Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 142


__ADS_3

Ada rasa penyesalan di hati Ummi.


"Ummi, teng nopo?!.", tanya Aisyah.


"Ndak apa.", jawab Ummi.


Ummi lantas melepaskan pelukannya. ia mengusap-usap perut buncit menantunya.


"Insyaallah, kamu dan ibumu lahir selamat ya, le?!.", ucap Ummi.


"Insyaallah, nanti di temenin ayah lahirnya. yang kuat, nggeh?!.", ucap Ummi lagi. dan ternyata, bayi dalam perut Aisyah merespon, dengan gerakan halus. Ummi, tersenyum. itu berarti, cucunya baik-baik saja di dalam sana.


Malam menunjukkan pukul sebelas lewat. semua menunggu Aisyah di luar kamar, karena pada akhirnya Aisyah harus di perangsang.


Sementara Ummi, masih terus berusaha menghubungi Gus Aham. sedang Ning Nafis, berusaha menghubungi suaminya.


"Pokoknya, salah satu dari Aham atau Ma'adz harus bisa dihubungi, nduk.", ucap Ummi.


"Injih, Ummi. ini sedang Nafis, usahakan.", jawabnya, sambil terus berusaha menghubungi suaminya.


Pada panggilan ke-tiga, baru lah Gus Ma'adz menjawab panggilan dari istrinya.


"Assalamualaikum, mi. ada apa?!.", tanya Gus Ma'adz. ia baru saja keluar dari area istighosah setelah dzikir bersama serta pengajian selesai, dan acara ramah tamah bersama kyai sepuh usai.


"Abi, malam ini pulang?!.", tanya Ning Nafis.


"Jawab dulu, salamnya, mi.", Gus Ma'adz, mengingatkan.


"Waalaikum salam, Abi.", ucapnya, menjawab salam suaminya yang sudah lewat.


"Abi, malam ini pulang kan?!.", tanyanya. membuat Gus Ma'adz menoleh pada Abah yang duduk di kursi belakang. Abah nampak kelelahan, sehingga begitu masuk mob langsung tertidur


"Mungkin, nginap dulu semalam lagi.", jawabnya.


"Kalau begitu, suruh saja Aham pulang, bi.", ucap Ning Nafis.


"Aham, ndak satu mobil sama Abi, mi. Aham, bawa mobil sendiri. kita pisah di parkiran.",


"Aham, mau ke yayasan katanya.", sambung Gus Ma'adz.


"Ya Allah.", ucap Ning Nafis. suaranya, terdengar putus asa.


"Kenapa, mi?!.", tanya Gus Ma'adz.


"Aisyah, mau melahirkan Abi. ummi, dari tadi nyoba telepon Aham, tapi ndak nyambung.", jelasnya.

__ADS_1


"Ponsel Aham, rusak mi. tadi pagi jatuh, mati.",


"Ya Allah. terus, gimana bi?!.", tanya Ning Nafis, ia benar-benar bingung. apalagi, tidak ada yang boleh menemani Aisyah, di dalam.


"Abi, coba telepon ke yayasan nya, mi.", ucap Gus Ma'adz. kebetulan, ia tau nomer telepon Ali saat Gus Aham terkena kasus dengan Kevin dulu. yang mengharuskan ia mencari Mike. sehingga Gus Ma'adz menyalin beberapa kontak ke dalam ponselnya.


"Iya, bi. coba, nggeh?!.", sahut Ning Nafis.


"Nanti, kalau nyambung jangan lupa kabari Mimi, nggeh?!.", sambungnya.


"He'em. assalamualaikum.", ucap Gus Ma'adz, sebelum mengakhiri panggilan telepon nya.


"Waalaikum salam.", jawab Ning Nafis.


Aisyah, hanya bisa duduk. ia tidak di izinkan banyak bergerak ataupun jalan-jalan, karena khawatir air ketubannya semakin merembes. jadilah, ia hanya bisa menahan rasa nyeri.


Padahal, dengan berjalan kaki bisa mengurangi sedikit rasa sakit dan nyeri. juga bisa memperlancar proses persalinan. tapi mereka melarangnya dengan alasan tersebut. Aisyah hanya di izinkan berbaring, tidur miring ataupun duduk.


Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul 12 malam.


Mobil Gus Aham, sudah sampai di depan pagar yayasan. seorang penjaga yang mengenalinya, segera membuka pintu gerbang.


Mobil Gus Aham, meluncur mulus masuk dan parkir di pelataran yayasan. begitu mesin di matikan, Gus Aham segera turun dari mobilnya.


Ia tidak langsung masuk ke dalam aula yayasan. ia, lebih dulu pergi ke sebuah bangunan yang sudah jadi di samping aula, tempat biasa Gus Aham, Ali dan pengurus yayasan lainnya menemui tamu.


Rumah idaman itu, tinggal finishing nya saja. dan memenuhinya dengan perabotan rumah.


Ya, diam-diam Gus Aham membangun rumah untuk Aisyah. entah, Abah setuju atau tidak jika ia ingin pindah kesini?!. tapi, ia tetap membangun rumah disini.


Bukan tanpa sebab. ia ingin mengajak Aisyah dan putranya kesini suatu hari nanti. maka dari itu, ia harus menyiapkan tempat yang nyaman untuk istri dan anaknya tinggal, jika menginginkan menginap di sini.


Nampak seorang lelaki keluar dari aula yayasan. ia nampak menghampiri mobil Gus Aham, melihat dari kaca untuk mencari keberadaan si empunya mobil.


"Al.", panggil Gus Aham, yang baru saja keluar dari rumah impiannya.


"Mas?!.",


"Kok belum tidur?!.", tanya Gus Aham.


"Gus Ma'adz, barusan telepon mas.", ucapnya. membuat Gus Aham mengerutkan keningnya. berpikir, ada apa?!. sehingga kakaknya, menghubungi Ali.


"Gus Ma'adz bilang, istrinya mas Aham mau melahirkan.", sambungnya, yang langsung membuat mata Gus Aham membulat. ia meraba sakunya, mencari ponsel.


Benar saja, ponsel yang baru di belinya tadi. setelah menelepon Aisyah, ia charger dengan posisi mati. dan ia belum mengaktifkan nya lagi.

__ADS_1


Ya Allah, pasti orang rumah kalang kabut dengan kelahiran bayi mereka yang mendadak. karena, ia ingat dengan jelas bahwa, kata Aisyah bayi mereka akan lahir kurang dari dua bulan lagi.


Ponselnya sudah menyala, banyak pesan WhatsApp dari Ning Nafis, dan bekas panggilan tak terjawab dari ponsel Ummi.


Ia menoleh pada Ali, yang masih berdiri di depannya. lalu, menekan nomer Ummi di ponselnya.


"Assalamualaikum, le.", baru beberapa kali berdering, Ummi sudah mengangkatnya. ya Allah, pasti mereka benar-benar menunggu kehadirannya.


"Waalaikum salam, Ummi.", jawabnya.


"Ummi, Aisyah.....


"Aisyah jatuh dari tangga tadi pagi, ketubannya merembes. bayi kalian harus segera di lahirkan, karena takut kehabisan air ketuban.",


"Dokter sudah bilang, itu bahaya buat bayi dan ibunya. tapi Aisyah, kekeuh pengen nunggu kamu lahirannya. katanya, kamu pengen nemenin dia pas lahiran.", ucap Ummi, memotong pertanyaan Gus Aham, dan menceritakan semuanya panjang lebar.


Ia terdiam mendengar cerita Ummi. terbayang, istrinya pasti kesakitan sejak tadi pagi. pantas, sore tadi saat ia menghubungi Aisyah, ia merasa istrinya berada di tempat yang asing. seperti bukan ndalem ataupun diniyah.


Wajah istrinya juga nampak sedikit pucat. dan Aisyah, sering sekali memalingkan wajahnya, saat mereka video call sore tadi. matanya berkaca-kaca mengingat hal itu.


"Aham, segera pulang Ummi.", ucapnya, kemudian.


"Aisyah, sudah di bawa ke rumah sakit, le.", sahut Ummi.


"Injih. Aham langsung ke sana.", sahutnya.


"Iya. ati-ati ya, le?!. assalamualaikum.", ucap Ummi.


"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham. panggilah berakhir.


Gus Aham melihat Ali, yang masih berdiri di depan nya. ia kemudian, memasukkan ponselnya dalam saku jas nya.


"Al, aku balik dulu.", ucap Gus Aham.


"Injih, mas.", jawabnya.


"Tolong, urus dulu semua urusan yayasan.", pintanya.


"Pasti, mas.", ucapnya.


*Aku, harus balik sekarang juga.", sambung Gus Aham. yang di angguki Ali.


"Hati-hati, mas?!.", ucap Ali, ketika Gus Aham sudah naik ke mobil dan menyalakan mesin. Gus Aham menganguk, sebelum akhirnya mobil itu keluar dari pelataran yayasan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2