
Aisyah, meraih tubuh suaminya yang masih memeluk erat dirinya.
"Kenapa?!.", tanya Aisyah, setelah berhasil melepas pelukan suaminya.
"Maaf.", ucap Gus Aham, lirih. ia nampak sangat kecewa. Aisyah mengangkat alisnya, ia mendongakkan wajah suaminya agar mau melihatnya.
"Tidak apa-apa. hanya saja, tiba-tiba kangen.", ucap Gus Aham. ia lantas menggendong tubuh Aisyah untuk masuk ke kamar. Gus Aham, mendudukkan nya di ranjang, sehingga Aisyah bersandar. selanjutnya, ia malah merebahkan tubuhnya dengan paha Aisyah sebagai bantalan.
Aisyah tersenyum lembut melihat sikap suaminya. ia membelai rambut Gus Aham, namun sang suami malah menarik tangan Aisyah, dan mendekapnya. ia merasa tenang dan nyaman.
Matanya terlihat terpejam, tapi batinnya bergemuruh. apalagi saat ingat kehilangan bayi kembar mereka.
Kenapa?!. itu hanya sebuah masa lalu, dan itu bukan sebuah kesalahan. tapi, kenapa sampai masa kini?!, melukai istrinya?!.
Gus Aham sungguh merasa bersalah, karena membuat orang yang ia cintai menjadi korbannya dan terluka.
"Njenengan kenapa?!.", tanya Aisyah. ia tau betul, ada yang di sembunyikan oleh suaminya dari dirinya. Gus Aham terdiam, mendengar pertanyaan istrinya.
Ia terdengar menghela nafas. "Mas?!.", panggilnya, karena sang suami tidak juga menjawabnya. Gus Aham malah menarik tangan Aisyah untuk memeluk tubuhnya, hingga perut buncit milik istrinya menempel di pipi Gus Aham.
"Ah.", Aisyah mengerang kecil, karena merasa nyeri di bagian jahitan pinggang nya. sontak, hal itu membuat Gus Aham melepaskan tangan istrinya.
Ia bergegas duduk menghadap sang istri, raut wajahnya jelas terlihat khawatir.
"Jahitannya, ketarik lagi?!. maaf, mas ndak sengaja.", ucapnya. lantas, Gus Aham cepat-cepat membantu Aisyah bersandar.
Ya, luka jahitan itu belum sepenuhnya kering mengingat dari hari ke hari, bayi mereka tumbuh semakin besar.
Aisyah nampak menghela nafas dalam, ia menahan rasa sakit dan nyeri di pinggang nya. Gus Aham yang melihat hal itu, berusaha meredakan rasa nyeri dengan mengusap" lembut pinggang istrinya.
"Mendingan?.", tanya Gus Aham, ia nampak khawatir. tapi jawaban Aisyah dengan senyuman membuatnya tenang seketika.
"Ayo, berbaring dulu.", ajak Gus Aham pada istrinya.
"Dari tadi, kamu kebanyakan duduk. pasti perutnya kenceng, berbaring dulu, biar rileks sayang.", pintanya. lantas ia segera membantu Aisyah untuk tidur miring.
Tangan Aisyah menahan tangan Gus Aham, ketika suaminya hendak pergi. bukan ingin di temani, tapi lebih ingin mendengar keluh kesah suaminya setelah bertemu Mike. yang mana, itu membuat sikap Gus Aham terasa aneh bagi Aisyah.
"Kenapa?!.", tanya Gus Aham, ketika merasa tangannya di tarik. dan ia segera menoleh pada istrinya.
"Njenengan, mau pergi begitu saja?!.", tanya Aisyah.
__ADS_1
"Kamu, perlu apa?. mas, ambilin dulu.", ucapnya. Aisyah, diam sesaat. ia terlihat menghela nafas lembut.
"Saya, perlu njenengan.", jawabnya. Gus Aham menghela nafas, ia nampak membuang muka dan menoleh ke sekitar.
"Saya, salah?!.", tanya Aisyah. membuat Gus Aham menghela nafas berat, menatap istrinya.
"Kalau, saya ada salah. njenengan, bilang. jangan seperti ini. bagaimanapun, kita sudah lama bersama.", sambung Aisyah.
"Kita, sudah dua tahun bersama. dan, njenengan masih seperti itu?!. menyembunyikan semuanya sendiri?!.", Aisyah mencoba mengingatkan suaminya.
"Aku...",
"Mas.", panggil Aisyah, menyahut ucapan suaminya.
"Kita, menikah. selain untuk menyempurnakan ibadah dan agama, guna lainnya adalah untuk saling berbagi.",
"Berbagi suka, berbagi duka. saling mengingatkan ketika salah dan lupa. saling menguatkan ketika dalam kesusahan.",
"Kalau njenengan, ndak mau berbagi cerita dengan saya. lantas, dengan siapa njenengan merasa nyaman untuk berbagi?.", ucapan lembut istrinya, menusuk telinga. membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham berbaring di samping Aisyah, pada akhirnya. ia menangis, dan Aisyah mencoba menenangkannya dengan mengusap lembut rambut serta punggung suaminya.
"Untuk jadi orang hebat. kita, harus bisa ikhlas, mas.", sambungnya.
Gus Aham tidak menjawab. ia masih terisak, wajahnya masih ia sembunyikan di dada istrinya. sehingga posisi mereka yang sama-sama tidur miring dan berhadapan, hanya membuat Aisyah memeluk dan mengusap tubuh suaminya.
"Semuanya, bukan salah njenengan. tapi, karena memang kehendak Allah, seperti ini.", ucapnya lagi pelan.
Isakannya sedikit mereda, mendengar ucapan istrinya. Gus Aham mengeratkan pelukannya. Aisyah, sedikit merasa lega melihatnya.
Melihat suaminya menyalahkan dirinya sendiri atas semua musibah yang mereka lewati, terlebih atas kematian kedua bayi mereka dulu, membuatnya sedikit khawatir dan sedih lagi.
Apalagi, Gus Aham terus menyangkut pautkan semuanya dengan masa lalu nya.
"Dengar.", ucap Aisyah. ia meraih wajah suaminya dengan kedua tangannya, sehingga mereka saling beradu pandang.
"Semua yang sudah berlalu, ya sudah. jangan di ungkit lagi, jangan di ingat lagi.", pinta Aisyah, membuat Gus Aham tenang.
"Semua orang punya masa lalu. sebaik apapun kita, pasti tetap akan ada, satu, dua atau bahkan lebih. orang-orang yang tidak suka pada kita.",
__ADS_1
"Jadi, jangan menyalahkan masa lalu. menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi.",
"Semua sudah jadi kehendak Allah.",
"Pikirkan saja, dan lihat hikmah dari semua yang kita alami.", ucap Aisyah. Gus Aham menatap wajah cerah istrinya, yang semakin membulat karena faktor kehamilan, sehingga membuat berat badan Aisyah semakin naik dari hari ke hari.
"Njenengan, mengerti?!.", tanya Aisyah. membuat Gus Aham mengedipkan kedua matanya. ia lantas, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Mas, hanya takut. masih ada Kevin-Kevin yang lain. yang nantinya membahayakan kamu dan anak kita.", ucap Gus Aham.
"Mas, dan dia sahabat baik. sangat dekat. mas, ndak nyangka dia pelakunya.",
"Dari penculikan kamu, sampai penyerangan di jalan tol. ndak, ada sedikitpun kepikiran dia pelakunya.", ceritanya.
"Ndak usah takut. kita punya penjaga, yang tidak pernah tidur.", ucap Aisyah.
"Kalau dia ingin mencelakai kita, tapi Allah tidak berkehendak. dia bisa apa?!.",
"Contohnya. njenengan, lihat sendiri. dengan keadaan saya kemarin, bukankah sangat mungkin jika saya tidak akan selamat?!.",
"Tapi, Allah ndak berkehendak. jadinya, saya selamat. bayi, kita sehat.", sambungnya. Gus Aham mengiyakan semua ucapan istrinya.
Benar, jika Allah sudah berkehendak. kita bisa apa?!.
"Tapi...", ucapan nya menggantung. ia menatap wajah istrinya lagi.
"Apa kamu, ndak marah sama mas?!. begitu tau fakta siapa, dan penyebabnya?.", tanya Gus Aham. yang hanya di jawab oleh senyuman manis Aisyah.
Aisyah menggeleng dan menarik tangan suaminya, untuk menyentuh perutnya. ada yang menendang dan bergerak aktif di sana.
"Coba, ajak bicara dan terus di usap, ayah.", pinta Aisyah. membuat Gus Aham mengalihkan perhatian pada perut buncit istrinya.
Ayah. ya, Gus Aham ingin di panggil dengan sebutan itu ketika bayi mereka lahir.
"Assalamualaikum, sayang.", ucapnya. ia mengusap perut Aisyah, membuat bayi itu merespon dengan tendangan dan gerakan dimana-mana. Gus Aham tersenyum, ia bahagia merasakan gerakan janin itu.
"Lain kali. jangan menyalahkan diri sendiri dengan kesalahan-kesalahan yang sudah lewat.",
"Kita, hanya perlu mensyukuri dan menjaga apa yang ada saat ini.", ucap Aisyah.
"Dan, aku. memerlukan perhatian ekstra dari ayah, saat ini.", ucap Aisyah, menirukan suara anak kecil, yang membuat Gus Aham tersenyum, lalu mengecup bibir istrinya dan turun untuk mengecup bayi mereka.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺