliki kekuatan karena kecupannya. sehingga ia bisa segera bangun dan melihat dua malaikat kecil mereka.


"Pantesan, perut Aisyah lancip pas hamil Ummi, Bu. ternyata kembar lagi.", ucap Ning Nafis, wajahnya tidak berpaling dari inkubator yang ada di depan matanya. ia nampak terus memandangi kedua keponakan barunya yang nampak tertidur pulas.


"Iya. Alhamdulillah.", sahut ibu. beliau juga tidak kalah antusias dengan Ning Nafis. ibu memandangi dua cucunya yang tidur bersebelahan, dalam satu inkubator.


"Kok mirip Aham semua ya, yu?!.", ucap Ummi.

__ADS_1


"Yang penting sehat, Eyang ti.", sahut ibu, yang membuat Ummi meliriknya dan tersenyum bersama.


Bayi-bayi mungil itu nampak menggerakkan badannya dan menguap. membuat tiga orang yang sedari tadi berdiri di samping inkubator dan mengamati mereka, tersenyum dan berseloroh riang.


"Eleuh... eleuh... cucune Eyang ti, sama Mbah uti.", seloroh Ummi. senyum dan rasa bahagianya terlihat jelas.


"Ponakannya budhe, ini.", sahut Ning Nafis, yang ikut gemas dengan tingkah bayi-bayi mungil di depannya, yang terus meliuk-liuk kan tubuhnya hingga kedua kaki bayi-bayi itu sesekali terangkat.


"Rame ya, nak?. Eyang ti sama Mbah uti berisik, ya?!. jadi ke ganggu tidurnya.", sahut ibu, yang juga tidak kalah bahagianya dengan kehadiran cucu kembar dari putri tercintanya. membuat mereka nampak tersenyum dan sesekali memandang satu sama lainnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Permisi.", ucap seorang perawat yang baru saja masuk ke ruang NICU, bersama seorang temannya. membuat ibu, Ummi dan Ning Nafis bergeser untuk memberikan jalan.


"Mau suntik Hepatitis dulu ya, Bu. dedenya?!.", ucap seorang perawat. ia lantas membuka inkubator dan mengambil bayi-bayi milik Aisyah.


Perawat itu, meletakkan kedua bayi itu di brankar lalu mulai membuka kain bedong yang nampak sudah tidak rapi seperti semula.


Mereka mulai mengambil suntikan dan kapas. mengusapkan alkohol di bagian tubuh bayi mungil Aisyah itu, dan mulai menyuntikkan nya.


Begitu selesai, bayi berjenis kelamin laki-laki itu hanya menangis sebentar. setelah di ayun-ayun oleh neneknya, dan di beri susu lewat dot, bayi itu terlelap lagi.


Berbeda dengan bayi perempuan Aisyah. ia nampak menangis begitu kencang ketika perawat itu selesai menyuntikkan imunisasi pertama padanya.


Bahkan, saat ibu menggendongnya dan mencoba menenangkannya dengan mengayunkannya, serta memberi susu, tidak membuat bayi itu sedikit merendahkan suara tangisnya.


Hingga Gus Aham yang sudah memakai pakaian steril masuk dalam ruangan itu. ia melihat bayi perempuannya menangis di gendongan ibu. sehingga membuatnya segera mendekat.


"Kenapa, Bu?!.", tanyanya.


"Habis di suntik.", jawab ibu.

__ADS_1


"Bisa, saya menggendongnya?!.", tanyanya ragu. tapi, tangannya malah terulur untuk meraih bayi mungil itu.


Ibu segera memindahkan bayi perempuan itu dalam dekapan Gus Aham.


awalnya, ia terlihat kaku. maklum, ini pertama kalinya ia mendekap bayi mereka. ia lantas mengecup kening bayi perempuan itu yang masih merengek, lalu membisikkan sesuatu ke telinga bayinya, dan entah bagaimana?!. tangis bayi itu, segera mereda. membuat Gus Aham tersenyum memandang nya. ia lantas memberikan botol susu pada bayinya.


"Loch. meneng!.", (Loch. diem!).", seru Ummi, yang melihat cucu perempuannya kini memejamkan mata sambil menghisap botol susunya.


"Memang biasanya, anak perempuan itu lebih punya ikatan batin sama ayahnya, ketimbang ibunya.", ucap ibu, yang tersenyum melihat Gus Aham bisa membuat cucu perempuannya berhenti menangis.


"Aisyah, gimana le?!.", tanya Ning Nafis kemudian.


"Masih di periksa. makanya, aku ke sini lihat mereka dulu.", jawabnya.


"Sudah sadar?!.", tanya Ning Nafis, lagi. membuat Gus Aham terdiam sejenak, menatap bayi yang kini berada dalam gendongan nya, lalu menggeleng pelan. sehingga membuat semua yang ada di ruangan terdiam.


"Tapi, ndak apa.", ucapnya kemudian, setelah terdengar menghela nafas berat.


"Karena bayi kami disini, jadi ibu pasti akan segera bangun ya?!.", ucapnya pada bayi perempuan yang tengah terlelap di gendongannya. ia kemudian mengecup pipi merah bayi mungil itu.


"Namanya siapa, le?!.", tanya Ummi. Gus Aham menoleh pada Ummi, ibu dan Ning Nafis. ia nampak berpikir sejenak, ada seulas senyum di sudut bibirnya.


"Belum tau, mi.", jawabnya. lalu mengalihkan pandangannya pada bayi laki-laki yang sudah selesai menyusu dan di gendong perawat untuk di masukkan lagi dalam inkubator.


"Semua terserah Aisyah. dia punya banyak nama yang ingin di berikan pada bayi kami.", sambungnya. yang di balas senyuman oleh ketiga orang yang berada di depannya.


Seorang perawat menghampiri Gus Aham. meminta izin untuk mengambil alih bayi dalam gendongannya, sehingga bayi itu bisa istirahat dan di tidurkan lagi di inkubator bersama saudaranya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2