
Gus mencium tangan Ummi dan Abah , lalu mengecup kening istrinya sebelum berangkat.
Padahal, ia sudah janji akan mengantarkan Aisyah ke panti. tapi, karena pekerjaan istrinya belum selesai. ia meminta izin pada istrinya untuk berangkat lebih dulu. dan meminta istrinya untuk di antar kang-kang saat ke panti nanti.
"Berangkat dulu nggeh, mi, bah.", ucapnya. ia lantas menuruni tangga teras rumah dan Aisyah mengikutinya.
"Mas, berangkat dulu nggeh?!. janji, nanti mas pasti pulang cepat.", ucapnya pada Aisyah yang berada di belakangnya sebelum menaiki mobil. Aisyah tersenyum dan mengangguk.
"Hati-hati.", ucap Aisyah. yang di balas Gus Aham dengan senyuman.
Gus Aham lantas segera menaiki mobil. ia menyalakan mesin mobil setelah menutup pintunya.
Mobil mulai berjalan perlahan, sedikit memutari pelataran dan kemudian keluar melewati gapura ndalem.
Ummi, Abah dan Aisyah segera masuk ke ndalem. mereka berkumpul di ruang tengah. Abah sibuk mengkaji kitabnya, sementara Aisyah melanjutkan untuk mengecek total Al-Qur'an.
Setelah jumlah Qur'an sudah terhitung dengan jumlah yang pas sesuai pesanannya. ia di bantu mba-mba ndalem mengemas Qur'an itu dengan sajadah dan tasbih.
Melipat sajadah dan meletakkannya dalam sebuah kotak hampers dengan Qur'an dan tasbih, lalu mempermanisnya dengan pita.
"Nduk. kalau kamu buru-buru ke panti, berangkat saja. Ummi minta kang Mu'idz anter ya?!.",
"Ndak usah, mi. ini sudah mau selesai kok. kan, di panti juga banyak yang bantuin.", jawabnya. tangannya masih sibuk melipat sajadah yang menumpuk. mereka melipatnya kembali, untuk menyesuaikan dengan ukuran kotak.
Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih, hampir masuk waktu dhuhur. dan tepat dengan selesainya pekerjaan mereka.
Para santri segera pamit ke asrama untuk berwudhu dan selanjutnya bersiap-siap melakukan sholat dhuhur berjamaah.
Begitu juga dengan Aisyah. ia segera kembali ke kamarnya. kepalanya pusing, ia merasa mual.
Sejenak, saat rasa mual itu hilang. Aisyah teringat sesuatu. ia pernah merasakan hal ini juga saat hamil si kembar dulu. mungkinkah?!....,
Aisyah segera berdiri, turun dari ranjang. ia mengambil buku catatannya. membuka lembar perlembar kertas di dalamnya, mencari sebuah catatan siklus haidnya.
Matanya terbelalak saat menemukannya. di situ jelas tertulis tanggal terakhir dia haid. dan ini, sudah hampir seminggu ia belum haid lagi.
Aisyah tersenyum senang, tapi masih belum yakin. ia memilih tidak memberi tau siapapun dulu, sebelum benar-benar terbukti hasilnya dan akurat.
Para santri putri turun dari musholla. dan santri putra turun dari masjid. mereka memiliki waktu istirahat, sebelum jama'ah sholat ashar yang di lanjutkan dengan ngaji kitab dalail.
"Ummi, Aisyah. ke panti dulu, nggeh?!.", pamitnya pada sang ibu mertua.
__ADS_1
"Jaga kesehatanmu, nduk. wajahmu sedikit pucet.", sahut Abah yang baru saja memasuki ndalem. ketika melihat Aisyah pamit pada istrinya, di ruang tamu.
"Injih, bah.", jawabnya dengan tersenyum.
"Hati-hati ya, nduk?!.", seperti biasa, Ummi akan mengingatkan semua anak dan menantunya ketika akan pergi. Aisyah mengangguk.
Ia mencium tangan ibu dan ayah mertuanya, lalu melangkah keluar.
"Assalamualaikum.", ucapnya.
"Waalaikum salam.", jawab Abah dan Ummi bergantian.
Aisyah berjalan ke arah mobil, dimana kang Mu'idz sudah membukakan pintu di sana. setelah Aisyah masuk, barulah kang Mu'idz menutup pintu mobil dan segera beralih masuk serta duduk di belakang kemudi. siap untuk mengantarkan Ning-nya ke panti.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Kang, nanti mampir ke klinik dokter Fitri.", ucap Aisyah, ketika mobil sudah berjalan. yang segera di angguki oleh kang Mu'idz.
Kebetulan, jalan ke pondok dan panti melewati klinik dokter Fitri. jadi sekalian saja Aisyah mampir.
Dokter Fitri merupakan dokter umum dan dokter keluarga ndalem. dan Aisyah, memilih memeriksakan diri disana karena ia percaya dokter Fitri adalah, dokter terbaik baginya untuk membantunya merahasiakan hal ini, jika benar ia hamil.
Mobil memasuki pelataran klinik dokter Fitri. terpampang jelas tertulis 'AURA SYIFA', yang merupakan nama dari klinik pribadi dokter Fitri.
Kang Mu'idz segera turun dan berjalan tergesa-gesa untuk membukakan pintu mobil bagi Aisyah.
Aisyah segera turun dan memasuki klinik. sementara terdengar suara pintu mobil di tutup oleh kang Mu'idz.
"Assalamualaikum. selamat siang, mba.", sapa Aisyah pada resepsionis perempuan yang sedang berjaga.
"Waalaikum salam, Ning.", jawabnya.
"Mau periksa, Ning?.",
"Iya. dokter Fitri sendiri ada?.",
"Ada, Ning. silahkan duduk dulu, nggeh?!. masih meriksa pasien di dalam.", ucap perawat itu yang di jawab dengan anggukan dan senyuman oleh Aisyah.
Ia segera duduk bersama para pasien lain, yang mengantri untuk memeriksakan diri.
Cukup lama Aisyah mengantri. ia memang tidak suka di perlakukan istimewa, sekalipun asisten dokter Fitri memintanya masuk lebih dulu. melewati para pengunjung lain, Aisyah menolaknya dan mempersilahkan mereka yang antri duluan untuk di periksa.
__ADS_1
"Ning Aisyah.", panggil asisten pribadi dokter Fitri. membuat Aisyah segera beranjak dari duduknya. ia berdiri dan berjalan beriringan bersama asisten dokter Fitri, untuk memasuki ruang pemeriksaan.
"Assalamualaikum.", sapa Aisyah, begitu memasuki ruangan.
"Waalaikum salam. sehat Ning?!.", tanya dokter Fitri, menyambut kedatangan Aisyah, dan memberi isyarat untuk duduk.
"Alhamdulillah.", jawabnya seraya meraih kursi dan segera duduk.
"Mau periksa kesehatan kah?!.", tanya dokter Fitri mengawali.
"Dokter. saya....
Aisyah menceritakan apa yang ia rasa akhir-akhir ini. ia juga mengatakan bahwa sudah telat haid selama lima hari. dokter Fitri yang paham pun, mempersilahkan Aisyah untuk di antar ke kamar mandi oleh asisten nya.
Beberapa saat lamanya, Aisyah berada di kamar mandi. sementara asisten dokter Fitri bernama Rahma, itu menunggu di luar pintu.
"Ceklek...., pintu kamar mandi terbuka. Aisyah menyerahkan benda di tangannya pada Rahma.
Mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan kamar mandi menuju ruangan dokter Fitri.
Aisyah segera duduk di depan meja kerja dokter Fitri, dan Rahma memberikan benda ditangannya pada dokter.
"Mari, Ning. berbaring disini dulu. ucap dokter Fitri. mempersilahkan Aisyah untuk berbaring di ranjang untuk pemeriksaan selanjutnya.
Aisyah berbaring, Rahma menyelimuti bagian bawah tubuh Aisyah dan dokter Fitri segera mendekat untuk memeriksa.
Dokter Fitri membuka baju bagian bawah Aisyah. lalu meraba perut datar miliknya. dengan cermat dan teliti, dokter Fitri memeriksa, apakah fundus nya sudah teraba atau belum?!. ya, Aisyah hamil.
Setelah dirasa cukup pemeriksaan. dokter Fitri meninggalkan Aisyah, yang masih merapikan pakaian nya dengan di bantu Rahma.
Aisyah menghampiri dokter Fitri yang sedang menulis di mejanya. ia ingin segera tau apa hasilnya?!.
"Selamat ya, Ning?. positif hamil. usia kandungan sudah memasuki minggu ke tiga.", ucap dokter Fitri. ia mengulurkan tangannya pada Aisyah. Aisyah menjabatnya dan tersenyum senang.
"Ini vitamin yang perlu di konsumsi, dan ini buku panduan untuk mencatat kehamilan.", ucap dokter Fitri, sambil menyerahkan semua pada Aisyah.
"Bolehkah, saya minta tes pack nya?!.", dokter Fitri menganguk dan menyelipkan tes pack itu pada buku ibu hamil yang sudah ada nama Aisyah di sampulnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺
__ADS_1