Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 85


__ADS_3

Suara dari para santri yang sedang hafalan berdengung di musholla. mirip seperti suara lebah, hanya saja lebih indah dan menenangkan hati.


Aisyah dan Ummi masih menyimak para santri. sekali maju, empat santri. dua di sisi kanan, depan belakang dan dua disisi kiri, depan dan belakang juga.


Dengan begitu, sedikit mempersingkat waktu. mengingat, mereka juga harus bersiap untuk sekolah diniyah setelah selesai setoran.


Begitu selesai, Ummi dan Aisyah segera undur diri dan kembali ke ndalem.


Aisyah, lebih dulu menuju kamarnya. ia membuka pintu dan masuk. berjalan beberapa langkah, membuatnya melihat sosok suami yang sedang fokus mempelajari kitab Husnul hamidiyah yang akan di ajarkan hari ini, menggantikan posisi kakaknya sementara.


Aisyah menghampirinya, ia duduk di samping suaminya.


"Ada yang bisa dibantu?.", tanya Aisyah.


"Mas mu ini, ndak bodoh-bodoh amat, Ning.", jawab Gus Aham. ia nampak masih fokus melihat kitab milik kakaknya, mencocokkan dengan miliknya sendiri.


Jawaban itu membuat Aisyah menggembungkan pipinya. ia tidak bermaksud meledek, tapi suaminya berkata demikian. menimbulkan salah paham di dirinya. ia menarik nafas sesaat.


"Mas. Aisyah, ndak ada maksud ngeledek. saya, cuma mau bantu.", ucapnya, ia berusaha menjelaskan pada suaminya, yang mana malah membuat Gus Aham meliriknya, menutup kitabnya dan menatap istrinya.


"Maksudnya?!.", Gus Aham tidak mengerti maksud Aisyah.


"Tadi kan, Aisyah nanya. ada yang bisa di bantu?!, trus njenengan, jawab. mas mu, ini ndak bodoh-bodoh amat.", ucap Aisyah mengulangi percakapan mereka sebelumnya. Gus Aham masih menatap istrinya, menunggu perkataan selanjutnya.


"jadi, maksudnya. saya, ndak ada maksud ngeledek mas. saya cuma nawarin bantuan. saya, tau kok. njenengan, bisa. bagaimanapun, njenengan adalah keturunan orang alim, dan setiap or.....,


Ucapannya terhenti, saat suaminya mengecup bibirnya. membuat Aisyah sedikit terkejut sehingga melotot, menerima pagutan suaminya.


"Sudah?!.", tanya Gus Aham setelah menjauhkan wajahnya dari Aisyah. kini, ganti Aisyah yang justru tidak mengerti maksud suaminya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, yang hanya menyalahkan diri sendiri.", ucap Gus Aham. membuat Aisyah mengerutkan keningnya.


"Mas, ndak ngerasa gimana-gimana waktu kamu bilang mau bantu. mas, emang lagi fokus aja. soalnya, udah lama ndak baca kitab. jadi, mas mau mastiin bab yang mau di ajar nanti, ndak ada lafadz yang bolong maknanya. biar enak nanti neranginnya.", ucap Gus Aham panjang lebar. memberi pengertian pada Aisyah, agar tidak merasa bersalah atau tidak enak hati.


Aisyah terhenyak mendengar penjelasan suaminya. Gus Aham yang dulu kasar, suka marah dan hanya bisa menyalahkannya, kini berubah.


Berubah menjadi lembut dan perhitungan dalam segala hal, terutama dalam menghadapinya.


"Lalu, njenengan jadi berangkat ke Surabaya kapan?.", tanya Aisyah.

__ADS_1


"Mungkin nanti sore, itu kalau kamu izinin.", jawab Gus Aham, yang seolah-olah mengingatkan bahwa, Aisyah tidak mengizinkannya saat ia mengatakan hendak pergi, tadi pagi.


"Atau, besok pagi sekalian lah. kasihan, istriku ndak ada yang nemenin nanti malam.", sambung Gus Aham lagi.


"Njenengan, kasihan sama saya?!, atau saya yang harus kasihan sama, njenengan?.", tanya Aisyah. ia merasa di pojokkan dengan pernyataan suaminya. membuat Gus Aham tersenyum lebar, memperlihatkan gigi gingsulnya.


"Tok...,


"Tok...,


"Tok...,


"Assalamualaikum.", terdengar suara khas dua keponakannya yang di ikuti suara pintu kamar terbuka. dua bocah kecil itu, berlomba lari menemui pak lek dan buleknnya.


"Yeay..., Shofy yang menang.", ucap Ning Shofy, yang berhasil duduk di pangkuan pak lek nya setelah masuk kamar.


"Shofy, curang. ndak mau tutup pintu.", ujar Ning Dija. ia merasa sebal karena kalah, yang berarti pak lek nya tidak akan menggendongnya kali ini.


"Kan, aku ndak sampek, kak.", ucap Ning Shofy, ia berusaha membela diri sendiri, karena memang tidak sampai memegang gagang pintu.


"Pokoknya curang. kakak, haruse yang menang dan di gendong pak lek.", sahut Ning Dija. ia tidak mau mengalah.dan mereka masih berdebat, bersikeras mengatakan bahwa, masing-masing adalah yang tercepat.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Bulek. Shofy, curang.", adunya. ia tidak mau mengalah kali ini.


"Tapi, kan. Shofy nggak sampai bulek.", sahut Ning Shofy. Aisyah menghela nafas melihat kedua keponakannya, lalu melirik suaminya. Gus Aham, yang faham segera menengahi.


"Ok. bagaimana kalau di anggap seri?!.", ucap Gus Aham, yang langsung di jawab dengan gelengan dari Ning Dija. ia tau, jika di anggap seri tidak akan ada yang di gendong dari mereka.


Ning Dija dan Ning Shofy hampir saja menangis, jika Gus Aham tidak berkata.


"Kalau seri, pak lek gendong semua. satu di depan, satu di belakang.", ucapnya, yang membuat kedua keponakannya tersenyum.


"Yaudah, seri ya de?!.", ucap Ning Dija pada adiknya yang di setujui dengan anggukan. mereka tersenyum.


"Baikan dulu, dong!.", pinta Aisyah membuat kakak beradik itu, segera berjabat tangan, dengan Ning Shofy mencium punggung tangan kakaknya.


"Yaudah, tadi kesini mau ngapain?.", tanya Aisyah, pada kedua keponakannya.

__ADS_1


"Disuruh, Mbah uti. mau sarapan bareng.", jawab Ning Dija tangkas.


"Ok. kalau gitu, ayo pak lek gendong.", ucap Gus Aham. yang langsung membuat kedua keponakannya 'ngamplok' di punggung dan dadanya. ia berdiri, begitu juga Aisyah.


"Udah pinter momong, kan?!. berarti tinggal rajin bikin, aja. biar cepet jadi.", bisik Gus Aham pada Aisyah, sebelum keluar kamar. Aisyah, yang berjalan di belakangnya merasa malu dan hanya tersenyum.


Gus Aham memasuki ruang makan. ia mendudukkan Ning Dija pada kursinya, sebelum akhirnya menurunkan Ning Shofy pada kursinya dan mengambil kursi untuk Aisyah dan dirinya sendiri.


"Gus Ma'adz, ndak ikut sarapan, Ummi?!.", tanya Aisyah pada ibu mertuanya.


"Ma'adz, mabuk duren.", sahut Abah, yang baru saja masuk ke ruang makan. Abah segera menarik kursi dan duduk, untuk selanjutnya sarapan bersama.


"Ummi, sudah antarkan sarapan kesana tadi. sekalian, lihat keadaannya, sama ngajak Dija dan Shofy.", ucap Ummi menimpali.


"Tapi, mas ndak apa kan, mi?!.", tanya Gus Aham. ingin tau keadaan kakaknya.


"Udah mendingan kata, Nafis. tapi, ya gitu. jek mbliyur.", jawab Ummi.


"Lha, piye lagi?!. mas mu, makan duren paling banyak.", ujar Abah.


"Alah, Abah juga.", sahut Ummi.


"Sek akehan, Ma'adz. mi.", (Masih banyakan, Ma'adz. mi).", jawab Abah membela diri.


"Podo!. untung, Abah ndak oleng.", ( sama!. untung, Abah ndak drop).", sahut Ummi, yang tidak terima dengan pernyataan Abah.


Gus Aham dan Aisyah yang melihat kedua orang tuanya berdebat, hanya melihat saja.


"Mbah kung. ini, jadi sarapan ndak?.", tanya Ning Dija.


"Ho'oh.", sahut Ning Shofy.


"Kok, kaya' anak kecil, eyel-eyelan.", ( kok, seperti anak kecil, ndak mau ngalah).", ucap Ning Dija, yang membuat Abah dan Ummi terdiam.


"Ho'oh.", ucap Ning Shofy, mengikuti kakaknya yang sedang mengomeli kakek dan neneknya.


"Alah, dek. kamu bisane cuma ho'oh ae.", ucap Ning Dija pada adiknya.


"Ho'oh, mba.", sahut Ning Shofy lagi. yang membuat semua keluarga di ruang tamu tertawa.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2