
Ummi benar-benar bahagia sampai meneteskan air mata karena terharu mendengar hasil pemeriksaan dokter Fitri yang mengatakan Aisyah telah berbadan dua.
"Ning Aisyah, hanya terlalu kelelahan, Bu. maklum usia kandungannya masih kurang dari dua Minggu, masih sangat rentan. jadi harus banyak istirahat.", ucap dokter Fitri menjelaskan keadaan Aisyah.
"Tapi, Aisyah ndak apa to, Dok?.", tanya Ummi.
"Ndak apa, Bu. kandungannya kuat.",
"Alhamdulillah.", ucap Ummi lega.
Gus Aham yang mendengar berita itu hanya diam mematung. ada perasaan senang dan sedih, ia bingung dengan perasaannya.
Senang karena ia bisa membahagiakan Ummi, mengabulkan permintaan Ummi, juga senang karena ia akan memiliki versi junior dari dirinya dan Aisyah.
Sedang, Gus Aham merasa sedih karena ia tau, ia belum layak menjadi seorang ayah. ia sendiri masih belum bisa menjadi anak yang berbakti dan suami yang baik bagi Aisyah, bagaimana bisa ia menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya?.",
Dokter Fitri mengemasi semua peralatannya dan pamit undur diri dari kamar Aisyah dengan di antar Ning Nafis.
Aisyah terbangun, kepalanya sedikit berat dan badannya lemas. Ummi segera membantunya bangun untuk duduk.
"Alhamdulillah, Nduk.", ucap Ummi meraih tangan Aisyah lalu menciuminya.
Aisyah yang melihat perlakuan Ummi padanya bingung dan bergegas menarik tangannya.
"Ummi, jangan gitu.", ucapnya dengan suara lemah.
"Matur nuwun ya, Nduk.", ucap Ummi memeluk Aisyah erat.
Aisyah yang tidak tahu apa-apa, merasa heran. ia memandang Gus Aham dan Ning Nafis bergantian. raut wajahnya menanyakan sebuah pertanyaan.
Ning Nafis mendekati Ummi dan Aisyah.
"Kamu hamil, nduk.", ucap Ning Nafis pelan. aisyah masih belum faham. Ummi melepaskan pelukannya.
"Tadi, kamu pingsan di depan kamar Ummi. trs di bawa Aham ke kamar, pas di periksa dokter Fitri katanya kamu positif hamil.", sambung Ning Nafis menjelaskan.
Aisyah tersenyum bahagia. ia melihat Ummi yang begitu bahagia sampai meneteskan air mata.
"Ummi mau punya cucu to, nduk?.", tanya Ummi menjelaskan. aisyah hanya tersenyum dan mengangguk melihat Ummi yang begitu bahagia dan terus menggenggam tangan Aisyah.
Aisyah menoleh ke arah suaminya yang berdiri tidak jauh dari ranjang. ada perasaan ragu di hati Aisyah atas kehamilannya, apakah Gus Aham senang?!.", tanyanya dalam hati. dan itu terjawab dengan senyuman Gus Aham saat Aisyah melihatnya.
"Tok....,
"Tok....,
"Tok....,
Ning Nafis membuka pintu kamar Gus aham.
__ADS_1
"Nganter sarapan buat Ning aisyah dan Gus Aham, Ning.", izin mba ndalem yang membawa nampan berisi sarapan dan aneka buah. Ning Nafis mempersilahkan dan memberi isyarat untuk menaruhnya di meja.
"Assalamualaikum.", terdengar ucapan salam di balik pintu. Ning Nafis membukanya lagi.
"Ono opo, mba (ada apa,mba)?.", tanya Ning Nafis yang melihat mba ndalem berdiri di depan kamar Gus Aham.
"Wonten tamu damel ibu, saking Magelang", (ada tamu buat ibu, dari Magelang).", jawabnya.
"Abah ndak ada, to?.", tanya Ning Nafis.
"Wonten. tapi tamunipun jaler kalian estri, Ning.',
(ada. tapi tamunya laki-laki dan istrinya, Ning).",
"Suruh tunggu, mba.", ucap Ning Nafis. lalu mba ndalem itu undur diri, di ikuti mba ndalem yang membawa sarapan tadi.
"Mi, ada tamu dari Magelang.", ucap Ning Nafis setelah menutup pintu.
"Abah mu, ndak ada to?.", tanya Ummi sambil menyuapi Aisyah.
"Ada, mi. tapi kata mba-mba, tamunya suami istri.",
"Oalah...,". ucap Ummi sedikit kecewa.
"Aisyah, bisa makan sendiri kok, mi.", ucapnya meyakinkan lalu mengambil alih mangkuk berisi nasi soto dari tangan Ummi.
Ummi menghela nafas.
"Ayo, fis. kita keluar, biar Aisyah bisa istirahat juga.", ajak Ummi yang segera di angguki Ning Nafis.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aisyah menyuapkan sesendok ke mulutnya, tapi ntah kenapa?!, itu membuatnya mual dan ingin muntah.
Gus Aham segera mendekatinya. ia mengambil beberapa tisu dengan cepat, lalu menumpuknya.
"Muntahkan disini.", ucapnya sambil mendekatkan tisu itu di bibir Aisyah.
Aisyah menggeleng. "kenapa?.", tanya Gus Aham.
"Cuman mual, ndak bisa muntah, Gus.",
"Kalau begitu, makan dulu.", ucap Gus Aham yang di angguki Aisyah.
Aisyah hendak menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, tapi ia merasa mual lagi. ingin muntah lagi.
"Kenapa?.", tanya suaminya.
"Mual.", jawabnya. Gus Aham bingung apa yang harus di lakukan?!, mengingat ini adalah hal baru baginya.
__ADS_1
"Mau minum teh panas?.", tanyanya setelah beberapa saat tidak tau harus berbuat apa untuk meredakan mual sang istri. Aisyah mengangguk.
mungkin akan lebih baik bila kemasukan sesuatu yang hangat, pikirnya.
Aisyah memegangi cangkir berisi teh panas itu, ia hendak meminumnya tapi rasa mual itu datang menghampirinya lagi.
Gus Aham benar-benar tidak tau apa yang harus dilakukan?!. sampai akhirnya ia berinisiatif memegangi cangkir berisi teh panas itu dan meminumkannya secara perlahan.
"Ayo, sedikit-sedikit. pelan-pelan.", ucapnya.
ajaibnya, Aisyah tidak merasakan mual ketika suaminya yang meminumkannya. ia terdiam. mengingat tadi ketika ummi menyuapinya, ia juga tidak merasa mual. kenapa demikian?!, tanyanya dalam hati.
Aisyah meminta mangkok berisi makanan dan mencoba untuk makan sendiri. dan benar, ia merasa mual lagi, ingin muntah lagi.
"Sini.", ucap Gus Aham mengambil mangkuk itu dari tangan Aisyah.
"Makan pelan-pelan saja, sedikit-sedikit, asal perut bisa di isi.", ucapnya sambil menyuapi Aisyah pelan. dan kali ini, perutnya tidak menolak lagi. tidak mual lagi.
"kenapa begini?.", pikirnya.
"Ceklek.....,
Pintu kamar terbuka, terlihat Abah dan Ummi masuk. Ummi buru-buru berjalan ke arah Gus Aham dan Aisyah.
"Piye, nduk?!. sudah makan?.", tanya Ummi sambil duduk di tepian ranjang.
"Kok aneh ya, Ummi. aisyah minum sendiri mual, makan sendirian juga mual. tapi pas di suapi Ummi sama Gus Aham, ndak.", jawabnya. Ummi yang mendengar itu lantas tersenyum.
"Berarti itu, bayimu pengen di perhatikan terus nduk.", ucap Ummi.
"Hamil mu, persis kaya' Ummi mu hamil Aham. ngalem, minta terus di perhatikan, makan sampai minum harus di suapi. kalau makan minum dari tangan sendiri, mual muntah.", sahut Abah yang duduk di sofa kamar.
"Abah dulu, sampek ndak bisa kemana-mana. nduk.", sambung Abah yang membuat Ummi tersenyum mengingat masa-masa itu.
Aisyah terdiam, akan sulit baginya pisah dengan Gus Aham kalau seperti itu. kasihan suaminya,". pikirnya.
"Kenapa, nduk?.", tanya Ummi membuyarkan pikirannya.
"Ada cara lain ndak, mi?!. supaya bisa maem sendiri tanpa mual muntah?.", tanyanya.
"Dulu, kita maeme bathu ya, bah. (dulu,kita makannya sepiring berdua ya, bah).", ucap Ummi sambil menoleh ke arah suaminya.
"Iyo. jadi ya gitu biar Abah ndak nyuapi Ummi mu.",
Aisyah melihat gus Aham yang duduk di sebelahnya. ia merasa tidak enak kalau karena kehamilannya ini sampai merepotkan banyak orang terutama suaminya.
Gus Aham yang paham dengan jalan pemikiran Aisyah itu hanya tersenyum membalas kekhawatiran istrinya dan menggeleng, mengisyaratkan jawaban "tidak apa-apa.",
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺