
Gus Aham duduk di kursi yang berada di samping brankar. ia menatap istrinya, dalam. sedang Aisyah berusaha bangun. ia nampak meraih segelas air putih yang berada di atas meja. membuat Gus Aham yang melihatnya, dengan sigap mengambil air putih dalam gelas itu, dan memberikan pada istrinya.
Aisyah, menerimanya. ia tersenyum, lantas menyodorkan gelas berisi air tawar itu ke bibir suaminya.
Ya, begitulah biasanya jika sang suami baru saja pulang. baik dari diniyah, dari luar kota atau dari mana saja. yang ia
lakukan, adalah memberi Gus Aham segelas air putih.
Ia ingat dengan benar. suaminya, jarang minum air putih jika di luar rumah. ia lebih banyak minum kopi, teh, soda ataupun minuman kemasan lainnya. dan, itu bukanlah hal baik untuk kesehatan.
Jadi, begitu suaminya pulang. ia pasti, akan memberikan segelas air putih untuk menjaga kesehatan dan menguatkan imun tubuh Gus Aham.
Gus Aham menatap manik istrinya. ia seakan tidak percaya, di saat seperti ini. istrinya, masih berusaha melakukan kewajibannya untuk ingat dengan kebiasaannya, memberi segelas air putih saat ia datang.
Gus Aham, tidak terlalu suka air putih. ia lebih suka meminum kopi, soda ataupun minuman kemasan lainnya. Aisyah lah, yang selalu ingat untuk menyiapkan air minum untuk nya, demi kesehatan ginjal dan tubuhnya.
Aisyah menatap wajah suaminya. ia mengangguk, memberi isyarat, agar Gus Aham mau meminumnya.
Gus Aham meraih jari-jari istrinya, yang melingkar menghiasi gelas. ia meminum air putih itu, dengan sekali teguk untuk menyenangkan hati sang istri.
Dan benar, saat air dalam gelas itu habis tak bersisa, Aisyah tersenyum padanya.
Wajahnya pucat, warna pink yang biasa menjadi warna bibirnya pun memudar. tapi, wanita itu nampak berusaha kuat.
"Masih sakit?!.", tanya Gus Aham. ia meletakkan tangannya di perut buncit istrinya. membuat Aisyah menggeleng, dan tersenyum lemah sebagai jawaban nya.
Ia tidak percaya, istrinya masih saja berbohong. jelas-jelas tadi Aisyah kesakitan. ia bahkan, sampai merintih dan tidak kuat menopang tubuh nya sendiri. kenapa masih berusaha terlihat baik-baik saja?!, pikirnya.
"Tok...,
"Tok...,
Dua ketukan di pintu kamar, sebelum akhirnya seorang dokter dan perawat datang berkunjung untuk memeriksa keadaan Aisyah.
"Selamat pagi. waktunya, pemeriksaan pak.", ucap dokter wanita itu, ramah.
Gus Aham mengangguk, mempersilahkan mereka memeriksa kondisi Aisyah dan bayinya. ia juga bergeser dari tempatnya, dan berdiri tak jauh dari ranjang istrinya.
__ADS_1
Gus Aham melihat dokter dan perawat itu dengan piawai memeriksa Aisyah. dan saat dokter sudah menyelesaikan tugasnya, sementara perawat sedang mengkontrol infus Aisyah. dokter wanita itu, segera menghampiri Gus Aham.
Aisyah hanya bisa melihat suaminya dan dokter itu berbicara, di dekat pintu. sementara, ia masih di sibukkan dengan seorang perawat yang masih memeriksa kondisinya.
Dokter itu, nampak menjelaskan sesuatu pada Gus Aham. dengan map di tangannya yang berisi laporan kesehatan Aisyah dan bayi mereka.
Sedang, Gus Aham nampak menganguk-angguk. seolah-olah paham dengan semua perkataan dan penjelasan dokter. ia bahkan, nampak beberapa kali ikut melihat sesuatu dalam map yang di tunjukkan dokter itu.
Membuat Aisyah bertanya-tanya tentang apa yang sedang dibicarakan suaminya dengan dokter tersebut.
Pemeriksaan yang di lakukan oleh perawat selesai. perawat itu, segera merapikan peralatan nya setelah selesai mencatat semua hasil pemeriksaan nya.
Ia lantas pamit pada Aisyah, sebelum menghampiri dokter yang berbincang dengan Gus Aham.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gus Aham nampak menghela nafas setelah menutup pintu kamar rawat Aisyah. ia lalu, berjalan menghampiri istrinya dan segera duduk di kursi samping brankar.
"Kenapa?!.", tanya Aisyah.
"Dokter bilang, air ketuban semakin sedikit. itu, akan membahayakan kesehatan ibu dan anak.", jawab Gus Aham. ia berusaha mengawali percakapan nya, agar sang istri setuju untuk melakukan operasi caesar.
"Lalu, apa tindakan selanjutnya?!.", tanya Aisyah. ia mencoba memberanikan diri, walau sebenarnya ia sudah bisa menebak jawaban suaminya.
"Operasi caesar.", jawab Gus Aham, pelan. kepala nya yang sedari tadi menunduk, langsung menatap wajah istrinya. ia tau, Aisyah tidak akan setuju dengan mudah.
"Njenengan, menyetujui nya?!.", tanya Aisyah. Gus Aham menganguk pelan.
"Kenapa?!.", tanyanya lagi.
"Karena mas, ndak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa. mas, harus membuat keputusan untuk menyelamatkan kalian berdua.", jawab Gus Aham, ragu.
"Njenengan, ndak percaya kalau saya bisa melahirkan normal?.", tanya Aisyah lagi.
"Mas, percaya. hanya, kemungkinannya sangat kecil.", sahut Gus Aham.
"Kalau begitu, kenapa tidak di coba?!.", tanya Aisyah.
__ADS_1
"Kita, tidak bisa mencoba, tidak ada waktu. dan akan sangat berbahaya juga terlalu beresiko.", jawabnya, pelan. perlahan Gus Aham mencoba memberi pengertian pada Aisyah.
"Dengarkan, mas!.", ucapnya. ia merangkup wajah istrinya.
"Tidak apa-apa, kali ini operasi.", sambungnya, pelan.
"Operasi, bukan berarti kamu tidak menjadi seorang wanita, dan seorang ibu seutuhnya.",
"Kamu, tetap seorang ibu. karena, kamu juga mempertaruhkan nyawa untuk anak kita.",
"Hanya saja, operasi lebih lama sembuhnya. lebih lama, lukanya mengering. sehingga mungkin, begitu bayi kita lahir kamu tidak bisa langsung merawatnya sendiri.",
"Tapi setidaknya, dengan operasi. kamu, dan bayi kita bisa selamat.", ucapnya. ia berusaha meyakinkan istrinya, agar mau untuk operasi cesar.
Aisyah terdiam. wajahnya menunduk, menyembunyikan ketakutannya.
Saat operasi kemarin, ia tidak sendiri. ia masuk ruang operasi bersama suaminya, tapi kali ini.
Ah..., entahlah kenapa ia mendadak takut dan khawatir. tapi, suaminya benar. jika ia tidak segera di operasi, keselamatan bayi mereka terancam.
"Setidaknya, mas bisa sedikit tenang saat kamu menyetujuinya.", ucap Gus Aham, setelah cukup lama terdiam.
Aisyah nampak menarik nafas dalam. ia berusaha menenangkan diri dan pikirannya.
Bukankah, ada Allah?!. minta saja, apapun padanya. kita tinggal berusaha, walaupun hasil akhirnya tidak sesuai harapan kita.
"Terserah, njenengan mawon. saya, ngikut.", jawabnya, setelah cukup lama menimbang dan berpikir. ia mengucapkan itu, setelah menghela nafas berat.
Gus Aham tersenyum mendengarnya. ia meraih tubuh Aisyah, memeluknya erat.
"Kita akan berjuang bersama. apalagi ada kedua keluarga yang selalu menemani kita. semangat ya, sayang?!.", ucapnya. lantas, ia mengecup puncak rambut istrinya yang terbungkus hijab.
"Mas, urus prosedur nya dulu ya?!.", ucapnya. yang di jawab anggukan oleh Aisyah. dan Gus Aham pun, segera berlalu menemui dokter.
Begitu persyaratan operasi selesai, dengan Gus Aham sebagai penanggung jawabnya, yang di saksikan oleh semua anggota keluarga dari Aisyah dan Gus Aham. ya, Gus Aham menandatangani kertas persetujuan operasi itu, dengan tenang.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺