
Setelah sang ibu, kini giliran ayah mertuanya. ya, Abah mengambil gayung dari tempurung kelapa itu. dengan ucapan bismillah juga, Abah mulai mengguyur kepala Aisyah.
Sementara Gus Aham, setia menemani di samping istrinya, mengingat Aisyah tidak bisa duduk lama-lama karena jahitan di pinggangnya.
Setelah Abah, tentu saja mas Raihan. mengingat, ia adalah wali adiknya. dengan bacaan bismillah juga, ia mengawali mengguyur kepala dan tubuh adiknya.
Lalu, Ummi, kemudian di lanjutkan para tetua dari Gus Aham dan Aisyah. hingga sempurna tujuh orang dari pihak Gus Aham, dan tujuh orang dari pihak Aisyah. barulah yang terakhir, Gus Aham yang menyiram tubuh Aisyah.
Ada banyak doa dan harapan tersimpan dalam hatinya. berharap istri dan bayinya di beri kesehatan, di beri kelancaran saat melahirkan, sehingga istri dan bayinya sehat dan selamat.
Aisyah menengadahkan kedua tangannya saat sang suami mengucurkan air, dan kemudian membasuh wajahnya. ia tersenyum setelahnya, menatap suaminya. nampak jelas, ia sangat bahagia hari ini.
Berikut nya, Gus Aham mengambil kendi untuk membasuh tubuh istrinya. setelah air kendi itu habis, Gus Aham sama-sama di arahkan untuk memegang kendi bersamaan dan melemparkannya.
Kendi itu, pecah berkeping-keping namun paruh kendi itu masih utuh dan terlihat mengacung. membuat semua yang hadir berteriak sesuai pemikirannya masing-masing.
"Lanang!.", (cowok).", teriak beberapa orang baik dari keluarga Aisyah maupun Gus Aham.
"Wedok, toh!.", ( cewek, lah!).", sahut yang lain.
"Lanang, lah.", sahut mereka yang tidak terima membuat suasana semakin riuh ramai penuh kebahagiaan.
"Iyo, Lanang. cucuk e sek utuh, lo.", ( iya, cowok. paruh kendinya masih utuh, Lo).", jawab salah seorang dari mereka yang ngeyel dengan jenis kelamin cowok.
"Lha, tapi kendine ajur, kok. yo, wedok.", ( lha, tapi, kendinya hancur, kok. ya, cewek).", salah seorang keluarga Aisyah yang menebak bahwa jenis kelamin bayi itu perempuan pun tidak terima dan menjawab demikian.
Membuat istri dari kakak Abah berkelakar.
"Kembar, Iki mestine. lanang karo wedok.", (kembar, ini pastinya. cowok sama cewek).", membuat semua yang hadir tertawa, begitu juga dengan Gus Aham dan Aisyah.
Selanjutnya, Gus Aham di arahkan untuk memotong janur ( daun kelapa yang masih muda), yang sudah melilit di perut Aisyah. ritual ini di maksudkan, membuka jalan untuk lahirnya jabang bayi.
Masih dengan proses tujuh bulanan. kali ini, masuk pada acara brojolan.
__ADS_1
Dalam acara brojolan, sang ayah dari jabang bayi harus memasukkan telur pada jarik yang dililitkan di tubuh Aisyah, ini bermaksud agar kelak, sang ibu melahirkan dengan lancar dan selamat.
Lanjut, Gus Aham memasukkan cengkir ( kelapa muda) yang sudah di ukir dengan gambar Dewi Kamaratih dan dewa Kamajaya.
Dewi Kamaratih, melambangkan bayi perempuan yang cantik jelita, cerdas dan berbudi luhur, sedang dewa Kamajaya melambangkan bayi laki-laki yang tampan rupawan, adil dan bijaksana.
Gus Aham memasukkan cengkir dari jarik bagian atas, yang dililitkan pada tubuh Aisyah. sementara sudah ada ibu, yang berjongkok di bawahnya untuk menangkap cengkir itu, untuk kemudian di serahkan pada Gus Aham.
Di lanjutkan dengan acara belah cengkir yang akan di lakukan oleh sang ayah dari calon jabang bayi. filosofi nya adalah, agar bayi lahir pada jalannya.
Selanjutnya, Aisyah di bawa ke ruangan berbeda untuk berganti jarik.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tidak lama, Aisyah sudah kembali bersama Ning Nafis. dan pemandu acara pun bertanya pada semua orang yang hadir.
"Sampun pantes?!.", (sudah pantas?!).", tanyanya. serentak semua pun menjawab.
"Dereng.", (belum).",
Setelah yang pertama, menggunakan batik Sido Mukti yang melambangkan harapan agar bayi dan orang tua nya hidup dengan sejahtera. kini, Aisyah berganti batik yang kedua, Sido Asih. kali ini, bermaksud agar bayi yang dilahirkan di senangi banyak orang.
"Sampun pantes?!.", tanya pemandu acara lagi. yang langsung di jawab serentak "Dereng.", yang membuat Ning Nafis, membawa Aisyah lagi ke ruangan untuk berganti jarik.
Total ada tujuh jarik yang harus di pakai. mulai dari batik Sido Mukti, Sido Asih, Sido Drajat (harapan agar bayi, mendapat derajat yang baik dalam hidupnya), Sido Dadi (untuk kesuksesan sang bayi dalam hidup), Babon angkrem ( agar si ibu bisa melahirkan dengan normal), dan Tumbar pecah ( harapan nya seperti ketumbar yang di tumpahkan, seperti itulah lancarnya persalinan).
Dan setelah berganti jarik yang ke tujuh, pemandu acara pun bertanya.
"Sampun pantes?!.",
"Sampun.", ( sudah).", jawab mereka serentak.
Batik ketujuh adalah batik sederhana. harapannya adalah, meskipun hidup bergelimang harta, di harapkan kelak si jabang bayi, selalu hidup dalam kesederhanaan.
__ADS_1
Berikut nya acara potong tumpeng. sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa acara tujuh bulanan telah di laksanakan dengan lancar.
Para keluarga besar di persilahkan menikmati aneka jamuan dan hidangan. sedangkan, Gus Aham dan Aisyah menyempurnakan ritual terakhir yakni, berjualan dawet dan rujak.
Filosofi nya, sebagai orang tua kelak, mereka lah yang akan menghidupi dan menafkahi anak-anaknya.
Baik Gus Aham, Aisyah maupun keluarga besar, benar-benar nampak bahagia. mereka masih terlihat ngobrol, bercanda dan tertawa bersama keluarga besar.
Tidak jarang, sepupu-sepupunya baik dari keluarga Abah, Ummi atau ibu menggoda mereka. ketika datang membeli dawet dan rujak dengan kreweng ( patahan genteng ), sebagai uangnya.
Benar-benar suasana meriah yang hangat, bahkan membuat Aisyah lupa dengan sakitnya. biasanya, kelelahan sedikit saja, sudah membuatnya terlihat pucat.
Puas, dengan acara tujuh bulanan. mereka pun, menyudahi dengan membersihkan diri dan segera melakukan jama'ah sholat Maghrib, mengingat waktu sudah semakin petang.
Setelah, selesai berjamaah sholat Maghrib. barulah, bingkisan tujuh bulanan di bagikan. mengingat, para saudara-saudara pamit.
Maklum, saudara-saudara Abah memiliki pondok dan yayasan, jadi harus segera kembali. tidak bisa berlama-lama karena memiliki tanggungjawab.
Begitu juga, ibu, mas Raihan, mba Mira dan para budhe, pak Dhe serta bulek pak lek. juga harus segera pulang ke rumah masing-masing karena kesibukan dan rutinitas kerepotan sehari-hari.
Aisyah dan Gus Aham, Ummi, Abah, Ning Nafis juga Gus Ma'adz mengantar para tamu sampai teras ndalem.
Begitu, semuanya sudah pergi. barulah mereka masuk ke ndalem. Gus Aham, mengajak Aisyah untuk segera istirahat mengingat acara siang tadi cukup melelahkan.
Mereka memasuki kamar. Aisyah segera melepas kerudungnya dan menggerai rambut nya.
Rambut yang masih basah itu, segera ia keringkan dengan handuk. membuat, Gus Aham yang melihatnya segera ikut membantu istrinya.
"Capek?!.", tanya Gus Aham. tangannya, piawai memijat kepala istrinya dan mengeringkan rambut milik Aisyah dengan handuk.
Aisyah menganguk " Tapi seneng.", jawabnya, lantas tersenyum, membuat Gus Aham ikut tersenyum melihatnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
🌺TO BE CONTINUED 🌺