
Hari ini semua sibuk Persiapan acara tiga bulanan Aisyah. suara tahtiman Qur'an menggema di ndalem Ummi, di musholla dan masjid pondok.
Sedang nanti sore akan di datangkan anak panti dari yayasan milik keluarga Aisyah, untuk acara khataman dan santunan.
Lanjut acara malam adalah kirim do'a yang mengundang semua keluarga dan penduduk sekitar.
Dekorasi terlihat sempurna. ndalem Ummi di sulap sedemikian rupa untuk menantunya. dalam acara yang begitu megah, mereka berdoa untuk Aisyah dan bayinya.
Aisyah begitu bahagia hari ini, karena ia bisa bertemu dengan semua alumni tahfidz yang hadir di kediaman Ummi. mereka datang dengan sukarela untuk mendoakan Aisyah.
Aisyah pun juga ikut mengaji bergantian bersama mereka, apalagi saat surat Yusuf, surat Maryam dan surat Luqman, mereka pasti memberikan pada Aisyah untuk di baca.
Kata orang, kalau ibu hamil atau bapak calon jabang bayi membaca surat tersebut, anak yang dilahirkan di percaya akan tampan bila laki-laki (surat Yusuf), dan akan cantik, berhati dan berjiwa suci serta dimudahkan dalam persalinan (surat Maryam), sedang faidah membaca surat Luqman adalah untuk anak yang sehat, dan cerdas.
Aisyah juga bercengkrama dan bersenda gurau dengan teman-temannya yang sudah lama tidak ia jumpai. ada yang masih di pondok mengabdi, ada juga yang sudah keluar dan menikah. tapi walaupun begitu, mereka tetap aktif datang sebulan sekali untuk muroja'ah dan sema'an bersama.
Ya, setiap alumni wisuda Khotmil Qur'an pasti mengadakan pengajian rutinan sebulan sekali untuk mengaji bersama. biasanya tempatnya berpindah-pindah, nanti sewaktu pembukaan dan sewaktu khataman Ummi pasti hadir untuk memimpin doa dan tahlil bersama.
Waktu sholat dhuhur tiba. semua sema'an, baik di ndalem, di musholla dan di masjid serentak berhenti. mereka menghormati waktu sholat dan segera bersiap melaksanakan sholat duhur secara berjamaah.
Aisyah pergi ke kamar. entah kenapa pinggangnya berasa ngilu, mungkin hanya kelamaan duduk, pikirnya.
Mengingat ia duduk dari pagi hingga dhuhur di aula untuk menemani dan ikut para alumni bergantian mengaji.
"Tok...,
"Tok...,
"Tok...,
Baru saja, ia merebahkan tubuhnya agar rasa sakit di pinggangnya berkurang. tapi ia harus bangun dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ning. wonten serat damel Gus Aham.",
(Ning. ada surat untuk Gus Aham).", ucap mba ndalem begitu Aisyah membuka pintu kamarnya.
"Matur nuwun ya, mba.",
__ADS_1
(Terimakasih ya, mba).", ucap Aisyah menerima amplop putih itu.
Setelah mba ndalem itu undur diri, Aisyah segera menutup pintu kamar. menaruh surat itu di meja samping ranjangnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya.
Ning Nafis terlihat sibuk mengatur dan mengarahkan mba ndalem dan beberapa tukang masak yang memang di tunjuk untuk membantu membuat hidangan di acara tiga bulanan nya Aisyah.
Sebagai menantu tertua, Ummi sudah memasrahkan untuk mengatur semua pada Ning Nafis.
"Mba, ada orang dateng. kaya'e nganter pesanan.", ucap Ning Bilqis yang datang dengan perut besarnya. ia tampak kesusahan saat berjalan. menurut hasil USG bayi yang di kandungnya kembar.
Ya, mereka memiliki keturunan gen itu dari keluarga Gus Irfan. Abah punya saudara kembar, Abah dari Ning Anik, kakak Abah. yang menjadi pengelola pondok pusat dan pengelola universitas di pondok orang tua Abah.
"Oalah, dek. kok kesini to?!, udah. kamu duduk di depan saja, ikut sema'an.", ucap Ning Nafis. tak tega melihat adik iparnya kesusahan saat berjalan.
"Masuk, pak. taruh di ruang tengah, iya yang banyak orang-orang nya itu. biar sekalian di masukne kotak.", Ning Nafis memberikan instruksi pada pengantar kue yang datang.
Begitu banyak yang di pesan. kue untuk suguhan, untuk khataman nanti dan untuk acara nanti malam.
"Sebenarnya, aku tuh capek mba duduk terus. baru ngaji satu juz aja, udah sesek, engap. makanya nganter kurir kesini sekalian jalan-jalan.", jelas Ning Bilqis.
"Yowes. senyamane sampean aja, dek. trus Hasan kemana?.", tanya Ning Nafis yang tidak melihat keponakannya yang begitu tampan dan menggemaskan itu.
"Dija sama Shofy?.",
"Iya, ikut juga.", sahut Ning Bilqis menjawab ucapan kakak iparnya.
Ning Nafis mengajak Ning Bilqis duduk di gazebo yang tidak jauh dari tempat orang-orang memasak, agar ia bisa beristirahat.
Sore menjelang, setelah jama'ah sholat ashar sema'an di lanjutkan sambil menunggu semua anak panti hadir. barulah saat semua sudah datang acara khataman dan tahlil di mulai.
Di ndalem, acara tahlil di pimpin Ummi yang di dampingi Aisyah. sedang di musholla tahlil di pimpin Ning Nafis. dan di masjid, acara tahlil di pimpin oleh Ning Bilqis.
Baru saat doa Khotmil Qur'an Ummi memakai microphone. sehingga suaranya bisa di dengar dan doanya di aminkan oleh semua alumni tahfidz yang hadir. baik dari ndalem, musholla dan masjid.
Aisyah melihat mobil Gus Aham memasuki pelataran ndalem. begitu selesai ia segera pamit meninggalkan para tamu Tahfidzil Qur'an dan anak-anak panti yang tengah di persilahkan untuk mencicipi hidangan prasmanan.
Aisyah berjalan tergesa-gesa, ia ingin segera menemui suaminya. entah kenapa?, hari ini ia begitu bahagia.
__ADS_1
Apakah karena acara yang dikhususkan untuk dia dan bayinya, atau karena bisa bertemu dengan alumni tahfidz dan teman lama?!, ia tak mengerti. ia hanya merasa bahagia dan ingin membaginya dengan Gus Aham.
Mereka bertemu di lorong menuju kamar. langkah Aisyah terhenti di hadapan suaminya, senyumnya masih mengembang, tapi tidak dengan Gus Aham. wajahnya menunjukkan hal lain.
"Assalamualaikum.", sapa Aisyah tetap dengan senyum manisnya. tapi Gus Aham mengabaikannya.
Aisyah tidak menyerah. ia meraih tangan suaminya, tapi Gus Aham malah mengibaskannya kuat sehingga Aisyah terdorong dan keningnya membentur dinding.
"Aham!.", teriak Gus Irfan yang tidak sengaja melihat kejadian itu.
Gus Aham menoleh, emosinya semakin tersulut melihat kakaknya membela Aisyah.
"Apa?!, Mas. ingin membela wanita yang Mas kagumi?.", Gus Aham balas berteriak di depan kakaknya.
"Apa maksudnya?.",
"Jangan berlagak bodoh.", ucapnya memukul wajah kakaknya.
Akhirnya, terjadilah perkelahian kecil di antara mereka meskipun Gus Irfan lebih banyak menghindar, tapi Aisyah takut juga. jadilah Aisyah berusaha memisahkan mereka. hingga akhirnya....
"Bugh...," satu pukulan Gus Aham mendarat di pipi Aisyah yang tengah melerai mereka. Aisyah tersungkur.
"Aham!.", ada suara khas yang meneriakkan namanya. ya, itu suara Ummi.
Gus Irfan yang terkejut melihat Aisyah tersungkur karena menghalangi pukulan Gus Aham padanya segera membantu Aisyah bangun. ada darah segar mengalir dari keningnya.
"Ya Allah. Aisyah.", Ummi menghampiri Aisyah yang masih di bantu oleh Gus Irfan. menyadari istrinya terluka, ada rasa bersalah tergurat di wajahnya. tapi Gus Aham tidak tau harus berbuat apa?. jadilah ia hanya pergi menuju kamarnya dan berlari menaiki tangga loteng. ia memasuki ruang kerjanya dan mengunci diri disana.
"Aisyah, kita ke dokter. ya?!.", ajak Ummi yang mengkhawatirkan keadaan menantunya. Aisyah menggeleng.
"Ndak apa, Ummi. Aisyah bersihkan sendiri dan pakai plester saja dulu, acara masih harus berlanjut. lagi pula ini hanya luka kecil.", ucapnya tetap dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, untuk meyakinkan mertuanya.
"Perutnya?!, sakit?.", tanya Gus Irfan.
"Mboten, Gus.", jawabnya. tersenyum dan menggeleng.
"Aisyah, ke kamar dulu. nggeh?!, mau ngobatin dulu, Ummi sama Gus Irfan ke depan aja. takut banyak tamu yang dateng dan nyariin.", ucapnya lalu pamit undur diri.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺