Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 98


__ADS_3

Dokter keluar. sementara Gus Aham bersiap di pindahkan keruang perawatan.


"Bagaimana keadaan adik saya, dok?.", tanya Gus Ma'adz, begitu melihat seorang dokter keluar dari ruang ICU.


"Anda keluarganya?!.",


"Iya. saya kakaknya.",


"Mari ikut, saya.", dokter itu melangkah pergi menuju ruangannya.


Gus Ma'adz, Aisyah dan mas Raihan mengikutinya. mereka segera duduk, begitu sampai di ruangan tempat dokter itu.


Dokter yang juga duduk di depan mereka itu mengambil sebuah map yang cukup besar. dan mengeluarkan beberapa lembar benda berwarna hitam putih. itu adalah hasil CT scan.


Dokter pun mulai menjelaskan apa yang tergambar pada photo lab itu.


"Ginjalnya, rusak. mengalami trauma tajam abdomen.",


"Trauma tajam abdomen adalah, trauma yang di sebabkan oleh tusukan atau perlukaan benda tajam pada perut. dan ini, mengenai ginjalnya.",


"Apakah kedua-duanya rusak?!.", tanya mas Raihan.


"Yang satu, jelas tidak bisa berfungsi normal. karena luka itu, tepat mengenai ginjalnya. ada sekitar tiga sampai empat tusukan. dan itu membuat rusak total ginjalnya. sedang untuk ginjal lainnya, juga mengalami trauma tumpul abdomen.",


"Maksudnya adalah, meskipun tidak luka. tapi kondisi ginjal yang sebelah kanan juga bermasalah. dan lebih kecil dari yang kiri.", jawab dokter menjelaskan.


Gus Ma'adz dan mas Raihan terdiam mendengar penjelasan dokter. sementara Aisyah, ia mulai terlihat down. pikirannya kosong, dan tatapannya tidak fokus.


"Kami sudah melakukan operasi laporotomi untuk menghentikan pendarahan, tapi cara ini tidak cukup efisien. mengingat organ ginjal rusak atau biasa disebut dengan gagal ginjal, dan sama sekali tidak berfungsi.",


"Jadi, tindakan selanjutnya yang harus kita ambil adalah, melakukan transplantasi ginjal.", ucap dokter lebih lanjut.


"Apakah ada pendonor?!.", tanya dokter, saat melihat semua anggota terdiam mendengar penjelasannya.


"Bisakah, memeriksa saya?!.", tanya Gus Ma'adz. yang membuat Aisyah menoleh dan menatap kakak iparnya.


Dokter itu mengangguk dan mempersilahkan Gus Ma'adz untuk mengikuti asistennya, menuju ruang pemeriksaan.


Ada banyak faktor-faktor, orang bisa mendonorkan ginjalnya. dan, salah satunya adalah bukan seorang perokok dan tekanan darah tinggi.


Cukup lama, Aisyah dan mas Raihan menunggu Gus Ma'adz yang sedang menjalani tes medis untuk mengetahui kesehatannya dan mengetahui, apakah ia bisa mendonorkan ginjal nya pada adiknya?!.


Aisyah masih duduk di samping ranjang tempat suaminya tergolek lemah. sementara mas Raihan, memilih untuk merebahkan tubuhnya sejenak di sofa.


Ia merasakan lelah yang sangat. mengingat, baru saja ada acara di panti, dan baru saja sekitar jam dua dini hari ia bisa tidur, setelah semua donatur pamit pulang. Gus Ma'adz, subuh-subuh sudah datang dengan membawa berita ini.


Dokter bilang, suaminya kehilangan darah cukup banyak. dan, ia baru saja melakukan operasi. Aisyah menggenggam tangan suaminya erat. ia menatap lekat wajah tampan berhidung mancung itu.

__ADS_1


Aisyah mengusap kening dan rambut suaminya. berharap, ia segera membuka mata, dan menggodanya seperti biasa.


Sesekali, ia menatap pintu kamar rumah sakit. berharap kakak iparnya segera datang dan memberikan kabar baik padanya. ia benar-benar tidak bisa memikirkan apapun kecuali duduk di samping ranjang suaminya dan mengusap serta menggenggam tangan Gus Aham. berharap ia segera bangun.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hari kedua Aisyah menemani suaminya dirumah sakit. dan Gus Aham, belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dan bangun.


Setelah sholat subuh, ia menyeka tubuh Gus Aham dengan air hangat. ia ingat, suaminya sangat suka kebersihan.


Aisyah, mulai mengusap wajah suaminya pelan. turun ke leher, badan dan tangan. setelah selesai, ia kembali mengancingkan baju suaminya.


Ia duduk sejenak. dan hanya bisa memandangi wajah suaminya yang nampak tertidur nyenyak.


"Kapan njenengan bangun?!.", gumamnya.


"Tok...,


"Tok...,


"Tok...,


Terdengar suara pintu di ketuk sebelum akhirnya di buka. ada ibu yang datang membawakan sarapan untuk Aisyah.


"Assalamualaikum, nduk.", ucap ibu. masuk dan segera menghampiri Aisyah. membuat Aisyah bergegas meraih dan mencium tangan ibunya.


"Sarapan dulu. ibu, sudah bawakan.",


"Kita sarapan bareng-bareng, ya?!.", ajak ibu.


Ibu paham, Aisyah akan menolaknya. oleh sebab itu, ibu sengaja tidak ikut sarapan dirumah. karena, ketika Aisyah tau ibunya belum makan, maka ia akan ikut makan juga.


Aisyah pun mengikuti ibunya untuk duduk di kursi. ibu membuka nasi rantang yang ia bawa. mereka pun pada akhirnya makan bersama.


Selesai sarapan, ibu masih menemani Aisyah. ia tau putrinya lelah.


"Nduk, istirahat dulu. biar ibu yang jaga Gus Aham. nanti, kalau Gus Aham bangun. ibu, bangunin kamu.",


Aisyah terdiam sejenak. ia menatap suaminya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan menyetujui saran ibunya.


Aisyah mengusap rambut suaminya sejenak, sebelum akhirnya meninggalkan Gus Aham, dan berjalan menuju kursi. ia merebahkan diri di sana, lelah yang menyerangnya membuatnya cepat terlelap.


"Tok...,


"Tok...,


"Tok...,

__ADS_1


"Assalamualaikum.", suara khas milik Ummi terdengar, sebelum akhirnya, Abah, Gus Fahim, dan Ummi masuk dalam ruangan tempat Gus Aham di rawat.


Ummi yang melihat besannya, segera menghampiri dan saling berpelukan. sementara Gus Fahim, segera mencium tangan ibu, setelah Ummi melepaskan pelukannya.


"Tidur, yu?!.", ucap Ummi saat melihat Aisyah tertidur di kursi.


"Baru saja, Bu. dari kemarin kurang istirahat.", jawab ibu.


"Jarke ae. (Biarin saja).", ucap Abah, yang melihat Ummi hendak mendekat pada menantunya.


Ummi lalu mengalihkan langkah kakinya untuk mendekat pada putranya yang masih juga belum sadar.


"Assalamualaikum, le. Ummi, ndek sini. sama Fahim, sama Abah mu.",


"Kamu, ndak kangen adikmu?!.", ucap Ummi di telinga Gus Aham. tak ada respons.


"Gus Fahim, kapan wangsul?.", tanya ibu, menyapa adik ipar putrinya.


"Injing wau, Bu. mergi wingi, taseh wonten kerepotan teng pondok.", ( pagi tadi, Bu. karena kemarin, masih ada kerepotan di pondok).", jawabnya lembut.


Gus Fahim tidak kalah tampan dari kakaknya, hanya saja ia lebih lembut dalam berbicara, dan sangat tegas dalam setiap keputusan serta tindakan.


Terdengar ketukan beberapa kali, sebelum akhirnya pintu di buka oleh seorang perawat.


"Permisi. keluarga pasien, mohon untuk menemui dokter.", ucapannya. membuat Abah, Ummi dan Gus Fahim serta ibu berjalan mengikuti perawat tersebut.


Aisyah terbangun setelah tertidur hampir satu jam. cukup menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.


Ia tidak melihat ibunya, ataupun orang lain di ruangan itu.


"Ibu sudah pulang kah?!.", gumamnya.


"Terus piye, bah?. (terus gimana, bah?!).",


Suara khas milik mertuanya terdengar dari balik pintu kamar suaminya. Aisyah merasa senang ibu mertuanya datang untuk berkunjung. ia bergegas berjalan ke pintu dan hendak membukanya, tapi...,


"Ya. harus nunggu sampai ada pendonor.", jawab Abah. Aisyah terdiam di balik pintu.


"Njenengan, tadi ndak mireng to, bah?!. Aham, ndak bisa nunggu lama. operasi sebelumnya ndak berhasil, kalau ndak segera operasi, bisa menyebabkan kematian.", Ummi menangis di akhir kalimatnya.


"Sabar, Bu.", terdengar suara ibu menenangkan besannya.


"Lha terus piye?!. Ma'adz, Abah, Fahim, sama mase Aisyah sudah di periksa. tapi, ndak ada yang memenuhi syarat. percuma juga operasi, kalau akhire awak e Aham, nolak. gak iso nompo.", jawab Abah.


"Ummi, sabar nggeh?!. insyaallah, mas mboten nopo-nopo.", ucap Gus Fahim yang juga ikut menenangkan ibunya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


🌺TO BE CONTINUED 🌺


__ADS_2