
Gus Aham bertemu,bmembahas dan menceritakan semua detail kejadian pada pengacaranya. di tambah dengan adanya bukti dari rekaman cctv dan pengakuan seorang pelayan yang membukakan pintu kamar untuk Boby.
"Waktu itu, tuan Boby datang ke resepsionis dan mengaku kalau kunci kamarnya di bawa oleh istrinya. sehingga tuan Boby tidak bisa masuk untuk mengambil berkas yang tertinggal. jadilah saya yang di suruh untuk membantu tuan Boby, karena bagaimanapun, tugas kami adalah melayani para tamu yang datang. jadi, saya tidak punya alasan untuk menolak dan tidak tau kalau kamar itu adalah kamar tuan dan nyonya.", pelayan itu memberi keterangan saat di panggil oleh Gus Aham.
Pengacara Gus Aham mengangguk-angguk paham.
"Baiklah, Gus. cukup untuk hari ini, saya rasa tanpa anda hadir di pengadilan kita sudah pasti menang.", ucap pengacara itu yakin. lalu membereskan laptop dan beberapa berkas di meja.
Gus Aham tersenyum senang. lalu segera menjabat tangan pengacara itu yang pamit undur diri, begitu juga dengan pelayan yang menjadi saksi tadi.
Selesai bertemu dengan pengacara tadi, Gus Aham segera naik lagi ke kamarnya. khawatir kalau istrinya banyak berdiam diri lagi.
Begitu sampai di depan kamar, Gus Aham segera membuka pintu dan masuk. setelahnya Gus Aham menutup pintu, ia melihat Aisyah tertidur di atas sajadah. mungkin setelah melipat mukenanya dia merebahkan dirinya disana, pikir Gus Aham.
Di raihnya tubuh yang kurus itu, dan ditidurkannya di ranjang. Gus Aham menyelimutinya lalu mengambil ponsel dan beralih ke balkon agar tidak menggangu tidur istrinya.
"Assalamualaikum.", ucapnya saat telfon telah tersambung.
"Waalaikum salam.", jawab suara di seberang.
"Gimana kabar Ummi, mas?.",
"Alhamdulillah, baik. kenapa?.",
"Mas, tolong bilang sama Ummi. aku sama Aisyah besok belum bisa pulang, masih ada urusan disini.",
Gus Ma'adz yang tahu dan faham betul sifat dan watak adiknya itu langsung faham.
"Qda masalah apa, le?.", tanyanya. terdengar dengusan nafas kesal dari Gus Aham.
"Perlu bantuan?.", sambung Gus Ma'adz seraya menjauh dari istrinya dan Ummi yang hendak mendekat.
"Udah aku urus, mas. cuma, ya harus nunggu penyelidikan selesai. aku sudah panggil pengacara. untuk masalah kasus itu, aku yakin 100% bisa menang. yang buat aku bingung itu sekarang keadaan Aisyah.",
__ADS_1
"Coba cerita, le!.",
"Percobaan pemerk*saan, mas.", jawabnya singkat. Gus Ma'adz terkejut.
"Ya sudah. nanti tak sampein ke Ummi. waalaikum salam.", ucap Gus Ma'adz mengakhiri panggilan karna Ummi mendekat dan takut Ummi mendengar berita buruk itu.
"Siapa yang telfon, le?.",tanya Ummi
"Aham ,mi. bilang urusannya belum selesai, minta tolong di sampein ke njenengan.", jelasnya.
"Bilang sama adikmu, ndak usah buru-buru pulang. suruh sekalian bulan madu, biar istrinya cepat hamil. mosok, pengantin baru yang satunya sibuk kerja, satunya sibuk ngurus pondok sama diniyah. trus kapan Ummi bisa gendong bayi lagi?!, anakmu yowes gede-gede. udah ndak mau di mandiin uti nya. mau gendong, Ummi yang ndak kuat.",
"Injih, mi.", jawab Gus Ma'adz.
"Jangan protes kalau Aham kaya' gitu. itu semua karena didikan Ummi, Aham itu terlalu di manja. lha piye to, Adz?!, apa yang Abah ndak izinin, Ummi mu yang diam-diam ndukung.", ucap Abah sambil terus membolak-balik kitab mengkaji bab kitab ihya' 'ulumudin yang akan di kajinya nanti bersama para alumni pondok.
"Bah, njenengan kan juga tau to?!. Aham itu ndak seperti Ma'adz dan saudaranya yang lain. Ummi cuma ndak mau Abah terlalu keras sama Aham.", ucap Ummi membela diri.
"Masalah jasmani dan rohani seseorang, ndak bisa jadi tolak ukur kemampuan kalau tidak di latih dari kecil.",
Abah beranjak pergi membawa kitabnya. kalau tetap disini yang ada hanya akan berdebat dengan Ummi. Ummi dengan pembelaan untuk putranya sedang Abah dengan pendiriannya.
Gus Aham selesai mengerjakan tugasnya di balkon. segera ia menutup laptopnya dan masuk ke kamar, Aisyah masih tertidur. itu lebih baik dari pada melihatnya berdiam diri dan merenung atau melihatnya mengaji tapi dengan menangis. di dekatinya tubuh yang tengah terlelap itu dan di lihatnya luka-luka yang di dapatnya dari tragedi kemarin.
Gus Aham mengambil salep dan mengoleskan ke luka-luka itu, berharap luka itu cepat menghilang tanpa bekas. akan sulit baginya menjelaskan pada Ummi tentang itu semua bila sampai waktunya pulang belum juga hilang.
Aisyah yang merasakan usapan di kakinya pun bangun. ia melihat suaminya tengah mengobatinya, Aisyah hanya diam.
"Kenapa?, apakah sakit?.", tanyanya yang hanya di jawab dengan gelengan oleh Aisyah. ia beranjak duduk.
"Nanti, kita pergi ketemu dokter ya!, bujuknya pelan.
Aisyah terdiam sejenak, lalu mengangguk.
__ADS_1
Gus Aham tidak pernah melihat sisi lemah istrinya sebelum ini, dulu saat Gus Aham melampiaskan amarah padanya, dia tidak akan banyak berdiam diri seperti ini. pasti dia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, terkadang lebih ceria untuk mencairkan suasana, bila semua usahanya sia-sia untuk menyenangkan suaminya, dan Gus Aham tetap tidak mau bicara dengannya, dia hanya akan menangis. itupun hanya sebentar, setelahnya bila bertatap muka, bertemu atau berpapasan dengan suaminya dia pasti akan tersenyum manis dan menawarkan berbagai bantuan ataupun makanan.
Tapi, kali ini melihat istrinya seperti ini benar-benar membuatnya merasa kehilangan dan merasa tidak nyaman.
"Gus, kapan kita pulang?.",
"Nanti ya!, setelah semua selesai. setelah kamu benar-benar pulih, kita pulang.",
Aisyah menangis memeluk kedua lututnya. Gus Aham bingung. adakah yang salah dari perkataannya?!.," dia merasa tidak berucap kasar atau mengucapkan hal yang salah. Gus Aham lebih mendekat, membelai rambut istrinya.
"Kenapa?.",
"Ingin pulang.", jawabnya
Gus Aham meraih tubuh Aisyah dan memeluknya, berharap istrinya tidak menangis lagi dan lebih tenang. tapi kenyataannya itu malah membuatnya semakin terisak.
"Aisyah....
"Kangen ibu.", ucapnya memotong perkataan suaminya. Gus Aham mengangguk.
"Nanti, begitu semua urusan selesai kita pulang dan langsung kerumah ibu. sudah ya!.", ucapnya , berharap tangisan istrinya terhenti dengan janjinya.
Matahari terbenam dengan sempurna, berganti malam dengan gemerlap bintang yang mulai menampakkan cahayanya. Gus Aham mengajak Aisyah kerumah temannya yang seorang psikiater, bagaimanapun keadaan Aisyah tidak boleh terus di biarkan seperti ini, atau akan berakibat buruk kedepannya.
Mobil Gus Aham terparkir sempurna di halaman rumah elit.
Seorang satpam membukakan pintu untuk Gus Aham, setelah turun Gus Aham segera membuka pintu untuk Aisyah dan mengajaknya masuk.
"Tuan Mike, sedang ada di atas. mohon duduk dan tunggu sebentar.", ucap asisten rumah tangga paruh baya yang biasa di panggil mba Siti itu, lalu undur diri.
Tak berapa lama Gus Aham dan Aisyah menunggu di ruang tamu, Mike terlihat keluar dari kamar lantai atas dan segera menuruni tangga.
"Apa kabar.", ucapnya berjabat tangan ala anak muda dengan Gus Aham kemudian memeluknya.
__ADS_1
"Baik. istriku yang kurang baik.", jawab Gus Aham berusaha membuat candaan agar istrinya tersenyum, nyatanya itu tak membuat Aisyah merespons perkataan suaminya dan tetap diam.
🌺TO BE CONTINUED 🌺