Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 125


__ADS_3

"Senang dong?!.", tanya Gus Aham. yang mana, membuat Aisyah tersenyum dan mengangguk.


Gus Aham tersenyum semakin lebar mendengar pengakuan istrinya. ini pertama kalinya, sang istri mengungkapkan perasaannya, dan memuji dirinya.


"Berarti, kamu menang banyak.", ucap Gus Aham. membuat Aisyah mengerutkan keningnya, tidak setuju dan tidak terima dengan ucapan suaminya.


"Maksudnya, saya ndak cantik, gitu?!.", ucap Aisyah, yang tidak terima. ia terlihat sebal, karena Gus Aham hanya tersenyum dan mengangkat alisnya.


Membuat istrinya merengek manja dan memukul pelan dada suaminya. sementara Gus Aham tertawa menerima perlakuan istrinya.


"Cari sana!. istri yang lebih cantik, yang lebih sexy.", ucapnya kesal. yang membuat Gus Aham masih tertawa mendengarnya.


"Yang bilang, kamu ndak cantik siapa?!.", tanya Gus Aham, setelah berhasil meredam tawanya.


"Njenengan.", jawabnya.


"Kapan, mas bilang?!.",


"Tadi.", jawabnya, kesal.


"Yang mana?. coba di ingat!.",


"Yang....",


Ucapan Aisyah terputus. ia berusaha mengingatnya, tapi tidak menemukan kilas balik ucapan suaminya yang mengatakan bahwa ia tidak cantik.


"Ayo, yang mana?!.", tanya Gus Aham. yang membuat Aisyah semakin kesal.


"Pokoknya, tadi kan. njenengan, bilang kalau, saya menang banyak. itu kan berarti....,


Ucapannya terputus ketika melihat suaminya tersenyum. Gus Aham meraih tangan istrinya.


"Mas, yang menang banyak.", ucapnya, lantas mengecup tangan istrinya lembut. membuat Aisyah terdiam, melihat perlakuan suaminya.


"Karena, kamu wanita hebat.", sambungnya.


"Kamu wanita berhati sabar dan luas. bisa menerima semua kekurangan, mas.",


"Mas, sangat berterima kasih.", lanjutnya. matanya, masih setia menatap wajah istrinya yang tetap ayu, meskipun tanpa riasan.


"Kamu, wanita tercantik yang pernah mas temui. Alhamdulillah, mas sangat bersyukur Allah menjodohkan kita.", ucapnya, tulus.


"Kamu, merubah cara berpikir mas. merubah, gaya hidup mas. bahkan, kamu sanggup merubah kesenjangan antara mas, dan Abah.", ucapnya, air matanya terlihat mulai menggenang.


"Sungguh, wanita yang luar biasa.", sambungnya.


"Kamu bahkan, sanggup melewati banyak hal, demi membawa mas, kembali ke tempat mas seharusnya.",

__ADS_1


"Jika, bukan kamu. mungkin, semuanya akan berbeda.", ucapnya. dan air matanya, sudah tidak bisa di tahan.


Gus Aham menangis, tapi bukan tangisan kesedihan. melainkan, tangis bahagia. ia begitu bangga dan bahagia memiliki Aisyah, dan itu tergambar jelas dari senyumnya saat ini.


Aisyah terharu mendengar ucapan suaminya. ia mengusap air mata bahagia yang membasahi pipi Gus Aham. lalu, memeluk pinggang suaminya erat, sementara kepalanya ia sandarkan di dada bidan suaminya.


Sesekali tangannya mengusap punggung suaminya.


"Saya, yang harus nya berterima kasih sama njenengan.", ucap Aisyah pelan. masih dalam pelukan suaminya.


"Njenengan, sudah mau berubah. berusaha menjadi imam yang baik bagi saya.", ucapnya pelan.


"Bagi saya. asal njenengan, sudah mau nurut sama Ummi dan Abah, itu sudah cukup.", sambungnya.


"Selanjutnya, kita sama-sama memperbaiki diri. apalagi, kita akan menjadi orang tua, agar bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak nanti.",


Aisyah mendongak, yang membuat Gus Aham segera mengecup keningnya. cukup lama, sampai ia benar-benar merasa puas.


"Semua karena dirimu, terimakasih.", ucap Gus Aham. ia mengecup bibir istrinya, sebelum akhirnya memeluk Aisyah erat.


Malam semakin larut. membuat keduanya cepat terlelap dalam pelukan, saling mendekap erat.


Akhirnya, mereka sama-sama terlelap setelah melewati banyak rintangan akhir-akhir ini. beruntung nya mereka saling menguatkan, sehingga semua bisa di lewati dengan mudah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ia menatap wajah nya lekat. cantik memang, apalagi dengan balutan piyama warna biru muda yang membalut sempurna kulit putihnya.


"Kamu, cantik. tapi lebih cantik kalau berhijab.", ucap Riko kala itu. apalagi Riko mengucapkan nya dengan memandangnya dan tersenyum.


Haish...., serasa ada yang berdesir dan melaju cepat di dadanya, saat ia mengingat saat-saat itu.


"Aaaahhh.....", ia merengek manja pada dirinya sendiri, karena melihat pipinya memerah di kaca.


"Aduh... aduh.", ia mencengkram dadanya yang berdetak tak karuan saat mengingat hal itu.


"Ok, ok. tenang....., rileks..., tarik nafas, hembuskan.", ucapnya pada diri sendiri. saat ini, ia benar-benar terlihat konyol.


Dokter Fitri mengambil selendang yang menggantung di samping meja riasnya. ia lantas membuka selendang itu, dan memakainya di kepala.


Ia nampak sedang merapikan selendang itu, sebagai hijab untuk menutupi rambut kepalanya.


Ia tersenyum saat hijabnya telah siap. dan, tiba-tiba ia melihat seorang Riko tersenyum dari kaca riasnya. seolah-olah mengatakan, bahwa ia cantik dengan hijab itu. membuat ia merasa malu dan menutupi wajahnya.


Tapi saat ia membuka wajahnya, Riko menghilang. ya, itu hanya bayangan. mungkin dokter Fitri terlalu bahagia malam ini, sehingga ia bisa melihat Riko dimana-mana.


Dokter Fitri yang sadar itu hanya khayalan nya. segera melepas hijabnya, dan beranjak ke ranjang nya untuk istirahat.

__ADS_1


...----------------...


Pagi menyapa. Gus Aham baru saja turun berjamaah dari musholla.


Sementara ibunya, sudah selesai menyeka dan membantu Aisyah berganti baju.


Nampak seorang perawat datang, memeriksa kesehatan Aisyah pagi ini. mengecek jahitan, tekanan darah dan suhu tubuh. terakhir, perawat itu melepaskan infus dari tangan Aisyah.


"Prosedur keluar rumah sakit, sudah bisa di urus ya, pak?!.",


"Sambil menunggu dokter datang, untuk membawa hasil pemeriksaan lebih lanjut, dan memberikan surat rujukan untuk kontrol.", ucap perawat tersebut, sebelum pergi.


Gus Aham segera pergi ke bagian resepsionis untuk meminta jumlah pembayaran perawatan istrinya, dan membayar nya.


"Le, ibu mau ke penginapan dulu. beres-beres.", pamit ibu, ketika Gus Aham sudah menyelesaikan pembayaran rumah sakit dan kembali ke kamar rawat istrinya.


"Injih, Bu. mau di bantu?!.", tanyanya, menawar diri membantu mertuanya.


"Ndak usah, kamu disini aja sama Aisyah.", jawabnya. lantas ibu, segera pergi keluar kamar.


Sementara Gus Aham mengemasi barang-barang istrinya. ya, mereka akan segera pulang. Gus Aham dan Aisyah benar-benar bahagia, akhirnya mereka akan segera berkumpul lagi bersama keluarga.


Tidak hanya Gus Aham dan Aisyah yang merasa bahagia dan sudah tidak sabar. keluarga ndalem dan kakaknya juga sudah tidak sabar.


Terbukti, dari tadi ponsel Gus Aham terus berbunyi. panggilan terbanyak dari Ummi, pastinya. dan, Gus Aham sengaja mengabaikan nya karena Ummi terus bertanya, jam berapa mereka akan sampai rumah.


"Pulang ke ndalem?!.", tanya suara di seberang.


"Iya, mas.", jawab Aisyah.


"Kenapa ndak ke panti?!.", tanya kakaknya, mas Raihan.


"Kalau di panti, kasihan mas Aham. nanti repot ke sana-sini.",


"Jadi, mas harus ke pondok nih?!.",


"Iya. hihihi.....",


"Hah, ya sudahlah. seng penting, kamu seneng, kamu sehat.", ucap sang kakak.


"Aminn.", sahut Aisyah.


"Yaudah, kalau gitu. mas, tak bilang ke mba mu. biar siap-siap ke panti. wassalamu'alaikum.",


"Waalaikum salam.", jawab Aisyah, yang menjadi akhir percakapan mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2