Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 158


__ADS_3

Sehabis jamaah sholat ashar di musholla, Aisyah berkenalan dengan para pengasuh yayasan, dan anak-anak perempuan yang menetap dan tinggal di yayasan itu.


Tidak banyak anak perempuan yang tinggal disini. itu karena, mbok ni juga baru tinggal disini.


Dulu, Gus Aham sebenarnya hanya ingin merawat anak jalanan laki-laki saja. tapi, semenjak mbok ni dan suaminya ikut tinggal disini dan membantu mengurus yayasan, Gus Aham pun mau merawat anak-anak perempuan yang hidup di jalanan. kasihan mereka, apalagi mereka seorang gadis. sangat rawan bagi mereka hidup dan tinggal di pinggir jalan.


Semua jamaah sholat, segera berkumpul di musholla untuk menunggu kajian sore hari. ada ustadz kampung yang dulunya juga seorang santri di pondok Abah. Gus Aham, memintanya mengisi mengaji setelah selesai jamaah sholat ashar.


Bukan ngaji kitab, karena memang mereka bukan anak pondok. ngaji ilmu Jawa, bahasanya. jadi, lebih ke kehidupan sehari-hari. dasarnya, tentu saja dari Al-Qur'an dan hadist.


Mereka cukup duduk dan mendengarkan. terkadang, di selingi dengan guyonan agar suasana tidak tegang dan anak-anak mudah menerima kajian yang sedang di bahas.


Biasanya waktu ngaji berakhir setengah jam sebelum masuk waktu shalat Maghrib. di sela waktu itu, biasanya anak-anak mempersiapkan diri untuk berbuka puasa, bagi yang sedang menjalankan puasa.


Di yayasan ini, di anjurkan untuk puasa Sunnah hari Senin dan Kamis. tidak muluk-muluk, ini agar mereka bisa lebih menjaga hawa nafsu, selain tabarrukan pada kanjeng nabi.


"Mas, nanti ummi sama mba Nafis datang. katanya, mau nginap semalam disini.", ujar Aisyah, saat suaminya baru saja masuk ke kamar mereka.


"Oh, ya?!. sudah bilang sama mbok ni?.", tanya Gus Aham, sembari melepas kopyah nya.


"Dereng. ummi, baru kok telponnya.", jawab Aisyah.


"Ya sudah. nanti, jangan lupa bilang sama mbok ni. biar di rapikan kamarnya, buat ummi sama mba Nafis, nginap.", pesannya.


"Injih.", jawab Aisyah.


"Tok...",


"Tok...",


"Tok...", pintu kamar di ketuk. Aisyah, segera membukakan pintu. nampak mbok ni membawa nampan berisi nasi, sayur serta lauk pauk nya.


"Nuwun Sewu, Ning. nganter daharan.", ujarnya. Aisyah tersenyum dan mempersilahkan mbok ni masuk.


"Diletakkan di meja saja ya, mbok.", ujarnya. mbok ni, mengangguk, dan menuruti perintah majikan perempuannya.


"Gus Umar, sama Ning Fatimah, biar saya bawa dulu, Ning.", izinnya.


"Njenengan, kersane saget dahar, kaleh Gus Aham.", sambungnya. Aisyah, melirik suaminya dan Gus Aham mengangguk.


Ia lantas mengizinkan Umar dan Fatimah di bawa oleh mbok ni. satu di gendong, satu di taruh di stroller. sampai di ruang keluarga, Umar dan Fatimah di taruh di atas kasur. bayi yang sehat dan pintar. mereka pun bermain, dan tengkurap. mbok ni, hanya menunggu dan memperhatikan saja.


Selesai makan, Aisyah segera membawa piring kotor beserta nampan keluar dari kamarnya. ia hendak membawanya ke dapur.


"Sini, Ning. biar mbok ni saja.", ujarnya, menghadang langkah Aisyah dan segera mengambil nampan berisi piring kotor dari tangannya. Aisyah mengikuti mbok ni, ke dapur untuk mencuci tangannya.

__ADS_1


"Mbok, tadi sudah makan?.", tanyanya.


"Sampun, Ning.", jawabnya. Aisyah tersenyum.


"Anak-anak perempuan kemana, mbok?.", tanyanya lagi.


"Mungkin, sedang wudhu. persiapan jamaah sholat magrib.", ujarnya, sembari mulai mencuci piring-piring kotor.


"Mbok, besok ummi sama Ning Nafis, mau kesini.",


"Tolong, kamar tamu di rapikan, njih?.", pintanya.


"Injih, Ning. siap.", jawabnya. membuat Aisyah tersenyum dengan jawaban wanita tua itu.


......................


"Biasanya, setelah jama'ah sholat magrib. ada kegiatan apa, mbok?.", tanya Aisyah. setelah mereka menemani Umar dan Fatimah bermain di ruang keluarga.


"Biasanya ngaji, Ning.", jawab mbok ni. ia nampak melipat mukenanya. Aisyah sendiri sedang berhalangan, jadi ia tidak melaksanakan sholat.


"Ngaji apa?. kitab, Qur'an?.", tanya Aisyah, menyelidik.


"Ya, sebisanya anak-anak.", jawab mbok ni. ia nampak menyimpan mukenanya, dan memakai kerudung lalu mendekat pada Aisyah yang tengah bermain dengan Umar dan Fatimah.


"Yang bisa baca Qur'an, ya ngaji Qur'an.",


"Di ajari sama yang sudah bisa.",


"Apalagi anak-anak kecil, Ning.", ceritanya. Aisyah mengangguk. ia merasa bertanggungjawab untuk mendidik anak-anak jalanan ini.


"Ndak ada guru ngajinya?.", tanya Aisyah, lagi.


"Palingan, cuma Ali, Ning. yang bisa dan paham sama bacaan-bacaan.",


"Kalau bapak mah, cuma ngajarin anak-anak ngaji huruf Hijaiyah, sama hafalan surat-surat pendek.", jawabnya.


"Berapa sih mbok, kira-kira jumlah anak-anak yang tinggal di yayasan?.", tanya Aisyah menyelidik.


"150 an kaya' nya, Ning.", jawabnya.


"Mbok ni, masak sendiri?!.", tanya Aisyah.


"Dulu di bantu bapak. sekarang, karena ada anak-anak perempuan, mbok ni di bantu mereka juga.", jelasnya.


"150 itu, anak laki-laki saja?!.", mbok ni menggeleng, mendengar pertanyaan Aisyah selanjutnya.

__ADS_1


"Semuanya, Ning.", jawabnya.


"Pagi, masak. sore juga masak.", sambungnya, dengan senyum tulusnya.


Aisyah, terdiam sejenak mendengar penuturan dan cerita mbok ni. anak sebanyak itu, tapi dengan tenaga pengajar dan pengarah yayasan yang minim. sangat disayangkan, mereka tidak bisa optimal dalam belajar ilmu agama.


Fatimah terdengar merengek, membuyarkan lamunan Aisyah. nampak mbok ni, dengan sigap meraih tubuh mungil putrinya, dan menggendong. namun, bayi cantik itu masih menangis.


"Mungkin haus, mbok. sini, biar minum dulu.", ujar Aisyah. tangannya terulur untuk mengambil alih putrinya dari gendongan mbok ni.


"Yowes, Ning Fatimah minum dulu, njih. biar Gus Umar yang main sama mbok ni.", guraunya, sembari menyerahkan Fatimah pada Aisyah.


Aisyah segera membawa putrinya ke kamar. ini adalah jam tidur, ia tahu putrinya haus dan mengantuk. jadi ia pun menyusui sembari menidurkan sang putri.


Kurang lebih setengah jam Aisyah baru keluar dari kamar, dan menemui mbok ni, yang tengah mengasuh Umar.


"Kaya'e Gus Umar juga ngantuk, Ning.", ujarnya. Aisyah melihat putranya yang berada dalam gendongan mbok ni.


"Mas Umar, sampun ngantuk?!.", tanya Aisyah pada putranya sembari 'ngliling' putranya yang masih berada di gendongan mbok ni. Umar di hadapkan ke depan, jadi Aisyah gampang mengajak putranya bercanda.


Bayi tampan itu hanya tertawa, lalu beberapa kali menguap.


"Masha Allah, ngantuk tenan iki.", ujar Aisyah. ia mengambil alih sang putra.


"Saya, nidurin Umar dulu ya, mbok.", ucap Aisyah.


"Njih, Ning.",


"Mbok, juga mau ke kamar. tadi, bapak bilang sehabis sholat isya' mau minta di pijitin.", ujarnya. Aisyah tersenyum.


"Permisi, Ning.", pamitnya. Aisyah mengangguk.


Selepas mbok ni pergi. ia segera masuk kamar untuk menidurkan dan memberi ASI pada Umar.


Pintu terbuka saat Aisyah, baru saja selesai menidurkan putranya. Gus Aham sendiri, baru saja selesai melaksanakan jamaah sholat isya' di musholla bersama anak-anak, dan mampir bertemu pengurus yayasan, sebentar.


"Udah tidur semua?.", tanya Gus Aham. Aisyah mengangguk dan beranjak dari ranjang.


"Njih, mas.", jawabnya. menghampiri suaminya, yang baru saja duduk di sofa.


...----------------...


NB. jangan lupa baca karya aku yang lain ya kak!!!... dengan cerita dan genre yang berbeda. tinggal klik profil, bisa pilih lihat list karya aku.😉


semoga menghibur dan terinspirasi 🙏.

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan vote ya!!!. terimakasih ♥️.



__ADS_2