Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 83


__ADS_3

Mereka menyantap durian bersama. Abah, Ummi dan Gus Ma'adz habis paling banyak. Ning Nafis, baru saja meletakkan air hangat di meja yang berada di ruang makan. ya, ia hafal betul, bagaimana suami dan mertuanya bila sudah bertemu dengan duren. bisa kalap, habis tak bersisa berapapun duren yang ada.


Maka dari itu, ia sudah menyiapkan air hangat untuk suaminya, juga untuk Abah dan Ummi.


Air hangat akan mengurangi lemak jenuh yang terkandung dalam durian. bisa mengurangi rasa mual dan mabuk setelah memakan rajanya buah itu juga.


"Abah, Abi. ingat, ya!.", ucap Ning Nafis. yang baru saja ikut duduk bersama mereka di ruang tengah. mengingatkan kedua orang yang sedang enak-enaknya makan buah duren.


"Ummi, juga.", ucap Gus Ma'adz dan Abah hampir bersamaan. yang membuat suasana hening sesaat sebelum tertawa bersama.


Ning Nafis tersenyum melihat semua anggota keluarga tertawa dan makan durian bersama. rasanya, sudah lama hal ini berlalu, dan tidak pernah terjadi lagi. sejak Gus Aham mengecewakan Abah dengan pilihan bisnisnya, bukan memilih mengurus pondok. sejak Gus Fahim yang pandai menghibur Abah dan Ummi pergi menuntut ilmu, untuk mempersiapkan dirinya sebagai penerus Abah dan Ummi. dan semua ini, berkat Aisyah menurutnya.


"Mi. sudah.", ucap Ning Shofy, yang belepotan durian di sekitar bibirnya. ia terlihat comot dimana-mana.


"Ayo. cuci tangan dulu.", ajak Ning Nafis, pada putrinya kecilnya.


Ia mengajak Ning Shofy ke belakang untuk cuci tangan. sementara Abah dan Gus Ma'adz masih berlomba menghabiskan durian yang tinggal beberapa biji pada belahan terakhir.


"Yang ini, buat besok ya, bah, Gus?!.", ucap Aisyah mengingat Abah dan kakak iparnya, dengan menunjuk dua buah durian yang tersisa.


"Di maem sendiri aja, buat kita.", bisik Gus Aham di telinga istrinya. Aisyah menoleh dan mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban tidak setuju dengan ide Gus Aham. membuat suaminya tersenyum melihatnya.


Bagaimana tidak?!. setelah setahun lebih mereka menikah, baru kali ini,.ia bisa melihat berbagai ekspresi wajah dari istrinya.


Dulu, Aisyah hanya tersenyum saat Gus Aham marah padanya. ataupun berdiam diri dan menghindar saat, sudah tak bisa menahannya. sekarang, wajah istrinya penuh ekspresi. membuatnya gemas dan selalu ingin menggodanya.


Ning Nafis kembali dengan Ning Shofy tepat saat duren habis di lahap Gus Ma'adz dan Abah. Aisyah segera mengulurkan ember berisi air untuk Abah dan Gus Ma'adz cuci tangan.


Sementara Ning Nafis memberikan air hangat pada Ummi, Abah dan Gus Ma'adz.


"Minum dulu, mi.", ucapannya. membuat Ummi menerima segelas besar air putih hangat dari genggaman Ning Nafis.


"Abah sama Abi, juga ya?!.", ucap Ning Nafis lagi. ia mengulurkan segelas air hangat yang sama besarnya pada mertua dan suaminya.

__ADS_1


"Ning Dija. sini!.", Aisyah memanggil keponakannya. ia terlihat masih menjilati sisa buah durian di jarinya.


"Kenapa, bulek?.",. tanyanya. ia duduk di hadapan buleknnya.


"Sini, tangannya di bersihin.", ucap Aisyah yang mengulurkan ember berisi air pada Ning Dija.


"Pake tisu basah ae lo, bulek. ben wangi.", ucapnya.


"Cuci dulu, baru di lap pakai tisu.", jawab Aisyah mencoba memberi pengertian pada Ning Dija.


Ning Dija pun mengulurkan tangannya pada Aisyah untuk di cuci dan kemudian di keringkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Senja beranjak malam, memperlihatkan cahaya bulan dan kilauan bintang yang mulai terlihat bertebaran di langit-langit.


Menghiasi luasnya langit yang membentang di angkasa. Gus Aham duduk di balkon kamar, ia sedang mengecek laporan para orang kepercayaannya. sudah hampir satu minggu, ia tidak membuka emailnya. membuatnya, ketinggalan informasi terbaru dari perkembangan bisnis dan yayasan yang di kelolanya.


Sementara Aisyah, ia mulai repot berdiskusi dengan Ummi dan Ning Nafis untuk acara wisuda khotmil Qur'an yang akan berlangsung satu bulan lagi.


"Seragam wisudanya, sama kah dengan punya saya, mba?.", tanya Aisyah.


"Beda, nduk. tiap alumni, beda warna seragamnya.", sahut Ummi.


"Bahannya saja yang sama. sama-sama brukat, nanti di lapis furing.", jawab Ning Nafis menjelaskan.


Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya. pertanda ia mengerti maksud dari jawaban kakak ipar dan mertuanya.


"Nanti ada souvenir juga kan, mi?!.", tanya Ning Nafis, pada ibu mertuanya. Ummi mengangguk.


"Souvenir nya tetap sama, mi?!.", tanya Aisyah.


"Iya, nduk.", jawab Ummi.

__ADS_1


"Ini, Ummi. sedang balas pesannya percetakan yang biasa kita peseni Al-Qur'an, buat souvenir.", lanjut Ummi.


"Berarti, Qur'an kecil, yang muat di saku itu lho, nduk.", ucap Ning Nafis memperjelas perkataan Ummi.


Aisyah mengangguk dan menulisnya. ya, apapun yang di bahas malam ini, Aisyah menulisnya dengan cermat agar tidak ada kesalahan, saat ia menjalankan amanah dari Ummi. untuk mempersiapkan acara wisuda khotmil Qur'an.


Aisyah memasuki kamar. ia duduk di ranjang, meluruskan kakinya. ia mengecek dan menyusun kembali semua yang di katakan Ummi untuk acara wisuda.


Ia mulai menyusun jadwal, kapan harus pergi untuk memulai tugasnya, dan kemana dulu, ia harus pergi?!.


Tiba-tiba, ia merasakan geli dikakinya. ya, Gus Aham tiba-tiba masuk dari balkon, dan karena Aisyah terlalu fokus. ia tidak menyadari kehadiran suaminya yang melewatinya, sehingga Gus Aham menjahilinya dengan menggelitik kakinya, membuat Aisyah tertawa kegelian dan menggelinjang.


Ia menarik kakinya dan melipatnya. membuat Gus Aham bergeser untuk lebih dekat dengannya.


"Njenengan, mau apa?!.", tanya Aisyah, yang menyadari wajah suaminya semakin mendekat pada dirinya. Gus Aham tidak menjawab, ia hanya semakin dekat.


"Mas.", panggilnya. yang membuat Gus Aham menatapnya. kening Aisyah berkerut melihat suaminya.


"Mas, cuma mau lihat hasil rapat kamu sama Ummi. memangnya mau apalagi?!.", ucap Gus Aham.


Aisyah terdiam mendengar jawaban suaminya. ia sudah berpikir tentang hal-hal aneh yang akan dilakukan suaminya, tapi kenyataannya tidak sama dengan apa yang dipikirkannya. membuat ia menahan malu.


"Lihat kan, bisa bilang. nanti, saya kasih. ndak perlu kaya' gitu.", gerutu Aisyah.


"Emang kenapa kalau gini?!.", tanya Gus Aham yang masih tidak berubah dari posisinya. ia justru semakin mendekat. Aisyah terlihat menahan nafas, membuat Gus Aham tertawa dan menjauh darinya.


Aisyah merasa kesal dengan sikap suaminya akhir-akhir ini, karena senang sekali menggoda atau membuatnya tersipu malu.


"Memangnya kalau, mas mau. trus, kamu mau apa?!.", tanyanya. ia mendekat kan wajahnya pada Aisyah. membuat Aisyah berpaling untuk menghindari kontak mata dengan suaminya.


Ia berusaha mengontrol nafas dan debaran jantungnya. Gus Aham meraih pipi Aisyah, berusaha membuat istrinya menatap dirinya. Aisyah hanya menurut, sementara Gus Aham semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Aisyah. begitu dekat, hingga membuat Aisyah mengatakan.


"Mas. sholat isya' dulu, ya?!.", ucapnya. lalu berlari ke kamar mandi, meninggalkan Gus Aham yang masih berada di tempatnya. ia tersenyum melihat cara istrinya, menghindari dirinya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2