Pengabdian (Karena Mu)

Pengabdian (Karena Mu)
Chapter 155


__ADS_3

Pada akhirnya, ummi pun luluh dan menerima keputusan Gus Aham untuk memboyong menantu dan cucu-cucunya untuk tinggal jauh darinya.


Ya, tinggal di yayasan yang berbeda kota dengan tempat kelahiran putranya.


Itupun dengan beberapa syarat dari ummi. salah satunya, setiap seminggu sekali Gus Aham harus membawa Aisyah dan cucu-cucunya untuk berkunjung ke ndalem, dan mereka harus pindah ke yayasan, saat kedua cucu kembarnya sudah berumur tiga bulan.


Bukan tanpa sebab, ummi memberikan persyaratan itu. selain ingin lebih lama membantu Aisyah mengurus Umar dan Fatimah, ummi juga ingin melihat bagaimana Aisyah merawat kedua bayinya. sehingga, ummi bisa yakin dan tidak khawatir saat Aisyah dan kedua cucunya jauh dari pantauannya.


Gus Aham membuka pintu kamar. nampak, ia melihat kedua buah hatinya tertidur pulas di ranjang kamarnya. sementara ia tidak mendapati istrinya di sana.


Perlahan, Gus Aham mendekati kedua bayi mungilnya. sebentar lagi, tepatnya setelah waktu isya'. bayi-bayi mungil itu akan di bawa ke hadapan khalayak ramai.


Ya, tradisi "sepasar". tradisi menyambut kelahiran sang bayi dengan doa dari para kyai-kyai sepuh, serta acara pemotongan beberapa helai rambut mereka. sekaligus, acara aqiqoh Umar dan Fatimah.


Rasa syukur dan rasa bahagia yang tak ternilai, ia ungkapkan lewat itu semua. syukur dan bahagia karena kedua anaknya, beserta sang istri selamat saat proses persalinan.


Gus Aham, masih terus memandangi kedua bayinya. seulas senyum menghias di bibirnya, setiap melihat duplikat dari dirinya.


Baik Umar maupun Fatimah, mereka sama-sama mirip dengan dirinya, hanya saja kulit Fatimah lebih cenderung ikut Aisyah.


"Ceklek.", terdengar suara pintu di buka. membuat Gus Aham mengalihkan perhatiannya. Aisyah nampak keluar dari kamar mandi, ia memakai baju milik suaminya.


Bukan tanpa sebab, Aisyah memakai baju Gus Aham. ia merasa kesulitan, saat memakai gamis dan harus menyusui kedua buah hatinya. mengingat, kebanyakan gamis yang ia miliki, tidak memiliki kancing, dan hanya ada resleting.


Ia khawatir, resleting itu menyakiti kedua kulit bayi yang masih merah. maka dari itu, ia meminta izin pada Gus Aham, untuk memakai baju-baju Gus Aham yang sudah tidak terpakai, agar ia nyaman menyusui kedua buah hatinya.


"Mas?!.", panggilnya, saat baru saja menutup pintu kamar mandi. membuat, lelaki yang tengah duduk dan mengamati bayinya, menoleh dan tersenyum.


Gus Aham, mengulurkan tangannya. sehingga membuat Aisyah meraih tangan suaminya, dan perlahan ikut duduk di sisi ranjang, bersama Gus Aham.


"Njenengan, mau disiapkan air?. mau mandi?!.", tanya Aisyah, yang kini sudah duduk membelakangi suaminya, menghadap kedua bayi mereka.


"Nanti, mas siapkan sendiri.", jawabnya. lalu dengan manja memeluk Aisyah dari belakang, dan menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.


"Kenapa?!.", tanya Aisyah. ia faham betul dengan sikap sang suami.


"Ndak pa-pa. mas, cuma pengen manja sama kamu. mumpung mereka tidur.", jawabnya. nampak sesekali, Gus Aham menghirup aroma rambut Aisyah, yang tergerai.

__ADS_1


"Kalau mereka bangun kan, mas ndak bisa manja-manja lagi. kamu repot main sama mereka.", lanjutnya, yang membuat Aisyah tersenyum mendengar protes suaminya.


"Bukan hanya saya, tapi njenengan juga.", sahut Aisyah. yang membuat Gus Aham tersenyum di ceruk leher istrinya. matanya tidak lepas dari kedua buah hatinya, yang tengah terlelap. menanggapi sikap sang suami, Aisyah hanya tersenyum, sesekali mengusap rambut kepala Gus Aham.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Njenengan, mandi nggeh?!. saya siapkan baju.", tawarnya pada sang suami.


"Sebentar lagi.", jawab Gus Aham. matanya masih terpejam, sementara janggutnya menempel di pundak sang istri.


"Ini sudah sore, mas.",


"Njenengan, harus mandi. bersiap untuk jama'ah sholat ashar dan acara aqiqah nanti malam.",


"Para tamu, sudah banyak yang datang ingin bertemu Fatimah dan Umar.", ucap Aisyah, mengingatkan sang suami bahwa, keadaan ndalem sangat ramai sejak kedatangannya kemarin. apalagi, hari ini acara aqiqah kedua bayinya. membuat jama'ah, santri, alumni, wali santri hingga para kyai datang silih berganti, ingin menjenguk, bertemu dan mendoakan kedua buah hatinya.


Gus Aham menarik janggutnya dari ceruk leher sang istri. ia nampak malas, hingga membuat Aisyah mengeluarkan jurus andalannya.


"Cup.", dia merangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. lalu mengecup kening, kedua pipi, hidung dan berakhir di bibir tipis milik pria yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.


"Ok, mas mandi.", ucap Gus Aham, yang baru saja mendapat kecupan dari istrinya. ia tersenyum manis sebelum akhirnya beranjak pergi ke kamar mandi.


Ada yang nampak sibuk memasukkan aneka kue dalam kotak, ada yang nampak sibuk mengangkat kotak-kotak kue yang telah siap, untuk di masukkan dalam kantung. di jadikan satu dengan kotak nasi dan souvernir.


Ada juga yang nampak sibuk menghias ayunan untuk Umar dan Fatimah, yang akan di letakkan di ruang tamu nanti.


Ya, tidak mungkin Gus Aham atau Abah terus menggendong mereka. mengingat, baik para kyai, jama'ah, warga sekitar, santri dan tamu undangan lain, di persilahkan masuk untuk mendoakan dan menemui kedua bayi Aisyah, sebelum acara inti di mulai.


Dan, seperti biasa. semua acara yang berlangsung ini pasti di komando oleh ning Nafis.


Memang menantu andalan ummi, di berbagai kondisi. mba Nafis yang lincah, cekatan, dan kreatif selalu bisa memunculkan ide-ide ataupun kejutan di setiap acara. hasilnya??, jangan di tanya. semua acara yang di serahkan ke Ning Nafis, pasti berjalan dan berakhir sempurna . jauh lebih indah dari ekspetasi.


"Tok...",


"Tok...",


"Tok...",

__ADS_1


"Assalamualaikum.", ucap dua suara khas di balik pintu kamar Aisyah.


Ya, siapa lagi kalau bukan Ning Dija dan Ning Shofy. dua keponakan yang dari kemarin selalu rajin datang ke kamarnya bersama sang ibu.


"Waalaikum salam.", sahut Aisyah dan Gus Aham bersamaan.


Begitu mendengar jawaban salam dari dalam, Mereka segera membuka pintu dan berlari masuk. menyerbu ranjang, agar bisa tidur di sisi kedua bayi kembar Aisyah.


"Ndak boleh di bangunin, ya?!.", hardik Ning Nafis, yang mengikuti kedua putrinya masuk. sementara Aisyah, nampak masih sibuk merapikan kancing dan berlanjut pada kerah baju suaminya.


"Kenapa, mba?!.", tanya Aisyah, setelah ia selesai merapikan tampilan suaminya.


Kini, ia beralih duduk di tepi ranjang. menyusul kakak iparnya yang baru saja duduk di sana.


"Mau gantiin baju, Umar sama Fatimah.", jawab Ning Nafis, disusul kemudian membuka paper bag yang di bawa kedua putrinya tadi.


"Biar bisa bedain dikit ya?!. yang mana keponakan ganteng dan cantiknya budhe.", ucap Ning Nafis.


Ia pun mulai membuka bedong Umar dan Fatimah, dan segera menggantinya dengan pakaian yang sudah ia siapkan untuk acara aqiqah kedua keponakannya.


🌺TO BE CONTINUED🌺


Umar dan Fatimah saat baru lahir.



Umar dan Fatimah sudah siap untuk acara aqiqah.




Photosot juga



__ADS_1



__ADS_2