Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 14


__ADS_3

 


Gus Aham mondar-mandir di depan kamar. di balik pintu itu ada Mike dan istrinya yang sedang menjalani terapi psikologis. kalau bukan takut tidak bisa mengendalikan dirinya, Gus Aham sudah masuk dan menemani Aisyah menjalani terapi psikologis itu.


 


Baru dua hari di kota pahlawan, ntah kenapa Gus Aham merasakan hal yang berbeda dari dirinya pada Aisyah. ia tidak suka Aisyah terlalu dekat dengan orang asing sekalipun itu temannya, Gus Aham juga tidak suka Aisyah berbicara lama-lama atau di tatap lama-lama oleh orang lain. apalagi melihat Aisyah tersenyum pada orang lain, sekalipun itu hanya basa-basi.


Yang tak habis pikir adalah kejadian kemarin, ia sampai hampir membunuh Boby kalau saja tidak ada manager hotel dan beberapa orang yang masuk untuk melerai mereka.


Untuk menghilangkan kegundahannya, Gus Aham mengambil ponsel di sakunya. mencoba mengalihkan pikiran dan perhatiannya dari pintu yang menghalanginya untuk melihat langsung proses terapi itu.


Nyatanya, baru saja Gus Aham membuka email tapi sudah mematikan ponselnya lagi. pandangannya fokus ke pintu kamar lagi sambil melirik arloji di tangannya. ya,hampir dua jam mereka di dalam dan tidak terdengar suara apapun meski ia sudah menempelkan telinganya di pintu kamar.


Gus Aham berjalan ke arah pintu. mencoba mendengarkan lagi, tapi hasilnya tetap sama. ia tidak mampu mendengar apapun. jadilah ia hanya berdiri di samping pintu kamar. mendongakkan kepalanya, merasa frustasi dan bosan.


"Ceklek.....",


suara pintu terbuka. Mike keluar, dan benar saja Gus Aham langsung menghadangnya.


"Gimana?.",


"Bukan hal yang serius.", jawab Mike. Gus Aham menyelidik, menuntut penjelasan dan maksud dari perkataan Mike.


"Istrimu orang yang kuat.", ucapnya.


apakah itu berarti Aisyah baik-baik saja?.", pikirnya.


Mike menepuk pundak Gus Aham, lalu berjalan masuk di ikuti Gus Aham di belakangnya. terlihat Aisyah masih tertidur efek dari hipnotis yang di lakukan Mike untuk menenangkan dan merilekskan pikirannya.


Mike berjalan menuju kursi yang ada di balkon kamar itu, Gus Aham mengikutinya dan duduk di depan Mike, menunggu keterangan dan penjelasan dari temannya.


"Depresi nya timbul dari kejadian itu dan lingkungan sekitar.", ucapnya sambil membuka kaleng soda lalu meminumnya.


"Maksudnya?.",


"Kejadian itu memang membekas di ingatannya, tapi yang membuatnya parah adalah lingkungan yang membuatnya tidak nyaman.", Gus Aham terdiam. mencoba mencerna penjelasan Mike.


"Bawa dia pulang bro!, lingkungan keluarga mempercepat pulihnya psikologis istri lu, karena keluarga adalah orang yang paling dia percaya, paling membuatnya nyaman dan tenang.", terangnya lebih lanjut.

__ADS_1


Gus Aham ingat, Aisyah memang meminta untuk segera pulang. ia bilang kangen dengan ibunya, tapi kalau pulang sekarang dengan keadaannya yang seperti ini, ia tidak bisa mengatakan atau menjelaskan apa yang terjadi baik pada orangtuanya atau pada mertuanya tentang apa yang terjadi pada Aisyah.


"Gue gak bisa bawa pulang dia sekarang,bbro.", ucap Gus Aham. ia meminum sodanya.


"Dengan keadaannya yang seperti ini, gue belum siap menjelaskan sama orang rumah.", sambungnya.


"Tolonglah bro, setidaknya buat dia sedikit lebih baik.", pintanya pada Mike.


"Coba lakukan pendekatan, bro. pelan-pelan jangan terlalu memaksa. sering ajak bicara, ngobrol yang ringan-ringan saja.", ucap Mike.


Gus Aham menghela nafas berat. ia melihat Aisyah yang masih tertidur dari balkon.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


 


Aisyah dan Gus Aham baru saja selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah. semalam setelah Aisyah bangun, mereka segera pamit pada Mike untuk kembali ke hotel.


 


"Mau pulang hari ini?.", tanyanya pada Aisyah.


"Iya, kebetulan semua sudah beres.", jawabnya.


"Kerumah ibu ya, Gus?!.", ucapnya tersenyum penuh harap. Gus Aham mengangguk pertanda mengiyakan. membuat Aisyah tersenyum senang, Gus Aham pun merasa lega.


lega, karena akhirnya ia bisa melihat Aisyah tersenyum lagi.


"Aku bantu beres-beres ya.", ucap Gus Aham, beranjak berdiri dan mulai merapikan tempat tidur. Aisyah yang antusias ingin pulang pun, segera melipat mukenanya dan membantu Gus Aham membereskan barang-barang mereka.


"Tolong di bantu ya, pak. saya harus pulang hari ini, saya ingin fokus dengan kesehatan istri saya.", ucapnya di telfon pada pengacaranya.


"Tidak masalah kan?!.", ok. telfon saya saat bapak butuh saya dan istri saya hadir. terimakasih ya pak.", ucapnya mengakhiri panggilan.


Aisyah keluar dari kamar mandi, ia baru saja ganti baju. melihat suaminya di balkon kamar, Aisyah menghampirinya.


"Saya sudah siap, Gus.", ucap Aisyah .Gus Aham menoleh dan tersenyum, lalu menghampiri istrinya.


"Tolong, ikat rambut aku ya.", Aisyah mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya.

__ADS_1


Gus Aham duduk di sofa kamar, sementara Aisyah menyisir rambut suaminya. setelah rapi baru Aisyah mengikat rambut suaminya.


"Sudah?.", tanya Gus Aham.


"Iya.", jawabnya sambil beranjak dari sofa.


"Ya udah. ayo kita turun.", ajaknya pada Aisyah.


Aisyah menunggu di lobi hotel sedang Gus Aham sedang melakukan check out.


"Aku ambil mobil dulu, ya.", pamitnya pada Aisyah setelah proses check out selesai. Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum.


Gus Aham pergi mengambil mobilnya di area parkir. tak berapa lama kemudian, Gus Aham sudah terlihat dengan mengendarai mobilnya.


Mobil berhenti, dan Gus Aham segera turun membukakan pintu untuk Aisyah. setelah Aisyah masuk, Gus Aham segera menutup pintu mobil, lalu beralih ke sisi lainnya untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil mulai berjalan memasuki tol. Gus Aham sesekali melirik Aisyah yang beberapa kali menguap. hingga pada lirikannya yang kesekian kali, ia melihat Aisyah tertidur.


"Tumben...", pikirnya.


Mungkin karena beberapa hari ini Aisyah tidak bisa tidur nyenyak di hotel. ia sering terbangun, baik karena mimpi atau karena merasa mendengar orang membuka pintu. dan kalau dia sudah bangun, akan sangat sulit membuatnya tidur lagi sekalipun Gus Aham sudah menemaninya.


Gus Aham berhenti di rest area, karena tidak mungkin berhenti di jalan tol. gus Aham mengatur posisi jok mobil yang di duduki Aisyah menjadi reclining, agar posisi Aisyah lebih nyaman saat tidur.


Gus Aham juga membenarkan posisi leher Aisyah, memakaikannya bantal leher agar lehernya tidak sakit ketika bangun nanti.


Setelah dirasa cukup, Gus Aham segera keluar dari rest area dan memasuki tol lagi. melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah orang tua Aisyah.


Kira-kira lima belas menit lagi mereka akan sampai di rumah orang tua Aisyah. dan mungkin karena itu, Aisyah terbangun. ia melihat jalanan yang tidak asing baginya.


"Sudah mau sampai Gus?.", tanyanya menoleh pada suaminya. Gus Aham mengangguk.


"Ya Allah. saya ketiduran lama ya, Gus?!. mana belum beli jajan buat anak-anak panti dan ibu.", ucapnya panik.


"Aku udah beli kok. tadi berhenti di swalayan, cuma karena gak tau apa yang di sukai anak-anak jadi aku beli beberapa macam camilan.", ucap Gus Aham menenangkan.


Aisyah menoleh ke jok belakang, dan benar banyak sekali makanan ringan di sana. rupanya Gus Aham belanja sendiri saat dirasa sudah dekat dari panti. dan karena Aisyah masih tertidur, Gus Aham tidak membangunkannya. sengaja memang, karena Gus Aham tau, Aisyah butuh istirahat yang bnyak.


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2