
Seperti biasa, semua acara keluarga yang di pasrahkan pada mba Nafis, pasti akan menjadi acara besar yang elegan dan meriah.
Tidak hanya dari dekorasi nya, tapi dari riuh tawa bahagia kedua keluarga besar.
Nampak Gus Aham menggendong Fatimah dan Gus Ma'adz menggendong Umar.
Mereka lalu, menidurkan kedua bayi merah itu di ayunan. di mana, setiap tamu dan orang yg hadir bisa mendekat dan menghampiri mereka untuk melihat dan mendoakan kedua cucu dari Abah.
Nampak para tamu undangan mulai memasuki aula, tempat dimana di adakan nya acara tasyakuran kedua bayi itu.
Setelah acara pembukaan dari Abah sebagai kakek dari kedua cucu yang akan mendapat doa hari ini, dan perwakilan tuan rumah. mulailah, doa dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an di kumandangkan. sebelum akhirnya acara inti, yang berupa pemotongan rambut kedua bayi di lakukan bersamaan dengan pembacaan sholawat nabi.
Acara berlangsung dengan khidmat dan berakhir dengan berpulang nya para saudara dan kerabat dekat baik dari keluarga Aisyah ataupun Gus Aham.
"Mereka belum tidur?!.", tanya Gus Aham, ketika baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri. ia, melihat Aisyah yang masih menyusui bayi laki-laki nya.
"Fatimah, sudah. Umar, yang belum.", jawabnya.
"Sini, kasih ke mas.", kedua tangan nya terulur bersiap meraih putranya.
"Sama Ayah dulu, ya?!.", ucap Aisyah seraya menyerahkan putra kecilnya pada sang suami.
"Dot nya, mas.", sambungnya lagi di sertai senyum manis yang membuat Gus Aham ikut tersenyum.
Ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...----------------...
Hari berlalu begitu saja, di hiasi dengan tawa canda mereka. Gus Aham dan Aisyah, masih aktif membantu di pondok di sela-sela kesibukan mereka mempersiapkan dan menata dekorasi rumah.
Tak perlu mewah, asal rumah itu aman dan nyaman bagi keluarga kecilnya.
Tiga bulan berlalu, putra-putri mereka tumbuh dengan sehat dan cerdas. badannya gemuk berisi, namun sangat aktif.
Mereka sudah bisa berguling, tengkurap. menggigit semua apa-apa yang di raih oleh tangan mungil mereka.
"Ndak usah bawa baju banyak-banyak. mas, sudah siapkan di sana.", ucap Gus Aham kepada Aisyah di sela-sela bermain bersama kedua buah hatinya.
"Lagian kan, setiap Minggu harus pulang ke sini.", sambung nya.
"Ndak bawa banyak, mas. seperlunya aja kok.", jawab Aisyah. kedua tangannya masih sibuk memasukkan barang-barang, yang kebanyakan milik si kecil ke dalam koper yang berukuran tidak terlalu besar.
"Tok....
__ADS_1
"Tok....
"Tok....
"Assalamualaikum.', ucap ummi seraya masuk ke dalam kamar Gus Aham.
"Waalaikum salam.", jawab Gus Aham dan Aisyah, hampir bersamaan.
"Masha Allah, Tabarokalloh. cucu umi, lagi ngapain ini?!.", umi nampak sumringah, menghampiri kedua cucunya yang sedang aktif-aktifnya bergerak tengkurap dan bermain sendiri.
"Sini, main dulu sama uti.", ucap ummi, sembari menggendong Fatimah dan memangkunya. ummi mengajak Fatimah untuk berbincang, dan Fatimah pun hanya merespon dengan senyum dan wajah menggemaskan nya.
"Subhanallah. cantiknya..., kaya' siapa Ning?!.", tanya ummi pada Fatimah, yang kini menghadap pada nenek nya. bayi kecil itu hanya tersenyum sumringah, merespon pertanyaan sang nenek.
"Cantiknya, mirip sinten nggih?!.", ummi mengulangi ucapan nya, yang lagi-lagi membuat Fatimah tersenyum.
"Mirip ibunya to, mi?!. masa' mirip uti nya?!.", sahut Gus Aham setelah nya.
"Mirip uti lah. kan cucunya, uti.",
"Iya Ning, ya?!.. mirip uti, kan?!.", timpal ummi, sembari menggoyangkan badan Fatimah, membuat bayi itu tertawa lagi.
......................
"Injih, mi.",
"Ummi, kenapa to tanya terus?!.", goda Gus Aham. yang langsung membuat ibunya kesal.
"Ya, ndalem bakalan sepi to, le.", jawab ummi.
"Kan masih ada Dija sama adeknya. Ndak akan sepi, ummi.", ucap Gus Aham. ummi tidak menghiraukan ucapan Gus Aham, dan lebih memilih mencium serta bermain dengan Fatimah dan Umar.
"Nduk, kalau disana kamu capek. bawa si kembar kesini, ya?!. nanti, ummi bantuin momong.", ujar ummi, Aisyah tersenyum dan mengangguk.
Tiba-tiba ummi mengangkat tubuh gembul Umar. diciuminya bayi berumur tiga bulan lebih itu. dari mulai pucuk kepala, kening, kedua pipi bakpao nya, dan juga tangan dan kaki yang berisi. setelahnya, ummi memeluk Umar di pundaknya, dekat dengan kepalanya.
Entahlah, ummi tidak ingin berpisah dengan menantu dan si kembar yang sudah meramaikan dan menghibur hari-harinya melepas penat dengan banyaknya kegiatan santri di pondoknya.
Barang sudah di naikkan ke mobil oleh Gus Aham. ia kemudian, kembali untuk menyusul istrinya di kamar. Gus Aham membantu menggendong putranya, sedang Aisyah menggendong putrinya, Fatimah.
"Ayo, pamit dulu.", ajak Gus Aham, yang di angguki oleh istrinya. Gus Aham dan Aisyah keluar dari kamar. mereka segera menuju ruang keluarga. ada ummi dan Abah disana, yang nampak sedang duduk berdua, sambil bercengkerama dengan pemandangan gemericik air kolam dan aneka warna ikan koi yang berenang kesana-kemari.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham.
__ADS_1
"Waalaikum salam.", jawab Abah dan ummi, bergantian. Gus Aham langsung sungkem pada Abah dan ummi nya. tidak lupa, ia mengajari putranya untuk mencium tangan kakek dan neneknya.
"Bah, Aham sama Aisyah mau ke Surabaya sekarang. sesuai hari dan jam yang sudah abah tentukan.", ucapnya, setelah ia dan suaminya, selesai sungkem pada kedua orang tuanya.
"Iya. tak dongakne, hasil, lancar barokah.",
"Insyaallah, oleh ridhone Gusti Allah.", ujar Abah. Gus Aham dan Aisyah, mengangguk.
"Amiin.", jawab Gus Aham dan Aisyah, bersamaan.
"Yowes, ati-ati ya?!.", pesan Abah. Gus Aham, mengangguk.
Mereka lantas berpamitan, dan mencium tangan Abah dan ummi berganti. Gus Aham dan Aisyah keluar dari ruang keluarga, di ikuti oleh Abah dan ummi. sampai di teras ndalem, sudah ada kakaknya. Gus Ma'adz dan Ning Nafis beserta kedua putrinya.
Langsung saja, Gus Ma'adz memeluk adiknya, Gus Aham. Ning Nafis, memeluk Aisyah, hangat.
"Jangan lupa sering-sering kesini ya, nduk?!.", ujar Ning Nafis, sembari melepaskan pelukannya. Aisyah tersenyum dan mengangguk.
"Mba, juga kapan-kapan main ke Surabaya, ya?!. biar Ning Dija sama Ning Shofi bisa main-main sama adik Umar dan Fatimah.", ujarnya. Ning Nafis tersenyum.
"Kenapa harus pindah to bulek?!. kan, kita jadi ndak bisa main-main ke kamar pak lek, lagi.", gerutu Ning Dija.
"Iya. sepi ya, mba?!.", sahut ning Shofi. membuat Aisyah tersenyum.
"Kan, bulek sama pak lek nanti sering-sering kesini. jenguk Ning Dija, Ning Shofi, sama Mbah uti.", jawab Aisyah, mencoba menghibur, meskipun kedua keponakannya tetap cemberut.
"Hati-hati di sana ya, le?!.",
"Semoga, apa yang kamu cita-citakan. dan apa yang kamu inginkan untuk mendidik anak-anak jalanan, selalu dalam ridho Gusti Allah.", ucap Gus Ma'adz, sembari menemani adiknya melangkah menuju mobil, di ikuti yang lain.
"Aamiin.",
"Matur nuwun ya, mas. aku banyak belajar dari mas Ma'adz. insyaallah apa yang mas ajarkan, bermanfaat.", ujar Gus Aham.
"Aamiin.", jawab mereka serentak.
Aisyah sudah naik mobil. nampak Gus Aham menutup pintu mobil dan beralih ke sisi mobil lainnya. ia membuka pintu mobil dan segera duduk di kursi kemudi, lalu menutup pintu.
"Assalamualaikum.", ucap Gus Aham.
"Waalaikum salam.", jawab mereka bergantian. dan mobil pun segera berjalan menjauh dari ndalem, melewati gapura lalu menghilang.
...----------------...
__ADS_1