Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 33


__ADS_3

Akhirnya, hari ini Gus Aham dan Aisyah pulang setelah dua hari di Surabaya.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara, mereka saling diam. hingga akhirnya mobil yang mereka naiki memasuki gapura ndalem.


Seperti biasa, Gus Aham turun lebih dulu lalu beralih ke sisi lain untuk membuka pintu mobil bagi Aisyah.


Begitu Aisyah turun, Gus Aham segera menutup pintu mobil dan mengajak Istrinya masuk. sementara kang Mu'idz mengeluarkan barang-barang milik Aisyah dan Gus dari mobil dan membawanya ke kamar Gus Aham.


"Ummi, Abah", sapa Gus Aham begitu memasuki ndalem dan bertemu dengan Abah dan Ummi yang sedang duduk di ruang tengah.


Gus Aham dan Aisyah segera mencium tangan Abah dan Ummi.


"Capek, Nduk?.", tanya Ummi. aisyah hanya tersenyum.


"Yowes. le, bawa istrimu istirahat. Ummi sama Abah masih ada yang mau dibicarakan.", perintah Ummi.


"Ngomongin apa, Mi?.", tanya Gus Aham.


"Ini lho, persiapan buat acara tiga bulanan Aisyah.", jawab Ummi.


"Nduk. kamu mau yang kaya' gimana dekorasinya?.", tanya Ummi sambil memperlihatkan foto-foto dekorasi ruangan.


"Ndak usah neko-neko, Ummi. yang sederhana saja.", jawab Aisyah.


"Kalau Nafis, dulu yang ini lho, Nduk.", ucap Ummi menunjukkan sebuah foto dengan dekorasi nuansa putih dan banyak bunga menghiasi sekitar ruangan, ada yang ditata sedemikian rapi dan ada beberapa bunga yang di gantung sebagai hiasan dan dekorasi langit-langit.


Aisyah tersenyum. ia tidak menginginkan semua itu, yang ia inginkan hanya kesehatan untuk suami dan bayinya.


"Aisyah, manut. Ummi. tapi Aisyah hanya minta doa untuk Gus Aham dan calon anak Aisyah, agar selalu sehat.", jawabnya.


"Pasti, Nduk.", jawab Ummi.


"Ummi, Abah. Aisyah izin ke kamar dulu.", pinta Aisyah yang di angguki kedua mertuanya. ia lantas pergi meninggalkan mertua dan suaminya yang masih berdiskusi di ruang tengah.


Ummi dan Abah meminta pertimbangan pada Gus Aham mengenai acara tiga bulanan Aisyah, oleh sebab itu Gus Aham tinggal.


"Yowes. positif yang ini ya, le?!.", ucap Ummi yang di angguki Gus Aham.


"Trus, acara siangnya jadi ngaji to, mi?.", sahut Abah.

__ADS_1


"Injih, bah. pagi sampai sore sema'an Qur'an, trus sorenya di sambung khataman sama santunan anak yatim.", jawab Ummi.


"Jumlah anak yatimnya sudah tau?.", tanya Abah.


"Kata Aisyah, kemarin. sekitar 70 anak panti dan 35 anak non panti.", sahut Gus Aham.


"Ngapunten, Gus. tapi sanjange ibu lare panti danten 125, Gus.


(Maaf, Gus. tapi kata ibu anak panti total ada 125, Gus).", ucap kang Mu'idz yang sedari tadi duduk di dekat kursi Abah dan mencatat semua kebutuhan dan persiapan untuk acara itu.


"Kang Mu'idz, itu sudah sama yang non panti?.", tanya Ummi.


"Sampun, Bu.", jawabnya.


Gus Aham, Ummi, Abah dan kang Mu'idz masih mengobrol dan saling bertukar pikiran. mereka sama-sama ingin memberikan yang terbaik untuk Aisyah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Tiga hari menjelang acara tiga bulanan, Gus Aham sering pergi keluar pagi dan pulang petang. Aisyah kurang tau apa yang dilakukan suaminya, tapi yang jelas sikap Gus Aham semakin dingin. ia tidak terlalu mempedulikan Aisyah lagi.


Sapa, hanya sekedar sapa. tanya, hanya sekedar tanya. tidak ada senyuman manis, sapaan mesra, perlakuan hangat ataupun perhatian ekstra.


Tapi Aisyah berfikir bijak. mungkin memang suaminya sedang sibuk. buktinya, ia keluar pagi dan baru kembali petang.


Saat suaminya berganti pakaian, ia berjalan ke arah pintu kamar dan menutupnya, karena ia tadi belum menutup pintu di karenakan membawa senampan makanan untuk suaminya.


Gus Aham duduk di sofa, ia bersiap hendak makan.


"Sudah makan?.", tanyanya pada Aisyah. Aisyah mengangguk.


"Masih muntah?.", tanyanya lagi, Aisyah menggeleng.


"Bagus. kamu harus terus berusaha, jangan manja.", ucapnya. Aisyah mengangguk dan tersenyum.


Aisyah meninggalkan Gus Aham yang sedang menikmati makan malamnya. sebenarnya, ia belum makan, satu-satunya yang bisa masuk ke mulutnya adalah permen. dari kemarin malam Aisyah hanya bisa memakan permen dan meminum air putih hangat. selain itu dia muntah.


Gus Aham memintanya untuk berusaha mandiri akhir-akhir ini. Aisyah mencoba faham, ia tau suaminya sibuk. selain pekerjaan Gus Aham sendiri, ia juga harus mengurus pondok bersama Gus Ma'adz. pasti sangat melelahkan untuknya.


Aisyah pun mencoba mandiri. ia bersyukur sekarang sudah bisa minum sendiri dari tangannya, mungkin beberapa hari lagi ia bisa makan dari tangannya sendiri.

__ADS_1


Sebuah notif pesan WhatsApp masuk ke ponsel Gus Aham. kali ini ia mendapat kiriman foto lagi, foto Aisyah berada di restoran bersama seorang laki-laki.


Lagi-lagi foto laki-laki itu tidak jelas dan hanya punggungnya yang menghadap kamera. Gus Aham berhenti makan, ia menatap punggung istrinya yang tengah duduk bersila sambil muroja'ah hafalannya.


"Wanita seperti apa sebenarnya, kamu?." pikirnya.


Ia menghela nafas, beberapa hari lagi semua akan terbukti. tidak perlu terburu-buru, tidak perlu marah. Gus Aham mencoba mengkontrol emosinya dan menenangkan dirinya sendiri.


Gus Aham tidak melanjutkan makannya, ia memilih membuka laptop dan mengirimkan pesan email pada Mike.


"Kapan hasilnya keluar?.",


"Sekitar dua sampai tiga hari lagi."


"Ok."


Aisyah menyelesaikan muroja'ah nya. ia menutup mushafnya, lalu berjalan menghampiri suaminya.


"Sudah, Gus?!.", tanyanya yang hanya di jawab dengan anggukan tanpa melihatnya. Aisyah tersenyum, ia membereskan semuanya dan membawa sisa makanan ke dapur.


Sepanjang malam, setelah mereka pulang dari Surabaya. Aisyah dan Gus Aham tidak pernah tidur seranjang.


Gus Aham lebih memilih tidur di sofa. saat Aisyah bertanya, ia pasti beralasan bahwa ia bekerja hingga larut dan akhirnya tertidur di sana.


Aisyah hanya bisa percaya, karena memang akhir-akhir ini ia melihat suaminya begitu sibuk. mereka bahkan jarang bicara, karena Gus Aham selalu pergi pagi dan pulang petang.


Apa yang sebenarnya terjadi?!, Aisyah tidak tau dan tidak mengerti. kenapa setelah pulang pemeriksaan dari Surabaya hubungan mereka renggang?!. Aisyah juga tidak berusaha mencari tau. ia lebih memilih percaya pada ucapan suaminya, jika Gus Aham sedang banyak pekerjaan sehingga mudah lelah.


Ia hanya berharap dan berdoa semoga suami dan anaknya selalu sehat dan selalu di lindungi dari semua marabahaya.


"Nduk. coba kamu cek, ada yang kurang ndak?!, dari keluarga ibu?.", ucap Ummi meminta Aisyah untuk melihat daftar orang dari keluarganya yang akan di undang pada acara tiga bulanannya.


"Sudah, mi.", jawabnya setelah beberapa saat membaca nama-nama yang tertera di buku itu.


Gus Aham yang ikut duduk bersama Ummi dan Aisyah di gazebo itu, hanya fokus dengan laptopnya. menunggu balasan email dari Nigham, yang sampai sekarang belum memberikan info yang kemarin ia minta untuk di selidiki.


"Alamat IP bukan milik pribadi, Gus. itu alamat IP di salah satu warnet daerah Surabaya."


Sebuah email masuk yang segera di baca oleh Gus Aham, yang ternyata dikirim oleh Nigham.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2