
Ummi sudah marah, begitu pulang tidak melihat Aisyah dan Gus Aham di kamar. Semua sudah kena omel.
"Gus, kita balik ke kamar. geh?.",
"Sudah puas di luarnya?.", tanyanya. yang di jawab dengan anggukan oleh Aisyah.
Gus Aham segera membereskan semua pekerjaannya, ia menutup laptopnya dan merapikan semua buku serta berkas miliknya dan punya Aisyah.
Mereka berjalan beriringan masuk ke ndalem menuju kamar, tapi suara Ummi menghentikan langkah Gus Aham dan Aisyah.
Buru-buru Gus Aham dan Aisyah menghampiri asal suara yang bersumber dari ruang tengah.
"Ada apa, Mi?.", tanya Gus Aham. Seketika Ummi menoleh ke belakang
"Loch. dari mana, le?.", tanya Ummi menghampiri Gus Aham dan Aisyah.
"Dari taman belakang, Mi. Aisyah jenuh di kamar.", jawabnya.
"Lach, mobilmu siapa yang pake?.",
"Dipinjam, mas. nganter mba Nafis belanja, kan mobil mas lagi di bengkel.", jelasnya.
"Oalah.", ucap Ummi lega.
Gus Aham dan Aisyah heran dan ingin tau, kenapa Ummi marah.
"Lain kali, cari dulu.", ucap Abah. menyuruh semua mba ndalem untuk bubar.
"Ada apa, bah?.", tanya Gus Aham
"Ummi mu baru pulang, trus nyari istrimu ndak ada di kamar. jadi semua dikumpulin, kena marah.", jawab Abah lalu berdiri dan beranjak pergi.
Ummi segera mengikuti Abah untuk meminta maaf dan menenangkan. sementara Gus Aham mengajak Aisyah kembali ke kamar.
"Apa perhatian Ummi, itu tidak berlebihan ya, Gus?." tanya Aisyah ketika sudah duduk di ranjang. Entah kenapa?, beberapa hari ini ia menjadi sedikit pemalas. apalagi mendapatkan perhatian dari suaminya, membuatnya terkadang sedikit manja.
Gus Aham mengangkat kaki Aisyah, agar ia bisa meluruskan kakinya di ranjang. yang mana perlakuan itu membuat Aisyah terkejut.
"Lain kali, jangan sentuh kaki saya seperti itu, Gus.", ucapnya dengan sedikit marah.
"Kenapa?, kamu kan istriku. lagi pula sekarang kamu sedang hamil, bukankah hal yang wajar aku melakukan itu?!.",
"Tapi, njenengan seorang Gus. ndak pantas merendahkan diri seperti itu.",
__ADS_1
"Itu bukan merendahkan diri. lebih ke melakukan tanggung jawab dan kewajiban ku sebagai seorang suami.", jawabnya, yang mana jawaban itu membuat aisyah terdiam. banyak bunga-bunga bertebaran dalam hatinya.
benarkah ini suami yang dinikahinya?!, yang selalu mengingatkannya tentang persetujuan pra nikah?!, yang selalu mengatakan di antara kita tidak akan ada apa-apa?!, benarkah dia?. kenapa jadi berbalik 180° derajat?.
Gus Aham membuyarkan lamunannya, saat ia menyuapi Aisyah puding buah.
"Makanlah, agar tubuhmu sehat sehingga anak kita juga sehat.", ucapnya.
Aisyah melihat puding buah itu. ya, memang terlihat menggiurkan dan menggoda. ia pun membuka mulutnya, segar terasa. membuatnya begitu lahap memakannya, Gus Aham yang melihat istrinya makan dengan lahap pun sangat senang.
"Beberapa hari lagi acara haflah. Mas harap kamu segera pulih.",
"Saya sudah pulih, Gus. hanya saja saya ndak bisa keluar untuk beraktivitas seperti biasa.",
"Gus. tolong izinin ke Ummi, nggeh?!. saya janji ndak akan capek-capek.", sambung Aisyah memohon pada suaminya.
"Nanti periksa dulu ke dokter Fitri. kalau ndak apa ya boleh lah.", jawabnya.
"Mau lagi pudingnya?.", tanyanya pada Aisyah yang membuat aisyah tersenyum dan mengangguk.
"Gus. Ummi sama Abah tadi gimana?.",
"Ummi itu nomer satu buat Abah. palingan sekarang Ummi sedang ngerayu Abah, supaya ndak marah.",
"Saya jadi ndak enak. semua kena marah gara-gara saya ngajak njenengan ke taman, dikiranya kita pergi keluar.",
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ujian sekolah berakhir, sementara persiapan wali murid dan haflah akhirussanah terus berlanjut mendekati waktunya.
Aisyah sedang di klinik dokter Fitri dengan di antar suaminya. ia ikut mengantri, sama dengan pasien lain yang datang. awalnya, Ummi ndak mengizinkan Aisyah dan Gus Aham untuk keluar, tapi Aisyah merengek membuat suaminya tidak tega dan akhirnya mengizinkan.
"Nyonya Aisyah, silahkan masuk.", ucap asisten dokter Fitri. Aisyah mengangguk , beranjak berdiri dan segera masuk ke dalam ruangan dokter Fitri di ikuti suaminya.
"Apa kabar, Ning?.", sapanya ketika melihat Aisyah dan Gus Aham masuk, lalu mempersilahkan mereka duduk.
"Ada keluhan?.", tanya dokter Fitri.
"Ndak ada, dok. cuma mau periksa, mau pastiin kalau semua sehat dan mau konsultasi.", jawab Aisyah.
Dokter Fitri tersenyum. ia mempersilakan Aisyah untuk berbaring di ranjang, lalu dokter Fitri menyelimuti bagian bawah tubuh Aisyah. hal pertama yang di lakukan adalah mengecek tekanan darah Aisyah, lalu dokter Fitri mulai meraba perut Aisyah.
Hanya butuh sekitar lima belas menit sebelum kelambu yang membatasi antara ranjang dan meja kerja dokter Fitri terbuka, yang menandakan pemeriksaan sudah selesai.
__ADS_1
"Gimana, dok?.", tanya Gus Aham setelah dokter Fitri duduk di kursinya.
"Ibu dan bayinya sehat, dan fundus nya sudah teraba. padahal baru dua mingguan, ya.", jawab dokter Fitri seraya menulis beberapa resep vitamin.
Aisyah yang baru saja selesai membenarkan pakaiannya, segera turun dari ranjang dengan di bantu seorang perawat. lalu ikut bergabung bersama dokter Fitri dan Gus Aham.
"Misalkan. kalau mau ikut bantu-bantu persiapan acara haflah atau acara lain di pondok bisakah, dok?.",
"Maksudnya, tidak berbahaya kah bagi kandungannya?!.", sambung Gus Aham lebih jelas.
"Ndak masalah, Gus. kandungan Ning Aisyah sangat kuat dan sehat. mungkin hanya perlu minum beberapa vitamin, banyak konsumsi buah dan sayur serta menambah porsi makan untuk mengurangi lemas.", jelas dokter Fitri.
Aisyah tersenyum senang. sangat jelas betapa ia bahagia, karena setelah ini ia tidak akan di kurung lagi di kamar. tidak boleh kemana-mana dan tidak boleh melakukan apa-apa.
Begitu konsultasi dengan dokter Fitri selesai, Gus Aham dan Aisyah segera pamit undur diri. lagi pula masih banyak pasien yang mengantri untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Gus Aham dan Aisyah menaiki mobil menuju apotik untuk menebus vitamin yang di resepkan dokter. baru setelahnya mereka pulang.
"Mau beli apa?!, mumpung bisa keluar.", tanya Gus Aham pada istrinya.
"Ndak mau beli apa-apa.", jawabnya.
"Langsung pulang?.",
" Ke taman dulu nggeh, Gus?!.",
Gus Aham menoleh ke arah istrinya begitu mendengar permintaannya.
"Pengen jalan-jalan.", sambung Aisyah.
"Taman mana?.",
"Taman kota aja, kan deket.",
"Ya udah.", jawabnya di sertai anggukan.
Gus Aham memarkir mobilnya begitu sampai. segera ia turun lalu beralih ke sisi lain mobilnya, membuka pintu untuk Aisyah.
Tangannya memegang erat tangan Aisyah untuk membantunya turun dari mobil, mengingat mobil Jeep Rubicon miliknya cukup tinggi.
Begitu turun, wajah Aisyah nampak sumringah dengan senyum nya yang terus mengembang. persis seperti anak kecil yang di izinkan makan permen atau es krim oleh orang tuanya.
"Ayo, Gus.", ajaknya. menarik tangan suaminya untuk mengikutinya masuk ke dalam taman kota.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺