Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 109


__ADS_3

Selesai bertemu dengan Gus Aham, Gus Ma'adz dan pengacaranya. Mike dan Sintya pamit undur diri. mereka harus kembali, mengingat pekerjaan mereka yang di butuhkan sewaktu-waktu.


Mobil yang di naiki Mike dan Sintya berhenti di sebuah cafe. mereka ingin mencari minum dan makan, sambil memikirkan langkah apa yang harus di ambil, untuk membantu Gus Aham berikutnya?!.


Seorang pramusaji menghampiri mereka. menyodorkan list menu yang tersedia di cafe itu.


Sintya dan Mike menerimanya, dan mereka segera memesan.


"Dua beef steak tenderloin with black paper sama dua jus orange no sugar.", ucap Sintya mewakili kekasihnya.


Ia tau, Mike sedang tidak ingin memikirkan apapun kecuali sahabatnya. jadi, Sintya berinisiatif memesankannya untuk sang kekasih.


Ya, bagaimana pun mereka sudah lama bersahabat. bahkan perbedaan keyakinan tidak mempengaruhi eratnya persahabatan mereka.


Justru Mike merasa nyaman bisa bertukar pikiran dengan Gus Aham. baik itu masalah hobi mereka yang sama-sama suka otomotif. bahkan sampai pengajaran spiritual. dan mereka, tetap menekuni agamanya masing-masing.


Mike nampak memainkan ponselnya. ia berselancar di Instagram miliknya. awalnya, ia hanya ingin melihat postingan dari bengkel yang di kelola Gus Aham. apakah ada modif motor terbaru?!.


Tapi tangannya berhenti menggeser layar, ketika ia melihat sebuah video.


Ia seperti mengenal sosok yang berada di dalam video itu dari posturnya. video perkelahian antara dua orang di jalan tol, yang mengakibatkan salah satu dari mereka terjatuh.


Tangan Mike fokus mengulang-ulang video itu. warna mobil Jeep yang sama dengan milik Gus Aham.


Berulang kali juga ia menghentikan putaran video itu, saat merasa ada yang aneh. mungkinkah, ini....?!.


"Beb, coba lihat ini!.", ucapnya. ia lantas menggeser tempat duduknya di samping kekasihnya.


Sintya segera mendekatkan dirinya pada Mike. ia fokus menatap layar ponsel kekasihnya.


"Itu, kaya' mobil Jeep milik Aham kan, beb?!.", ucap Sintya.


"Kamu juga mikir gitu, beb?.",


"Loch, itu kan jelas beb.", jawab Sintya.


"Coba putar ulang di menit ini.", ucap Sintya. lantas ia menggerakkan laju menitan sesuai yang di inginkan. ia menekan layar dan menghentikan putaran video itu. lalu merenggangkan kedua jarinya untuk memperbesar gambar dalam video itu.


"Lihat beb!. meskipun plat nomernya, ndak terlalu jelas. tapi lihat!. di bagian pintu dekat ban mobil itu.", ucap Sintya. ia memperbesarnya lagi, agar terlihat sedikit lebih jelas. meskipun video itu sendiri tidak terlalu jelas karena curah hujan yang turun.

__ADS_1


"Ini simbol yang kalian buat, untuk bengkel otomotif Aham kan, beb?!.", Sintya menunjuknya. membuat Mike fokus menatap layar ponselnya.


Ya. simbol dengan huruf besar A dan M, lalu tulisan latin "otomotif" tertulis jelas disana.


Tulisan itu tidak terlalu besar dan bertempat di pintu bagian kemudi, di samping ban mobil Jeep milik Gus Aham.


Mike yang mengingat sesuatu. segera mengcopy link video tersebut. ia kemudian mendownload nya. bagaimanapun, ini adalah bukti bahwa temannya tidak bersalah.


Tidak lupa juga, Sintya mengingatkan Mike untuk men screen shot nama dari akun Instagram yang memposting video itu, dan sudah di bagikan beratus-ratus kali.


"Kita, harus nemuin orang itu, beb. dia bisa jadi saksi kunci untuk persidangan Aham.", ucap Sintya. dan Mike mengangguk setuju dengan ide calon istrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Mulai lah, mereka mencari info siapa yang mengunggah video itu ke media sosial.


Di sela-sela pekerjaan nya, Mike dan Sintya harus bolak-balik ke tempat Nigham. ia tau, Nigham ahli dalam permainan komputer, dan lacak melacak. apalagi, cuma melacak akun kloningan yang tidak menyertakan user pada akun sosmed nya.


Di tempat lain....


Riko baru saja, memarkir mobilnya di depan panti. ya, ia baru saja pulang dari tugasnya. ini hari Sabtu sore, dan ia langsung meluncur pulang ke panti begitu ada waktu senggang.


Maklum, pekerjaan nya tidak ada cuti. dia seorang dokter ahli bedah. dan sedang bertugas di salah satu rumah sakit di kota Batu, Malang.


"Waalaikum salam.", jawab mba Yati. yang terlihat tergopoh-gopoh berlari ke ruang tamu.


"Oalah, kamu to, ko?!. tak kirain tamu.", ucap mba Yati. yang mengulurkan tangannya pada Riko. Riko segera meraih dan mencium tangan orang yang memiliki andil dalam pertumbuhannya di panti. ia tersenyum.


"Emang, Riko bukan tamu, mba?!.",


"Bukanlah. kamu, ini penduduk panti. bukan tamu.", ucap mba Yati ketus, yang di balas senyuman oleh Riko.


"Sepi, mba?!.", tanyanya, saat ia mengikuti mba Yati masuk.


"Sepi. anak-anak sekolah. ibu, mas Raihan sama mba Aisyah di rumah sakit. cuma ada mba Mira, sama anaknya.", jawab mba Yati. yang kini tengah sibuk membersihkan kursi dan perabot ruang tamu dengan kemoceng.


"Abel?!.", tanya Riko.


"Lach..., kamu ketinggalan berita. mba Mira, ngelahirin lagi. udah ada satu bulan lebih. anaknya cowok, namanya Michael.", jawab mba Yati. Riko menganguk-angguk mendengar cerita mba Yati.

__ADS_1


"Yasudah, mba. saya, mau nemuin mba Mira, dulu ya?!.", pamitnya.


"Ho'oh.",


Riko melangkahkan kakinya menyusuri lorong yang menghubungkan kamar Aisyah dan kamar mas Raihan. ia melihat mba Mira di gazebo depan kamarnya.


Nampak seorang bayi laki-laki tengah terlelap di baby walker, samping tempat mba Mira duduk. sementara mba Mira, fokus mengerjakan materi seminarnya untuk besok.


"Assalamualaikum, mba.", sapa Riko, ketika sudah berdiri di depannya. mba Mira melihat sekilas, lalu menghentikan aktivitas nya


"Waalaikum salam.", jawabnya. Riko tersenyum dan segera duduk di pinggiran gazebo.


"Baru sampek?.", tanya mba Mira. Riko mengangguk.


"Mba. katanya, Aisyah sakit?!.", ucap Riko, setelah suasana hening di antara mereka.


Mba Mira diam mendengar ucapan Riko.


"Sakit apa?!.", sambungnya lagi. mba Mira hanya menghela nafas. ia menggeleng, pertanda tidak ingin membicarakannya dengan Riko.


Riko yang sudah hidup dari kecil di panti, tentu saja sudah paham dengan jawaban itu.


"Mba. minta izin ke kamar Aisyah.", ucapnya. membuat mba Mira menautkan kedua alisnya. Riko menghela nafas, lalu tersenyum.


"Jadi, sekitar satu Minggu yang lalu Aisyah, telepon. minta tolong, suruh ngambil sesuatu di laci kamarnya.", ucap Riko. menceritakan pada mba Mira.


"Sesuatu apa, Rik?.", tanya mba Mira, ingin tahu.


"Katanya, sesuatu yang harus di serahkan pada Gus Ma'adz.", jawabnya.


Sesuatu yang harus diserahkan pada Gus Ma'adz?!. mungkinkah, itu bukti bahwa Gus Aham tidak bersalah?!, pikir mba Mira.


"Izin masuk ya, mba?!.", pintanya. membuyarkan lamunan mba Mira.


"Iya.", jawabnya, disertai anggukan.


Riko segera beranjak pergi menuju kamar Aisyah. ia segera masuk dan berjalan ke meja samping ranjang.


Perlahan, ia membuka laci itu. nampak sebuah amplop bertuliskan namanya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2