Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 150


__ADS_3

"Lain kali, tidak di izinkan seperti itu.", ucap Gus Aham, yang kini sudah duduk di ranjang bersama Aisyah. meraih Aisyah untuk bersandar di dadanya, sehingga ia bersandar pada dinding rumah sakit.


"Luruskan kaki, dengan benar!.", ucapnya, ketika melihat Aisyah tidak meluruskan kakinya dengan benar. membuat kaki Gus Aham menindih kaki istrinya, agar tidak terlalu banyak bergerak.


"Jangan banyak bergerak!.", hardiknya lagi, ketika Aisyah masih berusaha membenarkan duduknya.


"Posisi duduk saya ndak nyaman, mas.", protesnya. bagaimana ia bisa duduk dengan nyaman?!, kalau suami yang baru duduk di ranjang bersamanya langsung menarik tubuhnya untuk bersandar di dadanya.


"Sudah nyaman, sekarang?!.", tanya Gus Aham, setelah membantu istrinya duduk dengan benar. membuat Aisyah tersenyum sebagai jawaban dan ucapan terima kasih.


"Mas, njenengan sudah lihat bayinya?!.", tanya Aisyah, setelah beberapa saat bersandar di bahu suaminya.


Gus Aham menganguk, menjawab pertanyaan istrinya.


"Apakah sehat?!. apakah bayinya baik-baik saja?!.", tanyanya. ia sedikit cemas, mengingat belum waktunya bayi itu lahir, di tambah dengan tragedi jatuhnya ia dari tangga.


Gus Aham menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.


"Mereka sehat. mereka selamat.", ucapnya. menyusul anggukannya. membuat Aisyah mengerutkan keningnya, heran.


Ya. ia heran dengan kalimat "mereka ".


"Mereka?!.", tanya Aisyah, dengan wajah bingungnya.


"Iya. mereka sehat, selamat. tidak kurang suatu apapun.", jawab Gus Aham lagi.


"Mereka?!..... itu artinya, anak kita tidak hanya satu?!.", tanyanya ragu. tapi, ia ucapkan juga untuk memastikan. Gus Aham menoleh, menatap istrinya. ia nampak berpikir, tentang Ummi, ibu dan Ning Nafis. mungkin kah mereka belum memberi tau Aisyah?!, tentang bayi kembar mereka?!.


"Mas?!.", rengeknya, saat sang suami tidak menjawab pertanyaannya. membuat Gus Aham tersadar, dan tersenyum menoleh istrinya.


"Mau melihat bayinya?!.", tanya Gus Aham, kemudian. yang membuat Aisyah menganguk dengan cepat.


Gus Aham segera turun dari ranjang, ia lalu meraih tubuh istrinya. bukan untuk di pindahkan ke kursi roda, melainkan untuk di gendong menuju ruang NICU, melihat bayi-bayi mereka.


Gus Aham lebih senang menggendong istrinya, dari pada mendorong nya dengan kursi roda. itu mengingatkannya akan sebuah tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. bahwa, menggendong istrinya seberat apapun tidaklah berat. yang berat adalah menjadi pemimpin dan imam bagi keluarga kecilnya.

__ADS_1


Gus Aham menurunkan Aisyah di depan ruang NICU. dimana, ia melihat bayi-bayi nya tengah di susui oleh perawat yang bertugas, dari kaca.


"Bisakah, kita masuk?!.", tanyanya pada Gus Aham. dan suaminya menganguk, menjawab pertanyaannya. membuat nya tersenyum senang.


"Ayo. kita bersihkan diri dulu.", ajak Gus Aham pada Aisyah. untuk membersihkan diri, seperti mencuci tangan dan kaki sebelum masuk dalam ruang NICU.


Begitu selesai, ia menggendong Aisyah memasuki ruang NICU. ruang dimana kedua bayi mereka tengah di rawat secara intensif, karena lahir prematur.


Gus Aham menurunkan Aisyah, begitu mereka sampai di depan sebuah inkubator, yang terdapat dua bayi di sana. ia menoleh, menatap suaminya. seolah bertanya, benarkah ini bayi-bayi mereka?!. dan Gus Aham yang paham, segera mengangguk.


Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangan. ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. tapi, namanya jelas tertera pada papan yang menggantung di inkubator, tempat bayi-bayi mereka terlelap.


Tiba-tiba bahunya berguncang, wajahnya menunduk. ia nampak menangis. membuat Gus Aham menariknya dalam pelukan, untuk memberi rasa tenang pada Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Betapa agung kuasanya, sehingga membuat Aisyah tak henti-hentinya mengucap syukur dalam tangis bahagia.


"Sudah.", ucap Gus Aham, yang sedari tadi memeluk Aisyah.


"Ini seperti mimpi.", ucap Aisyah, lirih.


"Ini bukan mimpi.", sahut Gus Aham tegas. ia menatap manik Aisyah.


"Kamu, wanita baik. istri Sholehah. pantas mendapatkan apapun. termasuk kasih sayang dari sang maha pencipta.", ucapnya.


"Jadi, jangan menangis.", ucap Gus Aham, kemudian.


"Lihat!. mereka terbangun karena ibunya menangis.", ucap Gus Aham, menunjuk bayi-bayi mungil dalam inkubator yang bergerak menggeliat dan mulai membuka matanya.


Membuat Aisyah menatap mereka. ia mendekat dan tersenyum, saat bayi laki-laki itu menoleh ke arahnya. seolah-olah bayi itu sedang menyapanya.


"Mas?!.", panggilnya. ia menoleh pada Gus Aham, saat bayi laki-laki itu menoleh padanya.


"Dia menoleh kesini.", ucapnya lagi. suaranya terdengar begitu bahagia bercampur rasa haru. membuat Gus Aham tersenyum dan mendekat. ia sedikit membungkukkan badannya, agar bisa melihat wajah bayi laki-laki yang membuat istrinya begitu bersemangat.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Umar.", sapa Aisyah. ketika Gus Aham ikut menunduk melihat bayi itu.


"Umar?!.", tanyanya, pada sang istri.


"Iya.", jawabnya, cepat dan tegas. suara senangnya begitu nyaring di telinga.


"Kenapa, Umar?.", tanya Gus Aham.


"Njenengan, tau kisah Khalifah Umar bin Khattab?!. atau yang mendapat julukan Umar Al-faruq?.", tanya Aisyah pada suaminya.


"Iya.", jawab Gus Aham, singkat. Aisyah tersenyum sesaat.


"Seperti itulah, aku ingin putraku tumbuh.", jawabnya.


"Kuat, tangguh. tegas, dalam masalah agama. adil pada semua kalangan. Umar bin Khattab, adalah pemimpin yang sempurna. ia tidak pernah menyalah gunakan kekuasaannya. ia sosok yang sederhana, dan memiliki loyalitas tinggi.", ucapnya, penuh dengan senyuman.


"Anakku seorang laki-laki. kelak, dia akan menjadi seorang pemimpin. baik untuk keluarga nya, ataupun untuk masyarakat di sekitarnya. jadi, dia harus lah berkepribadian seperti Umar bin Khattab.", harapnya.


"Kelak. semakin tua zaman, semakin banyak kemaksiatan. dengan memberikan nama Khalifah Umar Al-faruq padanya. saya, hanya berharap. dia mampu menjadi imam bagi keluarganya, ataupun bagi orang-orang yang membutuhkan nya, untuk tetap beriman kepada Allah.", jawabnya, dengan mata berbinar menatap bayi laki-lakinya. Gus Aham tersenyum, mendengar penjelasan istrinya.


"Hai, Umar.", sapa Gus Aham, kemudian. yang di jawab dengan geliat dari bayi mungilnya.


"Untuk yang perempuan?!. siapa namanya?!.", sahut suara dari belakang, yang membuat Gus Aham dan Aisyah menoleh ke asal suara.


Rupanya, ada Abah dan Gus Ma'adz di sana. mereka terlalu asyik memandangi bayi-bayi mungil itu, sehingga tidak menyadari kehadiran Abah dan Gus Ma'adz.


"Abah?!.", ucap Aisyah dan Gus Aham, hampir bersamaan. Abah dan Gus Ma'adz mendekat, menghampiri anak dan menantunya.


Kemarin, Abah belum sempat melihat kedua cucu kembarnya setelah persalinan. karena, ada tamu dari luar Jawa yang datang ke pondok untuk sowan. sehingga, Abah meminta Gus Ma'adz untuk mengantarnya pulang.


Gus Aham dan Aisyah segera meraih tangan Abah, dan mencium punggung tangan nya. setelah nya, Abah mendekati inkubator. melihat dengan seksama cucu kembarnya.


"Mirip kamu semua, Ham.", ucap Abah, begitu melihat bayi-bayi mungil itu. membuat Gus Aham dan Aisyah tersenyum.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2