Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 25


__ADS_3

Berkat keterangan medis dan penjelasan dokter Fitri ke Ummi, membuat Aisyah mendapat izin untuk beraktivitas lagi seperti biasa, walaupun dengan syarat-syarat tertentu dari Ummi.


"Ndak boleh capek-capek, Ndak boleh naik turun tangga, Ndak boleh telat maem, pulang lebih awal dan yang paling penting,nduk!!, kamu cuma bagian koordinasi, nyuruh-nyuruh ndak boleh angkat-angkat apapun alasannya.", ucap Ummi mewanti-wanti. Aisyah mengangguk senang.


Besok adalah wali murid di madrasah yang mana pasti mengundang semua wali murid santri, baik yang mondok maupun yang nduduk (hanya sekolah).


Begitu mendapat izin Aisyah bergegas bersiap untuk bergabung bersama pengurus pondok dan panitia haflah.


"Nanti siang cepat pulang, istirahat.",ucap suaminya mengingatkan.


"Nanti, mas juga akan pulang lebih awal untuk makan siang bersama, sekalian ngecek keadaan kamu.", sambungnya. Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk, ia tidak begitu peduli dengan apa yang dibicarakan suaminya.


Yang penting ialah, bahwa ia sangat bahagia bisa berbaur dan bertemu pengurus pondok dan para santri lagi.


Karena Aisyah tidak boleh naik turun tangga, jadilah semuanya di kerjakan di aula, mereka mempersiapkan semua untuk besok. mulai dari membuat geber ( tulisan dari kertas yang di tempel di kain), membuat dekor dari spons, menyusun piagam dan piala bagi juara terbaik putra-putri sampai merangkai bunga yang nantinya akan di letakkan di panggung sebagai hiasan.


Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat. terdengar suara nada dering ponsel yang cukup khas di telinganya, suara dering ponsel Aisyah. ya, Gus Aham memintanya membawa ponsel agar ia lebih tenang.


"Assalamualaikum.", ucap Aisyah menyapa suara di seberang.


"Waalaikum salam. cepat pulang, sudah siang.",


"Sebentar nggeh, Gus. nanggung dikit lagi.",


Terdengar suara ponsel di tutup tanpa ucapan salam, membuat Aisyah melihat layar ponselnya. ia tau, mungkin suaminya marah, tapi ini benar-benar kurang sedikit dan akan segera selesai. ia berjanji pada dirinya akan segera pulang secepat mungkin dan segera menemui suaminya untuk meredakan amarahnya.


Tapi, baru saja Aisyah menaruh ponselnya dan melanjutkan kegiatannya bersama para pengurus pondok. tiba-tiba terdengar suara dari luar aula.


"Assalamualaikum..",


"Waalaikum salam.", jawab semua yang ada di aula.


Aisyah segera keluar begitu mendengar suara yang sangat di kenalnya, itu. iya, itu suara suaminya yang datang untuk menjemputnya dan mengajak pulang untuk istirahat.


"Gus?!.", ucapnya ketika sudah bertatap muka dengan suaminya.


"Pulang dulu, istirahat.",

__ADS_1


Aisyah menoleh ke sekitar, ragu-ragu ia hendak pamit pada semua pengurus yang sedang sibuk mempersiapkan acara besok.


"Ndak apa, Ning.", ucap Kamila yang merupakan ketua Mida Mahids.


Aisyah menghela nafas dalam, berat baginya meninggalkan mereka dengan setumpuk pekerjaan. apalagi jika sudah masuk ndalem nanti, gerakan Aisyah pasti di batasi. tidak boleh ini, tidak boleh itu, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu dengan beraneka alasan yang di lontarkan, seperti pamali atau takut Aisyah dan bayinya kenapa-napa.


Gus Aham mengulurkan tangannya dan mengangguk, memberi isyarat pada istrinya agar mau ikut pulang dan beristirahat lebih dulu. tapi Aisyah masih ndak rela.


"Monggo, semuanya. kami permisi dulu.",ucap Gus Aham pamit pada semua pengurus dan santri yang berada di aula.


"injih, Gus.", jawab mereka serentak.


Gus Aham meraih tangan Aisyah, mengajaknya pulang untuk istirahat di ndalem.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Mas. ngizinin kamu, bukan berarti kamu bisa semaunya sendirian.",ucap Gus Aham sambil menyuapi istrinya.


"Nanti kalau sudah istirahat, sudah makan. kamu bisa lanjutin lagi bantu-bantu nya, jangan semaunya sendiri. ingat!, yang di dalam perut.", Aisyah masih terdiam mendengar ucapan suamiku, ia tau ia salah jadi tidak berani menjawab.


"Belum lagi, nanti kalau Ummi tau. yang ada malah kamu nggak boleh kemana-mana lagi, di suruh di kamar terus lagi.",


Aisyah menunduk, ia merasa bersalah. di raihnya tangan suaminya dan berucap.


"Ngapunten nggeh, Gus.", ucapnya lirih.


(Maaf ya, Gus.)


Gus Aham tidak bermaksud memarahinya, ia hanya ingin Aisyah lebih memperhatikan kesehatan tubuhnya. apalagi sekarang dalam perutnya telah hidup penerusnya, ia tidak ingin baik Aisyah atau calon anaknya mengalami kesusahan.


Melihat Aisyah susah makan saja, membuatnya berpikir berkali-kali jika ingin keluar kota mengurus bisnisnya. jika orang kepercayaannya masih bisa meng-handle maka Gus Aham akan menyerahkan pada mereka, tapi jika situasi mengharuskan Gus Aham untuk pergi, maka sebisa mungkin ia tidak menginap dan secepatnya kembali.


Bagaimanapun, pikirannya tidak tenang meninggalkan Aisyah lama-lama. takut Aisyah tidak makan, takut istrinya merepotkan orang tuanya dengan kehamilannya.


"Mas, ndak marah kok.", jawabnya. Gus Aham mengelus rambut ikal istrinya seraya tersenyum untuk meyakinkan.


"Tok....

__ADS_1


"Tok....


"Tok....


pintu kamar diketuk seseorang dari luar, Gus Aham menaruh piring di meja lalu berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Terlihat dua orang anak kecil dengan senyum mengembang sehingga memperlihatkan barisan gigi mereka yang rapi. ya, mereka adalah Ning Dija dan Ning Shofy.


"Pak lek, nggak mempersilahkan aku sama Shofy masuk?.",tanya si kakak yang lebih cerewet dari adiknya.


"Biasanya juga langsung masuk sendiri.", jawab Gus Aham.


"Beda dong, pak lek. kali ini kan, aku bawa makanan buat bulek. jadi harus di persilahkan", ucapnya.


"Bawa apa Ning?.", terdengar suara Aisyah dari dalam.


"Puding alpukat, bulek. Mimi yang buat.", sahutnya.


"Bulek, mau.", sahut Aisyah.


" Tuh kan, pak lek. cepat aku di persilahkan masuk, kalau enggak, ya aku bawa pulang.", celetuk nya. Ning Shofy hanya tersenyum melihat pak lek nya merasa sebal dengan tingkah kakaknya.


"Monggo, tuan putri. silahkan masuk.,",ucap Gus Aham mempersilahkan kedua keponakannya. dan dengan gaya centil keduanya mereka masuk melewati pak lek nya yang masih berdiri di samping pintu.


Gus Aham menutup pintu kamar begitu kedua ponakannya masuk, lalu ia berjalan menghampiri Ning Shofy , Ning Dija dan Aisyah yang sedang duduk di sofa kamar.


Ning Shofy dan Ning Dija tampak begitu menyayangi Aisyah, mereka menyuapi Aisyah bergantian. dan Aisyah pun terlihat begitu lahap memakan puding buatan Ning Nafis.


Sepertinya, Aisyah tidak akan kekurangan cinta dari keluarga ini.


Keesokan hari.....


Pagi ini semua sibuk mempersiapkan acara wali murid yang akan di laksanakan beberapa jam lagi. Aisyah hanya bisa membantu dengan duduk sambil menata hidangan bagi semua tamu undangan di piring saji. di temani Ning Nafis sebagai pengawas dan pengawal pribadi Aisyah, tentunya dengan perintah dari Ummi. tapi tidak mengapa, ini lebih baik dari pada harus berdiam diri di kamar dan tidak boleh melakukan apapun.


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, para tamu undangan sebagian sudah bangun yang hadir mengisi tempat duduk yang di sediakan. Aisyah hanya berharap acara hari ini berjalan dengan lancar, karena ini adalah pertama kalinya ia mendapat tanggung jawab untuk mengatur semua, sebelum ia di ketahui hamil.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2