Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 45


__ADS_3

Begitu Gus Aham sadar. Gus Ma'adz memintanya untuk istirahat dan makan terlebih dahulu, tapi ia menolak. ia ingin segera menemui Aisyah, apalagi setelah mendengar kalau Aisyah sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


"Makan dulu, le. baru nanti, mas. antar.", bujuknya.


"Aku harus segera ketemu, Aisyah. mas.", ucapnya seraya menolak mangkuk berisi bubur yang di berikan Gus Ma'adz untuk nya.


Gus Aham mencoba melepas jarum infus di tangannya, tapi di tahan oleh Gus Ma'adz.


"Makan dulu.", ucapnya penuh penekanan.


"Setelah makan. mas, panggil perawat kesini.", bujuknya lagi. Gus Aham terdiam menatap kakaknya.


Gus Ma'adz menghela nafas berat. ia hendak mengatakan sesuatu, tapi ragu.


"Kenapa, mas?.", tanyanya yang melihat kakaknya gelisah.


"Makan dulu, ya?!.", ucapnya.


"Kamu harus segera pulih, supaya bisa segera bawa Aisyah pulang.", ucapnya. suaranya terdengar tertahan.


Gus Ma'adz menyuapi Gus Aham. raut wajahnya terlihat sedikit muram, bibirnya seperti menahan amarah.


"Mas.", panggilnya setelah menelan bubur yang di suapkan Gus Ma'adz padanya. Gus Ma'adz malah menunduk, ia tidak mau menatap wajah adiknya.


"Kenapa, mas?.", ucapnya lagi, mengulang pertanyaan yang sama.


"Kita harus segera pulang.", jawabnya tetap dengan menunduk. ia menyuapi Gus Aham lagi.


Gus Ma'adz menghindari kontak mata dengan adiknya, seperti sekarang. menyuapi adiknya lalu mengalihkan pandangan, atau menunduk. ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tau Gus Aham perihal keadaan rumah.


Ning Nafis menelfon, mengatakan pada Gus Ma'adz bahwa Ummi sakit setelah mendengar pembicaraan nya dengan Abah soal Aisyah yang pergi dari rumah. padahal Ning Nafis dan Abah sudah berhati-hati, tapi ntah kenapa?!, masih juga Ummi mengetahuinya.


Waktu itu. Abah datang ke ndalem Gus Ma'adz untuk melihat ternak burung kenari dan love bird milik Gus Ma'adz.


"Assalamualaikum.", ucap Abah sambil memasuki rumah Gus Ma'adz.

__ADS_1


"Wassalamu'alaikum salam.", jawab Ning Nafis. menyambut kedatangan mertuanya lalu mencium tangannya.


"Ma'adz. kemana, nduk?.", tanya Abah. yang sengaja berkunjung ke ndalem Gus Ma'adz karena mereka tidak ikut sarapan pagi ini. jadilah Abah dan Ummi sarapan berdua karena Gus Irfan dan Ning Bilqis serta putranya sudah pulang keesokan harinya setelah acara tiga bulanan Aisyah.


"Medal, bah. (keluar, bah).", jawabnya.


"Kemana?.",


Ning Nafis bingung harus menjawab apa?!, mengingat ia tidak pandai berbohong. dan kalaupun ia berbohong, Abah dan keluarga ndalem sudah pasti langsung tau.


"Mm..., medal kalian. Aham, bah. (Mm..., keluar sama. Aham, bah).", jawabnya.


"Kemana?.", Abah mengulang pertanyaan nya seraya berjalan menuju belakang rumah, tempat Gus Ma'adz beternak burung.


Sengaja. Abah, mengulang pertanyaan nya, karena tau ada yang di sembunyikan para anak dan menantunya. Ning Nafis mengikuti Abah ke belakang.


"Abi, bantu Aham nyari Aisyah. bah.", jawabnya pelan.


"Aisyah, kemana?.",


"Aisyah, bukane ndek panti to, nduk?.", sahut Ummi dari belakang yang datang mencari Abah. Ning Nafis terkejut, takut Ummi drop mendengar apa yang baru saja di ucapkannya. ia bingung, menoleh ke Abah. berharap Abah bisa menjelaskannya ke Ummi.


Tapi sebelum mendengar penjelasan Ning Nafis dan Abah lebih lanjut, Ummi lebih dulu drop.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aisyah belum sadarkan diri setelah keluar dari ICU dan masuk dalam ruang perawatan. Gus Aham masih setia menunggu di sampingnya.


Ia duduk di samping ranjang istrinya, sesekali ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh Aisyah. ini sudah hari kedua sejak mereka tiba di rumah sakit.


Setiap kali dokter atau perawat datang memeriksa, Gus Aham pasti menanyakan kondisi istrinya, dan kapan ia bisa bangun.


"Bantu doa ya, pak.", hanya itu jawaban yang ia dengar tiap kali bertanya perihal keadaan istrinya.


"Istirahatlah.", perintah mas Raihan pad Gus Aham. mengingat Gus Aham baru pulih karena dehidrasi dan lemah selama pencarian Aisyah, di tambah ia baru saja mendonorkan darah yang cukup banyak untuk Aisyah.

__ADS_1


"Tapi, mas.", ia mendongak menatap kakak iparnya. berharap kakak iparnya tetap mengizinkan ia mendampingi istrinya.


"Setidaknya. njenengan, bisa istirahat di kamar ini dan tetap bisa menjaga Aisyah.", jawab mas Raihan. membuat Gus Aham berdiri dan pindah ke kursi panjang yang ada di ruang VIP itu.


Ia merebahkan tubuhnya, tapi matanya tetap memantau keadaan istrinya.


Jari Aisyah perlahan bergerak. mas Raihan yang melihatnya segera memanggil dokter, sementara Gus Aham yang hampir terpejam itu segera bangun dan mendekati istrinya, begitu dengan Gus Ma'adz.


Tak berapa lama mas Raihan datang dengan dokter di sampingnya yang langsung masuk ke dalam ruangan di ikuti seorang perawat, dan segera memeriksa Aisyah.


Semua menyingkir sementara dokter dan perawat memeriksa serta mencatat perkembangan kondisi Aisyah.


"Apa lampu mati, disini?.", tanyanya ketika sedang di periksa. "Deg". Gus Aham yang mendengarnya begitu terkejut, ia yang semula berada di kursi langsung mendongak menatap istrinya yang sedang rebahan di bed rumah sakit dan menatap ke atas dengan pandangan kosong.


Dalam hatinya, Gus Aham menerka-nerka apa yang terjadi pada istrinya?!. mungkinkah?......,


Dokter itu selesai memeriksa dan meminta anggota keluarga untuk mengikutinya keluar. Gus Aham, mas Raihan dan Gus Ma'adz bergegas mengikuti dokter ke ruangannya.


Gus Aham dan mas Raihan duduk sementara Gus Ma'adz berdiri di belakang mereka. di depan mereka sudah ada dokter yang membawa map hasil laporan kesehatan Aisyah.


Dokter menunjukkan hasil pemeriksaan itu yang menunjukkan bahwa ada penyumbatan darah pada kedua retina Aisyah. kemungkinan besar karena benturan, yang mengakibatkan Aisyah tidak bisa melihat dengan jelas. matanya hanya menangkap bayangan hitam ketika berada dalam ruangan dan putih atau silau saat berada di luar ruangan.


"Saran kami, adalah untuk memeriksa kan pada dokter mata. tindakan apa yang harus di ambil untuk mengembalikan pengelihatannya.", jelas dokter itu. yang cukup membuat mereka bertiga terkejut.


Aisyah buta?!, ya. itu kenyataan nya sekarang.


"Dan.., mengenai kandungannya. kami mohon maaf, dari kemarin belum bisa memberi tau karena melihat kondisi pasien dan keluarga masih shock.", ucapnya terputus. dokter itu terlihat mengambil nafas dalam sebelum berucap.


"Mohon maaf. kandungan ibu Aisyah, tidak bisa di selamatkan. kedua janin dalam kandungannya sudah meninggal saat di bawa kemari. itu yang menyebabkan ibu Aisyah mengalami pendarahan hingga membahayakan nyawanya kemarin.", jelas dokter itu. wajahnya penuh penyesalan.


Gus Aham terdiam mencoba terlihat baik-baik saja. tapi air matanya tak bisa berbohong, bulir bening itu terjun bebas dari kelopak matanya. Gus Ma'adz mengelus punggung adiknya untuk menenangkan. sedang mas Raihan langsung undur diri. satu tujuannya, ia harus segera menemui adiknya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺

__ADS_1


__ADS_2