
Akhirnya, setelah menyelesaikan prosedur rumah sakit. Aisyah bisa keluar sekarang.
Gus Aham menggendong istrinya ke mobil BMW miliknya. lantas, kemudian ia membantu ibu memasukkan barang-barang dan baju ganti mereka, selama tinggal di penginapan.
"Monggo, Bu.", (silahkan, Bu).", ucap Gus Aham, ia membukakan pintu mobil bagian belakang pada ibu mertuanya.
Setelah ibu naik, Gus Aham segera menutup pintu mobilnya. ia pun segera beralih ke depan, untuk masuk mobil dan duduk di belakang kemudi.
Ia membenarkan posisi kursi istrinya, agar Aisyah bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman. sehingga istrinya tidak merasa lelah karena perjalanan jauh.
Sementara di ndalem....
Semua sedang sibuk. ada Ning Dija dan Ning Shofy, yang meminta kang-kang untuk meniup balon. dan mereka membuat hiasan aneka bentuk dari kertas lipat.
Sementara Ning Nafis dengan di bantu mba-mba ndalem, terlihat sedang menghias tumpeng. total ada 27 tumpeng dalam nampan besar.
Rencana nya, tumpeng-tumpeng itu akan di bawa ke masjid, tempat Abah biasa ngaji Hikam bersama santri dan para masyarakat sekitar, sebelum beraktivitas sehari-hari. (Bagi masyarakat, sebelum pergi kerja. baik itu ke sawah, ataupun kerja lainnya. dan bagi santri, tentu saja sebelum pergi sekolah diniyah).
Ada juga yang di bawa ke pondok tarbiyah. pondok asuhan Gus Ma'adz dan Ning Nafis, yang masih berada satu kompleks dengan pondok Abah dan Ummi.
Ada yang di bawa ke pondok putri. dan yang paling banyak di bawa ke pondok induk putra.
Tidak lupa, sebelum tumpeng di makan bersama. pastinya, di adakan tahlil dan doa. tentu saja, doa kali ini selain ditujukan untuk kesehatan semua, baik keluarga ndalem ataupun para santri. tahlil ini, juga di khususkan sebagai rasa syukur atas semua karunia Allah, yang tidak putus pada keluarga mereka.
Terlebih, karena Aisyah, dan Gus Aham serta calon cucunya telah selamat, sehat tidak kurang suatu apapun.
Mobil mas Raihan, memasuki pelataran ndalem. segera, ia membantu istrinya menurunkan keperluan anak-anaknya yang tersusun rapi dalam tas.
Tak berapa lama, beberapa mba ndalem datang, untuk membantu mba Mira membawa barang-barang nya ke ndalem.
Sementara mas Raihan, membuka bagasi mobilnya. yang membuat para kang-kang segera merapat ke mobil Honda CRV berwarna putih miliknya.
"Hati-hati ya, kang?!.", pesan mas Raihan, saat melihat kang-kang mulai mengangkat karung berisi buah semangka keluar dari bagasi mobilnya.
Ada sekitar 5 karung yang di bawa. entah berapa kwintal beratnya. yang jelas, sesuai anjuran adiknya ia membawa buah itu ke ndalem.
__ADS_1
Aisyah bilang, biasanya setelah makan bersama. mereka suka makan semangka, jadilah kakaknya memborong semua semangka yang ada di penjual buah, saat ia dan sang istri melewati penjualnya ketika menuju pondok.
"Assalamualaikum, Ummi.", sapa mba Mira. lantas meraih tangan ummi, dan menciumnya.
"Waalaikum salam.", sahut Ummi. Abel dan mas Raihan pun, melakukan hal yang sama dengan mba Mira ketika bertemu Ummi.
"Nggowo opo, to nduk?!.", (bawa apa, nduk?!).", tanya Ummi. yang melihat, kang-kang tengah mengangkat karung-karung dari bagasi mobil mas Raihan.
"Semongko, Ummi. damel seger-segeran.", jawab mba Mira.
"Alhamdulillah. seger tenan, itu nduk. tapi maleh ngrepotin.", ucap Ummi, sumringah.
"Saya, malah yang ngrepotin, Ummi. ndak ikut bantu-bantu, kesini cuma mau makan bareng.", jawab mba Mira, basa-basi.
"Alhamdulillah. Ummi, malah seneng. enek seng bantu habisin. ya to, fis?!.", seloroh Ummi. yang melihat mba Nafis baru saja masuk ke ruang tengah.
"Betul.", jawab Ning Nafis. lalu, memeluk mba Mira.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ning Nafis lantas membantu mba Mira mendorong stroller baby Michael ke ruang tengah, agar bayi gemuk berusia dua bulan lebih itu, bisa melanjutkan tidurnya dengan nyenyak.
"Mungkin masih di jalan, mi. jadi, ndak bisa angkat telepon.", jawab Ning Nafis, mencoba menenangkan mertuanya.
"Ummi, duduk dulu. sebentar lagi, tahlil dan doa di mulai.", bujuk Ning Nafis.
Baru saja, Ummi hendak bergabung untuk duduk bersama mba Mira, Ning Nafis dan yang lainnya. nampak sebuah mobil BMW berwarna hitam memasuki pelataran ndalem.
Ya. itu mobil Gus Aham. mobil itu, nampak berhenti setelah parkir dengan sempurna.
Nampak Gus Aham keluar dari mobil di antara lalu lalang para kang-kang yang sibuk membawa tumpeng ke masjid, ke pondok tarbiyah, pondok putri dan pondok induk.
Gus Aham, terlihat membukakan pintu untuk ibu mertuanya. dan ia beralih ke sisi mobil bagian depan lainnya, membuka pintu mobil untuk Aisyah.
"Saya, jalan aja mas.", ucap Aisyah.
__ADS_1
"Gendong aja.",
"Malu, banyak kang-kang, santri, mba ndalem, dan...,
Kata-kata nya urung selesai. tapi, suaminya sudah meraih tubuhnya.
"Mas, malu.", bisiknya.
"Ndak akan ada yang bilang aneh-aneh. kan, kamu lagi sakit. dan lagi, kita kan suami istri.", jawabnya lirih. sambil menggendong istrinya menuju ndalem.
Sementara ibu, di dampingi mas Raihan berjalan menuju ndalem.
Ummi, sudah berlari lebih dulu ke teras ndalem saat ia benar-benar yakin Gus Aham yang datang.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham. saat ia sudah berdiri di teras ndalem.
"Waalaikum salam.", ucap semua yang ada, termasuk Ummi. Ummi lantas meraih tangan dan mengecup kening menantunya cukup lama. ada air mata bahagia, yang nampak di sudut matanya.
"Bawa ke dalam, le.", perintah Ummi. dan Gus Aham segera membawa istrinya masuk dan duduk di kursi yang berada di ruang tengah, setelah sebelumnya mba Mira menata bantal untuk sandaran adik iparnya.
"Sehat, yu?!.", tanya Ummi, begitu berhadapan dengan besannya.
"Alhamdulillah.", jawab ibu. mereka pun segera berpelukan. Ummi dan ibu, sama-sama nampak sumringah dengan pertemuan mereka kali ini.
"Ayo, masuk. yu. istirahat dulu.", ajak Ummi. tangannya menggandeng erat tangan ibu. pertanda mereka benar-benar bahagia.
Acara tahlil dan doa bersama sudah di mulai. Abah menggunakan microphone agar semua bisa mendengar dan mengikuti tahlil bersamanya.
Baik yang berada di masjid, musholla dan pondok putri, pondok tarbiyah dan pondok induk putra.
Terdengar alunan surat-surat pendek, tahlil, tahmid dan kalimat-kalimat toyyibah lainnya berkumandang, bersahut-sahutan mengetuk pintu langit pagi itu.
Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan menentramkan hati. cara bersyukur yang indah, atas segala nikmat dan karunia yang Tuhan berikan pada keluarga mereka.
Tentu saja, setelah acara doa dan tahlil bersama selesai. acara di lanjutkan dengan makan tumpeng bersama. bahkan, Gus Aham, Gus Ma'adz, Abah dan mas Raihan. tidak ragu untuk menyantap tumpeng bersama para jama'ah dan masyarakat yang hadir.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
🌺TO BE CONTINUED 🌺