Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 31


__ADS_3

Gus Aham terbangun dari tidurnya, ia masih melihat Aisyah tidur di pelukannya, membuat ia lega.


Gus Aham baru saja bermimpi. ia seperti mendengar Aisyah mengaji, tapi saat ia mendekati sumber suara itu untuk melihat istrinya, suara itu terdengar kian menjauh. di tengah kebingungannya, Gus Aham di tarik oleh seseorang ke sebuah tempat gelap.


Gus Aham segera terbangun sebelum melihat mimpi itu lebih jelas lagi. nafasnya terengah-engah, ia memiliki firasat buruk.


Gus Aham turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. ia menyalakan shower, mandi. selesai mandi Gus Aham segera mengganti dengan pakaian bersih, ia hendak melaksanakan sholat tahajud untuk menenangkan hatinya.


Di ambilnya sajadah yang terlipat rapi di meja lalu di gelarnya. Gus Aham segera melaksanakan sholat. selesai sholat, Gus Aham melakukan tawasul.


Ketika tawasul selesai, Gus Aham segera mendekati Aisyah yang masih tertidur pulas karena kelelahan di ranjang. ia meletakkan tangannya di atas perut istrinya yang tertutup selimut, lalu mulai berdoa untuk kesehatan dan keselamatan ibu juga bayinya.


"Gus. njenengan sholat?!.", tanya Aisyah yang baru saja bangun.


"Iya.",


"Kok, saya ndak di bangunin?!.",


"Kamu tadi kelihatan capek bgt. jadi sengaja, ndak mas bangunin.", jelasnya. Aisyah tersenyum.


Ia turun dari ranjang setelah menyibakkan selimut.


"Mau kemana?.", tanya Gus Aham.


"Mandi, trus sholat.", jawabnya yang hanya di angguki suaminya.


Setelah mandi beberapa saat, Aisyah keluar sudah memakai baju ganti. ia segera mengambil sajadah dan mukena lalu melaksanakan sholat tahajud.


Begitu, Aisyah selesai berdzikir dan berdoa. Gus Aham memanggilnya dengan lambaian tangan, membuat aisyah menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa.


Rupanya, Gus Aham sudah selesai tawasul dan hendak mengaji untuk Aisyah dan bayinya. ia pun memulai dengan surat Al-fatihah, surat Yusuf, surat Maryam dan surat Luqman.


Sambil mengaji Gus Aham memegang dan sesekali mengelus perut Aisyah yang mulai membuncit itu. ketika Gus Aham sudah selesai dengan ngajinya, Gus Aham tidak lupa untuk mendoakan istri dan anaknya.


Ia beralih posisi, duduk jongkok di depan Aisyah yang sedang duduk di sofa. Gus Aham menempelkan pipinya pada perut Aisyah, lalu membaca ayat kursi, surat Al-ikhlas, Al-muawidzatain, dan Al-fatihah dan terakhir membaca doa untuk kesehatan dan keselamatan serta kelancaran bagi istri dan bayinya ketika melahirkan nanti.


Begitu selesai, Gus Aham mengusap perut Aisyah dan beberapa kali menciumnya. lalu ia beralih duduk di samping Aisyah dan mencium puncak kepala istrinya yang masih terbalut mukena.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul setengah empat, sebentar lagi subuh.


"Sebentar lagi subuh, Gus. saya ngaji dulu, nggeh?.", ucapnya meminta izin pada suaminya. Gus Aham mengiyakan permintaan istrinya.


Aisyah bergegas mengambil Qur'an kecil Utsmani cetakan bairot yang sudah menjadi sahabatnya dalam muroja'ah. ia duduk bersila, bertawasul dan mulai membaca hafalannya.


Sementara, Gus Aham sibuk dengan laptopnya. ia membalas dan membaca email yang masuk.


" Sintya ada waktu, besok.", Gus Aham membaca email dari Mike yang sudah masuk semalam. lalu menatap Aisyah yang memunggunginya.


"Ok". pesan email itu terkirim pada Mike.


Itu berarti, hari ini ia harus membawa Aisyah untuk menemui Sintya. Gus Aham terdiam, ia nampak berpikir serius, tapi sesekali wajahnya menunjukkan keraguan.


"Haruskah, ia melakukan ini semua?.", batinnya.


Hingga Aisyah, menyadarkannya dari lamunan dan mengajak Gus Aham menunaikan shalat subuh.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gus Aham juga menceritakan mimpinya pada Ummi, yang mana itu membuat Ummi ikut khawatir. jadilah, Gus Aham membawa Aisyah ke Surabaya. mereka berangkat setelah sarapan pagi bersama keluarga besar.


Perjalanan di tempuh sekitar dua jam lewat tol. begitu sampai di kota Surabaya, Gus Aham segera mengajak Aisyah menemui Sintya. seorang dokter di bidang kebidanan yang bertugas di rumah sakit Siloam Surabaya.


"Pagi.", sapa wanita cantik yang sudah menunggunya bersama Mike. begitu Gus Aham dan Aisyah turun dari mobil.


"Aisyah. kenalkan, ini Sintya dokter spesialis kebidanan yang akan membantu kita hari ini.", ucap Gus Aham memperkenalkan istrinya dengan dokter berparas cantik itu.


Aisyah mengulurkan tangannya, dan mereka pun saling berjabat tangan.


"Aisyah.",


"Panggil saya, Sintya saja. biar lebih akrab.", ucapnya lantas mereka saling melempar senyum.


"Ok, semua sudah siap. ayo masuk.", ajak Mike pada mereka.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang pemeriksaan milik Sintya. sesampainya di sana, Aisyah segera di minta untuk berbaring di ranjang tempat Sintya biasa memeriksa pasien.

__ADS_1


Yang pertama di lakukan adalah mengecek tekanan darah, lalu menyelimuti bagian bawah anggota tubuh Aisyah.


Sintya mengoleskan gel pada perut Aisyah lalu menempelkan alat ultrasonografi (USG) untuk mengetahui lebih lanjut kondisi janin di perutnya.


Sintya menjelaskan apa yang terlihat di layar. sebuah janin kecil dengan detak jantung yang sempurna, ia sangat sehat tumbuh disana.


Begitu selesai, Sintya segera mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui proses amniosentesis, dan chorionic villus sampling yaitu mengambil sampel dari plasenta. sementara di ruangan lain, Gus Aham dengan di temani Mike sedang di ambil sampel darahnya oleh asisten perawat Sintya.


Aisyah merasa aneh dengan prosedur pemeriksaan ini, tapi ia tidak berani bertanya. mengingat suaminya pasti melakukan yang terbaik untuk ia dan bayinya.


Semua prosedur selesai, Aisyah keluar dari ruangan. sementara Gus Aham masuk ke dalam ruangan kerja Sintya.


"Sebenarnya, ini pemeriksaan apa?.", tanya Aisyah pada Mike yang duduk menemaninya menunggu Gus Aham berkonsultasi dengan Sintya.


"Hanya pemeriksaan dini untuk memproteksi kesehatan janin. Aham, ingin tau bahwa putranya baik-baik saja, tidak kekurangan enzim yang menyebabkan penyakit mematikan seperti, anemi lupus, hingga kanker.", ucap Mike menjelaskan salah satu manfaat dari tes kesehatan yang baru saja di lakukan oleh Aisyah dan Gus Aham.


"Baiklah, hasilnya akan keluar dalam waktu satu sampai dua Minggu.", ucap Sintya ketika keluar dari ruangan disusul Gus Aham di belakangnya.


"Terimakasih.", ucapnya. lalu menjabat tangan Sintya.


Aisyah dan Mike langsung berdiri begitu melihat Sintya dan Gus Aham keluar dari ruangan itu.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu.", ucapnya pamit undur diri. lantas ia berjabat tangan dengan Sintya dan Mike, begitu juga dengan Aisyah.


Gus Aham dan Aisyah berjalan beriringan keluar rumah sakit meninggalkan Mike dan Sintya yang masih menatap punggung mereka.


"Kau, tau?. ini terlalu kejam bagi gadis sepolos dan semanis dia.", ucap Sintya pada Mike menyayangkan tindakan dan keputusan Gus Aham kali ini.


Mike menghela nafas dalam, masih melihat Gus Aham yang menuntun Aisyah.


"Aku, tau. tapi ia tidak akan bisa tenang jika tidak melakukannya.", jawab Mike.


Sintya yang melihat kekasihnya ikut merasa bersalah itu, hanya menepuk pundak Mike beberapa kali dan mengelus punggungnya untuk menenangkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2